Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya sang Dewi es
Hari itu, peringkat luar sekte mendapatkan penguasa baru yang tak terbantahkan.
Kemenangan mutlak Shang Zhi atas Lu Feng memang menjadi buah bibir di seluruh penjuru Sekte Tian Long, namun di balik bayang-bayang kejayaan sang naga yang baru terbangun, seorang dewi sedang mempersiapkan taringnya sendiri. Yun Xi, yang selama ini dikenal karena kecantikannya yang menawan dan kelembutannya, seringkali dianggap sebagai "bunga pajangan" di jajaran murid elit. Namun, mereka lupa bahwa bunga yang paling indah seringkali memiliki duri yang paling mematikan.
Setelah turnamen murid luar berakhir, tiba saatnya bagi kompetisi internal murid elit untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan kuota menuju "Gua Kristal Langit". Di sinilah Yun Xi harus membuktikan bahwa ia berada di jajaran elit bukan karena belas kasihan para Tetua, melainkan karena kekuatan murninya.
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti Puncak Salju Abadi. Yun Xi berdiri di tengah arena pertandingan murid dalam. Lawannya kali ini adalah Mo Han, seorang jenius dari Paviliun Pedang Hitam yang terkenal dengan tekniknya yang licin dan kejam. Mo Han adalah sepupu jauh Lu Feng, dan dendam atas kekalahan Lu Feng di tangan Shang Zhi masih membara di matanya.
"Yun Xi, jika kau menyerah sekarang dan memohon maaf atas tindakan kekasihmu itu, mungkin aku akan sedikit lembut padamu," ujar Mo Han sambil memainkan kipas logamnya yang tajam.
Yun Xi tidak menjawab. Ia hanya berdiri tenang, mengenakan jubah biru muda yang melambai ditiup angin. Rambut hitamnya yang panjang diikat tinggi, memberikan kesan gagah yang jarang ia tunjukkan. Di tangannya, ia memegang sebuah pedang tipis bernama Embun Pagi.
"Bicara tanpa tindakan adalah kesia-siaan," jawab Yun Xi singkat. Suaranya lembut namun mengandung ketegasan yang membuat udara di sekitar panggung mendingin.
Wasit memberi tanda dimulainya pertandingan. Mo Han bergerak seperti kilat hitam. Kipasnya terbuka, mengeluarkan puluhan jarum beracun yang meluncur ke arah Yun Xi. Ini adalah serangan pembuka yang pengecut, namun efektif untuk menguji reaksi lawan.
Yun Xi tidak menghindar. Ia memutar pedangnya dengan gerakan melingkar yang anggun.
"Tarian Salju: Tirai Embun!"
Sekejap, uap air di udara membeku menjadi kristal-kristal es kecil yang membentuk perisai transparan di depannya. Jarum-jarum Mo Han tertahan dan jatuh berdentang ke lantai batu. Tanpa memberi kesempatan bagi Mo Han untuk menyerang lagi, Yun Xi melesat maju.
Gerakannya tidak sebrutal Shang Zhi, namun jauh lebih presisi. Setiap langkahnya seolah-olah mengikuti irama musik yang tak terdengar. Pedang Embun Pagi memancarkan cahaya perak yang menyilaukan.
Mo Han mendengus meremehkan. "Hanya teknik tingkat rendah!" Ia mengayunkan kipas logamnya, mencoba memotong pergelangan tangan Yun Xi. Namun, saat logam kipasnya bersentuhan dengan pedang Yun Xi, ia merasakan sensasi dingin yang luar biasa merambat ke lengannya.
"Ini bukan sekadar es, Mo Han. Ini adalah niat pedang yang membekukan jiwa," bisik Yun Xi saat mereka beradu senjata dalam jarak dekat.
Pertarungan semakin memanas. Mo Han mulai merasa terpojok. Ia mengeluarkan teknik pamungkasnya, "Badai Gagak Hitam", di mana Qi gelap menyelimuti arena, membuat jarak pandang menjadi nol. Di dalam kegelapan ini, Mo Han bisa menyerang dari sudut mana pun.
Di tribun penonton, Shang Zhi memperhatikan dengan seksama. Tangannya terkepal, namun ia percaya pada kemampuan Yun Xi. Ia tahu bahwa Yun Xi memiliki bakat tersembunyi yang bahkan para Tetua pun jarang melihatnya secara utuh: Vena Es Murni.
Di tengah kegelapan, Yun Xi memejamkan matanya. Ia melepaskan ikat rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai. Aura di sekelilingnya tiba-tiba meledak. Suhu di arena turun drastis hingga lantai panggung mulai dilapisi es tebal.
"Kau pikir kegelapan bisa menyembunyikanmu?" suara Yun Xi bergema. "Di hadapan es yang murni, segala sesuatu menjadi statis." Yun Xi menghentakkan kakinya.
BOOM!
Gelombang energi es menyapu seluruh arena, menghancurkan teknik kegelapan Mo Han seketika. Mo Han terkejut, tubuhnya mendadak kaku karena suhu yang ekstrem.
Yun Xi mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya biru es berkumpul di ujung pedang, membentuk bayangan burung Phoenix es yang megah.
"Teknik Rahasia Puncak Salju: Pukulan Phoenix Membekukan Langit!"
Ia mengayunkan pedangnya ke arah Mo Han. Burung Phoenix es itu meluncur, meninggalkan jejak es di jalurnya. Mo Han mencoba menangkis dengan seluruh Qi-nya, namun kekuatannya hancur seperti kaca yang dipukul palu.
Mo Han terlempar keluar arena, tubuhnya diselimuti lapisan es tipis yang membuatnya menggigil tak terkendali. Ia pingsan seketika, bukan karena luka dalam yang parah, melainkan karena energi es Yun Xi telah mengunci aliran Qi-nya sementara waktu.
Seluruh penonton terdiam. Mereka baru saja menyaksikan seorang "bunga" berubah menjadi "badai es" yang tak terhentikan. Jika Shang Zhi adalah naga yang menggetarkan bumi, maka Yun Xi adalah langit musim dingin yang tenang namun mematikan.
Yun Xi mengatur napasnya kembali. Ia mengikat rambutnya dengan tenang, menyarungkan pedangnya, dan memberikan hormat kepada para Tetua. Matanya segera mencari sosok Shang Zhi di kerumunan. Saat mata mereka bertemu, Yun Xi memberikan senyum kecil yang tulus senyum yang hanya ia berikan untuk pria itu.
Tetua Mei Ling, yang duduk di tribun, mengangguk puas. "Keduanya... naga dan phoenix. Sekte Tian Long akan segera menyaksikan perubahan zaman."
Malam harinya, di atap Paviliun Kayu Layu, Shang Zhi dan Yun Xi duduk berdampingan. Keheningan malam itu terasa damai setelah hiruk pikuk turnamen.
"Kau luar biasa hari ini, Yun Xi," ujar Shang Zhi sambil menatap bintang-bintang. "Aku tidak menyangka kau sudah menguasai niat pedang es sampai sejauh itu."
Yun Xi menyandarkan kepalanya di bahu Shang Zhi. "Aku tidak ingin selalu menjadi orang yang dilindungi, Shang Zhi. Aku ingin berdiri di sampingmu saat kau menghadapi dunia. Aku ingin menjadi kekuatan yang melengkapimu."
Shang Zhi menggenggam tangan Yun Xi yang dingin namun lembut. "Kita akan menghadapi semuanya bersama. Siapa pun yang mencoba menyakitimu, akan berhadapan dengan kemarahanku. Dan siapa pun yang meremehkanmu, akan merasakan dinginnya pedangmu."
Pertarungan hari itu bukan hanya tentang kemenangan peringkat, melainkan pernyataan kepada dunia: bahwa pasangan ini bukanlah orang biasa. Mereka adalah dua jenius yang akan mengukir sejarah baru di benua kultivasi ini. Dari murid luar yang dihina hingga murid elit yang disegani, perjalanan mereka baru saja dimulai.
Dan di kegelapan malam, fragmen mutiara di dalam tubuh Shang Zhi bergetar, seolah menyambut kehadiran energi es murni Yun Xi. Harmoni antara api naga dan es phoenix telah tercipta, sebuah kekuatan yang suatu hari nanti akan mampu mengguncang langit dan bumi.
...Bersambung.......