"Tolong jaga putriku, dia tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini."
Kata yang terucap dari bibir pria tua renta yang menjadi korban kecelakaan karena dirinya.
Keenan Pradipta seorang pria yang baru saja menyandang gelar dari studi yang di gelutinya harus rela menikah dengan seorang gadis sebatang kara karena kecelakaan yang menewaskan sang ayah.
Kecelakaan yang bukan hanya merenggut nyawa tetapi juga kebahagiaan dan ingatan seorang gadis cantik dan lembut membuatnya harus bertanggung jawab sepenuhnya pada Kinanti Aurelia yang kini mengalami amnesia permanen.
Pernikahan yang tidak berdasarkan cinta tetapi kebohongan dan tanggungjawab, menjadikan Keenan tidak pernah menganggap Kinanti sebagai istrinya.
Akankah Kinanti memaafkan Keenan jika dirinya tahu bahwa suaminya lah yang menjadi alasan kepergian sang ayah dan hilang ingatan yang dialami oleh nya?
Tidak update setiap hari tapi di usahakan ✨
Follow Instagram aku Alfianaaa05_
Happy Reading Everyone 🐙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Keenan mengajak Kinanti untuk bicara di ruang tamu, tersirat keraguan dan ketakutan di wajah Keenan ketika dirinya ingin berbicara.
"Ada apa?" tanya Kinanti menatap Ken yang tidak membalas tatapan nya.
"Aku minta kau berjanji setelah mendengar ucapan ku, kau tidak akan marah." Pinta Keenan masih tidak menatap Kinanti.
"Tergantung," balas Kinanti enggan mengikuti kemauan Keenan.
"Bisa saja kamu mengatakan ada wanita lain di hati mu dan kamu berniat menceraikan ku. Jika iya, maaf Ken aku tidak bisa." Lanjut Kinanti kini membuat Ken menatapnya.
"Apa kau akan tetap bersama ku setelah mendengar semua ini?" batin Keenan penuh tanya.
"Tidak, bukan soal itu." Ucap Keenan menggeleng pelan.
"Lalu?" tanya Kinanti semakin di buat penasaran.
"Ini soal masa lalu mu sebelum kecelakaan terjadi." Jawab Keenan berusaha tetap tenang.
Kinanti terdiam, apa yang akan Keenan katakan tentang masa lalu nya.
"Iya?" tanya Kinanti ragu.
"Sebenarnya kecelakaan itu bukan hanya…..," belum selesai Keenan bicara, tiba tiba Kinanti mengaduh sakit sambil memegangi kepalanya.
"Kepalaku….Ken kepalaku sakit….awhhh…." rintih Kinanti membuat Keenan khawatir.
"Kinan, sepertinya kau lelah, lebih baik kita istirahat saja." Ujar Keenan mengusap kepala Kinanti dengan lembut.
"Iya, baiklah." Balas Kinanti kemudian berjalan ke kamar dengan berpegangan pada benda apapun.
"Biar aku bantu." Ucap Keenan kemudian menggendong Kinanti ke kamar.
Keenan membaringkan dan menyelimuti Kinanti sampai batas perut. Ia menatap wajah polos Kinanti yang terlihat masih menahan sakit.
Melihat itu membuat Keenan enggan menceritakan apapun pada Kinan, ia takut terjadi apapun pada wanita itu.
"Ken lihatlah dia, gadis ini tidak bersalah dan kau justru membuatnya menderita. Jika kau tidak bisa membahagiakan nya, biarkan dia pergi."
Keenan menggeleng pelan, ia menghapus bisikan dari hati nya yang tiba tiba. Memang benar ia tidak mencintai Kinanti, tetapi untuk membiarkan nya pergi tentu ia tidak akan membiarkan nya.
***
Tempat pemakaman umum Jakarta, kalimat itu tertulis di atas sebuah papan besi berkarat yang telah usang. Tempat yang menjadi peristirahatan terakhir orang orang sekitar kawasan.
Seorang pria berpakaian hitam, membawa sebuket mawar putih di tangannya datang mendekati salah satu makam. Batu nisan yang bertuliskan nama kerabat, tanggal kelahiran dan juga tanggal kematian.
Pria itu berlutut di sebelah makam, mengusap batu nisan seraya meletakkan buket bunga yang di bawa. Tatapannya nanar, menahan sesuatu yang ingin keluar dari pelupuk matanya.
"Maafkan saya, Pak." Lirih Keenan membuka kacamata hitam yang ia kenakan guna mengusap matanya.
"Maafkan saya karena sampai sekarang saya belum bisa membahagiakan Kinanti, saya belum memenuhi janji kepada anda." Lanjut Keenan meremat tanah kuburan dalam genggaman tangannya.
Entah mengapa setelah semalaman memperhatikan Kinanti, rasa ingin pergi ke makam pak Toni semakin besar. Rasa bersalah karena memisahkan anak dan ayah yang bahkan belum mengetahui alasan kepergian nya.
"Kali ini saya akan benar benar berjanji di pusara anda, Pak. Saya akan berusaha untuk mencintai Kinanti dan saya juga berjanji akan mengatakan segala nya setelah saya siap." Ucap Keenan sungguh-sungguh.
"Saya akan membawa Kinanti datang kesini, saya janji itu." Lanjut Keenan kembali mengusap nisan bertuliskan nama ayah mertua nya.
Setelah memberikan doa, Keenan mulai beranjak menjauhi area pemakaman. Sesekali kepalanya menoleh untuk kembali melihat kembali gundukan tanah, tempat tinggal terakhir ayah mertua nya.
BELUM SANGGUP CERITA IHH🤥
BERSAMBUNG.....................