Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
on fire
Terdapat adegan 21+. Mohon bijak!!! Jika tidak suka, silahkan melewatkannya.
Happy reading ....
*
Arjuna merasakan dadanya semakin berdebar kencang ketika langkah Natasha semakin dekat padanya. Natasha keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kimono.
Kedua alis Natasha tertaut karena merasa heran dengan sikap Arjuna. "Ada apa denganmu? Tidak bisakan kau bersikap seperti orang normal? Tingkahmu semakin terlihat bodoh," decih Natasha.
Menyadari posisi Natasha yang berjalan ke arah kursi sedang membelakanginya, cepat-cepat Arjuna memasukkan lagi botol itu ke dalam saku celana. Arjuna merasa gugup melihat gerakan tangan Natasha yang mengarah pada gelas di hadapannya.
"Tunggu, Tasha," cegah Arjuna.
Arjuna salah tingkah melihat sorot mata Natasha yang tajam mengarah padanya. Tangan Natasha terkepal menahan kesal.
"A-aku ingin tahu, ada hubungan apa kau dengan tuan muda itu," tanya Arjuna ragu.
"Bukan urusanmu." Deliknya.
"Te-te-tentu saja urusanku." Arjuna menyambar gelas yang hampir dipegang Natasha dan langsung meminumnya.
Baru satu teguk, Arjuna langsung berhenti karena Natasha menggebrak mejanya.
"Berani sekali kau bersikap seperti itu." Hardiknya.
"Aku haus, Tasha. Ma-maaf," sahut Arjuna tergagap.
Sorot mata Natasha yang tajam mengisyaratkan pada Arjuna agar meletakkan gelas itu. Natasha langsung menyambar gelas tersebut dengan raut wajah yang teramat kesal.
Glek ... glek ... glek.
Arjuna menelan salivanya seirama dengan gerakan air yang diteguk Natasha. Arjuna merasakan dadanya berdebar kencang membayangkan bagaimana reaksi dari obat perangsang itu.
"Kau masih di sini?" tanya Natasha ketus.
"Aku ingin menggunakan kamar mandi, boleh?"
Natasha mendengus kesal, lalu berujar, "Terserah kau saja."
Arjuna beranjak dan langsung bergegas ke kamar mandi. Ia akan menunggu di sana sampai obatnya bereaksi.
Sudah sepuluh menit berlalu. selama itu juga Arjuna mengurung diri di kamar mandi. Arjuna berjalan mondar mandir sambil sesekali melirik pada boxer-nya yang menggembung.
"Haiss. Masa iya satu teguk saja bereaksi? Bagaimana dengan Natasha yang menghabiskannya?" gumam Arjuna sambil menatap nanar pada pintu.
"Apa sebaiknya aku keluar sekarang?" gumamnya lagi.
Di sisi lain, Natasha merasa ada yang aneh dalam tubuhnya. Sensasi panas dan agak gatal menjalar hampir ke seluruh bagian tubuh.
Natasha tak bisa menahannya lagi. Arean genital yang berdenyut membuatnya membutuhkan pelepasan.
Natasha sontak menoleh pada pintu kamar mandi yang terbuka. Arjuna keluar dari dalam sana hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Natasha menahan hasrat dalam dirinya melihat bagian dada Arjuna yang sangat menggoda. Sialnya, Arjuna bersikap tak acuh dan berlalu menuju lemari pakainnya.
"Ini gila. Ada apa denganku?" gumam Natasha sembari meraba setiap bagian tubuhnya.
"Apa Natasha sedang merasakan reaksi obat itu? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Arjuna bingung.
Arjuna tersentak merasakan ada yang meraba punggungnya. Tak hanya di bagian punggung, sentuhan lembut itu menjalar hingga ke area dada Arjuna.
Arjuna menatap jemari Natasha yang bergerilya itu dengan gejola hati yang ditahannya setengah mati. Arjuna ingin berbalik dan menatap wajah Natasha. Namun ia merasa ragu, mengingat ini hanya reaksi obat semata.
"Tasha, apa yang kau inginkan?" tanya Arjuna dengan suara berat.
"Puaskan aku, Arjuna. Kumohon .... ini terasa meyiksa."
Natasha memeluk Arjuna yang membelakanginya. Arjuna terkesiap merasakan ada sesuatu yang kenyal menekan punggungnya.
"Apa Natasha melepaskan handuknya?" batin Arjuna yang merasa dadanya semakin berdebar.
Arjuna melonggarkan tautan tangan Natasha agar memberinya celah untuk membalikkan tubuh. Arjuna spontan menelan saliva melihat bagian dada Natasha yang terbuka. Sialnya, tidak hanya area itu yang terbuka. Tapi juga area lain yang lebih menggoda iman Arjuna.
"Tasha, kau yakin ingin melakukannya?" tanya Arjuna ketika Natasha mengalungkan tangan di tengkuknya sambil menatap sayu padanya.
"Kau tidak mau?" Natasha balik bertanya.
"Ak-."
Arjuna tak sempat berkilah. Mulutnya sudah dibungkam oleh mulut Natasha. Meski awalnya ragu, Arjuna tidak bisa menyia-nyiakannya begitu saja. Ini sudah terlanjur basah. Arjuna menyadari Natasha harus mendapatkan pelepasannya.
Arjuna melingkarkan tangannya di pinggang Natasha. Berusaha membalas Natasha yang menekan tengkuknya agar ciuman mereka semakin dalam. Tak ingin istrinya merasa pegal karena harus berjinjit, Arjuna pun mengangkat bokong Natasha.
Kedua kaki Natasha melilit kuat pada pinggang Arjuna. Natasha menyempatkan melepas kimono yang ikatan talinya telah dibuka.
Arjuna menyusuri leher jenjang Natasha. Keduanya saling menatap sesaat dan kembali menautkan bibir untuk menyalurkan hasrat.
Arjuna benar-benar kalah. Ia pasrah jika setelah ini Natasha akan membunuhnya.
Arjuna mengarahkan langkahnya menuju tempat tidur dengan bibir yang masih tertaut. Sebelah kakinya menekuk di kasur untuk kemudian membaringkan Natasha.
Geliat Natasha yang dibarengi senyuman nakal mambuat Arjuna benar-benar kehilangan akal. Tanpa ragu Arjuna memulai peraduan mereka yang seharusnya sudah terjadi beberapa minggu yang lalu.
Malam pertama yang tertunda, nyatanya tak membuat Arjuna merasa kecewa. Dirinya justru bangga, karena jadi yang pertama bagi Natasha.
Pergumulan terus berlanjut. Arjuna menahan diri untuk tak meninggalkan jejak di tubuh Natasha. Meski tubuh istrinya itu sangat menggoda, Arjuna memilih menikmati hanya dengan menatapnya.
Sekuat inikah efek obat itu? Arjuna sampai kewalahan karena Natasha terus meminta walaupun dirinya sudah sangat lelah.
"Aku lelah, Arjuna. Tapi aku masih menginginkannya," desah Natasha.
"Maafkan aku, Tasha. Aku tidak tahu akan seperti ini," batin Arjuna merutuki diri.
"Arjuna ... sentuh aku. Please!"
"Tentu, Sayang. Apapun itu," sahut Arjuna lembut sambil menyibak rambut Natasha.
Wajah cantik itu begitu pasrah. Membuat Arjuna jadi merasa bersalah.
"Maafkan aku, Sayang. Hukumlah aku semaumu, asalkan kau tetap bersamaku," gumam Arjuna sambil terus melancarkan aksinya sampai Natasha benar-benar menyerah.
Di tempat lain, dentuman musik yang menggema memanjakan setiap pengunjung yang menikmati malam sambil menikmati minuman. Di salah satu meja, Melani sedang bersama dua orang temannya. Putri Jaya Diningrat itu terlihat sangat mabuk dan berceloteh tak karuan sesuka hatinya.
Melani sangat frustasi. Setelah apa yang ia lakukan di depan media, ayahnya masih saja mengambil semua fasilitas yang selama ini dinikmatinya.
Selain itu, Melani juga mendapat hujatan dimana-mana. Niatnya yang ingin mempermalukan si tuan muda, justru berbalik pada dirinya.
"Melan, apa kau pernah bertemu tuan muda itu?" tanya pria di sampingnya.
"Pers*tan dengan dia. Dengar, Jo! Aku tidak mau lagi berurusan dengan dia. Tidak atas permintaanmu, ataupun Kania." Ujarnya sambil mengarahkan telunjuknya pada dua orang yang sedang bersamanya.
Joshua mendengus kesal, sedangkan Kania memutar bola mata malas. Awalnya mereka sengaja memanfaatkan kekesalan Melani yang pernah diusir dari kantor Al-Fatih Group untuk menyudutkan tuan muda. Tapi sepertinya itu tidak mudah. Tuan muda itu seakan tidak terjamah dan hal itu semakin membuat mereka susah.
***
Cicitan burung di pagi hari mengusik tidur Natasha yang sangat lelap. Natasha memijit pelipisnya untuk sekedar menghilangkan rasa pening di kepala.
"Ada apa denganku? Ini jam berapa?" gumam Natasha sambil menoleh pada jam di dinding kamarnya.
"Oh My God! Jam sembilan! Aku ada meeting sebentar lagi." Pekiknya.
Natasha pun langsung beranjak dari tempat tidurnya. Namun kemudian terdengar pekikan pelan.
"Aww! Aduh, sakit sekali." Rintihnya.
Natasha meraba pangkal pahanya. Ia merasa heran karena selain sakit, tubuhnya juga terasa lunglai.
"Apa aku sakit? Oh tidak, kumohon jangan sakit." Gumamnya lagi. Natasha celingukan karena merasa ada yang kurang. Tak lama, terdengar seruannya yang menggema di dalam kamar. "Arjuna!"