Dylan pemuda berhati luhur, baik, polos juga tampan. Ia memiliki kepintaran yang luar biasa juga hobbi yang suka berganti-ganti mengikuti mood-nya. Dylan juga tidak pernah membanggakan diri sebagai putra konglomerat.
Karena suatu skandal ia di buang papanya ke daerah terisolir jauh dari kata modern sebagai hukuman, ia hanya boleh kembali bila ia sudah berhasil.
Di dusun ini Dylan bertemu gadis cantik yang bernama Lili seorang guru yang mengabdikan diri di pedalaman, Lili tunangan Defri Kakak sepupu Dylan yang sudah meninggal. Hingga karena suatu kesalahpahaman keduanya menikah, tanpa cinta.
Ayu seorang gadis cantik putri seorang pria terkaya di dusun sangat membenci Lili dan terobsesi dengan Dylan. Ayu dan komplotannya berusaha menghancurkan rumah tangga Dylan dan Lili.
Mampukah Dylan menjadi seorang lelaki yang penuh kasih dan tanggung jawab? Untuk Lili, papa dan penduduk dusun.
Mampukah Dylan meraih cinta, kehormatan dan kepercayaan....
Nb: Maaf jika banyak kesalahan, karena saya baru mencoba untuk menulis.
Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syafridawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasihku
Dylan merasa orang yang paling bahagia di dunia saat ini. Mimpinya menjadi nyata bukan hanya hayalan semata, kini Lili sudah berada di dalam dekapannya kembali. Sudah entah berapa puluhan kali Dylan mencium seluruh wajah Lili, ia ingin lagi dan lagi.
Lili kelelahan di sisi Dylan, mereka sudah berapa kali meneguk indahnya biduk cinta mereka, sebelas hari berpisah membuat mereka menyadari bahwa mereka saling mencintai dan mengasihi. "Lili sayang ... bagaimana kabar Tante dan Om?" tanya Dylan, melingkarkan tangannya ke tubuh Lili.
"Alhamdulillah sehat!, mereka kirim salam padamu, Cok. " Jawab Lili.
"Lain kali, bila kamu ingin pulang. Tolong ... pamitlah dulu kepadaku? Jangan asal pergi saja."
"Baiklah, yank. Maaf ... ." Jawab Lili, ia menyurukkan wajahnya ke dada Dylan.
"Kamu tahu, hidupku hampa tanpamu yank." Ucap Dylan.
"Oo yee! mulai pintar gombal ya? " balas Lili. Ia mengangkat wajahnya memandang pria yang selama ini di rindukannya.
"Lili, aku ingin mengatakan yang sebenarnya, aku anak yang nakal dulunya, aku jarang pulang ke rumah. Aku suka bermain di luaran. Masih maukah kamu menerimaku? " tanya Dylan memandang kekasih hatinya.
"Tentu, yank! Aku menerima segala kelebihan dan kekuranganmu, yank. Percayalah padaku! " balas Lili. Ia memberanikan diri membelai wajah suaminya, yang entah sejak kapan mulai ia rindukan.
"Sayang, bolehkah aku bertanya?. Mengapa saat kita menikah, kamu gak bilang kalau kamu masih punya Om dan Tante?", Dylan memandang retina Lili, "Aku takut ... walaupun, aku bukanlah orang yang baik akan tetapi, aku tak ingin pernikahan kita tidah sah, karena kamu masih punya wali. " tambahnya. Ia takut telah melakukan dosa besar, senakal-nakalnya Dylan ia berusaha menjaga hal yang dilarang agamanya. Bukan ia sok suci.
"Sayang ... aku memang sebatang kara. Papi dan Mamiku sudah ga ada, aku juga tidak punya keluarga lainnya. Om dan Tante adalah teman sekolah Papi, Mamiku. " Lili semangkin merapatkan tubuhnya, " Mereka pasangan yang baik yank, mereka mengurusku sejak kematian orang tuaku. Mereka seperti orang tua angkatku. Jadi ... Pernikahan kita tetap sah, semua surat-suratnya sudah aku bawa agar mudah kita mengurus ke KUA, yank." ucap Lili, tanpa sadar jemarinya membelai bulu dada suaminya.
"Yank, kok ... aku jadi mau lagi ya? " Dylan mulai omes.
"Hah! " hanya itu yang terucap dari bibir Lili. Namun, ia tetap pasrah saat Dylan mengajaknya terbang tinggi lagi ke awan biru.
Kicauan burung pagi terdengar begitu indah di telinga Dylan maupun Lili.
Senyum bahagia menghiasi wajah mereka. Mak Upik tersenyum bahagia dan berucap syukur, "Ya Allah, rumah ini sudah terlalu lama tidak terdengar suara tangis bayi. Semoga anakku segera diberi momongan secepatnya. " Harapannya yang sangat sederhana. Mak Upik begitu bersemangatnya mengeluarkan benang wol dan alat rajutnya. Dengan diam-diam ia mulai merajut kaos kaki, topi, sarung tangan bayi tanpa sepengetahuan Lili maupun Dylan.
*****
"Ayu, makanlah Nak! Kamu sudah hampir seminggu tidak makan, nanti kamu sakit." Ani membelai kepala anaknya penuh kasih.
"Sudah aku bilang! Aku tidak mau makan. Aku hanya mau Ucok. Biar aku sakit ... bila perlu aku mati sekalian! " Ayu masih saja keras kepala.
"Jangan pernah mengharapkan yang bukan milikmu, Nak. Kamu akan menderita. Masih banyak pria di dunia ini, bukan cuma Ucok saja! " Ani masih terus berusaha untuk menasihati Ayu.
"Aku tidak peduli! Kalian tidak sayang padaku. Aku benci kalian! " umpatnya.
Ani hanya menghela napas panjang. Ia tahu putrinya sama keras kepalanya seperti ayahnya Rawin.
Di luar pintu kamar Ayu, Rawin mendengar semua umpatan anaknya. Ia sangat mencintai putrinya yang cantik, ia rela melakukan apa pun agar putrinya bahagia. Akan tetapi ia salah memberikan kasih sayangnya dengan menuruti semua keinginannya.
"Aku harus mencari cara, bagaimanapun Ucok harus jadi suami Ayu, anakku?" Rawin melangkah ke luar, mencari tangan kanannya, Madar.
"Toni, kamu panggil Madar kemari? Aku butuh bantuannya." Perintahnya kepada centengnya yang bernama Toni.
"Baik, Tuan." Toni pun pergi ke rumah Madar. "Kerjaan berat apa yang diinginkan Tuan, hingga Madar harus turun tangan." Batin Toni.
Madar seorang pria buronan yang selama ini bersembunyi di Dusun Puak, selama ini warga tidak ada yang mengetahuinya. Mereka mengenal Madar hanyalah seorang nelayan biasa, ia tidak pernah bersosialisasi di Puak.
Madar hidup seorang diri di gubuk kecil di pinggir tebing, hanya Rawinlah yang tahu siapa Madar yang sesungguhnya. Rawin jugalah yang melindunginya selama ini, karena sebagian pekerjaan kotornya Madarlah yang menjalankannya.
Madar seorang pria kurus ceking, jauh dari kebanyakan penjahat yang berbadan tegap penuh tato ataupun seram. Ia hanyalah seorang pria bertampang biasa saja, siapa pun yang melihatnya akan merasakan iba. Terkadang penampilan seseorang menipu. Usia Madar sekitar tiga puluh lima tahun, tingginya juga tidak lebih hanya sekitar 165 cm. Akan tetapi ia adalah pria kejam di balik tampang wajah tanpa dosanya, sudah puluhan bahkan mungkin ratusan nyawa melayang di tangannya.
Madar memasuki rumah Rawin, semua centeng sudah mengenal sepak terjang Madar, mereka sangat menyegani dan takut kepada Madar.
"Mari Bang, Tuan Sudah menunggu kedatangan Abang." Ucap salah satu centeng.
Madar hanya menganggukkan kepalanya.
Madar sudah ratusan kali memasuki rumah Rawin, hingga ia hapal betul seluk-beluk rumah ini. Madar menoleh ke kanan-kirinya, ia mencari seseorang di sana, "Apakah dia sakit? Biasanya ia berlarian di antara pintu ke pintu." batinnya.
Madar terus melangkahkah kakinya ke ruangan Rawin, sebuah ruangan yang sangat tertutup bagi siapa pun, hanya orang-orang pilihan Rawin. Di ruangan inilah, segala hal kotor yang di kerjakan Rawin dan anak buahnya di rencanakan.
Rawin duduk di kursi kebesarannya, dengan menghisap pipa rokoknya, dengan segala keangkuhannya.
Madar mendudukan pantatnya di sebuah kursi tepat di depan rawin, menaikkan ke dua kakinya ke meja. Madar hanya diam, pikirannya masih menerawang mencari sosok wanita cantik yang selalu bermain di pelupuk matanya, sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah Rawin.
"Madar, aku ingin kamu mengertak seorang pria bernama Ucok, dia seorang mandor perkebunan, di PT. Jaya Sakti. Bila perlu ancam atau apa pun kau lakukan, agar ia menikahi putriku, Ayu." Ucap Madar.
Pranggg!
Suara pecah di hati Madar, ia sangat menyukai Ayu. Salah satu alasannya ia masih terus berada di dekat Rawin adalah Ayu, bahkan ia rela terus menerus melakukan pekerjaan kotor Rawin. Sayangnya ... Ayu tidak pernah sedikit pun memandang Madar.
Madar termenung sesaat, "Ayu ... apa yang harus aku lakukan? ", batinnya tak rela bila Ayu bersanding dengan yang lain.
Akan tetapi ia juga tidak memiliki kekuasaan untuk menolak perintah Rawin, karena semua rahasia Madar di pegang Rawin.
"Siapa nama pemuda itu? " tanya Madar dingin.
"Namanya Ucok munthe. Dia sudah menikah, istrinya Lili seorang guru." Ucap Madar.
"Lili .... ?!" Madar terbayang seorang wanita mungil berambut panjang, yang selalu bersepeda dengan wanita tua. Wanita mungil itu, selalu memberikan makanan kepada anak-anak dan warga Puak. Wanita cantik, lembut, baik dan ramah. Sempurna! . Namun, hati Madar sudah terpaut pada Ayu walaupun, sifat keduanya berlawanan.
"Apakah aku harus melenyapkan Lili atau pemuda yang bernama Ucok? "
"Bila pemuda sialan itu mati, Ayu juga akan mati. Sebaiknya gertak saja dia dulu, kalaupun tidak berhasil, ancam ia dengan istrinya. Pemuda itu sangat mencintai Lili.", Rawin memasang sebatang lagi rokok di pipanya.
"Bila gertakan tidak berhasil, apakah Lili harus di lenyapkan? "
"Bila memang harus begitu, mengapa tidak? Wanita itu hanyalah anak yatim piatu. Kematiannya hanya bagai debu, tidak akan ada yang menangisinya."
"Bagaimana dengan suaminya? " tanya Madar masih tetap dengan posisinya tanpa bergerak sedikit pun.
"Hahaha ... Seorang pria, hanya menangis saat mayat istrinya terbujur ... setelah itu, ia akan mencari yang baru. " Ucap Rawin, ia menyamakan semua pria seperti dirinya.
"Tidak semua pria egois sepertimu ...." batin Madar memandang dingin.
Suara ribut di rumah induk, seorang centeng kepercayaan Rawin melapor.
"Tuan, Nona Ayu ingin bunuh diri, Tuan"
"Apa?! " Rawin secepat kilat bangkit dari duduknya hingga kursi terjungkal ke belakang, begitu pun dengan Madar. Ia merasa kesedihan bergelayut di hatinya.
Mereka berlari menuju kamar Ayu, Ani sang ibu dan kedua madunya Mahima juga Aminah memegang kedua belah kaki Ayu, agar Ayu tidak tercekik. Ayu sudah menggantung batang lehernya di langit-langit rumah.
Madar dengan sigap memotong seutas tali tambang yang sudah melingkar di lehernya. Ayu di baringkan di tempat tidurnya, seisi rumah panik akan tingkah Ayu.
"Seperti apakah pemuda itu, hingga Ayu begitu nekad?" batin Madar, sekelumit cemburu menyelimutinya.
Madar masih di sisi Ayu, ingin rasanya ia membelai wajah cantik Ayu yang selama ini ia rindukan.
"Aku tidak akan memberikanmu, kepada pria mana pun, karena aku sudah sangat lama menginginkanmu. " batin Madar memperhatikan bekas tali tambang di leher mulus Ayu.
"Ayu, kau adalah kekasihku, kau harus jadi milikku. Aku tidak peduli kau mau mencintai Ucok atau siapa pun." Madar terus berucap di dalam benaknya.
Samar-samar Ayu memandang wajah Madar, ayahnya ketiga ibunya, "Rencanaku ... pasti berhasil. Ayah pasti akan berusah mencari jalan untuk menikahkanku dengan Ucok. Pintarnya aku! Hahahaha" batin ayu tertawa bahagia.
"Ayah, Ibu ... Maaf. Ayu ... hiks hiks tidak bisa hidup tanpa Ucok, biarkan saja aku mati. Aku ingin matiii! " teriak Ayu bersandiwara.
Madar dan yang lainnya memegangi tubuh Ayu yang ingin turun dari tempat tidur.
"Jangan pernah kau lakukan lagi! ayah akan cari jalan, bagaimanapun caranya? " Rawin mengepalkan tangannya..
Bersambung ....
Terima kasih jangan lupa like, comen dan vote-nya 😘😘🤗
menarik