NovelToon NovelToon
Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat Yang Kembali Pulang

​Kalimat Raka yang penuh dengan penegasan dan kejujuran itu bergema di dalam kabin mobil yang sunyi. Naomy menatap lekat-lekat sepasang mata di depannya. Tidak ada lagi sisa keangkuhan seorang CEO Andandra Group; yang tersisa hanyalah seorang pria yang rela berkendara ratusan kilometer, menembus dinginnya malam, hanya demi memohon maaf darinya.

​Beban berat yang selama dua minggu ini menghimpit dada Naomy mendadak menguap, terbang bersama angin malam yang berembus di luar sana. Tembok pertahanan yang ia bangun dengan susah payah di desa ini runtuh, menyisakan rasa haru yang teramat sangat.

​Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh juga, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa lega yang membuncah.

​Naomy perlahan mengangkat kedua tangannya, lalu membalas genggaman tangan Raka yang masih menangkup pipinya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat dirindukan oleh Raka.

​"Terima kasih sudah mencariku sejauh ini," ucap Naomy lirih, suaranya bergetar menahan tangis. "Terima kasih karena gak menyerah soal kita, Raka."

​Mendengar ucapan itu, Raka merasa seolah seluruh beban di pundaknya diangkat seketika. Jantungnya bergemuruh hebat. Tanpa menunggu sedetik pun, ia langsung menarik Naomy kembali ke dalam pelukannya. Kali ini, tidak ada lagi pemberontakan atau penolakan dari Naomy. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Raka, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.

​"Aku yang harusnya makasih karena kamu masih mau dengerin aku, Sayang," bisik Raka, mengecup puncak kepala Naomy berulang kali dengan penuh rasa syukur. "Aku janji, setelah urusan besok selesai, aku akan jemput kamu lagi. Aku gak akan biarkan ada hal apa pun yang memisahkan kita lagi."

​Di bawah langit malam Karanganyar yang dingin, dua hati yang sempat terpisah jarak dan kesalahpahaman itu akhirnya menemukan kembali kehangatan mereka. Kepergian Naomy ke desa mungkin sempat menjadi badai bagi Raka, namun di tempat ini pula, mereka justru menemukan fondasi yang lebih kuat untuk hubungan mereka ke depan.

​Raka melepaskan pelukannya perlahan, menatap Naomy dengan tatapan yang masih sarat akan rasa bersalah sekaligus tidak percaya bahwa gadisnya kini telah kembali ke dekapannya. Namun sebelum Raka sempat menyalakan mesin mobil atau menanyakan hotel terdekat, Naomy menahan lengan kemejanya pelan.

​"Malam ini nggak apa-apa kok kamu menginap di tempatku aja," ucap Naomy lembut, menatap Raka dengan sorot mata penuh perhatian. "Nanti besok pagi aku kasih tahu ke guru-guru lain kalau kamu sepupu jauhku yang lagi ada urusan di dekat sini."

​Raka tertegun, menatap Naomy dengan dahi sedikit berkerut.

​"Ini sudah larut banget, Raka. Jalur turun dari lereng gunung ini gelap dan berkelok-kelok. Aku takut ada apa-apa di jalan kalau kamu maksain berkendara sekarang dengan kondisi secapek ini," lanjut Naomy lagi, memberikan alasan logis yang membuat Raka tidak bisa membantah. Pria itu memang sudah berada di batas ambang energinya setelah berkendara tanpa henti dari ibu kota.

​Sebuah kehangatan menjalar di dada Raka. Kepedulian Naomy yang tulus ini adalah hal yang paling ia rindukan.

​"Terima kasih, Sayang," bisik Raka lembut, menggenggam jemari Naomy.

​Mereka berdua akhirnya keluar dari mobil. Raka mengunci pintu mobilnya, lalu berjalan beriringan dengan Naomy menyusuri jalan setapak yang sunyi. Langkah mereka kali ini terasa begitu ringan dan penuh kedamaian, berbanding terbalik dengan beberapa jam lalu saat Raka berdiri dalam kecemasan di bawah pohon pinus.

​Cklek.

​Naomy membuka pintu rumah huniannya dan menuntun Raka masuk ke dalam. Begitu pintu ditutup dan dikunci rapat dari dalam, udara dingin pegunungan seketika terhalang, digantikan oleh kehangatan ruangan sederhana yang telah disulap Naomy mirip dengan kosan lamanya.

​Raka mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia tersenyum tipis melihat bagaimana Naomy menata tempat ini—semuanya terasa begitu familier dan menenangkan. Di dalam ruangan kecil inilah, untuk malam ini, mereka melepaskan seluruh penat dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok yang krusial di kota.

Raka melepas jas kerjanya yang sudah kusut dan menyampirkannya di sandaran kursi kayu. Ia memperhatikan Naomy yang bergerak cekatan menuju lemari kecil, mengeluarkan seonggok kasur lipat busa yang tidak terlalu tebal.

​Dengan napas yang sedikit terengah karena lelah, Naomy mulai membentangkan kasur lipat itu di lantai, tepat di samping ranjang utama tempat ia biasa tidur.

​"Biar aku yang tidur di bawah," ucap Naomy sambil menepuk-nepuk bantal tambahan yang baru ia pasang sarungnya. "Kamu pakai ranjangnya aja, Raka. Badan kamu tinggi besar, pasti pegal-pegal kalau tidur di kasur lipat begini setelah menyetir seharian."

​Mendengar hal itu, Raka langsung melangkah mendekat. Sebelum Naomy sempat menggelar selimut, tangan kekar Raka menahan pergelangan tangan gadis itu, menghentikan gerakannya.

​"Gak, Naomy. Enak saja," larang Raka tegas, namun dengan nada suara yang lembut. "Mana ada ceritanya aku membiarkan pacarku tidur di lantai yang dingin begini, sementara aku enak-enakan di atas ranjang? Biar aku yang di bawah."

​Naomy mendongak, mengerucutkan bibirnya kesal. "Tapi kamu tamu di sini, Raka. Lagian lantai daerah gunung begini dingin banget kalau malam, meskipun pakai kasur lipat."

​"Justru karena dingin, tidak akan aku biarkan kamu yang di bawah," potong Raka mutlak. Ia langsung merebut bantal dari tangan Naomy dan meletakkannya di kasur lipat dengan posisi yang pas. Pria itu kemudian duduk di atas kasur lipat tersebut, membuktikan bahwa ia tidak akan goyah dengan keputusannya.

​Raka menatap Naomy yang masih berdiri di depannya dengan tatapan hangat. "Sini, duduk dekat aku sebentar."

​Naomy menghela napas pasrah, tahu betul kalau berdebat dengan seorang Raka Andandra tidak akan pernah ada habisnya jika pria itu sudah keras kepala. Ia akhirnya ikut duduk di tepi ranjang, tepat di atas posisi Raka yang berada di lantai.

​Raka meraih kedua belah tangan Naomy yang terasa dingin akibat hawa malam yang kian menusuk. Ia menggosok telapak tangan gadis itu dengan kedua tangannya sendiri, memberikan kehangatan yang mengalir langsung ke lubuk hati Naomy. Di dalam ruangan kecil yang minim pencahayaan itu, ketegangan beberapa minggu terakhir benar-benar mencair, digantikan oleh rasa saling menjaga yang teramat manis.

1
dinda.glow
haloo izin mampir ya... saling mampir yuk
bsjelfjbrndsabdvr
nyimak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!