Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28 Kain dari Rumah
"Abdi dalam dari Puri Candra."
Nama tempat itu membuat langkah Arjuna berhenti lebih lama daripada seharusnya.
Puri Candra bukan sekadar bangunan tua. Di sana ibunya pernah tinggal, tertawa, sakit, lalu mati dengan terlalu banyak pintu tertutup. Setelah Candra Dewi wafat, tempat itu dibiarkan sepi atas nama penghormatan. Namun sepi di keraton tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada orang yang menjaga debu, dan selalu ada orang yang memakai debu untuk menyembunyikan jejak.
Eyang Maha mendengar laporan Garuda tanpa menoleh.
"Jangan masuk ke Puri Candra hari ini," katanya.
Arjuna menatapnya. "Eyang tahu sesuatu?"
"Aku tahu tempat yang terlalu lama dibiarkan gelap akan membuat orang merasa semua barang di dalamnya milik mereka." Eyang Maha menggenggam tongkatnya. "Jika kau masuk sekarang dengan amarah, mereka akan membakar jejak sebelum kau sampai ke pintu kedua."
Arjuna menahan napas.
Ia ingin mendobrak. Ia ingin menyeret setiap abdi lama, setiap penjaga, setiap orang yang pernah menyebut nama ibunya sambil berbohong.
Namun ia sudah pernah kalah karena bergerak terlambat. Ia tidak boleh kalah lagi karena bergerak terlalu cepat.
"Garuda," katanya.
"Siap."
"Awasi semua pintu Puri Candra. Jangan tangkap siapa pun kecuali mereka mencoba keluar membawa barang."
"Siap."
Eyang Maha menoleh pelan. "Sekarang bawa aku kepada istrimu. Orang yang mengirim selendang dari kamar sakit layak lebih dulu menerima salamku daripada dinding yang penuh dusta."
Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajah Arjuna melunak.
***
Anindya sudah menunggu di ruang depan Puri Timur.
Wulan menyusun bantal di kursi rendah, tetapi Anindya tetap berdiri ketika suara langkah mendekat. Tubuhnya belum pulih, wajahnya masih lebih pucat daripada biasa, namun kainnya rapi dan sanggulnya ditata sederhana. Ia tidak ingin Eyang Maha melihatnya seperti orang yang hanya bisa berbaring.
Begitu lelaki tua itu masuk, Anindya memberi hormat.
"Anindya menyambut Eyang."
Ia hendak berlutut, tetapi tongkat kayu hitam lebih dulu mengetuk lantai.
"Jangan."
Anindya berhenti.
Eyang Maha berjalan mendekat. Dari dekat, luka di pelipisnya terlihat lebih jelas, tetapi matanya hangat ketika memandangnya.
"Anak yang baru sembuh tidak perlu berlutut kepada orang tua keras kepala," katanya.
Anindya terdiam sesaat, lalu menunduk lebih rendah. "Hamba seharusnya menyambut Eyang di gerbang."
"Kau sudah menyambutku di jalan." Eyang Maha mengangkat selendang yang masih tersampir di bahunya. "Dengan ini."
Anindya melihat kain itu. Selendang biasa yang semalam ia berikan kepada Arjuna kini berada di bahu seorang adipati besar. Entah mengapa, dadanya terasa panas.
"Itu hanya kain sederhana."
"Rumah kadang dikenali dari kain sederhana, bukan dari panji besar."
Arjuna berdiri di samping, diam. Ia melihat Anindya menggigit bibir untuk menahan emosi, lalu cepat menunduk agar tidak terlalu terlihat.
Eyang Maha duduk setelah Anindya duduk. Sikap kecil itu tidak luput dari mata semua orang di ruangan. Bagi lelaki tua itu, menghormati Putri Mahkota bukan basa-basi. Ia sedang menunjukkan kepada Puri Timur bahwa perempuan muda ini adalah bagian dari keluarga yang harus dijaga martabatnya.
Tidak lama kemudian, Raden Danarta datang bersama Puspa dan Bima.
Puspa berjalan lebih hati-hati daripada biasanya. Setelah peristiwa kolam, tubuhnya sempat lemah beberapa hari, tetapi wajahnya kini sudah kembali berwarna. Begitu melihat Anindya, matanya langsung basah.
"Gusti Putri," katanya, "aku belum sempat berterima kasih dengan benar."
Anindya menggeleng. "Jangan mulai lagi. Kalau kau menangis, Bima akan menyalahkanku."
Bima yang berdiri di belakang Puspa langsung membusungkan dada. "Aku tidak akan menyalahkan Gusti Putri. Aku hanya akan berlatih lebih keras supaya lain kali bisa menarik Puspa dari air."
"Dengan tombak kayu sebesar tubuhmu itu?" tanya Danarta.
Bima memeluk tombak latihannya. "Suatu hari nanti tombak ini akan lebih besar dari tubuh Paman."
Ruangan yang sejak pagi tegang akhirnya pecah oleh tawa kecil.
Eyang Maha memandang mereka satu per satu. Ada luka yang tidak hilang dari wajahnya ketika melihat cucu-cucu tumbuh jauh dari pengawasannya. Namun ada juga rasa syukur yang terlalu dalam untuk diucapkan.
"Keluarga yang masih bisa tertawa setelah dikejar malam," katanya pelan, "belum kalah."
Anindya menatap lelaki tua itu. "Eyang akan tinggal di Kadipaten Cendekia?"
"Untuk sementara." Eyang Maha melirik Arjuna. "Rumah itu perlu dibuka, dibersihkan, dan diisi suara manusia lagi. Tetapi aku akan sering datang ke Puri Timur jika Putri Mahkota mengizinkan."
"Puri Timur akan senang menerima Eyang."
"Bagus. Aku ingin tahu perempuan seperti apa yang membuat cucuku belajar membawa selendang."
Arjuna batuk kecil.
Danarta pura-pura menatap langit-langit. Puspa menunduk menyembunyikan senyum. Bima tidak mengerti, tetapi ikut tersenyum karena semua orang tampak ingin tertawa.
Anindya merasa panas naik ke pipi. "Eyang terlalu memuji."
"Aku belum memuji. Aku baru mengamati."
Untuk beberapa saat, perang benar-benar menjauh.
Ada bubur hangat, teh jahe, suara Bima yang terlalu keras, Puspa yang berkali-kali melirik luka Anindya dengan rasa bersalah, Danarta yang bicara tentang memperbaiki atap Kadipaten Cendekia, dan Eyang Maha yang mendengar semuanya seperti orang tua yang menghitung napas keluarganya satu per satu.
Arjuna duduk di sisi Anindya. Ketika tangan istrinya bergerak mencari cangkir, ia lebih dulu menggeser cangkir itu ke dekatnya.
Anindya meliriknya.
Arjuna tidak berkata apa-apa.
Namun Eyang Maha melihat.
Lelaki tua itu menunduk minum teh, menyembunyikan senyum yang sangat tipis.
***
Menjelang malam, setelah keluarga Cendekia pulang untuk membuka kediaman lama, Puri Timur kembali tenang.
Anindya sudah lelah. Wulan membujuknya berbaring, tetapi ia masih duduk di dekat meja, membaca daftar pengawasan Selir Melati yang disusun Garuda.
"Kau berjanji tidak memikul semuanya sendiri," kata Arjuna.
"Aku sedang membaca, bukan memikul."
"Matamu berkata sebaliknya."
Anindya hendak membantah, tetapi Adi masuk dengan langkah cepat.
"Yang Mulia, tanda dari Puri Ratih."
Ia meletakkan seutas benang hitam di atas meja. Kali ini benang itu basah, seolah baru diambil dari dasar kendi.
Arjuna membuka kertas kecil yang melilitnya.
Wajahnya berubah.
Anindya langsung duduk lebih tegak. "Apa isinya?"
Arjuna menyerahkan kertas itu kepadanya.
Tulisan di sana hanya satu baris.
Malam ini Selir Melati akan dipindahkan ke ruang hukuman Puri Ratih sebelum bulan naik.