Hi readers, dukung terus penulis ya. ini karyaku yang kedua setelah ' Terimakasih untuk, lukaku'. berikan saran ya, supaya penulis bisa menulis lebih baik di tulisan berikutnya.
Tulisan ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis dan seorang pria yang berbeda status soaial. Tapi meninggalkan satu tali yang harus mempertemukan mereka. Tanpa kesengajaan mereka sudah menyandang status orang tua.
Ira Kusuma, gadis desa yang pintar, tapi sangat pendiam dan tidak gampang untuk bergaul. Karena keadaan tidak sadar tuannya sudah meninggalkan satu nyawa dirahimnya, yang tidak diketahui oleh sang tuan.
Marcel Sanjaya, Seorang pengusaha sukses, kaya raya dan berwajah tampan. istrinya seorang wanita cantik model papan atas. Laki-laki yang sudah memporak - porandakan hidup Ira.
Satrio atau Rio, anak yang awalnya tidak diharapkan kehadirannya, ternyata berkah terindah buat semua keluarganya.
Bu Ani, ibu dari Ira yang selalu menemani anaknya dalam susah dan sedih.
Bu Clara, orang tua Marcel yang baik pada semua orang tanpa melihat status.
Pak Kamal, orang yang bekerja dirumah Marcel dan banyak membantu Ira dan ibunya.
SELAMAT MEMBACA YA, SEMOGA SUKA🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Neo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24 MEREKA DATANG
Bu Ani dan Rio segera keluar dari ruang kepala sekolah itu. Mereka ingin langsung pulang sampai lupa dengan pak Nirwan dan pak David yang menunggu mereka diruang pertemuan.
'besok aja ngomong sama pak nirwan' pikir Bu Ani.
"Kita sudah mau pulang nek", tanya Rio sambil menatap wajah Bu Ani yang masih sembab dan jauh dari kata ceria. "Tapi Rio jadi sekolah disini kan nek, jadi ya nek", rengek Rio sambil menggoyang-goyang tangan neneknya dan mendongak berusaha menatap wajah neneknya.
Sebenarnya hati Bu Ani teriris mendengar pernyataan Rio.
'Sekolah ini milik ayahmu nak sebenarnya, tidak hanya sekolah disini bahkan disekolah luar negri yang sangat bagus pasti ayahmu mampu, tapi bagaimana dengan ibumu, nanti dia hancur lagi sayang' batin Bu Ani menatap sendu Rio.
"Kita masih disuruh nunggu dulu kabarnya nak, kalau nanti mereka sepakat dalam pertemuannya, kamu jadi sekolah disini, tapi kalau nanti ada yang lebih pantas sekolah disini berarti Rio disekolah lama aja ya. karena yang sekolah disini harus sesuai dengan hasil rapat sayang. kita harus siap terima ya, tidak boleh maksa", jelas Bu Ani hati-hati supaya Rio jangan terlalu berharap sekolah disini, karena takutnya harapannya itu nanti sangat bertentangan dengan ibunya.
"oh ya sudah nek, kita harus sportif kata pak guru Nirwan" ucapnya kembali ceria.
"iya nak, bagus begitu donk", ucap Bu Ani senang karena cucunya kembali ceria.
Lalu mereka menaiki salah satu Abang ojek yang mangkal diluar gerbang sekolah itu.
Tanpa mereka sadari ternyata mereka diikuti oleh supir yang baru keluarga Sanjaya, yang diperintah pak Sanjaya untuk mengetahui tempat tinggal mereka yang sebenarnya.
Begitu sampai Bu Ani dan Rio langsung turun dari ojek itu dan masuk kerumah kecil itu. Tidak lupa sang supir itu mengabadikan semuannya dihandphonenya. Lalu dia pulang untuk memberi laporan kepada tuan Sanjaya yang masih berada disekolah harapan.
"mereka tinggal tidak terlalu jauh tuan, tapi agak masuk gang, hanya bisa motor" jelas sang supir."ini ada saya ambil beberapa fotonya tuan" sambil menyerahkan handphonenya ketangan pak Sanjaya saat mereka sudah duduk dikursi didekat ruang kepala sekolah itu.
Pak Sanjaya melihat itu sangat trenyuh, rumah petak kecil dengan teras yang sangat sempit tempat jemuran berjejer.
'aku hidup bergelimang harta sementara cucuku hidup ditempat seperti ini dan aku tidak bisa berbuat apa-apa'hatinya sangat miris.
'apa yang harus aku lakukan Tuhan, berilah petunjukmu', doa pak Sanjaya dalam diam.
Melihat ekspresi ayahnya, Marcel pun langsung meraih handphone itu. Dan dia juga ikut hancur melihat kehidupan anak kandungnya.
'Aku tahu aku salah Tuhan, ampuni aku, jangan biarkan anakku dan ibunya penuh penderitaan lagi, Tunjukkan padaku apa yang harus aku lakukan untuk membantu mereka, karena ibunya belum tentu bisa menerimaku' bathin Marcel dalam doa.
"cel kita pulang dulu, nanti baru kita pikirkan apa yang akan kita lakukan"
"iya pa," lalu dia beralih ke Leon sang asisten " Leon aku ingin ikut mobil papa, kamu balik kantor aja. hari ini saya tidak kekantor lagi"
" tapi tuan besar harus terbang nanti jam dua pak" Leon mengingatkan jadwal pak Sanjaya.
"Saya sudah batalkan Leon, saya ingin beresin urusan disini dulu"
"oh, ok tuan kalau begitu"
"ayo cel" ajak pak Sanjaya
"iya pa"
**
Sementara Bu Ani sama sekali tidak tenang. Dia mondar mandir bingung dan ngga tahu apa yang harus dikerjakan. Kalau biasanya dia sudah membereskan bekas jualan hari ini atau beresin bumbu jualan besok, sekarang dia bingung.
Sorenya ketika terdengar suara motor Ira pulang, Bu Ani malah deg-degan.
"Bu, Rio mana, kok tumben wajah ibu begitu, Rio ngga diterima disekolah itu"? tanyanya saat sudah masuk rumah.
"itu Ra, Rio....." dia malah bingung mau ngomong apa
"kenapa Bu, kok kayaknya gugup. kalau ngga dapat beasiswanya ngga apa-apa Bu, di SDN aja. ngapain kita ngotot kalau ngga sanggup"
ucapnya setelah buka helm dan menggantung tasnya di dingding.
"iya nak, kamu mandi dulu. kita makan nasi goreng aja ya, mama hari ini ngga masak"
"iya ma, aku mandi dulu ya"
Sementara Ira mandi tanpa sadar ibu Ani belum beranjak dari tempat itu, mengingat kejadian tadi siang airmatanya kembali menetes sampai tidak sadar kalau Ira sudah rapi.
"kenapa Bu, keknya ibu sedih banget"
Bu Ani bukanya menjawab malah memandangi Ira dengan seksama. Ira yang dilihatin merasa aneh dengan prilaku ibunya.
"Bu ada apa, ngga biasanya ibu begini" sambil meraih tangan ibunya.
"ahh iya nak, ngga apa-apa" ucapnya gelagapan.
"Bu, aku yakin ada sesuatu, katakan Bu"
"Ra....." dia bingung mau mulai cerita takut anaknya langsung shock
"hmmmmm" Ira masih setia menunggu mamanya cerita.
"kamu masih benci sama Marcel dan keluarganya" tanyanya hati-hati.
degg deg deg
Ira mundur menarik tubuhnya kebelakang.
"Ra ibu hanya tidak ingin kamu menyimpan dendam"
Ira masih mematung menatap mamanya, tapi dia belum tahu kenapa tiba-tiba mamanya bertanya begitu.
"iya ma, saya ngga tahu, saya akan coba memaafkan mereka"
"iya sayang, cobalah memaafkan. karena biar bagaimana pun Rio itu darah dagingnya, dan ikatan darah itu sangat kuat" jelasnya mengarahkan Ira untuk memaafkan mereka.
"tapi kenapa Bu, tiba-tiba ngomongin mereka"
"tadi siang ibu ketemu seseorang, dan bilang kalau Marcel mencari kita sampai kekampung. dan sekarang Marcel lagi tetap berusaha mencari kamu untuk minta maaf"
"katanya Marcel sangat menyesal, apalagi Ingrid menghianatinya dengan selingkuh" lanjutnya.
Ira masih diam, Bu Ani makin berani cerita tentang Marcel.
"Bagaimana kalau mereka menemukan kita dan Rio nak." tanya mamanya.
"iya ngga apa-apa Bu, kita ngga usah bilang aja tentang Rio itu anaknya. kan selama ini juga kita sudah anggap ayah Rio itu ngga ada"
"itu dia yang ibu pikirkan, bagaimana kalau suatu saat Rio tahu yang sebenarnya, Rio pasti akan marah sama kita"
"terus menurut ibu,apa yang harus kita lakukan"? Ira akhirnya bertanya setelah diam sesaat.
"saya juga bingung Ra, disatu sisi ibu tidak ingin ada yang kita sembunyikan, disisi lain saya ngga tahu kamu siap ngga ketemu mereka. Saya hanya ingin kamu dan Rio itu hidup tenang dan bahagia, tidak tertekan",
"kalau kita kasih tahu, gimana kalau Rio minta ketemu Bu"
"makanya ibu bingung nak, harus gimana"
"ya udah ibu kasih tahu aja Rio yang sebenarnya, tapi cukup dia tahu aja ayahnya. toh ngga mungkin mereka mengambil Rio, mereka kan ngga menginginkan rio sekalipun mereka tahu Rio itu darah dagingnya" ucap Ira yakin karena dia pikir Marcel sudah menikah dan punya keluarga sendiri.
"tapi bagaimana kalau mereka datang, sebab ibu tahu pak Sanjaya dan nyonya Clara, dia tidak membedakan orang, dia sangat baik"
"yah kita lihat aja nanti Bu, ngga usah dipikirin ya, nanti ibu sakit. kalau ibu sakit nanti saya dan Rio siapa yang urus"
"ya ngga lah, kita harus sama-sama sehat demi Rio"
"betul Bu" mendengar jawaban Ira hati ibu Ani sedikit tenang, berarti dia sudah tidak trauma, pikirnya.
klo g mau lg msk ke hotel prodeo