Sebagai seorang wanita, saat pacaran pun tidak rela diselingkuhi, apalagi dalam ikatan pernikahan, poligami adalah mimpi terburuk.
Namun keadaan yang menyudutkannya, Risma harus meminta Ardhi menikah lagi, demi membahagiakan orang tua Ardhi.
Demi rasa cintanya pada sahabatnya, Ishana menerima permintaaan Risma, untuk menjadi madu sahabatnya. Mengesampingkan penilaian buruk orang-orang, karena jadi yang kedua selalu salah di mata masyarakat.
Apakah Ardhi bisa adil terhadap istri-istrinya nanti? Atau ikatan baru malah menghapuskan cinta Ardhi yang semula hanya tertuju pada Risma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Mangga
Sesampai di rumah dokter Jully, seorang satpam mengenakan jas hujan membukakan pintu gerbang. Perlahan mobil yang Ardhi kendarai memasuki halaman rumah dokter Jully.
"Bagaimana ini, hujannya sangat lebat," gerutu Ishana.
"Kamu tunggu di mobil biar aku yang memetik mangga untuk Eva. Di mana pohon mangganya?" tanya Ardhi.
Ishana menunjuk kearah samping rumah dokter Jully, di mana pohon mangga itu tumbuh.
Ardhi melihat jeli kearah telunjuk tangan Ishana mengarah. "Ya sudah, tunggu aku." Ardhi segera turun dari mobil menerobos derasnya hujan.
Di bawah derasnya curahan air hujan, Ardhi dan satpam rumah itu masih memetik mangga yang berbuah begitu lebat.
"Istrinya ngidam ya Pak?" tanya Satpam Jully.
"Iya, dia pengen mangga yang dipetik langsung dari pohon."
Dua orang itu terus memetik buah mangga. Merasa cukup, Ardhi segera memasukkan buah mangga muda itu kedalam kantong yang dia bawa.
Ishana masih menunggu Ardhi di dalam mobil.
"Kasian kak Ardhi hujan-hujanan sendiri, tengah malam pula."
"Bagaimana kalau dia pingsan?"
Ishana galau, memikirkan Ardhi yang tengah berjuang demi Eva, bukan cemburu hanya mengkhawatirkan Ardhi.
"Bagaimana kalau Eva ngidamnya pengen mangga yang aku petik? Kan ibu hamil beberapa punya ngidam yang unik?" Pikiran Ishana tertuju pada Eva, jika ngidamnya tidak tepat, tidak menutup kemungkinan mereka harus kembali lagi. Tidak berpikir panjang lagi Ishana turun dari mobil dan turut menerobos derasnya hujan menyusul Ardhi dan satpam Jully.
Di depan sana, terlihat Ardhi dan satpam rumah dokter Jully tengah memasukan buah mangga kedalam kantong.
"Ishana! Kenapa kamu malah ikut hujan-hujanan!" tegur Ardhi.
"Saya hanya kepikiran Eva, bagaimana kalau Eva ingin mangga yang saya petik?"
Aku khawatir sama kamu kak.
Ishana hanya bisa menggerutu dalam hati, sampai kapanpun dia akan memendam rasa cinta yang terlanjur tumbuh ini. Ishana langsung memetik beberapa mangga, tanpa memerdulikan pandangan mata Ardhi yang terpaku kearahnya.
Bukan maksudku membandingkan kalian, kenapa Risma yang dulu mempunyai hati seluas samudra, tidak bisa bersikap bijak sepertimu, memahami keadaanku, dan memberikan pundaknya untukku bersandar.
Aku tidak bisa menyalahkan Risma atas segala hal, dia juga korban keadaan ini. Tapi, penolakkan dia sangat menyakitiku, aku merindukan dirinya, tapi dia menghindariku.
Saat ini aku rapuh, karena aku bingung dengan hubungan rumit ini. Aku butuh dukungan kalian dan suara kalian untuk adil, bukan suatu penghakiman.
Cuma kamu Na, yang mau mendengar ceritaku
Ardhi kagum terhadap Ishana, wanita itu sangat mudah membatu dan memerhatikan Eva maupun Risma. Tanpa ada rasa cemburu.
Cemburu? Bagaimana mungkin dia bisa cemburu seperti Risma? Risma mencintaiku sedang Ishana? Ishana tidak mencintaiku, terima ini Ardhi.
Ishana baik padamu, semata rasa sayang dia pada Risma. Di luar dari itu, dirimu hanyalah teman baginya.
Menegur diri sendiri, Ardhi berusaha menarik angannya yang terbang terlalu tinggi.
"Bagaimana Pak? Cukup atau tambah lagi?"
Pertanyaan Satpam membuyarkan segala pemikiran Ardhi. Kini sepasang mata yang nampak memerah karena tetesan air hujan itu tertuju kearah kantong yang satpam pegang.
"Cukup Pak," sahut Ardhi.
"Ishana ...." Setelah mengucapkan nama itu seketika lidah Ardhi kelu, kala melihat tubuh Ishana yang basah kuyup, hal itu semakin membuatnya susah bernapas.
"Iya kak?"
"Amm ...." Ardhi berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Sudah cukup, ayo kita pulang."
"Terima kasih ya Pak," ucap Ardhi.
"Sama-sama Pak, semoga anaknya nanti lahir dengan selamat, istrinya juga sehat."
"Aamin, Pak. Terima kasih."
Ardhi dan Ishana segera berlari menuju mobil mereka.
"Bagaimana ini kak? kita basah kuyup."
"Masuk aja, nggak apa-apa," sahut Ardhi.
Dengan keadaan basah kuyup, keduanya memasuki mobil. Mobil Ardhi pun perlahan meninggalkan area rumah dokter Jully.
Intensitas curah hujan tidak berkurang sedikitpun, bahkan saat sampai di rumah, hujan masih sangat lebat. Ishana dan Ardhi berlari bersamaan kedalam rumah.
"Makasih banyak Na." Ardhi merasa lega bisa memenuhi keinginan Eva.
"Sama-sama." Ishana hanya tersenyum, dan segera berlari menuju kamarnya.
Melihat tetesan air yang membasahi keramik lantai rumahnya, Ardhi segera menuju kamar pelayan.
"Kalian, tolong pel tetesan air sampai ke lantai 2, bahaya kalau ada yang terpeleset."
"Baik Tuan."
Ardhi memandang kearah pelayan khusus yang bertugas melayani Eva. "Kalian, tolong siapkan rujak buah buat Eva, pakai buah yang ini." Arhi memberikan buah mangga yang Ishana petik juga menyerahkan kantong yang berisi mangga muda lada dua pelayan itu.
"Kalau Eva menanyakan saya, bilang saja saya di kamar tamu, pakaian saya basah, bahaya kalau ada tetesan yang membuat dia bisa terpeleset."
"Baik Tuan." Kedua pelayan itu segera melakukan tugas mereka.
**
Di kamar Ishana.
Wanita itu berdiri dibawah derasnya guyuran air shower. Dia fokus membersihkan dirinya.
Slepp!
Matanya begitu jelas melihat Ardhi berdiri sambil menyandarkan badannya di dinding kamar mandi membuat Ishana terkejut, namun sosok Ardhi hilang seketika.
Selesai dengan kegiatan mandinya, Ishana segera keluar, entah kenapa setelah mandi rasanya setan-setan mengayun menggunakan helaian rambutnya, seperti tarzan yang berayun dari tumbuhan rambat yang satu ke rambat yang lain.
Kini sepasang mata Ishana melihat sosok Ardhi lagi, bahkan begitu jelas, Ardhi duduk di tempat tidurnya dan memandangi dirinya dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
Kala Ishana membalas senyuman Ardhi, seketika yang ditangkap oleh sepasang matanya itu lenyap.
"Kan, kan, kan ... mulai gila akunya!" Ishana langsung menuju ruangan tempat semua baju-bajunya tersimpan.
Sedang di luar kamar Ishana.
Ardhi terus terbayang bagaimana Ishana membuat batinnya menjerit. Akalnya tidak berfungsi lagi, yang Ardhi mau dia ingin bersama Isahana malam ini.
Tangan Ardhi membuka gagang pintu kamar Ishana, beruntung kamar itu tidak dikunci. Kala Ardhi menyisir pandangannya pada seluruh ruangan itu, tidak ada sosok Ishana di sana. Ardhi tetap masuk dan mengunci pintu kamar itu.
Dia langsung menuju kamar mandi, melepaskan pakaiannya yang basah dan membilas seluruh tubuhnya. Ardhi meraih handuk yang ada di kamar mandi tersebut, melilitkan handuk itu pada pinggangnya. Dia segera keluar dari kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, matanya di sambut pemandangan yang tak akan dia lupakan. Ishana dengan santainya hanya mengenakan sepotong penutup persegitiga yang menutup bagian bawahnya, dan kain berenda yang mengukung bagian perbukitan yang memukau, terlihat lipatan pakaian di dekatnya.
Ardhi hanya bisa menelan saliva-nya, melihat Ishana seperti itu, dengan jelas matanya memandangi sekujur tubuh Ishana. Kecuali yang dibungkus oleh sepotong kain kecil itu.
Ardhi samakin terkejut, Ishana sama sekali tidak syok dengan keberadaan dirinya. Bahkan wanita itu tetap santai duduk di kursi kecil yang ada di meja riasnya, dan terus mengoles wajahnya dengan skincare, dipantulan cermin itu, dia malah tersenyum melihat Ardhi.
Apa Ishana benar-benar siap untuk menjadi istriku? Dia sama sekali tidak terkejut dengan keberadaanku.
"Ya salam ... aku makin gila sekarang!" Ishana menggelengkan kepalanya dan membuang napasnya begitu kasar.
Pandangan mata Ishana tertuju pada pantulan bayangan Ardi yang ada pada cermin di depannya. "Bersamamu hanya beberapa menit! Tapi kamu selalu hadir di sini." Ishana menyentuh bagian dada kirinya. "Dan di sini!" Telunjuk tangannya menunjuk sisi kepalanya.
"Bahkan sekarang bayangan kakak selalu hadir di kamarku."
"Sekarang halusinaku, aku melihat kakak hanya mengenakan handuk, hiks! Nakalnya aku."
What? Halusinasi? Ardhi tidak menyangka Ishana mengira kehadirannya adalah halusinasi wanita itu.
"Aaaaa ...." Ishana meringis karena tersiksa oleh bayangan Ardhi.
"Apa tidak cukup kakak menyiksaku dengan tidak mau pergi dari hati dan pikiranku?"
"Aku tersiksa setiap waktu memikirkan kakak!"
Duggg!
Detakkan jantung Ardhi seakan melambat.
"Sabar Ishana, nanti beberapa detik pasti sosok menyebalkan itu hilang!" gerutunya.
Tunggu! Apa artinya ini dia selalu memikirkan aku?
Ardhi merasa ini mimpi. Senyuman terukir di wajah Ardhi, memandangi wanita yang memiliki perasaan yang sama dengannya