"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Dengan Suami
***
"Ibu, nanti malam Alana mau ikut tinggal di sini sama kita."
Maya yang sedang melipat pakaian di atas kasur kontrakan langsung menghentikan tangannya, membelalak kaget menatap Mirza.
"Kamu beneran, Nak?" tanya Maya tak percaya.
"Alana ... mau tinggal di tempat sempit seperti ini?"
Mirza mengangguk pelan sembari merapikan sprei di sudut lain.
"Iya, Bu. Katanya, sudah seharusnya seorang istri ikut tinggal bersama suaminya, bagaimanapun keadaan suaminya. Tapi ... jujur Mirza agak takut Alana enggak betah nantinya."
"Aduh, Alana itu kan anak orang kaya, terbiasa hidup enak ...." gumam Maya cemas.
"Tapi Ibu bangga sama dia. Berarti dia benar-benar mau belajar jadi istri yang berbakti buat kamu."
Tok, tok, tok!
Ketukan di pintu papan kontrakan memotong pembicaraan mereka. Mirza segera bangkit dan melangkah menuju pintu depan. Begitu engsel pintu berdecit terbuka, sosok Alana berdiri di sana membawa sebuah koper sedang, tampil kasual namun tetap memancarkan aura anggun yang sangat kontras dengan lingkungan gang sempit itu.
"Silakan masuk, Bu Alana," panggil Mirza refleks, menggeser tubuhnya memberi jalan.
Maya yang mengekor di belakang Mirza seketika menaikkan alisnya heran.
"Lho? Mirza ... kok panggil istrimu Bu Alana?"
Mirza langsung tersentak. Dia merutuki lidahnya yang kelepasan sambil memutar otak secepat kilat.
"E-eh, ini, Bu ... Mirza cuma belum terbiasa saja," sahut Mirza meringis canggung.
"Kebiasaan panggil Bu waktu di kantor, jadi kepanggil sampai rumah. Belum biasa panggil nama langsung."
Maya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum maklum.
"Ada-ada saja kamu ini. Ya sudah, bawa Alana ke kamar dulu buat bersih-bersih dan ganti baju. Nanti habis ini kita tunggu Nilam datang biar bisa makan malam bersama."
Alana yang mendengar nama Nilam disebut langsung mengetatkan rahangnya, namun berusaha melempar senyum sopan pada ibu mertuanya.
Sebelum Alana sempat melontarkan komentar sinis, Mirza lebih dulu melingkarkan lengan kekarnya di bahu Alana. Dia merangkul tubuh wanita itu dengan erat dan mesra, isyarat tegang agar Alana tidak merusak sandiwara di depan sang ibu.
"Yuk, Sayang ... aku antarkan ke kamar," bisik Mirza lembut di dekat telinga Alana, tatapannya dibuat begitu penuh kasih.
Alana berdiri di tengah kamar, memandangi ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu dengan raut penuh ketidakpercayaan. Hanya ada satu lemari kayu ringkih dan kasur busa berukuran sedang yang langsung mepet ke dinding.
"Bagaimana saya bisa tidur di tempat sekecil ini?!"
Mirza yang baru saja menaruh koper Alana di sudut ruangan melipat tangan di dada.
"Di kontrakan ini memang cuma ada dua kamar, Alana. Satu buat Ibu, satu lagi kamar ini."
Alana mengibaskan tangannya ke udara, menyapu lehernya yang sudah mulai terasa agak gerah.
"Ini tidak ada AC-nya? Cuma pakai kipas angin dinding yang berisik begini? Kasurnya juga kecil sekali, mana bisa tidur? Saya butuh kamar yang luas, tempat tidur besar, dan AC dingin!"
Mirza menghela napas panjang, menatap wanita berkemeja sutra yang tampak sangat asing berada di kamar sempitnya.
"Kalau memang tidak cocok dan tidak betah, kamu kembali saja ke apartemenmu," kata Mirza tenang namun tegas.
"Cari tempat yang nyaman buat kamu."
Alana seketika membelalak, dadanya berdesir panas.
"Kamu mengusir saya?!"
"Bukan mengusir, Alana," potong Mirza cepat.
"Aku cuma mau kamu tinggal di tempat yang memang pantas dan nyaman buat kamu. Di sini kepanasan, sempit, tempat tidurnya kecil, kamu pasti tidak bakal bisa tidur."
"Tapi kan saya sendiri yang mau ikut kamu!" seret Alana tak mau kalah, matanya menatap Mirza tajam.
"Saya bilang mau ikut, ya saya tetap di sini!"
"Nah, kalau memang mau ikut dan tinggal di sini, ya kamu harus terima kondisinya," balas Mirza sambil memiringkan kepalanya.
"Tadi di kantor katanya siap beradaptasi. Ini baru belum ada lima menit di dalam kamar saja kamu sudah protes terus."
Alana mengatupkan bibirnya rapat-rapat, kehabisan kata-kata namun terlalu gengsi untuk mengaku kalah.
"Ya begini inilah kondisi rumahku," lanjut Mirza pelan sembari menepuk kasur busanya.
"Sempit, tidak ada AC, dan jauh dari kata mewah. Jadi, kamu yakin masih mau bertahan di sini?"
Alana menghembuskan napas berat, akhirnya pasrah dan menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang. Namun detik berikutnya, dia kembali meringis sambil melempar tatapan tajam pada Mirza.
"Aduh! Ini kasur atau papan, sih? Keras sekali!" protes Alana memegangi pinggangnya.
"Bisa sakit-sakit semua badan saya kalau tidur di tempat begini!"
Mirza menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat tingkah bos sekaligus istrinya itu.
"Sudah, jangan komplain terus. Kamu mandi dulu saja sana biar segar, habis itu ikut makan malam. Aku mau tunggu Nilam di luar."
Alana mendelik mendengar nama itu disebut, tapi Mirza sudah lebih dulu melangkah keluar dan menutup pintu kamar.
Tak lama berselang, suara ketukan pintu depan terdengar disusul langkah kaki yang familiar. Nilam telah sampai. Tanpa canggung sedikit pun, wanita itu langsung menuju dapur dan bergabung bersama Maya yang sedang sibuk memotong bumbu. Nilam memang sudah sangat dekat dengan keluarga kecil ini, bahkan tak canggung membantu mempersiapkan makanan.
"Tante, ini sayurnya Nilam bantu potong ya," ucap Nilam santai, tangannya sangat terampil mengurus keperluan dapur.
"Eh, Nilam ... makasih ya, Nak," sahut Maya tersenyum hangat. Maya lalu menoleh ke arah Mirza yang sedang berdiri di dekat meja makan.
"Mirza, panggil istrimu di kamar gih. Masakan sebentar lagi matang, jadi kita bisa makan bareng-bareng."
Nilam yang sedang memegang pisau dapur seketika membeku. Matanya membelalak sempurna, kepalanya menoleh patah-patah ke arah Mirza dengan raut tak percaya.
"T-Tante ... barusan bilang apa?" bisik Nilam gagap, matanya melotot menatap Mirza.
"Istrinya Mirza ... ada di rumah ini juga?"
"Iya, Lam," jawab Maya.
Tak lama Mirza keluar dari kamar bersama dengan Alana.
"Rajin sekali kamu mampir ke sini, Nilam?" tanya Alana datar, matanya menatap Nilam tanpa kedipan saat mereka mulai duduk di meja makan yang sempit.
Nilam tersenyum canggung sambil menyendokkan nasi.
"E-eh ... iya, Bu Alana. Saya memang sudah biasa main ke sini dari dulu buat bantu Tante Maya."
Tak berapa lama, makan malam berjalan dalam keheningan yang cukup tegang. Maya, yang kebetulan sudah makan lebih awal, pamit masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Begitu sang ibu mertua menghilang di balik pintu, suasana di meja makan mendadak makin dingin.
Nilam yang merasa serba salah mencoba memberi kode pada Mirza. Dari bawah meja, dia sengaja menggerakkan kakinya untuk menyenggol kaki Mirza, memberi isyarat agar pria itu mencairkan suasana.
Ujung kaki Nilam justru mendarat di betis seseorang. Alana seketika menghentikan sendoknya dan mendelik tajam ke bawah meja, lalu beralih menatap Nilam dengan mata memicing.
"Kamu menendang kaki saya, Nilam?" tanya Alana kesal.
"Aduh! M-maaf, Bu Alana ... maaf banget, saya benar-benar tidak sengaja!" cicit Nilam panik, buru-buru menarik kakinya kembali.
Alana meletakkan sendok dan garpunya dengan dentang pelan, lalu menyandarkan tubuhnya.
"Sekalian saya jelaskan saja ya, Nilam ... biar kamu tidak bingung kenapa saya ada di sini."
Nilam menelan ludah, tidak berani menyahut.
"Saya dan Mirza ini sudah menikah," lanjut Alana dengan nada dingin namun penuh penekanan.
"Jadi, saya harap kamu tidak terlalu dekat lagi dengan suami saya. Sebagai sahabat, harusnya kamu bisa tahu diri dan jaga jarak kalau salah satunya sudah berstatus menikah."
Nilam mengerjapkan mata, mendadak membatin.
"Ibu nggak usah cemburu. Saya dan Mirza cuma sahabat kok, Bu."
"Bukan berarti saya cemburu sama sahabat suami saya sendiri," potong Alana cepat seolah bisa membaca pikiran Nilam, wajahnya dipasang seangkuh mungkin.
"Saya cuma tidak suka kalau suami saya terlalu dekat dengan perempuan lain. Nanti kalau ada keluarga saya yang melihat kalian, mereka bisa berpikir Mirza selingkuh. Paham?"
Mirza yang duduk di sebelah Alana hanya bisa tertunduk sambil memegangi cangkirnya, bergumam pelan dalam hati.
"Omongannya ketus banget sama Nilam sampai nyuruh jaga jarak segala ... apa mungkin Alana beneran cemburu?" bathin Mirza.
Usai makan malam yang serba canggung itu, Nilam berdiri terburu-buru.
"S-saya bereskan meja dan cuci piring dulu ya..."
Tanpa menunggu balasan, Nilam langsung membawa piring-piring kotor ke bak cuci piring dan mengerjakannya sendirian di dapur, enggan berlama-lama berurusan dengan Alana.
Sementara itu, Mirza dan Alana melangkah keluar menuju teras rumah yang kecil. Mereka duduk berdua di kursi kayu sederhana ditemani dua cangkir teh hangat.
Alana memutar cangkir tehnya dengan kasar di atas meja kayu.
"Dia kapan pulang, sih?"
Mirza menoleh, menatap wajah Alana dari samping.
"Kenapa? Kamu kasihan sama dia yang nyuci piring sendirian di dalam?"
"Bukan!" desis Alana ketus.
"Kamu tidak bisa lebih tegas sedikit nyuruh Nilam pulang? Ini sudah malam."
"Nilam kan sahabatku, Alana. Dia sudah seperti saudara sendiri," balas Mirza pelan.
"Tapi sekarang kamu itu suami saya," tukas Alana tajam.
Mirza menatap Alana lekat-lekat, lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Suami kontrak, kan? Harusnya tidak masalah mau aku dekat sama cewek mana pun. Toh pernikahan kita cuma di atas kertas."
Dada Alana mendadak berdesir panas mendengar kalimat itu. Dia memalingkan wajahnya gengsi.
"Saya cuma tidak mau reputasi saya rusak kalau ada orang yang melihat kalian! Saya tidak suka kamu terlalu dekat sama Nilam, atau sama perempuan mana pun di luar sana selama kamu masih berstatus sebagai suami saya. Mengerti?"
"Iya, iya ... paham," gumam Mirza mengalah.
Tak lama berselang, pintu depan terbuka. Nilam keluar sambil mengelap tangannya yang basah dengan tisu.
"Za, Bu Alana ... saya pamit pulang dulu ya. Tante Maya sudah tidur di kamar."
"Biar aku antar ya, Lam?" tawar Mirza refleks, langsung beranjak berdiri dari kursinya.
"Sudah malam begini, bahaya kalau jalan sendirian ke depan gang."
Alana seketika menganga tak percaya. Dia ikut berdiri, mendelik tajam pada Mirza.
"Apa? Kamu mau mengantar dia?!" ulang Alana dengan nada ketus dan suara yang meninggi.
Nilam yang melihat kilatan amarah di mata sang CEO langsung melambaikan tangan panik.
"Eh, tidak usah, Za! Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri kok, naik ojek online dari depan gang. Tidak usah diantar!"
Nilam terburu-buru mengenakan sandalnya dan melangkah cepat meninggalkan teras. Sebelum benar-benar menghilang di belokan gang, Nilam sempat menoleh sebentar lalu melambaikan tangannya pada Mirza.
"Dah, Mirza!" seru Nilam pelan.
Melihat lambaian tangan itu, wajah Alana makin ditekuk. Dia melipat tangan di dada dan mendengus keras, membuat Mirza hanya bisa mengelus dada menghadapi tingkah istri barunya itu.