NovelToon NovelToon
Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Bluetherine

Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.

"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Duapuluh Satu

Mei’er berlari menembus bayang-bayang malam yang kian mendingin, langkah kakinya secepat embusan angin, didorong oleh kepanikan dan amarah yang bergejolak. Semburat ungu di ufuk timur tidak lagi tampak indah, melainkan seperti hitungan mundur bom waktu yang siap meledak di Istana Phoenix.

Begitu ia mencapai paviliun belakang Istana Phoenix, Mei’er segera mengetuk pintu dengan ritme yang disepakati. Pintu langsung terbuka, menampilkan wajah cemas Lian’er yang masih memegang tusuk konde perak tajam sebagai antisipasi.

"Yang Mulia!" Mei’er langsung berlutut di depan Clara yang masih duduk tenang di kursi dekat jendela. Napas pelayan muda itu memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Selir Chu merencanakan kejahatan untuk Anda. Chu Xinyue... wanita itu sudah gila. Dia tidak berniat menghancurkan dokumen. Dia merencanakan serangan bunuh diri untuk menghancurkan Anda malam ini juga!"

Clara meletakkan cawan porselennya dengan ketukan pelan yang konstan. Tatapan matanya yang tajam mengunci pergerakan Mei’er. "Tenang, Mei’er. Tarik napasmu, lalu laporkan rinciannya sebagai sebuah fakta hukum, bukan emosi."

Mei’er menelan ludah, mencoba menstabilkan suaranya. "Chu Xinyue akan menyuruh pelayannya, Qiao'er, diperintahkan menyusupkan bubuk Hehuan (obat perangsang) ke dalam teh krisan fajar Anda beberapa saat lagi. Mereka juga sudah menyuap seorang kasim pengangkut air bertubuh tegap untuk masuk ke peraduan Anda begitu obatnya bereaksi. Mereka berniat menggerebek Istana Phoenix pagi ini demi menjebak Anda dalam skandal perzinaan terbesar!"

Mendengar kata Hehuan dan perzinaan, atmosfer di dalam kamar Istana Phoenix seketika jatuh ke titik beku. Lian’er membekap mulutnya sendiri, wajahnya mendadak seputih kain kafan, sementara tangannya gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan tusuk konde yang dipegangnya. "Yang Mulia... ini... ini hukuman mati tanpa pengadilan klan Shen jika kita tertangkap basah..."

Namun, reaksi Clara justru di luar dugaan.

Alih-alih panik, ketakutan, atau murka, Clara justru terdiam selama beberapa detik. Sepasang matanya menyipit, berkilat dingin mencerminkan kalkulasi analitis yang luar biasa tajam. Otak pengacara korporatnya langsung memetakan serangan balik, melihat celah hukum dari strategi kotor yang diluncurkan musuhnya.

"Merekayasa skandal perzinaan di ranjangku..." Clara bergumam lirih, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat mengerikan terukir di wajah cantiknya. "Chu Xinyue, kau benar-benar menggunakan taktik sabotase reputasi yang paling klasik dalam dunia sengketa. Jika kau tahu kau akan kalah di pengadilan, kau akan menyerang kredibilitas sang pengacara."

Clara bangkit dari kursinya, jubah tidurnya sutra putihnya berkibar pelan. Keanggunannya kini memancarkan aura dominasi yang mutlak.

"Lian’er, Mei’er, dengarkan aku dengan cermat," perintah Clara, suaranya mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. "Rencana awal kita untuk diam dan membiarkan mereka saling menggigit tidak berubah. Kita hanya perlu menggeser sedikit arah mata pisau ini agar langsung menusuk tepat ke jantung pertahanan mereka sendiri."

Shen Ran menatap Mei’er. "Apakah bayangan suruhan Feng Muye masih berada di posisinya?"

"Benar, Yang Mulia. Mereka menunggu perintah lebih lanjut di perimeter luar," jawab Mei'er tanggap.

"Bagus. Tugaskan satu dari mereka untuk mencegat pelayan pembawa teh krisan beracun itu. Jangan batalkan pengiriman tehnya, tapi tukar botol ramuan Hehuan tersebut. Aku ingin ramuan itu justru dimasukkan ke dalam cawan arak atau teh menteri atau... Ganti isi teh krisanku dengan air biasa" Clara menjeda kalimatnya dengan kilat mata yang kejam.

"Lalu bagaimana dengan kasim yang disuap untuk masuk ke kamar Anda, Yang Mulia?" tanya Lian'er dengan suara berbisik, masih ngeri membayangkan skenario tersebut.

"Biarkan kasim itu masuk ke gerbang luar Istana Phoenix agar jebakan mereka terlihat berjalan sempurna. Namun, begitu dia melangkah ke koridor dalam, suruhan Feng Muye harus langsung melumpuhkannya tanpa suara, ikat dia, dan bius dia," sahut Clara dingin.

Mei’er mengangguk cepat, matanya berbinar melihat bagaimana Clara dengan tenang membalikkan keadaan darurat ini menjadi perangkap maut bagi musuh mereka.

"Lian’er, ambilkan jubah kebesaran Permaisuri yang baru," perintah Clara, suaranya tenang namun sedingin es. "Dan Mei’er, sampaikan perintah spesifik ini kepada intelijen bayangan Pangeran Sembilan sekarang juga."

Clara melangkah mendekati Mei’er, membisikkan instruksi taktis dengan presisi seorang komandan di medan laga. "Minta bawahan Feng Muye untuk menculik Qiao'er, pelayan wanita kepercayaan Chu Xinyue itu, sesaat setelah ia selesai mencampurkan obat ke teh krisan. Seret dia ke ruang bawah tanah Istana Phoenix dalam keadaan hidup. Jangan biarkan dia mati, karena dia adalah saksi hidup yang memegang botol racun Hehuan yang asli."

"Baik, Yang mulia Permaisuri," jawab Mei'er.

"Jangan lupa gunakan obat bius dosis tinggi milik intelijen bayangan. Begitu dia melangkah masuk ke halaman belakang Istana Phoenix, jatuhkan dia tanpa suara. Seret tubuhnya yang tak sadarkan diri dan baringkan di sudut koridor luar, tepat di jalur yang akan dilewati Long Tianqi saat penggerebekan nanti. Aku ingin Kaisar melihat pria selingkuhanku dalam keadaan pingsan karena bius, sementara teh beracun yang belum sempat kuminum berdiri utuh di mejaku."

Mei’er membungkuk dalam, mengagumi taktik berlapis yang dirancang Permaisurinya. "Siasat yang luar biasa, Yang Mulia! Hamba akan segera menemui bawahan Pangeran Sembilan. Mereka akan bergerak secepat bayangan."

"Pergilah. Waktu kita tidak banyak," ucap Clara tegas.

Dengan satu anggukan mantap, Mei’er segera berbalik dan menyelinap keluar jendela paviliun, menghilang ke dalam kegelapan fajar untuk menggerakkan para agen bayangan Feng Muye. Sementara itu, Lian’er maju membawa jubah sutra emas bersulam burung Phoenix dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Ketakutannya telah digantikan oleh rasa percaya diri yang mutlak pada sosok wanita di hadapannya.

"Mari kita bersiap, Yang Mulia," ucap Lian’er dengan kepala tegak.

Shen Ran merentangkan kedua tangannya, membiarkan Lian’er memakaikan jubah megah tersebut. Di bawah temaram lampu minyak yang mulai meredup dan sinar fajar yang perlahan menyingsing, wajah Shen Ran tampak begitu agung, siap menyambut badai yang sengaja ia biarkan datang untuk menghancurkan musuh-musuhnya berkeping-keping.

1
Emily
keren ceritamu thour
Fajar Fathur rizky
cepat bantai long tianqi
Fajar Fathur rizky
bikin shen ran sendiri yang membunuh long tianqi
Fajar Fathur rizky
tidak sabar long tianqi mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!