NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 17

Taman kerajaan siang itu tampak begitu teduh dan terawat, seolah-olah kebisingan Kota Yibei yang hiruk-pikuk di luar tembok istana tak pernah mampu menembus masuk.

Pepohonan berbunga yang eksotis tertata sangat rapi di sepanjang jalur yang terbuat dari batu giok halus, memberikan aroma harum yang menenangkan setiap kali angin sepoi-sepoi melintas. Di tengah taman, sebuah kolam kecil memantulkan cahaya matahari yang lembut, permukaannya berkilau seperti ribuan permata yang tersebar. Beberapa ikan koi berwarna cerah berenang perlahan di antara teratai, menciptakan riak-riak halus yang menambah kedamaian suasana di sekitar paviliun.

Permaisuri Bai Ling Yin duduk dengan anggun di dalam sebuah paviliun terbuka yang menghadap langsung ke kolam. Ia mengenakan busana sutra berwarna lembut yang tidak hanya menegaskan kecantikannya, tetapi juga memancarkan wibawa yang tak terbantahkan sebagai ibu negeri. Di sisi kiri dan kanannya, dua dayang berdiri dengan sikap sempurna, siap melayani setiap kebutuhannya, sementara seorang pelayan pribadi dengan gerakan yang sangat cekatan tengah menyiapkan piring berisi buah-buahan segar yang telah dikupas dan teh hangat yang uapnya masih mengepul tipis.

Meskipun wajah Bai Ling Yin tampak sangat tenang, sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa pikirannya sedang berkelana jauh menghadapi urusan-urusan yang pelik. Sebagai seorang Permaisuri, ia telah terbiasa menghadapi intrik istana yang rumit, namun dalam beberapa hari terakhir, ada sebuah kegelisahan yang terasa jauh lebih berat dari biasanya, sebuah firasat buruk yang terus membayangi benaknya.

“Yang Mulia,” ucap salah satu pelayan yang tiba-tiba datang dengan langkah ringan dan sikap hormat yang dalam, memecah keheningan paviliun. “Nona Cao Yi sudah datang dan sedang menunggu instruksi Anda.”

Bai Ling Yin menoleh sedikit, raut wajahnya yang serius perlahan melunak. Ia mengangguk kecil. “Suruh dia segera datang kemari.”

Tak lama kemudian, Cao Yi melangkah memasuki area taman. Ia mengenakan gaun putih yang tampak sangat sederhana tanpa hiasan yang berlebihan, namun busana itu tetap memancarkan kesan bersih, anggun, dan berkelas. Rambut hitamnya yang panjang ditata rapi, dan setiap langkah kakinya sangat tenang tanpa ada kesan tergesa-gesa.

Bagi orang awam, gerakannya terlihat seperti gadis bangsawan biasa, namun bagi mata yang terlatih, setiap jengkal langkah Cao Yi menunjukkan keseimbangan yang sempurna, seolah setiap gerakannya telah terukur oleh insting seorang pendekar tingkat tinggi.

Begitu berada di hadapan Permaisuri, Cao Yi merendahkan badan dengan gerakan hormat yang sangat sopan.

“Cao Zian Yi menghadap Kakak Permaisuri,” ucapnya dengan suara yang lembut namun bertenaga.

Bai Ling Yin segera mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar Cao Yi berhenti bersikap terlalu formal. Ekspresinya menghangat seketika saat melihat adik angkat suaminya tersebut. “Adik, jangan bersikap kaku seperti itu di depanku. Bangunlah.”

Cao Yi menurut dan segera berdiri tegak kembali dengan sikap yang tenang. “Terima kasih, Yang Mulia.”

“Sudah kukatakan berkali-kali, tidak perlu terlalu kaku jika kita hanya berdua atau di lingkungan taman seperti ini,” lanjut Bai Ling Yin sambil tersenyum tulus. “Kemari, duduklah disini bersamaku.”

Ia menunjuk tempat duduk di hadapannya yang terbuat dari kayu berukir. Cao Yi melangkah mendekat dan duduk dengan sikap rapi, matanya menatap Permaisuri dengan penuh perhatian, seolah mampu membaca ada sesuatu yang serius di balik senyuman sang Permaisuri.

“Kakak Permaisuri memanggilku kesini siang-siang, apakah ada hal yang sangat penting?” tanya Cao Yi tanpa basa-basi, langsung menuju inti pembicaraan.

Bai Ling Yin tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Ia selalu terhibur dengan sikap Cao Yi yang pragmatis dan jujur, sangat berbeda dengan para bangsawan lain yang biasanya bertele-tele dengan sanjungan sebelum bicara inti. “Kau memang tidak pernah berubah sedikitpun,” katanya lembut. “Sebenarnya, aku memanggilmu kesini adalah atas perintah langsung dari Paduka Raja.”

Mendengar kata "Paduka Raja", nada suara Bai Ling Yin menjadi sedikit lebih serius dan berat. Cao Yi pun segera menajamkan seluruh indra pendengarannya, menyadari bahwa pembicaraan ini bukan sekadar jamuan minum teh biasa.

“Lima hari lagi,” lanjut Bai Ling Yin dengan nada yang dijaga agar tidak terdengar hingga luar paviliun, “Paduka Raja dan aku berencana akan berangkat menuju Kota Chuwei untuk kunjungan mendadak.”

Cao Yi sedikit mengernyitkan alisnya, mencoba mengingat letak geografis wilayah tersebut. “Kota Chuwei? Bukankah itu terletak di ujung wilayah selatan? Perjalanan kesana sangat jauh dari Yibei.”

“Benar,” jawab Bai Ling Yin sambil mengangguk pelan. “Perjalanan kesana memakan waktu yang cukup panjang melalui jalur darat, dan sayangnya, laporan terbaru menunjukkan bahwa jalur tersebut tidak sepenuhnya aman dari gangguan kelompok liar maupun pihak-pihak yang tidak senang dengan kehadiran raja.”

Ia kemudian menjelaskan secara lebih mendalam bahwa Raja Yan Liao secara khusus meminta agar Cao Yi ikut dalam rombongan perjalanan itu. Meskipun Raja telah menyiapkan pasukan pengawal elit dari unit terbaik istana, Yan Liao merasa jauh lebih tenang dan terjamin jika adik angkatnya sendiri turut serta dalam rombongan sebagai pelindung tersembunyi yang bisa diandalkan dalam situasi paling genting sekalipun.

“Lima hari lagi…” gumam Cao Yi pelan, seolah sedang menghitung sesuatu dalam pikirannya. “Waktu itu bertepatan dengan jadwal keberangkatan ayahku, menuju perbatasan untuk tugas inspeksi militer.”

Bai Ling Yin menghela napas kecil, wajahnya menunjukkan rasa sedikit bersalah. “Aku tahu jadwal itu sangat padat bagi keluargamu. Andai Paman Cao Xiang tidak harus segera pergi ke perbatasan karena perintah negara yang mendesak, kemungkinan besar Paduka akan meminta beliau sendiri yang memimpin perlindungan perjalanan ini. Namun karena beliau tidak bisa, harapan kami sepenuhnya tertuju padamu.”

Cao Yi terdiam sejenak, menatap riak air di kolam sebelum kembali mengangkat pandangannya dengan tatapan yang lebih tajam. “Kota Chuwei sedang bermasalah secara mendasar, bukan? Apakah tujuan utama Paduka pergi ke sana untuk mengusut hal itu secara langsung?”

“Ya, tebakanmu tepat sekali,” jawab Bai Ling Yin tanpa ragu sedikitpun. “Manajemen pemerintahan di Kota Chuwei benar-benar sedang bermasalah besar. Banyak laporan rahasia yang masuk ke meja istana. Pajak di sana dinaikkan secara sepihak melebihi ketentuan yang ditetapkan kerajaan, rakyat banyak yang mengeluh dan menderita, dan ada indikasi kuat bahwa beberapa pejabat tinggi disana telah menyalahgunakan wewenang mereka demi keuntungan pribadi.”

Ia berhenti sejenak, menurunkan volume suaranya hingga ke titik terendah sembari mengucapkan satu kata yang paling dibenci di istana. “Korupsi yang mendarah daging.”

Cao Yi menyipitkan matanya sedikit, memikirkan konsekuensi politiknya. “Jika hanya masalah administratif atau korupsi pejabat daerah, seharusnya cukup dengan mengirimkan satu atau dua pejabat pengawas tingkat tinggi dari pusat. Mengapa Paduka Raja harus turun tangan langsung dan menempuh perjalanan jauh yang berbahaya?”

“Itulah inti masalahnya,” kata Bai Ling Yin dengan raut wajah yang semakin gelap. “Situasinya ternyata tidak sesederhana laporan di atas kertas. Ada sesuatu yang lebih besar yang menutupi kebobrokan di sana.”

Cao Yi mengangguk perlahan, instingnya mulai merasakan adanya arus gelap yang bergerak di bawah permukaan. “Aku juga merasa demikian. Jika mereka berani menaikkan pajak secara liar, berarti mereka merasa memiliki pelindung yang kuat.”

Bai Ling Yin lalu mengungkapkan kecurigaan yang lebih dalam milik Raja. Ada dugaan kuat bahwa para kepala daerah dan pejabat di Kota Chuwei tidak bergerak sendirian. Seluruh struktur pemerintahan di kota itu seolah-olah dilindungi dan didukung oleh kekuatan tertentu dari luar birokrasi kerajaan. Meski pihak istana belum memiliki bukti konkret yang bisa dibawa ke pengadilan, arah kecurigaan terhadap keterlibatan pihak luar semakin jelas setiap harinya.

“Dukungan dari luar pemerintahan?” tanya Cao Yi dengan nada dingin. “Maksudmu ada keterlibatan dari kerajaan tetangga... atau mungkin kelompok-kelompok tertentu dari dunia gelap?”

“Kami belum bisa memastikan secara pasti siapa mereka,” jawab Bai Ling Yin dengan nada khawatir. “Namun Paduka menduga kuat adanya keterlibatan kelompok pendekar bayaran atau bahkan sebuah perguruan bela diri tertentu yang memiliki agenda tersendiri. Jika benar demikian, mereka bukan sekadar pengganggu kecil yang bisa diatasi oleh prajurit biasa. Bisa jadi mereka akan berusaha keras menghalangi penyelidikan ini, atau bahkan…” ia berhenti sejenak, menatap Cao Yi dengan tatapan penuh permohonan, “…mencoba mencelakai Paduka di tengah jalan.”

Sorot mata Cao Yi mengeras sesaat, memancarkan kedinginan yang menusuk, meski ia sedang mengenakan gaun putihnya. “Kalau begitu situasinya, tidak ada sedikitpun alasan bagiku untuk menolak permintaan ini.”

Ia menegakkan punggungnya dengan wibawa yang tiba-tiba muncul secara alami. “Aku akan ikut dalam rombongan ke Kota Chuwei. Aku akan memastikan keamanan Paduka Raja dan juga Kakak Permaisuri dengan nyawaku sendiri.”

Bai Ling Yin tersenyum lega, seolah beban seberat gunung yang menghimpit dadanya baru saja terangkat. “Terima kasih banyak, Adik Ipar. Dengan adanya kamu yang berada di sisi kami, entah mengapa aku dan Paduka merasa jauh lebih tenang menghadapi ancaman apa pun.”

Cao Yi tersenyum kecil dan mengibaskan tangannya dengan santai, kembali ke perangai gadis mudanya. “Kakak Permaisuri terlalu berlebihan memujiku. Aku melakukan ini bukan hanya demi bakti keluarga Cao kepada Kerajaan Liungyi, tapi juga demi melindungi keluarga Kak Yan” ia terhenti sejenak, wajahnya sedikit memerah karena lupa posisi, lalu tersenyum canggung, “eh, maksudku demi keselamatan Paduka Raja.”

Bai Ling Yin tertawa pelan, kali ini tawanya terdengar lebih lepas dan rileks. “Sudah kukatakan, ini hanya taman pribadi kerajaan. Tidak akan ada yang berani marah jika kamu memanggilnya Kakak seperti saat kalian masih kecil dulu.”

Suasana tegang yang menyelimuti pembicaraan tadi pun perlahan mencair. Setelah urusan misi utama dibicarakan dengan tuntas, keduanya melanjutkan dengan obrolan ringan layaknya saudara perempuan.

Mereka membahas kondisi di dalam Kota Yibei yang semakin ramai, kabar-kabar terbaru dari pos militer di perbatasan, hingga gosip-gosip kecil yang sedang hangat dibicarakan di kalangan selir dan pelayan istana. Sesekali terdengar tawa kecil yang merdu di paviliun itu, seolah-olah beban berat tentang konspirasi dan ancaman pembunuhan untuk sementara waktu dikesampingkan dari pikiran mereka.

Namun dibalik percakapan hangat dan senyuman yang terpancar, tersimpan kesadaran tajam yang sama di hati keduanya. Perjalanan ke Kota Chuwei bukanlah sekedar kunjungan kerja biasa atau perjalanan wisata. Ada arus gelap yang sangat kuat menanti di sana, dan setiap langkah yang mereka ambil dalam perjalanan lima hari ke depan akan menentukan stabilitas kerajaan.

Mungkin hanya segelintir orang yang sangat dekat seperti Cao Xiang, Ziang Guang, Raja Yan Liao, dan Permaisuri Bai Ling Yin yang benar-benar mengetahui jati diri asli Cao Yi di balik topeng gadis bangsawan ini.

Bagi dunia luar, Cao Yi hanyalah seorang putri jenderal yang cantik, terlihat polos, lembut, dan tampak sangat lemah sehingga perlu dilindungi. Tak seorang pun di luar sana yang menyangka bahwa di balik penampilan yang rapuh itu, tersembunyi kekuatan "Dewi Kematian" yang mampu mengguncang keseimbangan dunia persilatan dan melenyapkan siapa pun yang berani mengancam kedaulatan orang-orang yang ia cintai.

1
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!