Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deep talk
Nana menarik napas dan menghembuskannya perlahan, itulah salah satu cara yang Ayzel maupun Naira ajarkan padanya saat dia merasakan sesak menghimpit dadanya. Nana melakukan seni pernapasan singkat untuk menenangkan dirinya, dia sedang mengafirmasikan hal-hal baik terjadi pada dirinya. Ayzel menemani dengan setia adik sepupu suaminya tersebut, dia sangat paham perjuangan Nana tidaklah mudah. Gadis itu sudah jauh lebih baik dari pada empat tahun yang lalu, saat dia dan Naira untuk pertama kali mengetahui kalau Nana mengalami duck syndrom.
Ayzel menunggu sampai Nana siap, baik dia maupun Nana tidak menyadari kalau Alvin berdiri di balik tembok samping pintu kamar Nana.
“Aku mengirim pesan ke appa Haejun,” Nana memulai sesi konsultasinya, saat ini posisi Ayzel adalah seorang konsultan atau psikolog bagi Nana.
“Aku...” Nana menjeda kalimatnya, dia menghela napas lalu kembali mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. “Aku bilang padanya kalau aku akan menikah, tapi aku tidak mengatakan pada appa siapa pria yang ingin aku nikahi. Aku kira appa akan marah atau setidaknya dia bertanya siapa dan bagaimana pria yang akan aku nikahi, lagi-lagi semua itu hanya anganku saja. Aku melakukan apapun untuk menarik perhatian appa, tapi selalu berakhir sia-sia. Selalu seperti itu,” sorot matanya begitu kecewa terhadap sang papa.
“Paman mengirim balasan padamu atau tidak, Nana?”
Nana mengangguk. “Dia membalasnya,” Nana mengusap sudut matanya. “Appa membalas, dia bilang akhirnya berkurang satu orang yang harus dia tanggung kehidupannya. Terserah aku mau menikah dengan siapa dan di mana, asal jangan membuat keluarga malu.”
Ayzel meraih tangan Nana, dia mengusap lembut tangan gadis itu. “Dari awal kamu mengirim pesan pada paman, aku tebak kalau kamu sudah menduga akan berakhir seperti itu bukan? Tapi hati kecilmu masih mengatakan kalau sedikit saja paman pasti masih perduli padamu,” ucap Ayzel diangguki Nana.
“Mbak tahu, kan? Semua berubah saat wanita itu masuk dalam hidup appa, aku tidak mengusik mereka. Aku yang seharusnya paling berhak atas semua yang ada di dalam rumah itu, tapi aku merelakan semuanya untuk mereka. Nana hanya ingin punya keluarga yang hangat seperti yang Nana rasakan di sini,” Nana menatap Ayzel dengan sendu.
Mama Nana meninggal di saat usianya masih kecil, dia tidak ingat bagaimana sang ibu bisa meninggal. Lebih tepatnya Nana kehilangan sebagian memori masa kecilnya, baik Alvaro maupun Kim Roan tidak pernah mengungkit soal masa kecil Nana. Mereka hanya fokus menjaga dan mengupayakan agar adik sepupu mereka mendapatkan yang terbaik, namun sayangnya semua harapan itu musnah saat papa Nana menikah dengan sahabat mendiang istrinya.
Awalnya Nana mengira semua akan baik-baik saja, mengingat ibu sambungnya adalah sahabat mendiang mamanya. Namun seiring berjalannya waktu, Nana mulai menyadari sesuatu. Tidak ada pelukan hangat ataupun sapaan hangat, Nana selalu merasa terintimidasi. Terlebih selalu di bandingkan dengan saudara sambungnya yang lain, Nana di tuntut untuk selalu berprestasi. Jika dia tidak berprestasi, maka semua fasilitas di cabut dan dia akan di kirim ke asrama. Bertahun-tahun Nana kecil tidak bisa melawan, dia hanya bisa bertahan dengan kekuatannya sendiri.
Bersyukur saat akhir pekan atau libur sekolah Nana kecil selalu di jemput keluarga sang paman yang tidak lain orang tua Kim Roan, setidaknya di saat-saat itu dia bisa bernapas dengan lega. Hari-harinya akan merasa damai, dan dari sanalah Nana mulai membekali dirinya dengan semua pengetahuan. Dia belajar berbagai ilmu pengetahuan, dia belajar cukup keras untuk bisa meraih semua prestasi.
Meskipun rasanya percuma, karena tak sekalipun sang papa hadir dalam setiap pencapaian prestasinya. Tapi setidaknya satu yang membuat Nana lega, setiap pencapaiannya membuat dirinya tetap bisa bertahan di rumah. Dia tidak harus tinggal di asrama, fasilitasnya tetap dia terima. Meskipun terus dia di bandingkan dengan dua saudaranya yang lain, bahkan saat acara-acara keluarga atau bisnis. Ke dua saudarinya akan lebih di tonjolkan memiliki segudang prestasi, tanpa sang papa tahu kalau putri sulungnya tak kalah berprestasi.
Hingga tanpa di sadari semua tekanan batin yang Nana alami dari kecil memupuk dirinya untuk ahli berpura-pura untuk tetap baik-baik saja, terlihat bahagia dan sempurna di luar. Namun di dalam dia tidak hanya rapuh, bahkan dia berisik berperang dengan dirinya sendiri. Nana tidak boleh kalah, Nana harus baik-baik saja. Dia tidak boleh mengecewakan orang lain, karena sekali dia membuat kesalahan pasti akan di tinggalkan. Itulah yang ada dalam benaknya, overthinkingnya membuat hidupnya tidak nyaman. Tanda-tanda duck syndrom mulai muncul kala itu, sayangnya orang-orang terdekatnya saat itu tidak ada yang menyadari. Nana selalu berusaha menyibukkan dirinya dengan kegiatan apapun, dia tidak ingin berhenti karena jika dia berhenti dia akan rapuh dan hancur.
Ayzel mencatat yang perlu dia catat pada tabletnya, semua perkembangan dan kondisi yang dialami Nana dia tulis tanpa terkecuali. Karena dari sanalah dia akan menentukan tindakan dan langkah apa yang harus di berikan pada Nana.
“Nana sudah melakukan yang terbaik untuk diri Nana, kamu ingat bagaimana Nana empat tahun lalu dengan Nana yang sekarang?” Ayzel lantas memutar tubuh gadis itu menghadap cermin, dia kemudian membuka data konsultasi Nana.
Ayzel membuka file berisi photo Nana empat tahun lalu, dia menunjukkan pada gadis itu. “Lihat Nana yang sekarang dan Nana yang dulu!” Ayzel menunjukkan potret diri Nana saat usianya masih dua puluhan, kemudian dia meminta Nana melihat potret dirinya saat ini yang ada di pantulan kaca.
“Kamu lebih suka versi dirimu yang mana?” tanya Ayzel dengan sangat lembut.
“Yang ada di situ! Aku suka dia yang itu,” tunjuk Nana pada pantulan dirinya di cermin.
“Mbak juga suka versi Nana yang itu. Nana yang ada di hadapanku sekarang sudah hampir sembuh, hasil kerja kerasnya diakui. Dia sudah membuktikan bisa berbaur dan bertahan sampai tahap ini, Nana yang sekarang tidak lagi butuh anti depresan. Nana yang sekarang bisa jalan-jalan dengan bebas di luar tanpa harus merasa takut di kucilkan,” ucap Ayzel.
“Di sini, ini. Di dalam benda ini adalah saksi perjalanan perjuanganmu selama empat tahun, kamu sudah melampaui tujuh puluh persennya.” Ayzel menunjukkan tablet yang berisi file-file dari awal Nana mulai konsultasi dengan dokter, hingga Ayzel dan Naira sendiri yang menangani dan menemani setiap progress kesembuhan Nana.
“Tiga puluh persen lagi, Nana. Kita berjuang tiga puluh persen lagi dan kamu sembuh 100% dari duck syndrom, masih mau berjuang lagi?” lanjut Ayzel diangguki Nana.
"Apa tidak apa-apa kalau aku terima bang Alvin, mbak? Apa bunda menerima Nana kalau tahu...”
“Mereka akan menerima dan memelukmu dengan hangat, Nana. Mbak pastikan itu dan kalau Alvin menyakitimu! Aku sendiri yang akan memberinya hukuman,” jawab Ayzel.
“Mbak tidak tanya apa alasanku menerima bang Alvin?”
Ayzel menggeleng. “Keputusan apapun yang kamu ambil, aku pasti mendukung. Tapi mbak tetap harus mengawasimu,” Ayzel mengusap pipi Nana. “Kamu bagi mbak dan Naira adalah adik yang harus kami jaga dan lindungi, terlebih untuk Naira. Kamu dan mendiang Grace memiliki tempat spesial di hati Naira,”
Nana menghambur memeluk Ayzel. “Maaf pernah menyakiti mbak Zeze, Nana akan terus minta maaf dan terimakasih sudah memaafkanku waktu itu. Terimakasih selalu perduli dan menjagaku,” ucapnya sambil sesegukan.
Ayzel mengusap punggung Nana dengan lembut. “Sejak aku menjadi istri mas Alvaro, sejak hari itu kamu sudah menjadi adikku. Aku dan mas Alvaro tentu akan menjaga dan melindungimu, Nana. Kamu tidak perlu ragu dengan kasih sayang papanya anak-anak,” Nana mengangguk setuju ucapan Ayzel, kakak-kakak sepupunya memang yang terbaik.
Mereka mengurai pelukan satu sama lain. “Aku tahu di mana mbak Naira saat ini,” ucapnya pada Ayzel.
Ayzel membelai surai Nana. “Kita urus itu nanti. Sekarang kita urus dulu gadis cantik di depanku ini, hmm!” mereka lantas tersenyum. “Cuci muka dulu biar segar! Aku minta bibi bawakan sarapanmu ke kamar,” lanjut Ayzel.
Alvin menghela napas, dia baru tahu di balik cerianya Nana tersimpan begitu banyak hal. Ada rasa yang campur aduk saat ini dalam hati dan juga pikirannya, hingga dia tidak menyadari kalau sedari tadi tingkah mencuri dengarnya itu terpantau oleh Alvaro sang kakak ipar. Alvaro tadinya hendak memanggil istri dan sepupunya untuk sarapan, dia justru menemukan adik iparnya menguping.
“Kak?” Alvin berjingkat terkejut melihat Alvaro bersandar di pegangan tangga sambil tersenyum.
“Aku tidak melihat apa-apa,” ucap Alvaro, dia lantas berbalik dan menuruni tangga. “Istriku di mana ya? Ya ampun, padahal dari tadi sudah aku cari. Tapi tidak ketemu,” ucapnya sambil berjalan menuruni tangga.
Alvin menggaruk tengkuknya, dia kemudian mengekori kakak iparnya turun ke lantai satu untuk sarapan. Ucapan sang kakak ipar seolah memberinya kode, kalau Alvaro menganggap apa yang di lihatnya itu tidak ada. Dia lantas mensejajarkan jalannya di samping sang kakak ipar. “Terimakasih. Suami mbak Zeze terbaik memang,” lirihnya pada Alvaro.
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣