NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Api dan Abu

Tiga hari.

Rayhan mengucapkannya tanpa suara di layar ponsel, sementara Keira tidur dengan alis berkerut dan darah di punggungnya belum berhenti sepenuhnya.

Tiga hari itu habis lebih cepat daripada luka mengering.

Pada pagi hari ketiga, Keira berdiri di ruang kerja Villa Teluk dengan rambut diikat asal, kemeja putih, dan tablet berisi laporan yang terus bertambah. Harrison Liem belum ditemukan. Om Herman juga menghilang dari rumahnya sejak surat pencegahan perjalanan dikirim. Semua rekening bisnisnya tampak bersih, terlalu bersih sampai membuat Kevin menyumpah dari ujung telepon.

"Orang bersih cuma ada dua," kata Kevin. "Yang benar-benar suci, atau yang punya tim penghapus jejak lebih mahal dari dosa mereka."

Keira menatap peta pergerakan mobil yang ditampilkan di layar. "Om Herman bukan suci."

"Berarti dosa mahal. Kei, jangan bergerak tanpa aku."

"Aku tidak bodoh."

"Aku tahu. Justru karena kau pintar, kau suka merasa semua lubang bisa kau hitung."

Keira hendak menjawab saat ponsel pribadinya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Pesan itu hanya berisi satu foto.

Sebuah gudang tua dengan pintu besi berkarat. Di lantainya, ada jas hitam milik Rayhan yang masih ia pakai saat keluar dari rumah sakit. Di atas jas itu, seseorang meletakkan satu tube salep militer dari Keira, sudah penyok dan bernoda merah.

Pesan kedua masuk.

Datang sendiri ke gudang Marunda jam tujuh malam. Kalau ingin tahu siapa yang memesan S404, jangan bawa keluarga Liem.

Keira membaca pesan itu sekali.

Lalu memotretnya dengan ponsel lain dan mengirimkannya ke Kevin.

Balasan Kevin datang dalam tiga detik.

JANGAN PERGI.

Keira sudah mengambil jaket.

Di RS Pondok Indah, Rayhan menerima salinan pesan yang sama dari jalur yang berbeda. Sinar berdiri di samping ranjang, wajahnya kehilangan warna.

"Mereka sengaja mengirim ke Nona Keira dan ke jalur kita bersamaan," kata Sinar. "Mereka ingin melihat siapa yang datang."

Rayhan duduk perlahan. Punggungnya seperti retak dari dalam. Setelah tiga puluh cambukan dan S404, tubuhnya seharusnya tidak lagi dipakai untuk berdiri. Namun saat melihat foto salep militer itu, ia tahu pesan itu bukan hanya ancaman.

Itu undangan pemakaman.

"Keira akan pergi," katanya.

"Ko Kevin pasti menahan."

"Dia pernah berhasil menahan Keira?"

Sinar diam.

Rayhan menurunkan kaki dari ranjang. Keringat dingin langsung muncul di tengkuknya.

"Siapkan mobil."

"Tuan, kali ini tidak. Anda tidak bisa."

Rayhan memandangnya.

Sinar menahan tatapan itu, untuk pertama kalinya tidak langsung tunduk. "Anda meminta tiga hari untuk melindungi dia, bukan untuk membakar diri sendiri."

"Kalau aku tidak datang, mereka akan membuat Keira masuk."

"Kita bisa kirim tim."

"Mereka ingin target utama. Kalau bukan Keira, aku."

"Justru itu."

Rayhan membuka laci kecil di samping ranjang. Di dalamnya sudah ada map cokelat yang disegel. Ia meletakkannya di atas meja.

"Kalau aku tidak kembali sebelum besok pagi, berikan ini ke pengacara."

Sinar menatap map itu seperti menatap pisau.

"Jangan," katanya lirih.

Rayhan mengambil satu tube salep yang tersisa. Benda itu dingin di telapak tangannya.

"Dia bilang ini hadiah pertama sejak perceraian," gumamnya. "Aku belum sempat membalas."

"Tuan..."

"Sinar, kali ini perintah."

Sinar menutup mata sebentar. Saat membukanya lagi, semua bantahan sudah dikubur di dalam wajahnya.

"Baik."

Menjelang pukul tujuh, hujan turun tipis di Marunda.

Gudang itu berdiri di ujung jalan industri yang setengah mati, dikelilingi kontainer tua dan pagar seng. Lampu jalan berkedip. Bau garam dari laut bercampur solar dan karat. Di kejauhan, suara truk lewat terdengar seperti geraman yang malas.

Mobil Keira belum tiba ketika Rayhan masuk dari pintu samping.

Ia mengenakan kemeja hitam longgar dan rompi anti peluru tipis yang membuat lukanya menjerit setiap kali bergerak. Di pinggangnya ada senjata, tetapi tangan kirinya menggenggam tube salep penyok dari foto tadi, yang ditemukan Sinar di dekat pintu masuk.

Di dalam gudang, cahaya hanya datang dari beberapa lampu darurat. Jeriken bensin tersusun di sudut. Kabel menggantung rendah. Di tengah lantai, seorang pria berjaket abu-abu berdiri dengan pemantik di tangan.

Wajahnya bukan Harrison.

Bukan pula Om Herman.

Pembunuh bayaran.

"Yang datang bukan perempuan itu," kata pria itu.

Rayhan berhenti lima langkah darinya. "Kecewa?"

"Bayaran saya untuk Liem perempuan."

"Tambahkan tagihan. Aku lebih mahal."

Pria itu tertawa. "Kau kira ini negosiasi?"

Rayhan melihat sekeliling. Kamera kecil di tiang. Kabel detonator di lantai. Pintu utama dikunci dari luar. Gudang ini disiapkan untuk membuat orang yang masuk tidak keluar.

Keira pasti akan menyadarinya.

Tapi Keira selalu menyadari jebakan setelah ia berdiri terlalu dekat untuk mundur.

"Siapa yang membayar?" tanya Rayhan.

"Orang yang bosan melihatmu hidup."

"Daftarnya panjang."

"Dan malam ini berakhir pendek."

Pria itu menekan sesuatu di sakunya.

Di luar, suara mesin mobil mendekat.

Keira.

Rayhan tidak punya waktu lagi.

Ia bergerak lebih dulu, menghantam pergelangan tangan pria itu. Pemantik jatuh, tetapi pria itu menendang jeriken terdekat. Bensin tumpah cepat di lantai. Mereka bergulat di atas permukaan licin. Luka Rayhan terbuka saat punggungnya membentur rak besi. Rasa sakit membuat pandangannya gelap sesaat.

Pria itu menarik pisau.

Rayhan menangkap pergelangannya, memutar, lalu menghantamkan siku ke rahangnya. Pisau jatuh. Namun remote kecil di tangan lain pria itu berkedip merah.

Pintu utama gudang digedor dari luar.

"Rayhan!"

Suara Keira.

Rayhan menoleh.

Kesalahan sepersekian detik itu cukup. Pria itu menendang lututnya. Rayhan jatuh satu kaki. Remote terangkat.

"Mundur!" teriak Rayhan ke arah pintu.

Keira sudah muncul di celah pintu yang dibuka paksa oleh pengawal Kevin. Wajahnya pucat saat melihatnya di tengah gudang, berdarah, berdiri di antara bensin dan kabel.

"Keluar!" Keira berteriak.

Rayhan tersenyum dari jauh.

Untuk sesaat, suara hujan dan jeritan pengawal menghilang. Ia hanya melihat Keira, perempuan yang dulu menatapnya dengan mata penuh luka di malam pernikahan, perempuan yang ia sia-siakan selama tiga tahun, perempuan yang baru sekarang ia tahu sudah ia cintai sejak jauh sebelum ia mengerti arti pulang.

"Jangan masuk," katanya.

Keira melangkah maju.

Kevin menangkap lengannya dari belakang. "Kei, jangan!"

Remote berbunyi.

Api menyala dari sudut gudang, menjilat bensin seperti lidah merah yang lapar. Panas langsung meledak ke udara. Pengawal menarik Keira mundur, tetapi ia meronta begitu keras sampai kukunya mencakar tangan Kevin.

"Rayhan!"

Rayhan menubruk pria berjaket abu-abu, menjatuhkannya menjauh dari pintu. Api menutup jalur di antara mereka. Asap hitam naik, pekat dan cepat. Alarm gudang yang sudah rusak berbunyi putus-putus.

Keira melihat Rayhan tersandung.

Lalu ia melihat darah di punggung kemeja hitamnya.

Mimpi itu kembali.

Api.

Darah.

Rayhan memanggil namanya.

"Keira," suara Rayhan terdengar dari balik asap, tidak lagi keras.

Ia berusaha mendekat, tetapi Kevin memeluknya dari belakang dengan kedua tangan, menahannya seperti menahan seseorang yang ingin melompat ke jurang.

"Lepas!" Keira menjerit. "Ko Kevin, lepas!"

"Kalau kau masuk, kau mati!"

"Dia di dalam!"

"Aku tahu!"

Suara ledakan kecil memecah atap. Gelombang panas menghantam pintu. Para pengawal terseret mundur. Keira jatuh berlutut di aspal basah. Hujan menyentuh wajahnya, tetapi ia tidak merasa dingin.

Di dalam gudang, bayangan Rayhan terlihat sekali lagi di antara api.

Tegak.

Lalu hilang.

"RAYHAN!"

Teriakan Keira pecah sampai tenggorokannya terasa robek.

Pemadam datang tujuh belas menit kemudian.

Tujuh belas menit yang cukup untuk membuat gudang itu menjadi kerangka hitam.

Keira berdiri di bawah hujan sepanjang proses pemadaman. Kevin memaksakan jaket ke bahunya. Ia tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari pintu gudang yang kini tinggal lubang hangus.

"Kei," suara Kevin serak. "Duduk dulu."

"Dia akan keluar."

Kevin menutup mata.

"Dia akan keluar," ulang Keira.

Tidak ada yang berani membantah.

Tiga jam kemudian, Keira duduk di ruang tunggu Rumah Duka Grand Heaven Pluit.

Hujan masih menempel di rambutnya. Kevin sudah tiga kali menyuruh staf membawakan handuk, tetapi Keira tidak menyentuh satu pun. Sepatu haknya meninggalkan bekas air di lantai marmer. Di luar ruangan, polisi, petugas pemadam, dan orang-orang Kevin berbicara dengan suara rendah. Tidak ada yang berani masuk terlalu dekat.

Di meja depan, formulir kedatangan jenazah masih kosong.

Nama almarhum belum ditulis.

Keira menatap garis kosong itu selama hampir sepuluh menit, seolah kalau ia tidak mengisinya, Rayhan belum boleh mati.

Kevin berjongkok di depannya. "Kei."

"Jangan panggil aku seperti itu."

Suara Keira datar.

Kevin menelan kata-kata yang tersangkut di tenggorokan. Ia bisa memaki, bisa menghancurkan keluarga Herman, bisa membeli seluruh rumah duka ini kalau Keira minta. Tetapi ia tidak bisa menarik Rayhan keluar dari api.

Pintu kaca terbuka.

Sinar masuk dengan wajah penuh jelaga, salah satu lengannya tergores, dan kemejanya berbau asap. Namun ia tidak tampak seperti orang yang baru berlari. Ia tampak seperti orang yang sudah tahu akhir dari sebuah sandiwara dan tetap harus memainkan perannya sampai selesai.

Keira menoleh padanya.

"Di mana Rayhan?"

Sinar tidak langsung menjawab.

Keira berjalan mendekat. "Aku tanya di mana Rayhan."

Sinar berlutut di depannya.

Di kedua tangannya ada kotak logam kecil, hitam, tertutup rapat. Di atasnya tergeletak jam tangan Rayhan yang setengah hangus. Jarumnya berhenti di pukul tujuh lewat tiga belas.

"Nona Keira," suara Sinar pecah, "kami hanya menemukan ini."

Keira menatap kotak itu.

Diam turun di antara mereka.

"Tidak."

Sinar menundukkan kepala lebih dalam. "Maaf."

"Tidak."

Kevin menangkap tubuh Keira tepat sebelum lututnya benar-benar lepas. Ponsel di tangannya jatuh ke aspal. Layarnya retak, masih menampilkan riwayat empat panggilan terakhir ke Rayhan dari malam sebelumnya.

Keira tidak menangis.

Matanya terbuka, tetapi seluruh cahaya di dalamnya padam.

Di ruang tunggu rumah duka yang terlalu terang, ia memeluk kotak logam itu seperti memeluk dada seseorang yang tidak lagi bernapas.

Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian, Keira Liem benar-benar kehilangan Rayhan Sutanto.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!