Warning 21++
Dia adalah orang nomor satu di wilayahnya. Pemilik perusahaan The King Group, yang pusaranya sudah merambah ke berbagai negara. Namun, siapa sangka, kalau ternyata dia adalah sosok makhluk penghisap darah.
Tidak ada yang berani mengusiknya, iblis sekaligus raja neraka di bumi jagat raya. Kecuali satu, Genk manusia serigala adalah satu-satunya kumpulan makhluk yang paling membenci Kaisar.
Makhluk penghisap darah paling kejam, sekaligus vampir yang sulit di taklukan. Darah suci menjadi satu-satunya objek utama yang mereka perebutkan.
Namun, di ujung penantiannya, Kaisar justru mencintai gadis pemilik darah suci tersebut. Darah yang mengalir di tubuh manusia setiap seribu tahun sekali.
Akankah cinta membuat sang Kaisar mempertahankan gadis itu? Atau justru memusnahkannya, dan menjadikan dirinya abadi selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke suatu tempat
Seperti yang sudah direncanakan gadis itu. Airish mengajak Kaisar untuk bicara, mengenai sebuah pekerjaan yang ia minta. Setidaknya, dia bisa mendapatkan penghasilan, memperkaya diri sebelum lelaki itu membuangnya, kembali ke kehidupan semula.
Hah, entahlah gadis itu masih belum bisa mempercayai sebuah ketulusan dari seorang Kaisar. Ia masih dihantui rasa was-was akan sesuatu yang menyakitkan, ia membuat dinding pembatas paling tinggi di hatinya.
Tidak, dia tidak boleh mencintai Kaisar.
Lelaki itu memang suaminya, tetapi ia tidak tahu. Dalam hati lelaki itu adakah namanya? Bahkan kata cinta itu tak pernah terucap, Kaisar hanya mengatakan dia tertarik, ya hanya itu.
Sedangkan sesuatu yang awalnya menarik, bisa saja dibuang saat pemiliknya merasa bosan.
Ia sudah memikirkan ke kemungkinan terburuk, saat Kaisar sudah puas bermain-main dengannya, lelaki itu akan menceraikannya. Membuangnya seperti sampah.
Hah, hidupku memang hanya sebuah boneka.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kaisar memecah lamunan Airish.
Gadis itu mengerjap, menyadarkan dirinya kembali. Ia menarik nafas, lalu menatap Kaisar yang tengah menyalakan sebatang rokok.
"Tuan, bukankah aku pernah meminta pekerjaan padamu? Tapi sampai sekarang, kau belum memberikannya. Jadi aku ingin membahas itu." Jelas Airish dengan lugas.
Mendengar itu, Kaisar berdecih. Lalu mengambil sesuatu dari balik jasnya. Sebuah kartu ia keluarkan, dan dari sana Airish sadar. Bahwa Kaisar adalah salah satu orang yang tidak begitu sayang pada uang.
Mudah saja, bahkan dia membeliku satu milyar.
"Kau sudah menjadi istri orang kaya, apa kau masih mau bekerja? Pakai kartu itu, belanja sepuasmu."
Pikiran lelaki itu, Airish sedang membutuhkan uang, tetapi gadis itu malu untuk berterus-terang.
Airish mendorong kartu itu ke arah Kaisar, tidak, bukan ini yang ia inginkan. "Aku hanya ingin bekerja, Tuan. Aku merasa bosan setelah pulang kuliah tidak melakukan apapun." Gadis itu mencari alibi. Padahal siapapun di luar sana, pasti merasa lelah setelah kuliah memeras otak, ditambah mereka harus bekerja.
"Baik, kalau begitu aku akan menemanimu di rumah setelah pulang kuliah, kita lakukan banyak hal, supaya kau tidak merasa bosan." Ucap Kaisar tanpa beban.
Apa?
"Tidak, tidak. Mana bisa seperti itu." Tolak Airish, justru ia tidak mau berlama-lama dengan Kaisar. Ia ingin waktunya terbebas dari lelaki itu.
"Kenapa tidak? Aku bosnya, aku yang mengatur perusahaan. Masalahnya dimana?"
Masalahnya itu di otakmu, sialan!
"Tuan, izinkan aku bekerja, yah..." Sudah setengah merengek, berharap Kaisar akan luluh. Lihat, bola matanya berkedip lucu membuat Kaisar gemas.
"Baik, kalau begitu aku akan menawarkanmu sebuah pekerjaan."
"Apa itu Tuan?"
"Menjadi sekertaris pribadiku."
Hah!
Apa aku akan ikut kemanapun dia pergi?
"Bukankah seorang sekertaris harus selalu ada di samping Tuannya. Bagaimana denganku? Aku kan kuliah."
"Tenang saja, kau bisa datang semaumu. Ku bayar sepuluh juta perjam."
Glek!
Bola mata bulat itu membelalak. Airish meneguk ludahnya yang sempat tercekak. Sepuluh juta, perjam. Satu bulan bekerja dengannya aku sudah sekaya apa?
Berkobar sudah jiwa miskin gadis itu.
"Ya atau tidak sama sekali. Hanya pekerjaan itu yang bisa aku tawarkan."
"Ya, aku mau, Tuan. Aku mau." Balas Airish cepat.
Dan Kaisar menyeringai, ia bangkit dari atas duduknya, lalu menarik tubuh Airish.
"Ikut aku!"
*********
Tak sempat memprotes Airish sudah ditarik oleh Kaisar. Lelaki itu tak mengizinkan Airish untuk pergi ke kampus hari ini.
Gadis itu hanya merasa heran, saat ia dibawa ke sebuah dermaga, sama halnya di rumah utama. Kaisar disambut begitu hormat, bak seorang raja.
Disana, Airish kembali dibuat takjub. Saat kedua netranya melihat sebuah kapal mewah mengapung di atas air. Selain kapal itu, ada banyak kapal-kapal kecil lain yang berjajar.
Apa? Apa ini juga milik Kaisar?
Otak Airish terus bertanya-tanya. Tapi tatapan mata itu sungguh memuji ini semua. Kaisar naik ke atas kapal, ia mengulurkan tangan ke arah Airish. Dan hal itu sukses membuat jantung gadis itu berdetak kencang.
Airish merasa spesial. Ya, ia merasa begitu diistimewakan. Adakah gadis lain yang Kaisar bawa kemari selain dirinya? Semoga saja tidak ada.
"Tuan, kita mau kemana?" Tanya Airish, kini gadis itu sudah duduk dipangkuan suaminya. Berteduh dari teriknya matahari yang mulai memanaskan jagat raya.
"Membawamu ke suatu tempat." Balas Kaisar tak begitu rinci. Airish jelas tahu mereka akan pergi ke suatu tempat, tapi kemana?
"Tempat yang bagaimana maksudmu?" Airish semakin penasaran, keningnya sampai berlipat-lipat.
"Tempat yang jauh dari semua orang."
Tunggu? Apa disana dia akan menghabisiku?
Tiba-tiba terbersit dalam otak Airish satu pertanyaan itu. Kaisar sengaja membawanya ke tempat yang tidak ada orang, lalu menghabisinya dengan kejam, begitukah?
Tubuh Airish terasa lemas memikirkannya. Dan Kaisar bisa melihat itu.
Ia mengulum senyum. Untuk menemani perjalanan yang cukup lama, Kaisar menarik tengkuk Airish, lalu menyatukan kembali bibir mereka.
Para pengawal berpaling muka, sedangkan wajah yang awalnya gelisah, kini justru bersemu merah.
"Tuan aku malu." Ucap Airish saat Kaisar memberi jeda.
Tetapi lelaki itu tak peduli, ia sedang tidak ingin diganggu. "Tenanglah, mereka tahu diri!" Kaisar kembali menyerang.
Sedangkan tangan langsing itu melingkar penuh di leher Kaisar.
Orang ini benar-benar!
Tapi lama-kelamaan Airish juga menikmatinya. Ia sudah mulai bisa membalas meski tak sebuas ciuman lelakinya.
Lupa sudah ia pada soal bunuh membunuh.
Kini, hanya ada decap manis yang beriringan dengan suara air laut, riak ombak berkejaran begitu terasa merdu, membawa kedua insan itu tak berhenti untuk saling memagut.
Mata Airish terpejam, saat ia merasakan sesapan lembut memenuhi leher jenjangnya. Seperti tidak tahu tempat, tangan Kaisar sudah berhasil membuka dua kancing teratas milik wanitanya.
Harusnya si pelaku yang malu, harusnya si pelaku yang salah tingkah. Disana, justru para pengawal yang merasa menjadi patung tak bernyawa.
Mereka kompak membubarkan diri, mencari tempat teraman untuk mata yang sudah terlanjur ternodai.
Ah, siapa aku, aku siapa?
Aku dimana?
Jomblo diam saja!
"Tuan." Panggilnya merintih, seraya meremaas rambut Kaisar yang terbenam di dadanya. Netra itu melirik kesana-kemari, suasana benar-benar sepi. Hah, ternyata benar ucapan Kaisar, mereka pengawal yang tahu diri. Alias, punya malu tidak seperti lelaki satu ini.
Sekujur tubuh itu sudah menegang, sedangkan sengatan yang terus menerus tanpa henti Kaisar berikan.
Di atas sofa, dua raga itu kembali menyatu. Meneguk bulir air asmara yang menggelora, deras semena-mena.
Suara lumba-lumba, mengiringi desaah Airish yang tertahan.
Birunya air laut yang mempesona, tetapi di mata lelaki itu lekuk sempurna Airish jauh lebih menggoda.
Entah kekuatan sebesar apa yang lelaki itu keluarkan, hingga percintaan mereka menghasilkan punggung sofa hancur berantakan.
Bahkan kapal yang berjalan dengan tenang, terasa sedikit oleng oleh hentakan Kaisar.