Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN KEMBALI DATANG
Saat sinar matahari menyapa, kehangatannya menggantikan dingin malam, aku melaksanakan tugas harianku. Memasak untuk bapak, membersihkan rumah dan halaman, dan bapak pun berangkat ke kebun.
Tapi sebelum bapak berangkat, aku kembali mengingatkan obrolanku tentang Pak Handoyo semalam dengannya.
"Iya, nanti pas jam istirahat siang di kebun, Bapak ke rumah Ustadz Furqon buat ngobrol. Kamu bantu doa supaya memang ini jalan kesembuhan dia ya Nis..." ucap bapak sambil memakai topi capingnya.
Dan bapak pun segera bergegas ke kebun bersama Pak Padi, yang memang sudah menunggunya di depan rumah. Berniat berangkat bersama ke kebun.
Aku segera menuju ke belakang rumah, ke tempat biasa aku mencuci pakaian. Cukup banyak cucian hari ini.
Aku sikat dan bilas satu persatu semua pakaian kotor di dalam bak. Sambil sesekali aku menikmati kicauan suara burung yang merdu, saling bersahutan menemaniku.
Dan kurasakan semilir angin di pagi hari yang sejuk. Sambil tercium juga aroma kayu bakar dari tungku masak dari beberapa rumah tetangga.
Tak terasa hampir dua jam aku mencuci pakaian, karena jumlah cucian yang lumayan banyak dan caraku mencuci yang belum bisa secepat ibu-ibu rumah tangga lain di desaku.
Setelah semuanya siap untuk dijemur di halaman depan rumah, aku memasak air dahulu di dapur. Menggunakan panci berukuran agak besar. Tujuannya supaya persediaan air minum tetap ada.
Sambil menunggu air matang di atas kompor, aku menuju ke halaman depan sambil membawa cucian yang siap dijemur itu. Aku bagi menjadi empat ember berukuran lebih kecil supaya ringan ketika ku bawa.
Memang melelahkan dan kadang terasa bosan saat mengerjakan semua itu, namun aku sadar bahwa itu semua menjadi salah satu tanggung jawab dan baktiku kepada bapak. Sekaligus baktiku untuk almarhumah ibu.
Tiga ember cucian sudah ku taruh di halaman rumah, tinggal ember ke empat yang masih ada di belakang. Aku pun kembali masuk ke dalam rumah menuju ke belakang.
Tapi...
Saat aku sampai di belakang lagi, terasa hembusan angin yang sedari tadi sejuk, berubah menjadi agak sedikit kencang dengan hawa dingin yang lebih menusuk kulit.
Aku berhenti sejenak sambil memperhatikan pepohonan sekitar di belakang rumahku, semua tampak normal saja. Tapi agak aneh rasanya, hembusan angin yang tiba-tiba sedikit kencang dengan hawa dingin ini. Padahal cuaca sangat cerah. Tak ada awan mendung, atau pertanda lain akan datangnya hujan.
Aku acuhkan saja semua keanehan itu. Mungkin saja memang anginnya agak lebih dingin. Dan segera ku bawa ember terakhir itu ke halaman depan rumah.
Akhirnya aku menjemur semua pakaian di tempat jemuran halaman depan rumah. Dan seperti biasa, ada warga yang lewat menyapaku, dan sesekali sampai ada yang berhenti sebentar, mengobrol denganku.
Semuanya tampak normal dan tak ada hal yang aneh.
Sampai tiba-tiba... Saat lembar terakhir pakaianku akan ku jemur...
Pakaianku itu terlepas dari tangan, lalu jatuh ke tanah agak jauh dariku. Padahal tanganku sudah tidak licin, dan tak ada angin kencang yang berhembus. Aneh...
Pakaianku itu seperti ada sesuatu yang sengaja menariknya sampai terjatuh.
Aku segera berjalan untuk mengambil pakaian itu di atas tanah.
"Aduh... Bajunya warna putih lagi... Kan jadi harus dibilas ulang kalo kena tanah begini..." ucapku pelan sambil mengambilnya.
Saat aku mencoba mengusap pelan tanah yang menempel, ada keanehan yang semakin membuatku heran.
Bekas tanah di baju putihku itu bukan berwarna cokelat. Tapi...
Berwarna merah... Seperti percikan darah...
"Loh? Kok merah?" gumamku dalam hati sambil memperhatikan.
Aku coba lagi mengusap lebih cepat, berharap segera berkurang bekas kotoran tanah itu.
Namun... Semakin ku usap, justru semakin banyak warna merah darah itu.
Nafasku sedikit cepat, pikiranku menjadi kemana-mana, dan rasa heranku berubah perlahan menjadi rasa khawatir.
"Gak mungkin ini bekas darah..." ucapku dalam hati.
Di tengah semua perasaan itu, aku segera menuju ke rumah, bermaksud untuk membilas lagi baju putihku itu.
Dan saat aku sampai di ambang pintu depan hendak masuk, tiba-tiba ada hembusan angin berhawa panas dari dalam rumahku.
Kedua kakiku seketika berhenti di ambang pintu. Kedua mataku langsung menatap ke dalam rumah.
Dan saat itu juga... Aku mendengar dengan jelas...
Ada suara seorang lelaki yang berkata,
"JANGAN IKUT CAMPUR! ATAU KAU AKAN MATI!"
Jantungku langsung berdegup kencang, nafasku lebih cepat, kedua kakiku tak mampu bergerak, dan kedua mataku hanya menatap dengan rasa takut ke dalam rumah.
Kembali teringat aku akan kejadian penglihatan semalam saat di dapur. Penglihatan tentang seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan semangkuk bakaran di depannya.
Dan saat itu juga, aku memejamkan kedua mataku, masih dengan posisi berdiri di ambang pintu depan rumah.
"Dayang... Dayang Putri..."
Aku mencoba memanggil Dayang Putri dalam hatiku. Dengan kedua mata terpejam itu. Dan aku juga berharap jika penglihatan ghoib mata kiriku terbuka saat ini, yang kulihat adalah Dayang Putri, bukan sosok lain.
"Jangan takut Nisa..." Aku mendengar suara Dayang Putri berkata padaku.
Namun semuanya gelap karena aku tak membuka kedua mataku.
Tiba-tiba... Di tengah kemelut rasa takut itu, aku mendengar suara langkah kaki dari belakangku.
"Srek srek srek..."
Suara langkah kaki yang diseret di atas rumput halaman. Aku semakin gemetar halus, tak berani membuka mata dan tak berani menoleh ke belakang.
Suara langkah kaki itu semakin dekat, semakin dekat!
Dan... "Plak!!!"
Sebuah tepukan tangan agak kencang mendarat di pundak kananku!!!
Aku sontak terkaget, sambil berbalik badan, dan menatap jelas dengan kedua mataku...
"Dinda...!!"
Ternyata Dinda yang menepuk pundakku itu.
"Kamu kenapa kok diem aja depan pintu gini? Aku panggilin kamu di depan halaman dari tadi, tapi gak nengok-nengok sih kamu?" tanya Dinda padaku sambil ekspresi wajahnya merasa aneh.
"A-A-Anu... E-Eh, gak kok, gak apa-apa Din... Kamu ngapain di sini?" responku dengan agak gugup, sekaligus merasa sedikit lega dalam hatiku.
"Loh, justru aku yang barusan nanya duluan, kamu ngapain sih diem aja depan pintu? Aku panggilin dari tadi..." jawabnya sambil mencubit pelan pipiku.
"Anu.. Tadi... Aku mau masuk ke dalem rumah Din..." jawabku setengah-setengah.
"Ya teruuusss??? Ngapain malah jadi patung di sini? Gak boleh anak perawan diem di depan pintu! Susah jodoh nanti!" ucapnya padaku.
"I-iya... Iya Din..."
Dinda kembali mengerutkan kedua alisnya, menatapku heran.
"Kamu kayak ketakutan gini sih? Ada apa?" tanyanya padaku.
"Gak kok Din, gak apa-apa... Beneran... Aku cuma mau bilas bajuku ini, tadi jatoh pas mau aku jemur. Jadinya kotor lagi." jawabku.
Dinda lantas melihat ke arah baju putih yang kupegang itu.
"Mana kotor sih? Lah wong bersih begitu... Ngimpi kamu ya?" ucapnya sambil menunjuk ke arah baju yang ku pegang.
Aku lalu menatap bajuku itu, membolak-baliknya, dan ternyata... Bersih...
Tak ada bercak darah yang seperti tadi kulihat. Padahal sangat jelas, ada bercak darah yang semakin banyak pas tadi kucoba bersihkan.
Aku kembali heran...
Namun selang beberapa detik, Dinda berkata padaku.
"Oh iya, aku ke sini karena dimintai tolong sama Bapakmu. Aku tadi pulang dari pasar, lewat depan rumah Ustadz Furqon, Bapakmu titip sayuran dari kebun. Disuruh bawa ke sini."
"Oh... Gitu ya... Terima kasih ya Din... Udah repot-repot anterin sayuran titipan Bapakku" jawabku sambil tersenyum agak berat. Pikiranku masih saja terpaku dengan kejadian barusan.
"Iya, sama-sama Nisa... Ya udah, aku pulang dulu, Ibuku belom masak soalnya. Pamit ya... Assalamu'alaikum..."
"Iya Din... Wa'alaikumsalam..." jawabku.
Aku melihat Dinda segera meninggalkanku dengan terburu-buru. Karena dia juga membawa sayuran yang dibeli dari pasar untuk segera diolah sama ibunya.
Ketika Dinda sudah tak nampak, aku segera menjemur baju putih yang kupegangi itu. Lalu aku kembali memberanikan diri berjalan ke dalam rumah.
Ku tatap seisi rumahku yang kosong itu, kali ini, aku teringat dengan suara Dayang Putri barusan...
"Jangan takut Nisa..."
Hatiku lebih berani sekarang. Dan aku pun seperti mendapatkan energi yang berbeda.
"Gak akan ada yang bisa membahayakan diriku jika Alloh tak mengizinkan!" ucapku dengan suara pelan namun penuh keyakinan.
Meskipun tubuhku masih sedikit gemetar, namun hatiku tidak boleh gemetar.
Singkat cerita, tak ada hawa panas, tak ada bisikan ancaman, tak ada apapun di dalam rumah seperti yang tadi aku rasakan.
Tapi aku tetap merasa waspada dengan segala kemungkinan. Karena aku sudah sadar bahwa diriku bukan lagi hanya nampak di dunia nyata, tapi sudah nampak bagi bangsa lelembut.
Aku menuju ke dapur bermaksud memerika air yang tadi sedang kumasak di atas kompor. Dan ternyata sudah mendidih airnya.
Aku segera ambil termos air panas, dan kuisi sampai penuh, sedangkan sisanya ku biarkan supaya menjadi dingin. Supaya bisa segera diminum kapanpun.
Setelah itu, aku kembali ke ruang tamu, dan duduk istirahat sebentar.
Kusandarkan tubuhku ke kursi, sambil kuregangkan kedua kaki. Sesekali aku sambil memijit kedua tangan yang lumayan terasa pegal karena mencuci cukup banyak.
Hati dan pikiranku kembali tenang. Aku menatap ke arah luar rumah, sejenak aku berbicara dengan diriku sendiri...
"Berarti... Dulu waktu almarhumah Ibu masih hidup, dia adalah wanita yang hebat ya... Sampai bisa membantu orang lain yang butuh bantuan..."
Aku kembali teringat dengan wajah almarhumah ibuku, sambil membayangkan bagaimana kemampuan Ibu menghadapi segala sesuatu yang bersifat ghoib ini...
Beberapa saat aku membayangkan semua itu, tiba-tiba rasa kantuk datang...
Dan aku terlelap di kursi ruang tamu...