NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Abi apa aku masih punya hutang surat Al Baqarah, ya?"

Abi menganggukkan kepalanya dan Abi akan mencium mu lagi kalau kamu salah baca

"Isshh Abi...."

Yudiz memeluk tubuh istrinya dan menyuapi bubur yang ia beli tadi.

Yudiz tertawa kecil, sebuah tawa lepas yang seolah mengangkat separuh beban yang menghimpit dadanya selama seminggu ini.

Ia mengambil mangkuk bubur yang sempat tergeletak di meja, lalu mengaduknya perlahan agar suhunya pas.

"Kenapa? Kamu takut jantungmu copot lagi karena ciuman Abi, atau takut salah baca?" goda Yudiz sambil menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Rani.

Rani membuka mulutnya dengan patuh, namun matanya tetap melirik Yudiz dengan tajam.

"Dua-duanya! Abi itu curang, masa hukumannya bikin orang sesak napas. Itu namanya modus!"

Yudiz hanya tersenyum simpul, kembali menyendokkan bubur dengan telaten.

"Itu namanya motivasi, Sayang. Biar kamu cepat hafal. Tapi melihat kondisi kamu sekarang, sepertinya Abi harus ganti hukumannya. Mungkin, hukumannya ganti jadi pijat kaki kalau salah baca?"

"Nah, kalau itu lebih manusiawi!" sahut Rani semangat, meski sedetik kemudian ia meringis karena tawa kecilnya memicu nyeri di tulang rusuknya.

Yudiz segera meletakkan mangkuknya dan membantu Rani bersandar dengan lebih nyaman.

"Ssttt, jangan banyak gerak dulu. Tulangmu masih dalam masa pemulihan."

Suasana kamar yang tadinya tegang karena kehadiran Nyai Salmah, kini berubah menjadi hangat.

Yudiz menyuapi Rani dengan penuh kesabaran, seolah dunia di luar sana tidak lagi penting.

"Abi," panggil Rani pelan saat buburnya sudah hampir habis.

"Ya?"

"Nanti kalau kita pulang ke rumah, Abi beneran mau urus aku sendiri? Maksudku, mandi, ganti baju, semuanya? Tangan aku kan nggak bisa ditekuk begini," tanya Rani sambil menunjuk gipsnya dengan wajah merona merah.

Yudiz menaruh mangkuk kosong itu, lalu mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibir Rani.

Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam, membuat Rani mendadak salah tingkah.

"Rani, kamu itu tanggung jawabku. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu, apalagi dalam kondisi seperti ini. Jadi, bersiaplah punya perawat pribadi yang paling ganteng dan paling bawel sedunia."

Rani mencibir, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di wajahnya.

"Narsisnya nggak hilang-hilang ya."

Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Seorang suster masuk membawa nampan berisi obat-obatan dan pengumuman penting.

"Pak Yudiz, administrasi kepulangan sudah selesai diurus oleh asisten Bapak. Dokter bilang Ibu Rani sudah boleh pulang sore ini, asal tetap kontrol rutin dan tidak boleh melakukan aktivitas berat dulu."

Mata Rani langsung berbinar. "Pulang? Beneran Abi? Kita nggak ke pondok kan?"

Yudiz mengangguk mantap sambil mengelus rambut Rani.

"Iya, kita pulang ke rumah kita sendiri. Rumah minimalis hitam-putih yang kamu bilang 'keren' itu. Kita mulai hidup baru di sana, berdua saja."

Rani merasa lega yang luar biasa. Baginya, rumah itu adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu merasa menjadi "beban" bagi nama besar pesantren, dan tempat di mana ia bisa mengenal Yudiz kembali tanpa bayang-bayang Laila.

Yudiz terkekeh pelan sambil terus melipat pakaian Rani dan memasukkannya ke dalam tas jinjing.

Pemandangan seorang Gus dan pengusaha sukses yang sibuk mengurusi baju-baju kaos serta hoodie istrinya itu tampak sangat kontras, namun Yudiz melakukannya dengan telaten.

Tak lama kemudian, seorang perawat datang membawa kursi roda.

Yudiz membantu Rani duduk di sana dengan sangat hati-hati, memastikan tangan kanannya yang digips tidak tersenggol.

"Pelan-pelan, Sayang," bisik Yudiz lembut.

Perawat itu mendorong kursi roda Rani menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai ke lobi depan.

Udara luar yang segar langsung menyapa wajah Rani, membuatnya menghirup napas panjang seolah baru saja bebas dari penjara.

Setelah membantu Rani masuk ke dalam mobil dan memastikan sabuk pengamannya terpasang nyaman, Yudiz melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai jingga karena senja.

Di tengah perjalanan, Yudiz melirik Rani yang sedang asyik memandangi anak-anak kecil yang berlarian di sebuah taman pinggir jalan.

Senyum Rani tampak tulus, sesuatu yang jarang Yudiz lihat sejak kecelakaan itu.

"Rani, kamu suka anak kecil?" tanya Yudiz tiba-tiba.

Rani menoleh, lalu menganggukkan kepalanya dengan yakin.

"Suka banget, Abi. Mereka lucu, nggak punya beban, dan jujur. Lihat itu, pipinya kayak bakpao," jawab Rani sambil menunjuk ke luar jendela.

Yudiz terdiam sejenak, senyumnya semakin lebar.

"Abi ingin sekali punya anak. Rasanya rumah kita yang besar itu bakal lebih hidup kalau ada suara langkah kaki kecil lari-larian."

Rani yang masih terbawa suasana langsung menyahut tanpa berpikir panjang.

"Isshh Abi! Kita saja belum malam pertama, masa sudah mikir anak!"

Deg!

Seketika suasana di dalam mobil menjadi sunyi senyap.

Rani mematung, matanya membelalak kaget. Ia langsung menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang bebas, wajahnya mendadak terasa panas hingga ke telinga.

Yudiz menghentikan mobilnya perlahan karena lampu merah.

Ia menoleh ke arah Rani, alisnya terangkat satu dengan tatapan menggoda yang sangat nakal.

"Oh, jadi istriku ini diam-diam sudah memikirkan malam pertama?" goda Yudiz dengan suara rendah yang berat.

"B-bukan gitu! Maksudku... aduh, Abi! Lupakan! Aku tadi asal ngomong!"

Rani berusaha memalingkan wajahnya ke arah jendela, mencoba menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar sampai ke lehernya.

Yudiz tertawa lepas, tangannya meraih tangan kiri Rani dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"Tidak apa-apa, Sayang. Abi tidak lupa, kok. Tapi sekarang prioritas kita adalah kesembuhanmu. Setelah tanganmu sehat..."

Yudiz menggantung kalimatnya, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Rani.

"Abi akan tagih ucapanmu tadi."

"Abi! Fokus nyetir!" teriak Rani panik, membuat Yudiz tertawa semakin puas saat lampu berubah hijau dan mobil kembali melaju menuju rumah mereka.

Mobil sport hitam itu berhenti dengan sempurna di depan garasi rumah mereka. Yudiz mematikan mesin, lalu segera turun untuk membukakan pintu bagi Rani.

Tanpa banyak bicara, ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Rani.

"Abi, aku bisa jalan sendiri. Kakiku kan tidak patah," protes Rani pelan, meskipun sebenarnya ia merasa nyaman dalam dekapan Yudiz.

"Lantai licin, Sayang. Abi tidak mau ambil risiko kamu terpeleset," jawab Yudiz tenang sambil melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi itu.

Yudiz membawa Rani langsung menuju kamar utama.

Ia merebahkannya di atas kasur dengan sangat lembut, seolah Rani adalah barang pecah belah yang paling mahal di dunia.

Udara kamar yang sejuk menyambut mereka, namun entah kenapa Rani merasa suhu di sana mendadak naik.

"Abi bantu ganti pakaian ya," ucap Yudiz sambil mulai membuka tas berisi baju ganti.

Rani terdiam, jantungnya seketika berdetak kencang, suaranya terdengar seperti raungan motor di garis start.

Ia menelan ludah, menatap gips di tangannya yang memang membuatnya mustahil untuk berganti baju sendiri.

Dengan wajah merona merah, Rani akhirnya mengangguk pelan.

Yudiz mulai bekerja dengan sangat telaten. Ia melepas jaket hoodie Rani, lalu dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tidak menyakiti bahunya, ia mulai membuka kancing pakaian istrinya satu per satu.

Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan.

Saat pakaian luar Rani terlepas, Yudiz beralih ke pakaian dalam bra dan celana Rani yang tampak sedikit basah karena keringat dingin selama perjalanan dan efek obat dari rumah sakit.

"A-abi, aku malu..." bisik Rani. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.

Yudiz terhenti sejenak. Begitu pakaian itu terlepas sepenuhnya, pemandangan indah di hadapannya membuat Yudiz tanpa sadar menelan salivanya.

Kulit istrinya yang putih bersih, lekuk tubuh yang atletis namun tetap feminin, kini terpampang jelas di depan matanya.

Meskipun ada beberapa bekas luka memar akibat kecelakaan, kecantikan Rani tetap memukau indra penglihatannya.

Yudiz merasakan tenggorokannya mendadak kering.

Sebagai laki-laki normal, ada gejolak yang sangat kuat menyerangnya. Namun, ia kembali teringat kondisi Rani yang masih rapuh.

"Tahan sebentar ya, Sayang. Abi bersihkan dulu tubuhmu dengan waslap hangat supaya segar," ucap Yudiz dengan suara yang sedikit parau, mencoba mengendalikan diri dan menekan egonya demi kenyamanan istrinya.

Rani hanya bisa menggigit bibir bawahnya, merasakan jemari Yudiz yang sangat lembut mulai menyentuh kulitnya, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Suasana kamar yang tadinya hening kini dipenuhi dengan ketegangan manis yang tak terelakkan. Rani, meskipun ingatannya belum pulih sepenuhnya, merasakan dorongan hati yang begitu kuat kepada pria yang terus menjaganya ini.

Keberaniannya muncul dari rasa aman yang Yudiz berikan.

"A-abi..." bisik Rani lirih.

Tanpa diduga, Rani menarik kerah kemeja Yudiz dengan tangan kirinya yang sehat dan langsung mencium bibir suaminya.

Yudiz tertegun sejenak, matanya membelalak kaget sebelum akhirnya ia membalas ciuman itu dengan penuh kelembutan.

Yudiz melepaskan tautan bibir mereka perlahan, napasnya memburu.

"Mau sekarang? Tapi tanganmu masih sakit, Sayang," bisik Yudiz, mencoba tetap rasional meski pertahanannya sudah hampir runtuh.

"Abi..." Rani hanya menatapnya dengan pandangan memohon, seolah menyerahkan seluruh hidupnya pada pria di hadapannya.

Melihat kesungguhan Rani, Yudiz akhirnya luluh.

Ia bangkit sejenak untuk melepaskan pakaiannya sendiri. Namun, sebagai seorang pria yang taat, ia tak lupa membisikkan doa sebelum melakukan hubungan suami istri, memohon keberkahan dan perlindungan dari Sang Pencipta atas ibadah yang mereka lakukan.

Yudiz bergerak dengan sangat hati-hati. Ia mengatur posisi sedemikian rupa agar berat tubuhnya tidak menindih tangan kanan Rani yang terbalut gips.

Setiap gerakannya penuh dengan perhitungan dan kasih sayang.

"S-sakit Abi..." rintih Rani pelan saat Yudiz mencoba melakukan penetrasi untuk pertama kalinya.

Tubuhnya yang kaku karena trauma kecelakaan membuat momen ini terasa sedikit menyakitkan di awal.

Yudiz segera berhenti, ia mengecup kening Rani dan membisikkan kata-kata penenang.

Ia melakukan pemanasan kembali, menciumi leher dan bahu Rani agar istrinya merasa lebih rileks.

Setelah dirasa Rani sudah siap, Yudiz kembali memasukkan miliknya secara perlahan.

"Masih sakit?" tanya Yudiz lembut, menatap dalam ke mata Rani.

Rani menggeleng pelan, wajahnya merona hebat namun senyum tipis terukir di bibirnya.

"Nggak Abi, ini enak," jawabnya dengan suara yang nyaris hilang.

Yudiz tersenyum tipis, merasa lega karena istrinya mulai bisa menikmati momen penyatuan mereka.

Ia pun melanjutkan gerakannya dengan ritme yang terjaga, memastikan bahwa meskipun raga Rani sedang terluka, hatinya merasa utuh dan dicintai sepenuhnya.

Malam itu, di bawah remang lampu kamar, mereka berdua seolah melupakan segala luka, amnesia, dan cemoohan orang lain.

Hanya ada dua jiwa yang saling terikat dalam sebuah ibadah yang paling indah.

Yudiz mengeratkan pelukannya, membiarkan kulit mereka bersentuhan tanpa pembatas.

Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, menghalau udara dingin AC yang mulai menusuk.

Aroma tubuh Rani yang bercampur dengan minyak aromaterapi rumah sakit kini berganti dengan aroma cinta yang memenuhi ruangan.

"Abi harap kamu segera hamil, Sayang," bisik Yudiz tepat di telinga Rani sambil mengecup pundaknya yang polos.

"Supaya rumah kita tidak sepi lagi, dan supaya kamu punya alasan kuat untuk tidak kembali ke lintasan balap yang berbahaya itu."

Rani menganggukkan kepalanya pelan, ia menyandarkan wajahnya di dada bidang Yudiz, mendengarkan detak jantung suaminya yang masih berdegup kencang—sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.

"Abi..." Rani mendongak, menatap Yudiz dengan tatapan yang kini jauh lebih manja.

"Ternyata enak ya."

Yudiz tertegun sejenak, lalu tawa kecilnya pecah.

Ia tidak menyangka istrinya yang tomboi dan sempat amnesia itu bisa bicara sejujur dan sepolos itu setelah momen intim mereka. Yudiz mengacak rambut Rani dengan gemas.

"Oh ya? Kamu ketagihan?" goda Yudiz dengan alis terangkat.

"Kamu mau tambah lagi?"

Rani tidak menjawab dengan kata-kata, ia justru menganggukkan kepalanya dengan malu-malu, wajahnya disembunyikan di leher Yudiz.

Yudiz menelan salivanya, rasa lelahnya seolah hilang seketika melihat respon istrinya. Namun, ia kembali melirik gips di tangan kanan Rani.

Ia harus tetap waspada agar aktivitas mereka tidak membuat cedera Rani memburuk.

"Tapi sebentar saja ya? Kamu harus banyak istirahat. Ingat kata dokter, tubuhmu butuh energi untuk memulihkan jaringan yang luka," ujar Yudiz lembut namun penuh peringatan.

"Iya, Abi. Janji sebentar saja," bisik Rani.

Yudiz kemudian kembali memulai dengan gerakan yang lebih lambat dan sangat hati-hati. Ia memastikan posisi Rani tetap aman.

Malam yang panjang itu pun berlanjut dengan kehangatan baru, di mana Rani mulai merasakan bahwa ingatannya mungkin belum kembali seratus persen, tapi hatinya sudah sepenuhnya menemukan jalan pulang ke pelukan suaminya.

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!