Sebuah perjalanan hidup anggota keluarga black economy.
Ranum Anatoly anak ketiga dari keluarga Loshad. Ranum adalah pria yang selalu fokus dalam setiap misinya. Dia tidak pernah melibatkan orang banyak untuk membantu misinya.
Misi pertama yang diberikan untuk Ranum saat usianya 18 tahun adalah bertemu dengan pembeli senjata terbesar di Australia yaitu Master Wu.
Tapi dari pertemuan itu, Ranum melihat banyak sekali kejanggalan yang merujuk pada hilangnya truk keluarga Loshad yang berhasil dicuri oleh orang tak dikenal disekitar Cowwabie.
Setelah berhasil menemukan fakta tentang truk keluarga Loshad yang hilang, Ranum segera menyerang Krowned Towers milik Master Wu. Setelah penyerangan Krowned Towers, Ranum menghilang bertahun - tahun.
Kemanakah Ranum menghilang? Apakah dia tewas saat penyerangan?
Ikuti terus novel Ranum untuk mengetahui perjalanan hidup Ranum Anatoly yang semakin penuh rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khebeleteee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOKTER LESLEY
Seperti pagi hari sebelumnya, Ranum duduk di kursi tepi lapangan penjara. Melihat tahanan lainnya beraktivitas. Melvin berlari ke arah Ranum.
“Ini bos rokokmu.” Melvin memberikan sebungkus rokok ke Ranum.
“Terima kasih.” Ranum mengambil satu batang rokok, lalu mengembalikan sisanya ke Melvin.
“Aku membelikannya memang untukmu, terimalah.”
Ranum memasukkan rokok itu ke sakunya.
“Semalam kemana sipir – sipir itu membawamu?” Melvin membakar rokoknya.
Ranum mengangkat bahunya.
“Jangan bilang mereka membawamu ke ruang eksekusi.” Melvin berhenti menghisap rokoknya.
Ranum kembali mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu ruangan apa itu.”
“Perban di tubuhmu itu bekas siksaan mereka?”
Ranum menggeleng. “Luka lamaku banyak yang kembali terbuka. Jadi perlu di jahit ulang dan kembali di perban.”
“Apa kamu sudah mendengar berita bahwa tiga sipir yang membawamu tewas terbunuh?” Melvin bertanya ke Ranum. “Kepala sipir juga kehilangan jarinya, tempurung kakinya hancur, tulang di wajahnya banyak yang rusak, dan kakinya terdapat tiga lubang.” Lanjut Melvin menjelaskan.
Ranum mengangkat bahunya.
“Astaga, jangan bilang kamu yang melakukan itu semua.” Melvin terkejut.
Ranum hanya diam, meghisap rokok yang ada di tangannya.
“Kamu benar – benar gila Mark. Belum genap tiga hari di salam sini sudah membuat banyak sekali masalah, kamu benar – benar badass!” Melvin takjub. “Oh, oh, jangan bilang kamu sudah ke klinik juga.” Lanjut Melvin.
“Hanya mengganti perban, memang kenapa?”
“Berarti kamu sudah bertemu dokter cantik yang aku ceritakan kemarin?”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Dokter Lesley, yang aku ceritakan kemarin.”
“Aku tidak tahu nama dokter yang memeriksa lukaku tadi malam. Pun aku tidak memperhatikan dokter itu. Jadi aku tidak tahu cantik atau tidak.”
“Iya juga sih, dokter disini juga tidak hanya satu. Jika kamu bertemu dengan dokter Lesley kamu pasti akan langsung jatuh cinta. Aku jamin itu. Belum ada tahanan yang tidak jatuh cinta kepada dokter Lesley.”
Ranum hanya terdiam.
Terlihat seorang dokter dari luar pagar sedang melihat ke arah lapangan, seperti sedang mencari seseorang.
“Mark, Mark. Itu dokter Lesley!” Melvin menepuk punggung Ranum.
Ranum melihat ke arah dokter itu. Lalu memalingkan pandangannya ke tempat lain.
“Hah! Kamu tidak tertarik dengan dokter itu? Itu dokter cantik yang aku maksud.” Melvin bingung.
“Dia yang semalam mengobati lukaku.”
“Astaga, kamu sudah bertemu dengannya? Dan kamu biasa saja melihat dokter secantik itu?” Melvin semakin bingung melihat ekspresi Ranum. “Lihat, lihat, dia kemari Mark! dia menuju kemari!” Lanjut Melvin heboh, merapikan rambut dan pakaian tahanannya.
Dokter itu berjalan ke arah Ranum dan Melvin.
“Hai.” Dokter itu menyapa Ranum.
“Hai juga dokter.” Melvin berdiri menjawab sapaan dokter itu, salah tingkah.
Ranum masih duduk sambil menikmati rokoknya, pandangannya tetap ke arah tahanan yang sedang melakukan aktivitas di lapangan.
“Maaf, aku kesini untuk menemui temanmu.” Dokter itu berbicara ke Melvin.
Wajah Melvin memerah menahan malu.
“Kamu butuh meminum beberapa obat dan mengganti perbanmu agar lekas pulih.” Dokter itu berbicara ke arah Ranum.
“Namanya Mark dok.” Melvin berbicara ke dokter itu.
“Oh, terima kasih. Dia tidak memberitahu namanya saat aku bertanya semalam.”
“Dia memang seperti itu dok, terlalu misterius.”
Dokter itu hanya tersenyum. “Ayo Mark ikut aku ke klinik.” Lanjut dokter itu berbicara ke Ranum.
Ranum mematikan rokoknya, lalu berdiri.
“Apa aku boleh ikut dok?” Melvin bertanya ke dokter itu.
“Maaf, hanya pasien yang boleh mengunjungi klinik.” Dokter itu tersenyum ke arah Melvin. Beranjak meninggalkan lapangan, diikuti Ranum.
“Kalau aku terluka apa boleh aku mengunjungi klinik?” Melvin berseru.
“Tergantung seberapa parah lukamu.” Dokter itu balik berseru.
Melvin menelan ludah. Dia berpikir ulang, bagaimana bisa dia menahan rasa sakit seperti yang dialami Ranum saat menerima luka sebanyak itu. Melvin mengurungkan niat untuk membuat luka di tubuhnya. Kembali duduk di kursi lalu membakar rokoknya.
***
Dokter Lesley masuk ke dalam klinik, diikuti Ranum. Dokter lesley menyuruh Ranum untuk duduk di kursi pasien. Di kasur klinik itu ada Alonso yang masih terkapar tidak berani menatap Ranum. Wajahnya hampir penuh di lapisi perban, begitu juga tangan dan kaki Alonso. Kepala sipir itu langsung memalingkan wajahnya, gemetar saat melihat Ranum masuk ke klinik. Dokter Lesley mengambil perban baru, beberapa obat dan keperluan lainnya untuk mengobati Ranum. Dokter Lesley menghampirir Ranum, mulai membuka perban di tubuh Ranum.
“Apa kamu selalu menjemput pasienmu?” Ranum bertanya ke dokter Lesley.
Dokter Lesley menggeleng. “Biasanya aku meminta tolong sipir. Memang kenapa?” Dokter Lesley gesit memberikan bubuk neosporin di seluruh luka Ranum.
“Kenapa tadi kamu menjemputku?” Ranum menahan rasa perih akibat bubuk tersebut.
Dokter Lesley tertawa kecil. “Aku tidak tahu namamu. Lalu bagaimana caraku meminta tolong ke sipir untuk memanggilmu? Kamu saja tidak memberitahukan namamu tadi malam.” Jari – jari dokter Lesley sangat lihai memutar perban di tubuh Ranum.
Ranum terdiam.
“Minumlah.” Dokter Lesley memberikan beberapa butir pil.
Ranum langsung menenggak semua pil itu di bantu dengan segelas air. Sepuluh menit berlalu sangat cepat. Seluruh luka di tubuh Ranum sudah di obati, pun Ranum sudah meminum obat, perban juga sudah di ganti dengan yang baru.
“Terima kasih.” Ranum bangkit dari kursi pasien, melangkah ke arah pintu klinik.
“Aku turut berduka cita atas istrimu.” Dokter Lesley berseru pelan.
Langkah Ranum terhenti.
“Sebenarnya aku sudah tahu namamu dari tuan Alonso. Aku juga tahu alasan kamu bisa masuk ke sini, aku sudah memeriksa berkasmu.” Dokter Lesley tersenyum, menjelaskan.
Ranum tidak berkomentar, melanjutkan langkahnya. Keluar dari klinik.
Setelah memastikan Ranum sudah keluar, Alonso membalikkan kepalanya ke arah dokter Lesley.
“Lesley!” Alonso berseru pelan.
Dokter Lesley menoleh ke arah Alonso. “Aku pikir anda tertidur tuan Alonso.” Tangannya sibuk membersihkan meja yang penuh dengan perban lama Ranum.
“Kenapa kamu bilang ke orang itu kalau aku yang memberitahu namanya!” Alonso kesal bercampur panik, tapi sangat sulit untuk berbicara dengan baik akibat rahangnya di hajar Ranum.
“Lalu aku harus bilang dari siapa? Pun memang kamu yang memberitahukan namanya kepadaku.” Dokter Lesley mengerutkan dahi.
“Kenapa juga kamu harus mengungkit soal istrinya? Jika tadi dia kalap, aku bisa mati seketika di tempat ini karena telah memberitahukan namanya.” Alonso kesal, tetapi dia hanya bisa mematung karena tubuhnya sedang tidak bisa di ajak kerjasama. “Kamu tahu sendiri, dia telah memberikanku luka sebanyak ini, dia memotong ruas jariku dengan wajah sangat menikmati. Dia benar – benar psikopat yang berbahaya.” Lanjut Alonso, sedikit wajahnya yang tidak tertutup perban terlihat pucat.
“Bagaimana dengan luka di tubuh Mark?” Dokter Lesley menatap tajam Alonso. “Kamu memberikan dia sayatan sebanyak itu. Jika bukan Mark, tidak akan ada yang bertahan hidup dengan sayatan sebanyak itu di seluruh tubuh. Membuat darah mengalir seperti keringat. Bagaimana dengan luka lebam di perutnya? Tidak akan ada yang bisa bertahan dengan pukulan seserius itu.”
“Aku tidak memotong – motong tubuhnya, seperti yang dia lakukan kepadaku.”
“Bukan tidak, hanya belum. Karena anda kalah cerdas dari Mark, jadi anda kalah cepat darinya.” Dokter Lesley menyeringai.
Dokter Lesley keluar dari klinik, untuk mengurus beberapa keperluan lainnya. Ruangan lengang, Alonso terdiam, menatap langit – langit klinik. Di hatinya dia sangat ingin membalas semua perbuatan Ranum terhadapnya. Tapi ingatan akan tatapan Ranum yang sangat mematikan terbesit di benaknya. Rasa takutnya terhadap Ranum lebih besar dari dendamnya, bulu kuduknya naik, badannya bergetar sedetik. Alonso memejamkan mata, ketakutan.