Dunia dimana yang kuat yang menjadi raja dan yang lemah ditindas serta dihina. Kisah ini menceritakan perjalanan hidup Lima sekawan dalam melawan kekuatan jahat milik Tuan Putri Quinella Valencia de Harvest, yaitu bibi dari Putri Mahkota Kerajaan Harvest. Di dunia ini tidak hanya mengandalkan kekuatan dan kekayaan saja, tapi juga mengandalkan Panggilan Sistem (System Call). Dapatkah Putri Mahkota beserta teman-temannya mengalahkan Tuan Putri Quinella beserta keluarganya, dan mendapatkan kembali haknya sebagai pewaris tahta yang sah, lalu bagaimana nasib keluarga Tuan Putri Quinella? Mari kita simak cerita ini bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SJ K.R.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24: Kematian Duchess Broglie (3)
"Apa yang kau katakan, Helena? Kau tidak perlu minta maaf, kau sembuh saja sudah membuat ku senang jadi kau tidak perlu minta maaf. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu, kau harus istirahat jangan banyak bicara." Ucap Duke Broglie mengingatkan.
"Ti-tidak... a...ku harus me-mengakatakannya seka...rang.. ju...ga." Ucap Duchess Broglie sambil berusaha keras untuk duduk di atas kasurnya.
"A-aku senang... bi-bisa meng...enal ka-kau, Lou...is. A-aku harap... kau bisa... bahagia saat... a-aku sudah... ti-tidak a..da."
"Se...na, Eu..geo ka-kalian ha...rus men...jaga satu sa...ma la...in, ka-kalian juga... ha...rus mem...bantu a-ayah.. ka...lian."
"Uhuk..." Ucap Duchess Broglie disertai batuk berdarah lagi.
"D-dan, k-kau pe...rempu...an ya..ng berdiri d-di sam...ping... Ry...din..." Ucap Duchess Broglie sambil menunjuk Alice.
"Sa-saya?" Tanya Alice terkejut karena tiba-tiba saja Duchess Broglie menunjuknya.
Be...nar, kau ga-gadis de...ngan ra-rambut ku...ning." Ucap Duchess Broglie sambil melambaikan tangannya menyuruh Alice supaya menghampirinya.
"A-aku... ingin mi-minta... uhuk..." Ucap Duchess Broglie sambil batuk berdarah.
"Ibu!!"
"Helena!!!"
"Nyonya!!!" Teriak semua orang yang ada di dalam kamar Duchess Broglie.
"Helena, sudahlah jangan paksakan dirimu sendiri. Sudah istirahat lah sekarang, wajah mu sudah semakin pucat dari sebelumnya." Ucap Duke Broglie menyuruh istrinya untuk beristirahat.
"Ti...dak, aku tidak... boleh.. isti...rahat... a-aku ha-harus me...ngatakannya... se-sekarang."
"Si-siapa nama...mu, nak?" Tanya Duchess Broglie yang berniat menjodohkan anak laki-lakinya dengan Alice sebelum dia meninggal.
"Na-nama saya, A-alice, Nyonya." Ucap Alice gemetar ketakutan.
"Na...ma yang ba...gus se...kali. A-alice, tolong ja...ga Eu...geo d-dan Sena, a-aku juga ti...tip me...reka, te-teruta...ma Eu...geo, to-tolong hi...bur dia d-di saat... aku ti-tidak ada..." Ucap Duchess Broglie dengan nafas yang sedikit terengah-engah dan suaranya yang pelan.
"Baik, Nyonya saya berjanji akan selalu menghibur Eugeo dan menjaga mereka berdua. Saya janji, Nyonya." Ucap Alice sambil berlinang air mata dan juga merasa sedikit bingung dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Duchess Broglie.
"Ba-bagus...lah, su-sudah... saatnya... aku pe-pergi, se-sekali lagi... a-aku min-minta ma...af, Lou...is, Sena, Eu..geo. A-aku sayang ka-kali...an." Ucap Duchess Broglie sambil menghembuskan nafas terakhirnya.
"Jeedeeerrrr" Suara petir pun mengiringi kepergian Duchess Broglie.
"Ti-tidak!!!! Helena!!!!"
"Ibu!!!!" Teriak Duke Broglie dan kedua anak bersamaan sambil meneteskan air matanya dan memegang tangan serta memeluk tubuh Duchess Broglie.
Suara hujan dan gemuruh petir yang menyambar berulang kali membuat suasana di kediaman Broglie terlihat suram, kepergian Duchess Broglie membuat semua orang yang berada di kamar itu merasa sangat terpukul, terutama Duke Broglie yang merasa sangat-sangat terpukul saat melihat istri tercintanya menghembuskan nafas terakhirnya tepat di depan mata nya sendiri.
Beberapa menit kemudian setelah kepergian Duchess Broglie...
"Louis, sudahlah, berhentilah menangis Helena sudah pergi, dia sudah pergi meninggalkan kita semua, dia tidak akan kembali lagi." Ucap Count Castina menenangkan temannya, Duke Broglie.
"Kau benar, sekarang yang bisa aku lakukan adalah mengadakan pemakaman yang layak untuknya dan membalaskan dendamnya." Ucap Duke Broglie sambil berdiri dari sisi tempat tidurnya Duchess Broglie.
"Kau yang berdiri di sana."
"Y-ya? S-saya?" Ucap pelayan itu terkejut.
"Ya kau, beritahu semua orang bahwa Duchess Broglie telah pergi meninggalkan kita semua, dan beritahu mereka juga bahwa aku akan mengadakan pemakaman untuk Duchess besok pagi." Ucap Duke Broglie sambil menahan air matanya dan pergi meninggalkan kamar istrinya bersama Count dan Countess Castina.
"Sena, Eugoe sebaiknya kalian tidur, ini sudah malam." Ucap Alice menenangkan mereka berdua tapi ucapan Alice di hiraukan oleh mereka.
"Jangan bersedih, kalau Duchess masih hidup beliau pasti akan sedih kalau melihat kalian seperti ini. Aku juga pernah mengalami hal seperti ini, walaupun berat untukku melepaskan kepergian orang tuaku, tapi aku tetap berusaha mengingat mereka di dalam hatiku dan aku yakin bahwa mereka berdua akan selalu mengawasi kita di atas sana."
"Jadi ku mohon, sebaiknya kalian kembali ke kamar kalian masing-masing, ini sudah malam dan hari sedang hujan. Kalau kalian tidak beristirahat sekarang kalian akan sakit, Duke Broglie pasti juga tidak ingin kalian berdua sakit disaat seperti ini begitu pula dengan kami." Ucap Alice memohon pada kedua temannya untuk segara kembali ke kamarnya masing-masing.
Setelah Alice bicara seperti itu Sena dan Eugeo pun langsung kembali ke kamarnya, tapi tidak lama setelahnya suara bel dari menara yang berada di kediaman Broglie pun berbunyi dan terdengar sangat pelan dan penuh dengan kesedihan yang sangat mendalam seakan-akan menandakan bahwa Duchess Broglie telah meninggal dunia. Semua orang yang mendengar merasa sangat terpukul dan sedih atas hilangnya sang pahlawan dan orang yang sangat mereka cintai. Duchess Broglie yang terkenal dengan sikapnya yang ceria dan penuh semangat meninggalkan bekas yang sangat dalam di hati rakyatnya saat kepergiannya kepada sang pencipta.
......................
Beberapa menit kemudian setelah kepergian Duchess Broglie, Istana Berkouli, ruang makan...
"Yang Mulia, ada utusan dari Duke Broglie." Ucap prajurit yang masuk tanpa izin.
"Utusan dari Duke Broglie?" Tanya Yang Mulia Ratu heran
"Tidak biasanya Louis mengirimkan utusan ke istana. Apa yang dia bawa?" Tanya Baginda Kaisar yang ikut keheranan.
"Utusan tersebut membawa bendera hitam setengah tiang, Yang Mulia dan utusan tersebut sedang menunggu anda di ruang pertemuan sekarang." Ucap prajurit itu menjelaskan.
"Bendera hitam setengah tiang? Jangan bilang..." Teriak Baginda Kaisar sambil bangun dari tempat duduknya dan bergegas pergi menuju ruang pertemuan disusul oleh semua orang yang ada di ruang makan tersebut.
Setibanya di ruang pertemuan...
"Salam, Yang Mulia. Saya membawa pesan dari Duke Broglie bahwa Duchess Broglie, Helena De Broglie telah meninggal dunia tadi malam, akibat terkena racun bunga wisteria." Ucap utusan tersebut sambil memberi salam formal kepada keluarga Kekaisaran.
"Helena meninggal? Helena yang ceria dan penuh semangat itu meninggal?" Tanya Yang Mulia Ratu tercengang dan syok secara bersamaan.
"Benar, Yang Mulia." Ucap utusan itu.
"Astaga, tidak ku sangka Helena akan meninggalkan kita secepat ini." Ucap Baginda Kaisar dengan nada sedih.
"Akhirnya, orang yang paling merepotkan telah menghilang, sekarang yang tersisa adalah Duke Broglie dan para pengikutnya itu." Ucap Tuan Putri Ellie dalam di dalam hati sambil berusaha untuk menahan senyumnya.
"Kapan upacara pemakamannya akan di laksanakan?" Tanya Tuan Putri Lea
"Besok pagi, Yang Mulia Putri Lea, di kediaman Broglie dan akan di lanjutkan di kuil Milano. Tuan Duke harap anda sekeluarga bisa hadir di pemakaman Duchess nanti. Kalau begitu saya pamit undur diri terlebih dahulu, Yang Mulia." Ucap utusan tersebut.
"Baiklah, kau boleh pergi." Ucap Baginda Kaisar sambil memegang kepalanya.
"Haah... Tidak ku sangka seseorang yang periang sepertinya pergi secepat ini. Ku harap Louis bisa menghadapinya dengan penuh kesabaran. Memang, kehilangan orang yang kita anggap istimewa itu merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Dan, aku harap Helena tenang di atas sana." Ucap Yang Mulia Ratu berempati.
"Baiklah, ini sudah malam jadi kalian bisa kembali ke kamar kalian masing-masing, kalau begitu aku dan Isabella pergi dulu. Selamat malam semua, itu semoga kalian mimpi indah." Ucap Baginda Kaisar sambil pergi meninggalkan ruang pertemuan dengan istrinya.
"Selamat malam juga untuk anda, Baginda dan Yang Mulia Ratu." Ucap mereka berempat sambil memberi hormat sederhana.
"Kalau begitu aku pergi dulu, paman, bibi, Ellie. Selamat malam." Ucap Tuan Putri Lea yang pergi meninggalkan ruang pertemuan.
"Saya juga permisi terlebih dahulu, Quinella. Selamat malam." Ucap Pangeran Michael pergi meninggalkan ruang pertemuan juga.
"Baiklah, sekarang hanya ada kita berdua disini. Jadi, Ellie maukah kamu datang ke kamar ibu sekarang? Ada yang harus kita bicarakan masa depan mu." Ucap Yang Mulia Putri Quinella pada anaknya.
"Baiklah, ibu." Ucap Tuan Putri Ellie singkat.
"Bagus, akhirnya kesempatan ini datang juga." Ucap Yang Mulia Putri Quinella dalam hatinya.
......................
Saat di dalam perjalanan menuju Istana milik Yang Mulia Putri Quinella suasananya terasa sangat menegangkan dan canggung sampai akhirnya mereka berdua tiba di kamar Yang Mulia Putri Quinella.
"Masuklah, akan aku panggilkan pelayan untuk menyajikan teh hitam untuk membantumu tidur nyenyak." Ucap Yang Mulia Putri Quinella sambil menyuruh pelayan untuk menuangkan secangkir teh untuk Tuan Putri Ellie.
"Terima kasih." Ucap Tuan Putri Ellie kepada pelayan yang telah menuangkan teh untuknya.
"Jadi, ada apa ibu menyuruhku datang kemari? Dan pastinya tujuan ibu menyuruhku datang kemari bukan membicarakan tentang masa depanku kan." Ucap Tuan Putri Ellie sambil menyeruput teh hitam yang telah di sediakan.
"Fufufu... Kau mirip sekali denganku sewaktu muda dulu. Baiklah kita langsung saja ke intinya, Ellie aku menyuruhmu kemari karena aku ingin melakukan sesuatu padamu. Terakhir kali kita bertemu kau terlihat ingin menyerah, tapi sekarang aku akan menolong mu. Nah, sekarang kau hirup bunga ini." Ucap Yang Mulia Putri Quinella sambil memberikan sekuntum bunga kecubung yang berwarna merah kepada anaknya.
Seketika itu pula Tuan Putri Ellie yang menerima dan menghirup aroma red amethyst flower langsung merasakan pusing yang sangat berat di kepalanya. Saat Yang Mulia Putri Quinella melihat anaknya dalam keadaan mabuk dia langsung merebahkan tubuh anaknya di atas kasur dan menuntun anaknya mengucapkan sebuah mantra yang bisa memanipulasi pikiran seseorang.
Sukses terus Thor ... Salam kenal dari saya, Aulia 🥰
aku beri vote bunga like n fav
salam. dari istri yang bisu 🙏
semangat ya
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪❤❤❤❤❤❤