NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."

Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.

Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.

Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.

Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...

Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.

Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Langkah Pertama

Pagi itu, suasana Mahendra Group terasa lebih sunyi dari biasanya.

Bukan karena jumlah karyawan berkurang.

Melainkan karena Arsen Mahendra berjalan melewati lobi dengan wajah yang jauh lebih dingin.

Tatapan tajamnya membuat setiap orang otomatis menyingkir.

"Bapak pagi."

Arsen hanya mengangguk singkat.

Tanpa berhenti melangkah.

Di belakangnya, kepala keamanan mengikuti sambil membawa sebuah map hitam.

"Pak, daftar seluruh vendor yang masuk selama tiga bulan terakhir sudah kami kumpulkan."

"Taruh di ruang saya."

"Baik."

---------------------------------------------------------------------------

Tak lama kemudian.

Ayla mengetuk pintu ruang kerja Arsen.

"Silakan masuk."

Ia membawa secangkir kopi seperti biasanya.

"Kopi tanpa gula."

Arsen tidak langsung menyentuhnya.

Tatapannya masih tertuju pada puluhan nama yang memenuhi meja kerjanya.

Vendor.

Petugas kebersihan.

Teknisi.

Keamanan.

Semuanya kini menjadi tersangka di kepalanya.

Ayla memperhatikan wajah pria itu.

Semalaman...

Sepertinya Arsen tidak tidur.

"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Arsen mengangkat kepala.

Untuk beberapa detik, tatapan mereka bertemu.

"Tidak."

Jawabannya tetap singkat.

Namun kali ini nadanya tidak sedingin biasanya.

"Kalau begitu saya permisi."

Saat Ayla hendak berbalik...

"Sebentar."

Langkah Ayla berhenti.

"Mulai hari ini..."

"Pulanglah sebelum malam."

Ayla mengernyit.

"Kenapa?"

"Ikuti saja."

"Tapi pekerjaan—"

"Aku bilang pulang."

Nada suara Arsen terdengar tegas.

Bahkan sedikit memaksa.

Ayla hanya bisa mengangguk pelan.

"Baik."

Setelah pintu tertutup...

Arsen mengembuskan napas panjang.

"Kalau mereka memang mengincarku..."

"...aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh dia."

__________________________________________

Sementara itu...

Di sebuah kafe yang ramai.

Seorang pria mengenakan topi duduk di sudut ruangan.

Di depannya tergeletak laptop kecil.

Layar monitor menampilkan denah Mahendra Group.

Satu per satu titik berwarna merah mulai menyala.

Pria itu tersenyum tipis.

"Dia mulai bergerak."

Ponselnya bergetar.

"Bagaimana?"

Suara berat dari seberang terdengar tenang.

"Arsen mulai menyelidiki orang dalam."

"Bagus."

"Apakah kita lanjut ke tahap berikutnya?"

Hening beberapa saat.

"Lanjut."

"Tapi..."

"Jangan sentuh Arsen."

Pria bertopi mengangkat alis.

"Lalu?"

"Sentuh sesuatu yang lebih berharga."

Sambungan telepon langsung terputus.

Pria itu menatap sebuah foto di layar laptop.

Foto Ayla.

Senyumnya perlahan memudar.

"Maaf..."

"Kau hanya berada di tempat yang salah."

__________________________________________

Sore harinya.

Ayla benar-benar pulang lebih awal sesuai perintah Arsen.

Saat keluar dari gedung...

Ia merasa seperti seseorang sedang memperhatikannya.

Ia menoleh ke kanan.

Kosong.

Ke kiri.

Hanya kendaraan yang berlalu-lalang.

"Aku terlalu banyak berpikir..."

gumamnya.

Baru beberapa langkah berjalan...

Seorang anak laki-laki berlari menghampirinya.

"Kak."

Ayla menoleh.

"Iya?"

"Ini ada yang nitip."

Anak itu menyerahkan sebuah amplop cokelat.

"Siapa yang ngasih?"

"Itu..."

Anak kecil itu menunjuk ke arah jalan.

"Tadi om yang pakai jaket hitam."

Saat Ayla menoleh...

Orang itu sudah menghilang.

"Eh..."

Ia membuka amplop tersebut perlahan.

Di dalamnya hanya ada satu lembar foto.

Foto lama.

Sudutnya sudah menguning.

Begitu melihat gambar itu...

Wajah Ayla langsung pucat.

"Itu..."

Tangannya gemetar hebat.

Di foto tersebut...

Terlihat sebuah mobil yang ringsek akibat kecelakaan tahun 2019.

Namun yang membuat napas Ayla tercekat bukanlah mobil itu.

Melainkan...

Sosok gadis kecil yang berdiri di pinggir jalan.

Gadis itu...

Sangat mirip dengan dirinya.

Dan di balik foto itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta merah.

"Kau juga ada di sana malam itu, Ayla."

Jantung Ayla berdetak semakin cepat.

Tangannya gemetar hingga foto itu hampir terlepas dari genggamannya.

"Ini... apa maksudnya?"

Ia membalik foto tersebut sekali lagi.

Tidak ada tulisan lain.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya kalimat singkat yang seolah sengaja ditulis untuk membuat pikirannya kacau.

Angin sore berembus pelan, membuat rambut Ayla berantakan. Namun ia sama sekali tidak memedulikannya. Tatapannya terus terpaku pada foto itu.

Perlahan, kepalanya mulai terasa berdenyut.

Bayangan-bayangan aneh muncul begitu saja.

Suara rem yang berdecit.

Cahaya lampu mobil yang menyilaukan.

Lalu...

Suara seseorang berteriak memanggil namanya.

"Ayla... lari!"

"Agh..."

Tanpa sadar ia memegang kepalanya.

"Nggak... ini bukan ingatanku..."

Napasnya mulai memburu.

Ia berusaha mengingat lebih jauh, tetapi setiap kali bayangan itu muncul, kepalanya justru semakin sakit.

Beberapa orang yang melintas mulai memperhatikannya.

"Mbak, nggak apa-apa?"

Ayla tersentak.

"I-iya... saya nggak apa-apa."

Dengan tergesa ia memasukkan foto itu kembali ke dalam amplop, lalu segera meninggalkan tempat tersebut.

Namun tanpa ia sadari...

Dari seberang jalan, sepasang mata sedang memperhatikannya.

Pria bertopi hitam itu berdiri di balik halte bus sambil menundukkan wajahnya.

Di telinganya terpasang sebuah earphone kecil.

"Target sudah menerima paket."

Beberapa detik kemudian terdengar suara dari seberang.

"Apa reaksinya?"

"Dia terlihat terkejut."

"Hanya terkejut?"

Pria itu kembali mengamati Ayla yang mulai menaiki taksi.

"Sepertinya... ada sesuatu yang mulai dia ingat."

Suara di ujung telepon terdengar puas.

"Bagus."

"Kalau begitu tahap kedua berjalan sesuai rencana."

Sambungan langsung terputus.

Pria bertopi itu menatap langit yang mulai gelap.

"Permainan baru saja dimulai..."

gumamnya pelan.

__________________________________________

Di sisi lain.

Arsen masih berada di ruang kerjanya.

Tumpukan berkas memenuhi meja.

Sementara layar komputer menampilkan seluruh data akses masuk gedung selama beberapa bulan terakhir.

Matanya berhenti pada satu nama.

Seorang teknisi vendor.

Nama itu muncul beberapa kali di hari yang sama dengan insiden penyusupan.

"Terlalu sering..."

gumam Arsen.

Ia segera menekan tombol interkom.

"Surya."

"Ya, Pak."

"Cari semua informasi tentang orang ini."

"Mulai dari alamat, keluarga, sampai riwayat pekerjaannya."

"Baik, Pak."

Belum sempat interkom dimatikan...

Ponsel Arsen bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Tatapannya berubah tajam.

Perlahan ia mengangkat panggilan itu.

"Halo."

Tak ada jawaban.

Hanya suara napas pelan.

Kemudian...

Suara pria yang sama seperti malam sebelumnya kembali terdengar.

"Dugaanmu benar."

Arsen langsung berdiri.

"Siapa kau?"

"Aku hanya ingin membantumu."

"Apa maumu?"

Terdengar tawa kecil.

"Kau sudah mulai mencari orang dalam."

"Teruskan."

"Karena musuhmu..."

"...lebih dekat daripada yang kau kira."

Klik.

Sambungan terputus.

Arsen mengepalkan tangannya.

Ia segera mencoba menghubungi kembali nomor itu.

Namun...

Nomor tersebut sudah tidak aktif.

Saat itulah pintu ruangannya diketuk.

"Masuk."

Surya masuk dengan wajah panik.

"Pak Arsen..."

"Ada apa?"

"Barusan saya menerima laporan."

"Laporan apa?"

Surya menelan ludah sebelum menjawab.

"Mbak Ayla..."

"...baru saja menerima kiriman misterius dari seseorang."

Untuk pertama kalinya hari itu...

Wajah Arsen berubah drastis.

"Apa?"

Tanpa berpikir panjang, ia langsung meraih jasnya dan berlari keluar ruangan.

Di lorong kantor, langkah Arsen terdengar bergema.

Hanya ada satu pikiran di kepalanya.

Jangan sampai mereka mulai menyentuh Ayla.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!