NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Jam dinding di kamar Rahman menunjuk angka dua dini hari.

Kos Putra Putri Melati tertidur lelap dalam keheningan.

Namun di luar gerbang, bayangan lima sosok pria berbadan kekar bergerak mengendap-endap.

Mereka adalah preman bayaran Anton yang ditugaskan menghancurkan fasilitas baru kos Rahman.

Masing-masing membawa linggis dan palu godam besar.

"Ingat perintah Bos Anton, hancurkan semua keramik porselen dan pecahkan mesin cucinya."

"Jangan sampai ada yang bangun, kita kerja cepat lalu kabur," bisik pria bertato naga yang memimpin rombongan.

Pria itu adalah Bang Jali, preman pasar yang dulu pernah diusir Rahman.

Kini ia kembali karena iming-iming bayaran besar dari manajer kos elit sebelah.

Kriet.

Bang Jali berhasil mencongkel selot gerbang besi kos Rahman dengan linggisnya.

Pintu gerbang terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara yang terlalu bising.

Kelima preman itu melangkah masuk ke halaman kos yang gelap.

Namun mereka tidak menyadari bahwa di sudut atap, lensa CCTV gaib dari sistem mulai berkedip merah dan bergerak mengikuti pergerakan mereka.

Tepat ketika kaki Bang Jali menginjak keramik porselen di teras, sensor tak kasat mata langsung aktif.

Ngiung! Ngiung! Ngiung!

Suara sirine alarm yang luar biasa nyaring tiba-tiba meledak dari arah atap.

Suaranya mirip seperti alarm darurat bank yang sedang dirampok.

Lampu sorot sorot LED berdaya tinggi tiba-tiba menyala terang benderang dari berbagai sudut, menyilaukan mata kelima preman tersebut.

"Sialan! Alarm dari mana ini?!" teriak Bang Jali panik sambil menutupi matanya.

Di dalam kamar nomor satu, Rahman terlonjak dari tidurnya.

"Apa-apaan ini? Alarm anti maling dari sistem menyala?" gumamnya kaget.

Ia segera meraih tongkat kayu pemukul kasti yang sengaja ia simpan di bawah ranjang.

Ceklek.

Rahman membuka pintunya dengan kasar.

Di teras depan, ia melihat lima orang pria memegang senjata tumpul sedang kebingungan karena lampu sorot.

"Preman-preman pasar itu lagi?!"

"Berani-beraninya kalian menginjak keramik mahalku dengan sepatu kotor kalian!" teriak Rahman marah.

Mendengar suara alarm dan teriakan Rahman, seluruh penghuni kos langsung terbangun.

Budi yang paling responsif langsung keluar kamarnya dengan membawa batang besi bekas jemuran.

"Woi! Maling ya kalian!" seru Budi sambil memutar batang besinya.

Dimas yang keluar dengan wajah mengantuk langsung terbelalak dan bergegas mengambil sapu lidi.

Maya dan Rina mengintip ketakutan dari balik celah pintu kamar mereka.

Bang Jali yang nyalinya sempat ciut kini berusaha menguatkan diri.

"Kita sudah ketahuan, hajar saja mereka semua dan hancurkan terasnya!" perintah Bang Jali pada anak buahnya.

Dua orang preman berlari ke arah Budi dengan linggis terangkat.

Budi, yang tubuhnya sangat kekar karena sering mengangkat beban di pabrik, dengan gesit menangkis pukulan linggis itu menggunakan batang besinya.

Trang!

"Jangan remehkan tenaga buruh pabrik!"

Budi balas memukul perut salah satu preman itu hingga terpental mundur.

Di sisi lain, seorang preman bertubuh kurus berlari menuju mesin cuci dengan palu godam.

Rahman yang melihat itu langsung mengaktifkan Aura Tuan Tanahnya secara penuh.

"Berani kau sentuh mesin pencetak uangku itu, kupastikan kau membusuk di penjara besok pagi!" gertak Rahman dengan suara bariton yang menggelegar.

Tekanan psikologis dari aura itu membuat preman kurus itu berhenti mendadak, palunya tertahan di udara karena keraguan.

"Pak Rahman, awas belakang!" teriak Dimas dari kejauhan.

Bang Jali ternyata mengendap-endap dari belakang Rahman dan bersiap memukul punggung pria tua itu dengan linggis.

Namun sebelum linggis itu mendarat, sebuah wajan penggorengan panas tiba-tiba melayang dari arah jalan raya.

Teng!

Wajan itu menghantam tepat di kepala belakang Bang Jali dengan suara sangat keras.

"Aduh! Panas! Panas!" teriak Bang Jali sambil memegangi kepalanya yang sedikit melepuh terkena sisa minyak goreng.

Dari luar gerbang, Mpok Siti berdiri dengan napas terengah-engah dan tangan masih memegang gagang sutil.

Rupanya ia yang melempar wajan dari warungnya yang berada tepat di seberang jalan.

"Berani-beraninya kalian ganggu kos langganan sucianku!"

"Kalian pikir warungku ini cuma jualan nasi uduk?!" teriak Siti sambil mengacungkan sutilnya layaknya pendekar pedang.

Melihat kekompakan warga kos dan bantuan tak terduga dari penjual warung, sisa preman yang ada langsung ketakutan.

Ditambah lagi, suara sirine yang nyaring mulai membangunkan warga sekitar gang.

"Bang Jali, warga mulai pada keluar!"

"Mending kita kabur saja Bang!" seru preman yang perutnya dipukul Budi tadi.

Bang Jali yang masih memegangi kepalanya yang benjol langsung mengangguk panik.

"Awas kalian semua! Kita mundur!" perintah Bang Jali.

Kelima preman itu langsung lari terbirit-birit keluar gerbang, meninggalkan linggis dan palu mereka di halaman.

Mereka kabur menuju kegelapan gang sebelum warga sekitar sempat mengepung mereka.

Suara sirine alarm tiba-tiba mati dengan sendirinya, seiring dengan menjauhnya ancaman.

Lampu sorot kembali padam, menyisakan lampu pijar teras yang biasa.

Suasana halaman kembali sepi, hanya terdengar suara napas yang terengah-engah.

Budi menurunkan batang besinya dan menghela napas panjang.

"Bapak tidak apa-apa, Pak?" tanyanya cemas pada Rahman.

Rahman menepuk-nepuk kemeja tidurnya dengan gaya santai.

"Tentu saja aku tidak apa-apa."

"Kau pikir preman kelas teri begitu bisa menyentuhku?" ucap Rahman gengsi, padahal jantungnya masih berdebar kencang.

Siti berjalan masuk ke halaman sambil mengambil wajannya yang penyok.

"Wah, wajan kesayanganku sampai bengkok begini."

"Pak Rahman harus ganti rugi wajan baru besok pagi ya!" tuntut Siti sambil tersenyum lebar.

"Enak saja minta ganti rugi, siapa suruh kau ikut campur melempar wajan sembarangan!" bantah Rahman seperti biasa.

Maya dan Rina akhirnya berani keluar dari kamar.

"Terima kasih Ya Allah, kalian semua selamat," ucap Rina lega.

"Mpok Siti keren banget tadi, lemparannya tepat sasaran!" puji Maya antusias.

"Tentu saja, dulu Mpok kan juara lempar lembing tingkat kelurahan," jawab Siti membanggakan diri.

Semua orang di teras itu langsung tertawa bersama, melepaskan ketegangan sisa perkelahian tadi.

Meskipun baru saja diserang, tidak ada rasa takut di wajah mereka.

Justru ada rasa bangga karena mereka berhasil mempertahankan rumah mereka bersama-sama.

Ting!

[Pemberitahuan Sistem: Serangan fisik berhasil dipatahkan tanpa ada kerusakan fasilitas atau korban terluka.]

[Ikatan emosional antar penghuni kos, termasuk warga sekitar, mencapai tingkat Keluarga Sedarah.]

[Afeksi Siti si penjual warung meningkat drastis. Ia kini menganggap kos Anda sebagai bagian dari perlindungannya.]

[Progres Misi Jangka Panjang: 50 persen terselesaikan.]

Rahman tersenyum dalam hati membaca notifikasi tersebut.

Ia menatap wajah satu per satu penyewanya yang terlihat lelah namun masih bisa tertawa.

"Sudah, sudah, jangan berisik malam-malam begini."

"Dimas, kumpulkan semua linggis dan palu yang ditinggalkan preman itu."

"Besok kita jual ke tukang loak, lumayan buat tambah-tambah biaya beli sapu baru," perintah Rahman dengan perhitungan khasnya.

"Siap, Bos!" Dimas langsung memunguti senjata-senjata tumpul itu dengan riang.

"Dan kau Siti, besok pagi datanglah kemari."

"Aku akan mengganti wajan penyokmu itu dengan wajan baru yang lebih mahal."

"Tapi ingat, anggap itu sebagai investasi keamanan warungmu, bukan karena aku berbaik hati!" ucap Rahman memalingkan wajahnya agar tidak terlihat tersenyum.

Siti melongo, lalu tawanya meledak.

"Hahahaha, dasar kakek tsundere."

"Siap, Pak Bos! Saya tunggu wajan barunya besok pagi!" sahut Siti sambil berlari kecil kembali ke warungnya.

Malam itu, Kos Putra Putri Melati kembali tidur dalam kedamaian.

Rahman berbaring di kasurnya dengan perasaan yang luar biasa lega.

Ia menyadari satu hal penting malam ini.

Bangunan elit tiga lantai milik Anton mungkin memiliki penjaga keamanan berseragam.

Tapi kos-kosan tuanya ini dijaga oleh orang-orang yang rela mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.

Sebuah loyalitas yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang miliaran rupiah sekalipun.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!