Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Perhatian Diam-diam
Malam itu, Senja tidak langsung naik ke kamar.
Setelah makan malam, dia duduk di ruang keluarga kecil dengan selimut tipis di lutut dan catatan koreografi di pangkuan. Tante Lian melarangnya minum kopi, jadi Pak Hadi mengganti cangkir biasanya dengan teh barley hangat. Rasanya tidak sekuat kopi, tetapi cukup membuat tangannya berhenti mencari sesuatu untuk digenggam.
Di layar ponsel, komentar tentang video Serena masih bergerak.
Ada yang menyebut nama Liem. Ada yang menebak pengemudinya. Ada juga akun gosip kecil yang mulai mengaitkan pernikahan Senja dengan upaya keluarga Liem masuk ke lingkaran Wijaya.
Senja membaca tiga komentar sebelum meletakkan ponsel terbalik.
"Kalau membuatmu pucat, jangan dibaca."
Suara Rayhan datang dari belakang.
Senja menoleh. Pria itu berdiri di ambang ruang keluarga, masih memakai kemeja kerja, tanpa jas. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru mandi setelah pulang dari kantor.
"Aku hanya ingin tahu sejauh apa kabarnya menyebar."
"Cukup jauh."
"Kamu tahu?"
"Aku punya orang yang pekerjaannya tahu."
Senja seharusnya tidak terkejut.
Rayhan berjalan masuk dan duduk di sofa seberang, bukan di sampingnya. Jarak itu masih dijaga, tetapi tidak lagi terasa seperti tembok. Lebih seperti meja kecil yang bisa dilewati jika salah satu dari mereka berani.
"Korban motor itu bagaimana?" tanya Senja.
"Luka ringan. Pergelangan tangan terkilir. Sudah diperiksa."
"Keluarga Liem..."
"Tidak akan menekan dia."
Jawaban itu terlalu pasti.
Senja menatap Rayhan. "Kamu mengurusnya?"
"Aku memastikan tidak ada yang mengurusnya dengan cara salah."
Itu jawaban khas Rayhan. Berputar sedikit agar tidak terdengar seperti kebaikan.
"Terima kasih," kata Senja.
"Kamu terlalu sering berterima kasih untuk hal yang seharusnya normal."
Kalimat itu membuat Senja terdiam.
Normal.
Bagi Rayhan, mungkin korban kecelakaan tidak boleh ditekan adalah hal normal. Bagi Senja, normal adalah keluarga Liem meminta dia diam, mengalah, dan membantu menutup malu.
"Di rumahku dulu," katanya pelan, "hal normal biasanya berarti apa pun yang membuat Serena tidak marah."
Rayhan tidak langsung menjawab.
Di luar jendela, lampu taman memantul di permukaan kolam kecil. Suara air mengalir pelan, memberi ruang bagi kalimat Senja yang baru saja keluar.
"Kamu takut padanya?" tanya Rayhan.
Senja memikirkan jawabannya.
"Dulu iya. Sekarang..." Dia menatap catatan koreografi di pangkuannya. "Aku masih takut, tapi bukan seperti dulu."
"Apa bedanya?"
"Dulu aku takut dia mengambil semuanya. Sekarang aku tahu, tidak banyak yang benar-benar milikku sejak awal." Senja mengusap sudut kertas catatan. "Jadi mungkin aku lebih takut kehilangan sedikit hal yang akhirnya kupilih sendiri."
"Seperti tari?"
Senja mengangkat wajah.
Rayhan menatap catatan di pangkuannya, bukan wajahnya. "Kamu terlihat paling marah saat orang meremehkan tari."
Senja hampir tersenyum. "Kamu memperhatikan?"
"Sulit tidak memperhatikan kalau kamu hampir pingsan karenanya."
"Itu bukan karena tari."
"Menurutmu."
"Itu karena aku bodoh tidak makan."
"Setidaknya kamu sadar."
Kali ini Senja benar-benar tersenyum kecil. Rayhan melihatnya, lalu memalingkan wajah ke arah taman.
"Kenapa tari?" tanyanya.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi Senja tidak pernah menjawabnya untuk Rayhan. Orang-orang biasanya menganggap tari sebagai hobi, pekerjaan sementara, atau sesuatu yang bisa dihentikan begitu menikah. Jarang ada yang bertanya kenapa.
"Karena tubuhku bisa bicara di sana," katanya setelah beberapa saat. "Di rumah Liem, kalau aku bicara, sering dianggap tidak tahu diri. Di sanggar, kalau aku diam pun gerakanku tetap bisa mengatakan sesuatu."
Rayhan mendengarkan.
Benar-benar mendengarkan.
Senja melanjutkan, lebih pelan. "Tari membuatku merasa tubuh ini bukan hanya tubuh yang lemah, yang alergi, yang merepotkan. Tubuh ini bisa kuat juga. Bisa indah. Bisa memilih arah."
Rayhan menatapnya lagi.
Ada sesuatu di wajahnya yang sulit dibaca. Bukan kasihan. Senja tidak suka dikasihani. Lebih seperti dia baru memahami satu hal yang sebelumnya dia letakkan di tempat yang salah.
"Aku tidak akan melarangmu menari," katanya.
Senja terdiam.
Kalimat itu datang begitu saja, tanpa musik, tanpa janji besar. Tetapi dadanya terasa longgar.
"Bahkan kalau keluarga Wijaya menganggap itu tidak pantas?"
"Keluarga Wijaya tidak menjalani hidupmu."
"Tapi kamu..."
"Aku juga tidak."
Senja menggenggam catatan koreografi. "Kamu suamiku."
Rayhan diam sebentar. "Di atas kertas."
Kalimat itu seharusnya menyakitkan.
Anehnya, malam itu tidak sepenuhnya begitu. Mungkin karena dia mengatakannya bukan untuk menjauhkan Senja, melainkan untuk tidak mengklaim sesuatu yang belum dia beri.
"Di atas kertas pun," kata Senja, "kamu punya kuasa untuk membuat hidupku lebih sempit."
Rayhan menatapnya lama.
"Kalau aku melakukannya," katanya, "ingatkan aku."
Senja berkedip.
"Aku boleh mengingatkanmu?"
"Kamu tadi melakukannya."
"Dan kamu tidak marah?"
"Aku marah."
Senja menahan napas.
Rayhan melanjutkan, "Tapi tidak semua kemarahan berarti kamu salah."
Kalimat itu diam di antara mereka, lebih lama daripada suara air di taman.
Senja menunduk, menyembunyikan reaksi di wajahnya. Dia tidak tahu kenapa kalimat seperti itu membuat matanya panas. Mungkin karena selama ini, setiap kali orang marah padanya, dia otomatis menganggap dirinya salah.
Rayhan berdiri sebelum suasana menjadi terlalu lembut.
"Tidur sebelum sebelas."
Senja mengangkat wajah. "Itu perintah atau permintaan?"
Rayhan menatapnya.
"Jadwal kesehatan."
Senja tertawa kecil. "Kamu curang."
"Aku efisien."
Dia berjalan keluar ruang keluarga, lalu berhenti di ambang pintu.
"Besok tidak ada latihan malam?"
"Tidak. Hanya sore."
"Pulang sebelum hujan."
"Jakarta sering hujan tiba-tiba."
"Kalau begitu bawa payung."
"Baik."
Rayhan pergi.
Senja duduk sendiri beberapa menit lagi. Di pangkuannya, catatan koreografi terbuka pada bagian akhir yang tadi hampir membuatnya jatuh. Dia mengambil pensil dan menulis satu kata di tepi halaman.
Ponselnya bergetar.
Lara: Masih hidup?
Senja menatap pesan itu, lalu tersenyum.
Senja: Masih. Baru selesai bicara dengan Rayhan.
Lara: Dia ceramah soal makan?
Senja: Sedikit.
Lara: Berarti banyak.
Senja menahan tawa agar tidak terdengar sampai koridor.
Dia ragu sebentar, lalu mengetik lagi.
Senja: Dia bilang tidak akan melarangku menari.
Balasan Lara tidak langsung datang. Beberapa detik kemudian, tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.
Lara: Aku tetap akan mengawasi dia.
Senja: Aku tahu.
Lara: Tapi... itu bagus, Sen.
Senja membaca kalimat itu lama.
Bagus.
Kata sederhana, tapi dari Lara rasanya seperti restu kecil. Bukan untuk Rayhan sepenuhnya. Lara terlalu keras kepala untuk itu. Lebih seperti restu agar Senja boleh menerima hal baik tanpa merasa mengkhianati dirinya sendiri.
Senja mengetik, Terima kasih, lalu menghapusnya.
Dia mengganti dengan kalimat lain.
Senja: Aku akan cerita lebih banyak mulai sekarang.
Lara: Harus.
Senja: Iya.
Lara: Itu perintah atau permintaan?
Senja menatap layar, lalu tertawa pelan.
Pilih.
Malam itu, ketika dia naik ke kamar, bantal panjang masih ada di tengah ranjang.
Tetapi untuk pertama kalinya, Senja tidak merasa perlu memusuhinya.