NovelToon NovelToon
Istri Polos Tuan Garra

Istri Polos Tuan Garra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Bad Boy
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sept

Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.

Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.

Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.

"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"

Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.

Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak Pernikahan

Bab 20 Istri Polos Tuan Garra

Saat perhatian Garra tidak fokus, sibuk membuka kancing bajunya satu per satu dengan gerakan terburu-buru, mata Elisa justru tidak menatapnya. Mata itu menatap vas kaca bening di atas nakas. Napasnya naik turun tidak teratur. Jantung Elisa memburu karena rasa takut.

Dengan tangan yang kelihatan gemetar dan tangannya yang dingin, ia meraih benda padat tersebut.

Pyarrrrr!!!

Elisa memecahkan vas itu, ia benturkan keras ke sudut nakas kayu yang kokoh. Suara pecahan kaca memecah kesunyian kamar. Membuat vas tersebut pecah berantakan di lantai, menyisakan bongkahan yang masih dipegang oleh Elisa dengan ujung yang tajam.

"Hentikan! Atau Pak Anggara akan melihat mayat saya!" ancam Elisa. Matanya berkaca-kaca menatap pria di atasnya itu.

Suaranya bergetar hebat, tapi pandangan Elisa menatap lurus. Ia mengarahkan ujung kaca itu ke arahnya sendiri. Bukan ke arah Anggara. Bukan untuk melukai orang lain, tapi untuk melindungi dirinya.

Pria itu melotot kaget, gerakannya terhenti. Anggara yang selama ini tidak pernah takut pada siapapun, yang selalu mendapatkan apapun yang ia mau, tidak menyangka Elisa yang terlihat polos dan penurut akan berani mengancamnya dengan cara seperti ini.

"Kau pikir aku takut? Apa kau berani Elisa? Lakukan saja... jika kamu berani!" gumam Anggara. Matanya fokus pada tangan Elisa yang memegang benda berbahaya tersebut. Nada suaranya meremehkan, tapi sorot matanya jelas panik. Waspada.

Dengan tangan yang sangat gemetar, air mata mulai menggenang di pelupuk mata Elisa, ia tetap mengarahkan benda itu dekat ke lehernya. Ia tidak benar-benar ingin melukai dirinya, ia hanya ingin Garra berhenti. Ia sudah tidak punya cara lain.

"Hentikan! Kau bodohhhh!" umpat Anggara yang mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata Elisa.

Malam itu, di kamar Elisa suasana begitu menegangkan. Lampu temaram, lantai penuh pecahan kaca, dan dua orang yang sama-sama menahan nafas.

Pak Anggara akhirnya mundur selangkah. Dua langkah. Karena Elisa benar-benar terlihat nekat. Raut wajah gadis itu pucat, tapi tekadnya bulat. Ia lebih memilih menakuti dirinya sendiri daripada disentuh secara paksa.

Tidak mau wanita itu terluka cuma-cuma, Pak Anggara langsung menarik diri sepenuhnya. Dia berjalan menjauh dan duduk di sofa seberang ranjang dengan kasar, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Emosinya campur aduk, marah, kesal, tapi juga ada rasa bersalah yang baru pertama kali ia rasakan.

Elisa masih berdiri di sudut ranjang, memegang pecahan itu erat, tubuhnya lemas bersandar di dinding. Ia terisak pelan tanpa suara.

"Turunkan! Turunkan benda itu sekarang, Elisa!" perintah Anggara, suaranya kini lebih pelan, tidak lagi membentak.

Elisa perlahan menurunkan tangannya, lalu menjatuhkan pecahan kaca itu ke lantai. Tangannya kosong. Ia langsung memeluk dirinya sendiri.

"Jangan sekali-kali kau menggunakan cara itu!!" ujar Anggara marah, suaranya berat menahan emosi. "Kau dengar? Jangan pernah mengancam nyawamu sendiri seperti itu!"

Baru kali ini dia berhasil diancam oleh sosok lemah yang namanya perempuan. Jiwa laki-laki nya terusik. Selama ini semua wanita mendekatinya, merayunya. Tidak ada yang menolaknya seperti ini, apalagi sampai mempertaruhkan keselamatan diri sendiri.

Garra berdiri, mengambil selimut yang tergeletak dan melemparkannya ke arah Elisa.

"Bersihkan kaki kamu, banyak kaca. Jangan sampai terinjak!"

Elisa hanya mengangguk kecil sambil masih menangis. Ia jongkok perlahan, memunguti pecahan dengan hati-hati.

Garra menatapnya dari sofa. Untuk pertama kalinya, ia melihat Elisa bukan sebagai gadis polos yang bisa ia atur, tapi sebagai seseorang yang punya batas dan keberanian.

Malam itu, Garra tidak menyentuh Elisa sama sekali. Ia keluar dari kamar dan membanting pintu cukup keras, sampai badan Elisa terhenyak kaget.

Pagi itu meja makan yang panjang itu terasa begitu sepi.

Anggara sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya, duduk sendiri di kursi utama. Di depannya tersaji roti panggang, telur, dan kopi hitam yang masih mengepul.

"Elisa mana, Bik?" tanya Anggara pada pelayan rumah tanpa menatap.

"Non Elisa belum keluar kamar sejak tadi, Pak. Saya sudah ketuk, tapi tidak menjawab," kata assisten rumah tangga.

Anggara terdiam. Sendok di tangannya berhenti mengaduk kopi. Ia teringat kejadian semalam. Pecahan vas kaca, ancaman itu, dan wajah pucat Elisa. Rasa bersalah itu muncul, tapi ia menepisnya dengan gengsi.

"Biar saja. Jangan diganggu," ucapnya dingin.

Ia memakan sarapannya dengan cepat, tanpa selera. Rumah sebesar itu terasa kosong. Anggara berdiri dan mengambil tas kerjanya.

Ia pergi ke kantor tanpa melihat wajah Elisa. Bahkan tidak melewati koridor kamarnya. Di dalam mobil, pikirannya tidak fokus sama sekali di jalan.

Setibanya di perusahaan, semua karyawan menyapanya hormat. Namun Anggara hari ini lebih diam dari biasanya. Begitu masuk ke ruang kerjanya di lantai paling atas, ia langsung duduk dan membuka laptop, tapi bukan untuk mengecek laporan keuangan.

Tangannya bergerak membuka aplikasi CCTV rumah.

Kamera satu per satu ia cek. Kamar - kosong. Dapur - hanya ada Bibi. Gerbang depan - aman. Hingga kamera terakhir, di area kolam renang belakang. Di sana, Anggara melihatnya.

Elisa ada di tempat duduk tepi kolam renang. Ia sudah ganti baju dengan dress putih sederhana, rambutnya masih basah seperti baru selesai mandi. Wajahnya terlihat sembab, tapi ia duduk tegak sambil memegang ponsel di telinganya. Sepertinya sedang menelepon seseorang dengan serius.

Anggara mengerutkan keningnya. Siapa yang ditelepon Elisa sepagi ini? Elisa tidak punya banyak teman di kota ini. Keluarganya pun sudah tidak ada. Dan ekspresi Elisa di CCTV terlihat tegang, sesekali melihat ke arah kanan dan kiri seperti takut ada yang mendengar.

Firasatnya mengatakan tidak enak.

Ingatan semalam kembali. Ancaman Elisa, ketakutan Elisa. Bagaimana jika... bagaimana jika gadis polos itu berniat kabur? Atau menghubungi seseorang untuk menjemputnya? Atau yang lebih buruk, melakukan sesuatu pada dirinya sendiri lagi?

Tanpa berpikir panjang, Anggara langsung mengambil ponsel dan menghubungi tempat tinggalnya.

"Halo," suaranya tegas dan dingin.

"Siap, Pak Anggara," jawab kepala keamanan di seberang.

"Mulai hari ini, tingkatkan keamanan di rumah. Tidak ada satupun orang luar yang boleh masuk tanpa izin saya. Dan tidak ada yang boleh keluar membawa Elisa tanpa saya tahu. Mengerti?"

"Mengerti, Pak. Apa ada yang mencurigakan?"

"Kerjakan saja. Dan satu lagi, awasi Elisa, tapi jangan sampai dia merasa diawasi. Jika dia pergi ke gerbang, tahan dengan sopan dan hubungi saya langsung."

"Siap, Pak."

Setelah telepon ditutup, Anggara kembali menatap layar CCTV. Elisa sudah selesai menelepon. Ia kini hanya duduk menatap air kolam yang tenang, memeluk lututnya sendiri. Terlihat begitu kecil dan kesepian.

Untuk pertama kalinya, Anggara merasa rumah mewahnya itu bukan lagi tempat aman untuk Elisa, tapi terasa seperti penjara yang ia buat sendiri.

Anggara pulang kerja malam hari. Ia pulang terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.

Mobil hitamnya masuk ke halaman yang megah itu. Suasana sepi, tidak ada yang menyambut. Cuma Bibi art saja yang sigap menghampiri mau membawakan tas kerjanya.

"Elisa di mana?" tanya Anggara sambil melepas jasnya.

"Ada di kamar, Pak. Dari sore tidak keluar. Makan malamnya juga tidak disentuh," jawab bibi cemas.

Anggara mengangguk pelan. Ia naik ke lantai dua dengan langkah berat. Koridor menuju kamar Elisa terasa lebih panjang dari biasanya.

Malam itu, Anggara berdiri di depan kamar Elisa. Pintunya dikunci dari dalam. Ia menghela nafas panjang. Padahal ia punya kunci cadangan, tapi kejadian semalam membuatnya tidak masuk begitu saja.

Ia mengetuk pelan.

Tok tok tok

"Elisa, buka pintunya!"

Tidak ada jawaban.

"Elisa, aku tahu kamu belum tidur. Buka pintunya, kita bicara."

Di dalam, Elisa terduduk di atas ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut, ia tidak mau kejadian malam itu terulang. Tangan Anggara yang kasar, suara pecahan vas, semua masih jelas di kepalanya. Akhirnya ia memilih diam dan pura-pura tidur. Ia menahan nafas.

Anggara diam cukup lama di depan pintu. Tangan nya mengepal. Di luar sana, wanita-wanita antri untuk bertemu dengannya. Tapi, Elisa lain. Memang lain dari pada yang lain. Sudah miskin, tapi jual mahal sekali.

Setelah hampir lima menit tidak ada sahutan, ia memutuskan pergi.

Ia pergi ke ruang pribadinya, ruang kerja yang terhubung dengan perpustakaan kecil. Ia menyalakan lampu yang terang, menyalakan laptop, membuka laporan-laporan yang sebenarnya sudah ia baca di kantor. Ia mencoba sibuk sampai tengah malam. Ia tidak bisa tidur.

Pikirannya melayang ke gadis di kamar sebelah. Wajah sembab Elisa di CCTV tadi pagi terus terngiang.

Sampai tengah malam, Anggara ketiduran sambil duduk di kursi kerjanya. Jasnya masih tergantung, dasinya longgar, laptop masih menyala.

Di ruangan lain, malam terasa jauh lebih panjang bagi Elisa. Matanya terjaga, sikapnya waspada penuh. Setiap ada suara langkah di koridor, tubuhnya menegang. Takut Pak Anggara tiba-tiba masuk dengan kunci cadangan. Ia memeluk guling erat-erat seperti tameng.

Jam dinding berdetak begitu lambat.

Sampai akhirnya jam 3 pagi, karena kelelahan menangis dan menahan takut, Elisa tertidur sambil memeluk guling. Tidurnya tidak nyenyak, gelisah.

Pagi-pagi, Elisa dibangunkan oleh ketukan pelan Bi Ijah.

Tok tok!

"Non, bangun Non. Tuan Garra sudah menunggu di bawah. Katanya mau bicara penting," bisik bibi art.

"Iya, Bik."

Elisa bangkit dari tempat tidur, matanya bengkak. Selesai mandi dan memakai dress branded dari lemari pakaian, ia turun dengan langkah ragu.

Di ruang makan, Anggara sudah duduk. Sama seperti kemarin, kopi hitam di depannya. Tapi pagi ini wajahnya berbeda. Dua orang itu saling menatap, sama-sama kurang tidur, kedua mata mereka kelihatan lelah dan ada lingkaran hitam di bawahnya.

Elisa berdiri agak jauh, tidak berani duduk.

"Apa yang Pak Garra mau katakan?" tanya Elisa dengan suara pelan hampir berbisik.

Anggara tidak langsung menjawab. Ia menatap Elisa lama, lalu mengambil sebuah map coklat dari samping kursinya.

**BUGH**!

Anggara melempar map itu ke atas meja marmer. Suaranya keras membuat Elisa terkejut.

"Aku sudah merevisinya. KAU BACA, jika setuju, tanda tangani," ucap Anggara dingin, tapi tidak lagi membentak seperti sebelum-sebelumnya.

Elisa perlahan mendekat dan membuka map itu. Di halaman depan tertulis dengan huruf tebal.

\[***Kontrak*** ***Pernikahan***\]

1
rini ningsih
Hahaha... Kepedean banget si gara... kalo aku sih maluuuu ya... 🤭
vita
bikin kesel sm anggara
Mita Paramita
kasian Elisa hidup nya tertekan gak bahagia padahal blom jadi istri tuan gara😭🫡🫡
ken darsihk
Benar benar arogan sungguh malang nasib nya Elisa 😠😠😠
ken darsihk
Eeetttt si Gara bikin ilfil
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
Maya's ❤️
next kak sept ❤️
Kar Genjreng
perdamaian perdamaian 2X banyak yang suka damai perang Barra makin ramai,,,MBG. memang kelewatan ngomong nya nyeplos,,,nglarani ati gemes
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
Sri Rahayu
kalian berdua nih berantem mlulu...yg satu egois yg satu keras kepala .... coba Elisa mikir cari cara gmn supaya si Gara2 melunak hatinya...lanjut Thorr😘😘😘
Bu Yudi Wahono
idih siapa juga yang buka hadiahmu tuan gara🤣
Sept September: selain sombong amat, dia juga kepedean 🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
jgn mau tunduk sama si Gara2 hanya karena hadiah...ntar kamu di paksa2 lg ma dia Elisa....lanjut Thorr😘😘😘
Sept September: g ada makan siang gratis ya kak 🤭😄😄😄😄
total 1 replies
Kar Genjreng
masyaallah ga perlu bilang terimakasih,,,lah wong di buka juga ga lah,,ga nafsu jare rayuan ne ga mempan,,,di kira Elisa di samakan dengan Wanita nya terdahulu,,,ga muna ya El tetapi mending di culke bebas meh ketemu konco,,,mangan cilor,,bakso lah ini
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,
Kar Genjreng: bene ramai enek manuk e
total 4 replies
Maya's ❤️
krawus boleh kak sept si garra yg suka nyari gara² ini 🙄😤
Sept September: Monggo dikrawus gawe parut 🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
ryuka
haduuhhhh anggaraaaa 🤭🤭🤭🤭🤭
Sri Rahayu
batal kabur donk Elisa, kasihan jg kl Susan Dimas dan Pengacara digigit doberman si Gara2... Tuan sama Guk2nya sama2 menyeramkan 😡😡😡...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
semoga Elisa berhasil kabur 😘😘😘
Kar Genjreng
Astaga 🤣 si Doberman mburu huk huk,,belum saatnya kabur Elisa tunggu pada lengah. kasih saja obat pencahar,,,biar pada kebirit birit berebut toilet,,, begitu lagi pada sibuk nah baru deh Kamu kabur,,,kemana kaburnya kira kira di lacak semua sama si Mas Bro Gara 🏃🏃makanya mau ngajak nikah kontrakan sarate Ra kiro kiro memberatkan Elisia yg
Kar Genjreng: 🤣🤣🤣🤣mentolo yo
total 2 replies
ken darsihk
Kapan yak hati si Anggara bisa melunakkk , setiap dia nongol koq aqoh ikutan spaneng yak
Bu Yudi Wahono
kak sept paling takut d8kejar anjing
Sept September: wkwkkwkwkwl🤣 aku dikejar soang kakkkkk🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Eka ELissa
aduh Elisa.....bhya...tau....mna kmu lgi hamil...🤦
Sept September: kahanan .... daripada digigit 🤣
total 1 replies
ken darsihk
Anjayyy ikut deg deg an eehhh bersambung 🤣🤣🤣
Sept September: hehehe 🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!