Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 24_Revenge
Vinda baru saja keluar dari kamar dengan dress yang sudah disiapkan oleh Michael. Dia mengatakan tidak ingin melihat Vinda mengenakan pakaian yang biasa dipakai, bagaimana pun sekarang dia adalah menantu dari keluarga Aditama. Jadi, setidaknya dia masih memiliki hak untuk menjaga penampilan yang sebenarnya bukan dia sama sekali.
Vinda menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Dia ingin keluar dari rumah Michael saat ini juga dan mencari pekerjaan. Pikirannya masih berkutat dengan apa yang nanti menjadi takdirnya. Untuk beberapa saat dia memang aman, tetapi seperti sifatnya, Vinda enggan meminta dan berharap dengan bantuan orang lain yang jelas tidak akan pernah membantunya.
“Aku harus cari kemana lagi, ya?” ucap Vinda bermonolog.
Vinda masih berkutat dengan mata yang memandang sekitar, sampai sebuah suara nyaring terdengar, membuatnya sedikit kaget dan langsung mendatangi sumber suara. Tampak seorang wanita yang jauh lebih tua darinya tengah memegang tangannya dengan erat. Beberapa kali dia mendengar suara menahan perih yang timbul dari mulut wanita tersebut.
“Ibu gak kenapa-kenapa?” tanya Vinda hati-hati dengan tatapan cemas. Dia tidak mengenal wanita yang saat ini tengah duduk di lantai dengan tangan yang digenggam erat. Selama berada di rumah, Vinda memilih mengurung diri dan Roy yang akan membawakan makanan ke kamar. Dia enggan bertemu dengan Michael yang selalu menatapnya dengan penuh dendam.
“Apa ada yang terluka?” tanya Vinda lagi karena tidak mendapatkan respon.
Wanita tersebut langsung bangkit dengan wajah berbalut cemas. Tangan yang sejak tadi di genggam langsung disembunyikan di belakang punggung dan menatap Vinda dengan mulut tertutup rapat dan kepala menunduk, menyembunyikan wajah yang sudah begitu jelas akan menitikan air mata.
Vinda menghembuskan napas keras karena tidak segera mendapatkan jawaban. Langkahnya melebar dan langsung menarik tangan wanita di hadapannya dan menatap tercengang. “Ibu terluka,” ucap Vinda kaget karena tangan wanita tersebut melepuh.
“Maaf, Nyonya. Jangan pecat saya. Saya akan lebih berhati-hati lagi,” cicit wanita tersebut dengan wajah yang sudah dibaluti dengan rasa cemas.
Vinda yang mendengar semakin menatap iba. Siapa yang akan memecatnya? Dia bahkan tidak memiliki hak tersebut. “Nama Ibu siapa?”
“Ria.”
Vinda menatap dengan senyum dan berbalik. Matanya menatap kotak putih yang ada di sebelah lemari kayu dan langsung mengambilnya. Dia menarik Ria yang saat itu semakin gusar dan ketakutan. Dia adalah pelayan di rumah Michael paling lama. Terkenal mengerjakan tugas dengan sangat rapi. Dia tau, Michael akan selalu mengeluarkan siapa saja yang melakukan kesalahan dan lalai dalam tugas.
“Tidak, Nyonya,” tolak Ria ketika Vinda hendak mendudukannya di kursi meja makan.
“Kenapa?” tanya Vinda bingung. Dia meletakan kotak P3K-nya di meja makan dan hendak mengobati Ria.
“Tuan Michael akan marah jika meja makannya digunakan oleh orang lain,” jelas Ria sudah hafal dengan perilaku tuannya.
Vinda tersenyum dan memaksa mendudukan Ria. Meski dengan kesusahan, dia akhirnya bisa dan tersenyum senang. “Michael masih pergi dan tenang saja, tidak akan ada yang tahu.” Vinda lupa jika ruangan tersebut sudah dilengkapi dengan CCTV disetiap sudut.
Ria akhirnya menurut dan membiarkan Vinda mengobati lukanya karena tidak sengaja tersiram air panas. Dia menolak pun tidak akan didengarkan. Beberapa kali dia memejamkan mata meresapi perih yang diakibatkan oleh sentuhan tangan Vinda. Dia juga harus memikirkan apa yang akan dikatakan jika nanti tuannya memarahinya.
“Selesai,” teriak Vinda ketika dia sudah selesai membalut luka Ria. Wajahnya benar-benar berseri penuh kebahagiaan. “Ibu mau memasak?”
Ria mengangguk lemah. Dia mengerti maksud baik istri tuannya, tetapi Vinda belum cukup mengerti dengan aturan yang ada di rumah tersebut. “Saya permisi ke dapur lagi, Nyonya.”
“Biar aku bantu,” ucap Vinda dengan wajah yang sudah bersemangat. Sudah hampir satu minggu dia hanya berdiam di kamar, menyelesaikan tesis dan mencari pekerjaan. Dia memilih tempat lain untuk melarikan diri jika nanti Rensi kembali. Pastinya, dia sudah bertekad untuk tidak kembali ke rumah ayahnya.
Ria akhirnya pasrah dan mengangguk, membiarkan Vinda yang memasak untuk Michael hari ini. Sedangkan dia malah santai dan menatap gerakan lincah istri tuannya. Dia tidak berniat melarang karena pada akhirnya, Vinda akan tetap kekeh dengan keinginannya. Jadi, percuma saja jika dia melarang.
_____
Michael melemparkan tas kerjanya di sofa ruang tamu. Pikirannya benar-benar tidak karuan hari ini. Banyak sekali berkas dan ucapan selamat terus saja berdatangan meski sudah satu minggu usia pernikahannya. Pernikahan? Michael sampai lupa jika dia memiliki seorang istri yang bahkan tidak pernah disapanya setiap hari. Dia fokus dengan pencariannya dan Vinda fokus mengurung diri di kamar.
Sedang apa dia? Michael berpikir sejenak dan bangkit dari tempat duduknya. Entah kenapa dia ingin sekali melihat istri kecilnya tersebut. Setidaknya menyapa sejenak dan melihat apakah dia masih bernyawa atau tidak, bukankah hal wajar?
Michael baru melangkah melewati satu anak tangga dan berhenti ketika dia mendengar suara tawa dari halaman belakang. Dia menoleh dan semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Langkahnya mengurungkan niatnya untuk ke kamar Vinda dan memilih untuk mendatangi halaman belakang.
Michael cukup tercengang dengan apa yang dilihatnya. Vinda tengah bermain dengan kucing persia berbulu putih dan tertawa penuh kebahagiaan, seakan dia tidak pernah menderita. Keningnya mengkerut melihat tawa yang semakin membuatnya berpikir, kenapa kamu mirip dengan malaikatku?
Michael menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran mustahil dalam otaknya. Malaikatnya adalah Rensi dan sampai kapan pun memang hanya Rensi. Dia memutuskan untuk mendekati Vinda yang asyik bercengkrama. Seingatnya, tidak pernah ada hewan yang hidup di rumahnya.
“Ehem,” dehem Michael yang berdiri tegap di sebelah Vinda dengan tangan yang sudah dimasukan di salah satu kantong celananya. Matanya menatap lurus Vinda yang sudah menatapnya dengan tak acuh.
“Apa?” tanya Vinda tidak suka.
“Aku rasa di rumah ini tidak pernah ada hewan peliharaan jenis apa pun,” ucap Michael datar, “dan siapa yang memberimu izin untuk membawanya masuk ke rumah ku?”
Vinda baru saja membuka mulut dan siap berdebat dengan suaminya, tetapi suara lain menghentikan niatnya. Dia menatap pria dengan rambut ikal yang mengenakan kaos dan celana santai.
“Aku yang membawanya, Ael.”
Michael yang mendengar langsung menatap Dika yang saat itu berdiri dengan santai di hadapannya. “Memangnya ini rumahmu, Dika? Kenapa seenaknya memberi izin dan membawa hewan peliharaan di sini?”
“Hey, aku hanya kasihan dengan istri dari saudara ku yang selalu kesepian. Jadi, tidak ada salahnya, kan?” ucap Dika dengan wajah santai.
Michael yang sudah benar-benar merasa buruk semakin buruk hari ini karena ulah saudaranya. Tangannya memijit keningnya dengan pelan, menghilankan beban pikiran yang sejak tadi hinggap di dalam kepalanya. Belum lagi urusan yang membuatnya semakin merasa frustasi.
“Terserah.” Michael memilih untuk pergi dan meninggalkan Dika yang tersenyum dengan wajah penuh kemenangan. Dia juga melihat Vinda yang langsung menatapnya dengan senyum tulus yang belum pernah diberikanannya.
Apa selama ini aku salah bertindak?, ucapnya dalam hati.
_____
Michael masih berkutat dengan ponselnya ketika ketukan pintu terdengar. Dia memutuskan untuk tidur di kamar yang berbeda dengan Vinda. Jika dia terus bersama dengan wanita tersebut, dia tidak yakin Vinda akan baik-baik saja.
Michael mengalihkan pandangannya dang menghela napas pelan. Dia meletakan ponselnya di meja dan melangkah mendekati pintu kamarnya, membukanya dan melihat wanita yang sejak tadi hinggap di kepalanya tengah berdiri dengan wajah jutek yang selalu ditunjukan.
“Apa?” tanya Michael malas dan tanpa menatap Vinda yang sudah berdiri di hadapannya.
“Makan malam sudah siap. Gak mau makan?”
Michael hanya diam dan berbalik ke dalam, mengambil ponselnya dan segera turun. Vinda yang melihat hanya menggeram kesal dan terasa ingin sekali memukul wajah tampan suaminya. Suami? Vinda sampai lupa jika dia enggan menyebutnya dengan kata suami.
Vinda mengikuti langkah Michael yang membawanya ke meja makan. Tanpa disuruh, dia langsung duduk dan mulai memasukan makanan ke piring bersih di depannya. Michael yang melihat langsung menatap dengan mata yang mengamati seluruh gerakannya.
“Siapa yang menyuruhmu makan di sini?” tanyanya dengan wajah datar dan suara dingin.
Vinda yang mendengar hanya santai. Dia tidak mau memasukan semua yang dikatakan Michael dalam hati. Dia masih cukup waras untuk tidak mendengarkan Michael. Sekarang pilihannya hanya menikmati sampai waktu yang sudah ditentukan.
“Kamu mulai tuli, ya?” tanya Michael dengan nada menusuk.
Vinda menghela napas panjang dan menatap Michael dengan wajah santai. “Terus kalau aku tidak makan, aku harus gimana? Aku bisa mati, Ael.”
Michael yang mendengar hanya memutar bola matanya malas. Dia menatap piring yang sudah diisi nasi dan lauk pauknya. Dia menatap Vinda yang menikmati makanannya dengan begitu lepas. Michael yang melihat akhirnya mengalah dan mulai memasukan makanannya ke dalam mulut. Baru mengunyah sekali, wajahnya langsung diam. Mulutnya mengunyah dengan pelan, meresapi setiap kunyahannya dan berhenti dengan rahang mengeras.
“Ria,” teriak Michael yang sudah menelan makanannya sampai habis. Vinda yang mendengar langsung terlonjak kaget dan melihat suaminya dengan wajah bingung. Ada apa?
Dari arah dapur, Ria langsung buru-buru keluar dengan langkah yang terpogoh-pogoh. Wajahnya sudah siap menerima kenyataan bahwa hari ini adalah hari terakhirnya bekerja. Ria berdiri di sebelah Michael dengan wajah was-was. Berbeda dengan Vinda yang mengerutkan kening bingung.
Michael menatap Ria dengan mata menusuk dan tajam. “Siapa yang memasak hari ini?” tanyanya dengan wajah mengeras. Ia hafal rasa masakan Ria karena sudah sejak lama wanita tersebut bekerja dengannya.
Ria meneguk ludahnya serat dan melirik ke arah Vinda takut. Dia takut jika nanti Vinda dimarah oleh tuannya. Dia takut merusak pernikahan Michael. Namun, seperti apa pun nantinya, dia memang harus mengatakannya.
Ria baru membuka mulut dan siap mengatakan siapa yang memasak, tetapi Vinda sudah lebih dahulu memotong ucapannya.
“Ya jelas Ria-lah, Ael. Siapa lagi?” jawabnya dengan senyum yang dibuat santai. Dia tidak mau jika nanti Ria terkena masalah karena dia yang sudah memasak hari ini.
Michael melirik sinis ke arah Vinda yang masi tersenyum dibuat-buat. Lalu, berganti menatap Ria yang sudah menunduk takut. Tanpa bertanya, dia langsung mengeluarkan ponsel dan menekan salah satu aplikasi yang terhubung dengan CCTV di rumahnya.
Vinda yang melihat hal tersebut langsung menepuk jidatnya pelan. Kenapa dia begitu bodoh dan tidak sadar dengan hal tersebut? Dia yakin, Michael tidak cukup bodoh untuk membiarkan rumahnya tanpa pengawasan. Matilah aku.
Michael menatap Vinda dengan tatapan penuh amarah. “Apa ini, Vinda. Bisa jelaskan?”
Vinda melihat dirinya yang masih membalut luka Ria dan mulai memasak. wajahnya sudah tidak bisa setenang tadi. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Ria yang akan dipecat. Dia tidak memikirkan dirinya sendiri yang juga akan menerima amukan.
Michael menghela napas berulang kali dan menatap keduanya bergantian. Ini pertama kali Ria melakukan kesalahan. Jika ini kesalahan pegawai lain, dia akan langsung memecatnya dan mengganti dengan pelayan baru. Namun, saat ini dia berhadapan dengan pelayan yang sudah berkerja dengan baik dan sangat lama kepadanya.
Michael bangkit dan menatap Ria dengan tatapan keji. “Ini pertama dan terakhir kamu membuat kesalahan, Ria. Jangan ada yang boleh masuk ke dapur kecuali kamu. Jangan biarkan orang asing masuk ke dalam dapur dan meracik makanan. Kita tidak tau apa yang akan dilakukannya nanti. Kalau sampai kamu melakukan kesalahan lagi, aku akan dengan senang hati memecatmu,” peringat Michael dengan wajah yang sudah menunjukan ketegasan.
Michael berbalik menatap Vinda yang saat itu hanya diam dan menelan salivanya beberapa kali. “Dan kamu, jangan sok menjadi Nyonya di rumahku. Ada beberapa peraturan yang tidak boleh kamu langgar. Roy akan memberitahukannya,” lanjutnya dengan mata menggelap.
Michael melangkah meninggalkan Vinda dan Ria yang masih di meja makan. Dia sudah tidak mood lagi untuk menghabiskan makan malamnya. Meski masakan Vinda enak, dia tidak bisa menjami semua akan baik-baik saja nantinya.
_____
Debur pantai berpadu dengan semilir angin malam terasa menyejukan. Sudah satu mingu Rensi berada di villa di seberang pantai bersama dengan Dave. Rasanya dia sudah benar-benar merasa nyaman. Hidup berdua dengan pria yang dicintainya dan tidak ada gangguan dari orang luar, termasuk mamanya. Tidak akan ada yang bisa mencarinya karena villa yang ditempatinya saat ini dikelilingi oleh pegunungan tinggi yang sudah tidak aktif lagi.
Rensi mengenakan dres berwarna plump dan rambut terurai. Matanya menatap punggung kekar milik kekasihnya yang masih berdiri di balkon villa. Langkahnya mengalun merdu dan langsung memeluk Dave dari belakang. Meresapi aroma maskulin yang menguar.
“Aku bahagia. Akhirnya tidak ada yang menggangu kita dan memaksaku menikah dengan Michael,” ucap Rensi dengan senyum yang masih mengembang.
Berbeda dengan Rensi, Dave malah semakin dibuat tidak nyaman. Sudah satu minggu dan Michael serasa tidak ada pergerakan sama sekali. Tidak ada hal aneh yang terjadi padanya dan itu membuatnya semakin merasa tidak tenang. Apa Michael tidak mencintai Rensi seperti yang dikatakannya? Apa ini hanya rencananya sebelum hal besar nanti terjadi? Dia yakin, Michael tidak akan tinggal diam jika wanitanya pergi bersama pria lain. Apalagi itu terjadi saat pesta pernikahan akan berlangsung.
Dave melepaskan pelukannya dan berbalik menatap Rensi yang sudah menatapnya dengan wajah berbinar. “Kamu suka?” tanyanya dengan wajah serius.
Rensi mengangguk dan tersenyum. “Tentu.”
Baru saja dia akan memeluk Rensi, ponselnya berdering dan langsung mengambilnya. Matanya menatap layar ponsel tersebut dan membelalak. Pikiran kacaunya semakin kacau karena nama yang tertera di layar ponselnya dan langsung mengangkat.
“Halo, Dave. Perusahaan kita mengalami masalah dan sekarang kita hampir bangkrut. Orang tuamu sudah dibawa polisi. Kamu harus segera pulang. Mama mu masuk rumah sakit.”
Mendengar hal tersebuut Dave hanya diam dengan wajah mengeras. Dia tau siapa yang melakukannya. Kamu bermain-main denganku, Michael. Aku akan benar-benar membalasmu.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄