Anastasya yang biasa di panggil Ana, meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Ibu Kota Jakarta.
Ana bukan hanya gadis desa biasa. Dia gadis yang pintar dan cerdas. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa membiayai pendidikan Ana hingga lulus nanti.
Apakah nasib Ana akan selalu beruntung saat berada di Ibu Kota, apakah sebaliknya?
Yuk baca kisah lengkapnya hanya di Pesona Gadis Desa😊
Follow ig: mayarentika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 PGD
Setelah pulang dari kampus, Lufi benar-benar mengantar Ana untuk mencari kos-kosan yang dekat dengan kampus.
Mereka pun menemukan Kos-kosan yang tidak terlalu besar, namun sangat terjaga kebersihannya. Tempatnya pun lumayan aman, namun satu yang menjadi pertimbangan Ana, kos-kosan tersebut bisa untuk semua jenis, alias kos-kosan campuran.
''Gimana Fi. Kita udah muter-muter. Tapi aku sreknya di sini,'' ucap Ana.
''Ya nggak pa-pa. Yang penting kamu harus bisa jaga diri baik-baik. Rumah ibu kos kamu juga di depan situ kok. Kalau kamu mau ngekos di sini, aku setuju-setuju saja,'' ucap Lufi.
Jika di perhatikan sekelilingnya, kos-kosan itu cukup aman karna di kelilingi pagar yang tinggi. Rumah pemilik kos-kosan juga berada di depan. Jadi siapa saja yang masuk, pemilik kosan akan tau.
''Ya udah Bu, aku ambil kamar nomor 5 ya,'' ucap Ana.
''Baik Neng.''
''Ini uang untuk 1 bulan ini,'' Ana menyerahkan uang merah 8 lembar kepada pemilik kosan.
''Terima kasih Neng. Semoga betah ya. Setelah ini Ibu akan bersihkan dulu,'' ucap Ibu kos.
''Iya Bu, Terima kasih. Saya mau ambil barang-barang dulu,'' ucap Ana.
Ana dan Lufi pamit untuk mengambil barang-barangnya.
''Masih jam 1 Fi, kita masih punya waktu sekitar 4 jam, setelah itu aku bisa berangkat kerja,'' ucap Ana.
''Aku siap membantumu An. Tapi aku juga sedih, kamu nggak ada di rumah lagi,'' ucap Lufi menekuk mukanya.
''Kan kita bisa ketemu lagi di kampus,'' ucap Ana.
''Kamu pasti kembali lagi ke rumahku An. Akan aku pastikan itu. Bukan sebagai sahabat, namun sebagai kakak ipar,'' batin Lufi tersenyum jahat.
''Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu Fi?'' tanya Ana penasaran. Lufi sejak tadi hanya diam namun senyum terus terukir di wajahnya.
''Kamu seneng ya aku pergi dari rumahmu?'' tanya Ana.
''Ehh,enggak An. Bukan gitu. Aku hanya membayangkan saja, gimana dengan Kak Leon,'' ucap Lufi.
''Jangan bahas dia Fi,'' ucap Ana dengan raut wajah yang berbeda.
''Iya iya, gitu aja ngambekan. Gimana kalau Kak Leon jodohmu,'' ucap Lufi.
''Itu semua nggak mungkin lah Fi,'' ucap Ana tersenyum miris.
''Jodoh siapa yang tau,'' ucap Lufi.
Sesampainya di rumah, Ana segera memasukan semua barang-barangnya ke dalam tas. Sore ini ia akan pindah ke kosan yang sudah ia bayar tadi.
''Terima kasih untuk 2 tahun ini. Aku pasti rindu suasana di rumah ini,'' Ana menatap sekeliling kamarnya. Rasanya berat meninggalkan kamar yang sudah 2 tahun ini ia tempati. Namun ia tak mau terus menerus menumpang di rumah sahabatnya. Apalagi sekarang Ana sudah bisa mencari uang sendiri, bahkan untuk bayar kosan pun ia sudah mampu. Maka dari itu ia memutuskan untuk ngekos.
Ana menggendong tasnya. Semua barang-barangnya tak ada yang tertinggal. Ia keluar dari kamar.
''Udah?'' tanya Lufi.
''Iya. Makasih ya Fi untuk 2 tahun ini. Aku tidak akan melupakan kebaikan kamu,'' ucap Ana memeluk Lufi erat.
''Jangan gitu lah An. Kita hanya pisah tempat tinggal. Kayak kamu mau pergi jauh aja. Aku berharap kamu akan tinggal di sini lagi. Bukan menjadi sahabat tapi menjadi Kakak ipar, hehehe,'' ucap Lufi di selingi tawa.
''Apaan sih,'' ucap Ana mencubit pinggang ramping milik Lufi.
''Ya udah berangkat yuk,'' ajak Lufi.
''Yuk.''
Mereka pun saat ini sudah berada di mobil. Lufi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
''Nggak usah ngebut Fi. Masih ada waktu 1 jam kok,'' ucap Ana.
''Oke,'' ucap Lufi mengurangi kecepatan mobilnya.
Selang beberapa menit mereka sampai di kos-kosan Ana.
''Mending nanti aja kamu beres-beresnya, sekarang cepet mandi, lalu aku antar berangkat kerja,'' ucap Lufi.
''Baiklah,'' ucap Ana. Ana segera pergi menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Ana sudah selesai dengan ritual mandinya.
Setelah berganti pakaian, ia memoles sedikit make up di wajahnya. Tak lupa rambutnya ia kuncir kuda karna sudah lumayan panjang.
''Yuk,'' ajak Ana. Lufi menganggukkan kepalanya.
Lufi pun dengan senang hati mengantar Ana ke Cafetaria.
''Terima kasih Fi. Salam buat Kak Leon,'' ucap Ana malu-malu.
''Kalau belum ikhlas jangan di lepas!'' ledek Lufi.
''Apaan sih Fi. Aku udah ikhlas kok,'' ucap Ana menghembuskan nafasnya kasar.
''Ya udah aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik,'' ucap Lufi.
''Kamu juga hati-hati,'' ucap Ana memeluk tubuh Lufi.
''Siap bosque,'' ucap Lufi. Ana segera turun dari dalam mobil. Lufi menurunkan sedikit kaca jendelanya, lalu ia meninggalkan Ana di depan Cafetaria.
Ana pun melakukan aktifitasnya seperti biasanya.
Sementara Lufi baru saja tiba di rumah pukul 8 malam, Karna tadi ia mampir dulu ke basecamp dambaan mertua.
''Dari mana kamu?'' tanya Leon yang bersedekap dada di ruang tamu.
''Dari basecamp,'' ucap Lufi menghempaskan tubuhnya di sofa.
''Mana Ana?'' tanya Leon.
''Ana ya kerja lah Kak. Pertanyaan macam apa itu,'' ucap Lufi kesal.
''Kan aku cuma tanya Fi. Biasanya kalian seperti amplop dan perangko,'' ucap Leon.
''Tapi sekarang udah enggak. Ana udah nggak tinggal di sini lagi. Jadi aku sama dia udah nggak seperti amplop dan perangko,'' ucap Lufi berjalan meninggalkan Leon. Lufi berharap Leon mengejarnya dan menanyakan lebih tentang Ana.
''Satu dua ---''
''Maksud kamu apa?'' tanya Leon berjalan mendekat ke arah Lufi.
''Maksud aku, Ana udah nggak tinggal di sini lagi. Dia udah pindah ke kos-kosan di dekat kampus,'' ucap Lufi.
''Why???''
''Mana aku tau. Kakak sih terlalu galak, makanya Ana jadi nggak enak hati tinggal di sini,'' ucap Lufi meninggalkan Leon seorang diri di ruang tamu.
Leon segera berjalan menuju kamar tamu untuk memastikan jika ucapan Lufi tidak benar.
Ceklek.
Pintu kamar tamu di buka dari luar. Nampak kamar yang rapi dan wangi khas Ana. Leon berjalan menuju lemari pakaian, dan disana Leon tak menemukan apapun alias kosong.
''Ana,'' gumam Leon pelan.
''Kakak cari apa? Nggak percaya kalau Ana udah nggak tinggal di sini?'' ucap Lufi yang tiba-tiba berdiri di tengah pintu.
''Aku hanya memastikan saja jika sudah tak ada benalu di rumah ini,'' ucap Leon meninggalkan Lufi.
''Benalu?'' beo Lufi. ''Kapan sih Kakak sadar jika Kakak itu suka sama Ana,'' ucap Lufi kesal kepada Kakaknya. Namun Leon sudah pergi dari sana, entah kemana.
''Kenapa aku merindukan dia? Padahal baru tadi pagi kita terakhir bertemu. Aku merasa kesepian tak ada dirinya,'' gumam Leon. Leon menatap langit yang saat itu tengah gelap. Bintang pun tak menampakkan diri sama sekali, seperti hati Leon yang tengah tak bercahaya tanpa hadirnya Ana.
*
*