McLaren Valkiry, terlahir sempurna dengan ketampanan dan kekayaannya juga statusnya sebagai putra dari seorang bangsawan Inggris.
Prinsifnya yang tidak mempercayai pernikahan malah membuatnya terpaksa menikah dengan wanita yang tidak dikenalnya.
Maureen adalah seorang gadis cantik yang terpaksa menikah dengan McLaren karena kejadian yang tidak mengenakkan.
Bagaimana kisah selanjutnya apakah mereka bisa lari dari pernikahan? Atau malah jadi saling jatuh cinta?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-22 Suamiku adalah milikku
Maureen duduk disamping suaminya. Dia bisa melihat kalau April menyukai suaminya. Dia tahu, ini adalah resiko memilki suami seorang bangsawan yang juga tampan, bukan April saja, pasti akan banyak gadis-gadis lainnya yang menyukai suaminya. Meskipun dia sadar diri kalau suaminya belum mencintainya, tapi maureen tidak mau siapapun mengganggu pernikahanya, dia tidak mau perbuatan pacarnya yang berselingkuh akan terjadi juga dalam pernikahannya.
Sebenarnya bosan berada dalam ruang rapat itu, Maureen hanya mendengarkan apa yang dibicarakan disana, tanpa ikut bicara apapun karena dia tidak bekerja untuk perusahaan mertuanya yang juga dikelola suaminya.
Merasa mulai bosan akhirnya Maureen pergi ke toilet, membasuh mukanya biar tidek mengantuk mendengarkan yang sedang rapat.
Sebuah pintu toilet ada yang terbuka, ternyata ada seseorang yang keluar dari sana. Maureen agak terkejut saat melihat yang keluar dari pintu toilet itu adalah April. Gadis itupun bediri disampingnya, mencuci tangannya dan merapihkan rambutnya.
“Aku fikir aku tidak akan melihatmu langsung selain yang ada dimedia,” ucap April, kini nada bicaranya tidak semanis saat berkenalan di depan Mac.
“Aku juga tidak tahu kalau suamiku akan meeting disni,” kata Maureen.
“Suamimu…” gumam April, menatap Maureen.
Entah kenapa Maureen merasakan nada berbeda denagn ucapannya April itu.
“Ada apa dengan suamiku? Kau menyukai suamiku?” tanya Maureen langsung menatap April dengan tajam.
“Apa maksudmu dengan pertanyaanmu itu?”tanya April sambil tertawa.
“Aku tahu kau menyukai suamiku, aku bisa melihat dari caramu menatap suamiku,” jawab Maureen. Mendengar ucapannya Maureen, April menoleh pada istrinya Mac itu.
“Apa ada masalah kalau aku menyukai Mac?” tanya April.
“Tentu saja masalah, karena kau menyukai pria yang bukan hakmu,” jawab Maureen.
“April tertawa sinis.
“Kau bilang hak, kau merasa bangga karena dia suamimu begitu?” tanya April.
“Tentu saa,” jawab Maureen.
“Apanya yang dibanggakan dari hasil menjebak seorang pria?” tanya April, membuat wajah Maureen memerah, dia marah dan kesal pada April, tapi ditahannya rasa marah itu. Dia sadar kalau media telah memojokkannya dan membuat dirinya dicap semua orang yang menjebak Mac supaya menikahinya, termasuk April juga pasti berfikir begitu.
“Itu bukan urusanmu. Yang harus kau tahu adalah Mac adalah suamiku, dan suamiku adalah milikku, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil milikku, kau mengerit?” kata Maureen dengan tegas.
April langsung tertawa mendengarnya.
“Suamimu tidak mencintaimu saja kau merasa bangga!” ucap april.
“Apa maksudmu tidak mencintaiku? Kami sudah menikah, kami sudah terikat. Urus saja urusanmu sendiri, kau tidak perlu ikut campur urusan orang lain,” kata Maureen, meskipun dia tahu Mac belum mencintainya, tapi tidak perlu orang luar mengetahui hal itu.
April akan bicara lagi tapi Maureen memotong.
“Ingat, suamiku adalah milikku, jangan coba-coba merebutnya dariku, aku tidak akan tinggal diam!” ancam Maureen, kemudian keluar dari toilet itu.
April tidak menyangka kalau Maureen akan seberani itu mengancamnya.
“Huh, menikah hasil menjebak saja sombongnya selangit!’ gerutunya, diapun keluar dari toilet itu.
Maureen masuk ke dalam ruang meeting itu, dia melihat suaminya masih rapat dengan yang lain. Dia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Dia bukannya tidak shock dengan apa yang terjadi tadi. Dia tidak menyangka kalau akhirnya dia akan berhadapan dengan wanita-wanita yang menyukai suaminya. Ini benar-benar tidak mudah. Disaat suaminya belum mencintainya, ada wanita lain yang mengincar suaminya. Mungkin sebentar lagi dia akan berhadapan dengan wanita-wanita lain selain April.
Mac hanya melirik sebentar pada istrinya yag duduk disampingnya. Kemudian Mac kembali menoleh pada ayahnya menanyakan soal pekerjaan. Maureen hanya diam saja, dilihatnya April juga masuk keruangan itu.
Sejam kemudian meeting mereka selesai, saat berpamitan, April masih sempat sempatnya menucri-curi pandang pada Mac, dia tidak peduli pada istrinya yang ada di ruangan itu. Tapi Maureen merasa lega karena Mac juga seperti tidak peduli pada April. Suaminya itu tidak terlalu menanggapi apa yang April bicarakan.
“Sayang, kita makan diluar saja ya,” kata James saat merek sudah keluar dari gedung.
“Iya Daddy,” jawab Mac yang sedang menyetir, sedangkan Maureen duduk dibelakang.
“Kita cari restaurant terdekat saja,” kata James.
Mac tidak menjawab, dari kaca yang diatas sekilas dilihatnya istrinya itu tidak bicara dari sepulang rapat tadi. Entah kenapa. Sebenarnya Mac merasa heran kenapa istrinya tiba-tiba diam, tapi bukankah itu bagus daripada mencerewetinya segala macam. Huh ternyata punya istri itu tidak enak, seperti ada yang merecoki hidupnya, tidak bebas, keluh Mac dalam hati.
Mac melihat ada sebuah restaurant sebelah kiri, diapun membelokkan mobilnya memasuki restaurant itu. Karena sekarang jam makan siang, ternyata restaurant itu lumayan penuh dengan yang berkunjung untuk makan siang.
Mac dan James turun duluan, sedangkan Maureen keluar belakangan dengan lesu tanpa bicara sepatah katapun. Saat menutup pintu mobilnya, diapun membalikkan badannya akan menyusul suami dan mertuanya itu. Langkahnya terhenti saat melihat beberapa gadis mengerubuti suami dan mertua, bahkan ada yang minta foto-foto segala seperti melihat artis saja. Gadis-gadis itu juga sampai histeris-histeris kecentilan.
Maureen menarik nafas panjang, lagi-lagi bertemu dengan gadis gadis yang mengidolakan suaminya. Dilihatnya gadis-gadis itu sangat cantik-cantik, bagaimana kalau suaminya terpikat oleh mereka? Lagi-lagi Maureen menghela nafas panjang.
Dia merasa takut suaminya akan menyukai gadis lain karena suaminya belum menyukainya, entah kapan Mac akan membukakan hati untuknya. Meskipun kondisi pernikahannya seperti ini, mau tidak mau dia harus menjalaninya.
Mac memberengut saja saat gadis-gadis itu menyerbunya adan yang meminta foto segala. James hanya tersenyum saja, Mac bukan tipe yang bisa beramah- ramah apalagi dengan gadis-gadis.
“Daddy tidak jadi makan disini saja, aku malas diperhatikan orang,pusing melihatnya,” gerutu Mac.
“Gadis-gadis itu tidak ada kerjaan,” lanjut Mac pada ayahnya. James malah tertawa.
“Sudah biarkan saja,” kata James, sambil memeluk bahu putranya memasuki restaurant itu meninggalkan gadis-gadis yang masih mengikuti mereka, bahkan meka juga masuk ke restaurant itu karena mereka juga sebenarnya mau makan siang.
Mac dan James segera duduk di kursi yang kosong.
“Kemana istrimu?” tanya James, sambil membuka buku menu yang diberikan pelayan.
“Tidak tahu, menghilang mungkin,” jawab Mac.
“Dia istrimu Mac,” ucap James.
“Bukan Istri tapi bayang-bayang yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi,” keluh Mac.
“Tidak bisakah kau sedikit bersikap baik padanya? Daddy lihat Maureen gadis yang baik,” kata James.
“Tidak, tidak, dari awalkan aku sudah bilang aku tidak mau menikah, kenapa jadi sekarang ada dia yang menempel terus padaku?” Mac terus saja mengeluh.
Mac melihat kesekeliling, ternyata yang duduk-duduk disekitar mereka makan juga memperhatikannya terutama yang wanita, membuatnya semakin sebal saja. Dia tidak suka wanita menyukainya.
“Aku tidak suka wanita-wanita itu melihatku,” keluhnya. James tertawa melihat sikapnya.
“Sepertinya aku menyesal jadi putramu,” keluhnya lagi.
James semakin merasa lucu dengan sikapnya yang Mac yang terus menggerutu gara-gara gadis-gadis memperhatikannya. James melihat Maureen menghampiri meja mereka, menantunya itu langsung duduk bergabung.
Gadis –gadis yang memperhatikan Mac itu tampak berbisik-bisik dengan temannya dan bergosip. Maureen sudah bisa menebak pasti membicarakan dirinya. Tapi dia berusaha tenang dan bersabar, membiasakan diri dengan situasi ini.
“Daddy bagaimana kalau aku kembali saja ke Washington?” tanya Mac, menatap ayahnya.
Maureen menatap suaminya, dia terkejut Mac berencana ke Washington, apa Mac akan meninggalkan dirinya?
James balas menatap putranya.
“Kau ingin ke Washington? Kau kan baru pulang,” tanya ayahnya
“Aku tidak suka dengan situasi ini, mungkin kalau semuanya sudah reda aku baru kemali lagi ke London,” jawab Mac.
“Kau akan kembali ke Washington?” tanya Maureen menatap suaminya.
“Iya,” jawab Mac.
“Baiklah nanti aku akan menyiapkan barang-barang kita,” kata Maureen.
Mac menatap Maureen.
“Tidak ada barang-barang kita, aku tidak mengajakmu,” ucap Mac.
Maureen balas menatap Mac.
“Tidak bisa begitu, aku akan ikut kemanapun kau pergi. Kau kan suamiku, kau tidak bisa lepas begitu saja dariku,” kata Maureen.
“Tidak bisakah kau tidak mengganggu hidupku lagi? Pergi jauh dariku,dan kau tidak pelu terus menempel-nempel
seperti ini?” tanya Mac.
“Tidak bisa, karena aku istrimu, kau suamiku, kita harus selalu bersama-sama,” jawab Maureen, bersikukuh.
James menoleh pada Mac.
“Maureen akan ikut denganmu,” kata James.
Mac tidak bicara lagi, dia bingung cara menjauhkan Maureen dari hidupnya.
Maureen tersenyum pada mertuanya, padahal hatinya merasa sedih mendapat penolakan terus dari suaminya. Apalagi yang harus dilakukannya untuk membuat Mac bisa menerimanya?
Maureen bangun dari duduknya.
“Aku mau ke toilet!” kata Maureen, sambil beranjak. Mac tidak menjawab, kerjaan istrinya hanya ketoilet saja, batinnya.
Maureen ke toilet hanya untuk menenangkan diri sebentar, kenyataan suaminya terus menolaknya membuat semangatnya untuk membuat suaminya mencintainya kembali runtuh. Tega sekali Mac akan kembali ke Washington tanpa mengajak dirinya.
Tiba-tiba datanglah beberapa gadis kedalam toilet tersebut. Mereka bercanda sambil tertawa-tawa. Maureen akan keluar dari toilet itu tiba-tiba salah seorang gadis itu sengaja menyengolnya.
“Maaf,” kata gadis itu.
Maureen tidak bicara lagi, dia akan melangkah lagi, gadis yang satunya lewat dan menyenggolnya lagi.
“Ups, maaf,” kata gadis itu. Maureen merasakan kesengajaan yang mereka lakukan.
Tapi dia mencoba mengalah, dia akan melangkahkan kakinya dan langkahnya tertahan oleh gadis yang satu lagi, dia ke kanan gadis itu ke kanan, dia ke kiri gadis itu ke kiri.
“Sebenarnya apa mau kalian?” tanya Maureen dengan kesal. Ketiga gadis itu menghampiri dan menyudutkannya ke ujung tembok.
“Jadi ini wanita licik yang sudah menjebak McLaren?” tanya gadis itu.
“Sebenarnya kalian mau apa?” tanya Maureen, menatap mereka satu-satu.
“Sebal saja pada wanita yang tidak tahu malu sepertimu, yang ingin dinikahi pria kaya dengan caramu yang licik,” jawab salah satu gadis itu.
Maureen tidak mau menaggapi tingkah mereka, diapun beranjak, tapi tiba-tiba seorang darinya mendorong bahunya sampai tubuhnya terbentur ke tembok.
“Apa yang kalian lakukan?” bentak Maureen dengan kesal, dia akan melangkah lagi, satu gadis lain kembali mendorong bahunya sampai Maureen kembali membentur tembok.
“Kalian jangan macam-macam!” teriak Maureen. Gadis-gadis itu malah tertawa.
Salah satu gadis itu akan mendekati tapi langkahnya terhenti saat terdengar suara seorang pria masuk ke dalam toilet itu.
“Apa yang kalian lakukan pada istriku?” tanya suara itu memmbuat gadis-gadis itu terkejut dan menoleh ke belakang, bukan gadis-gadis itu saja yang terkejut, begitu juga dengan Maureen, karena Mac sudah berada di dalam toilet wanita itu.
“Mm kami hanya berkenalan saja,” jawab gadis itu, yang tidak menyangka Mac akan memergoki kelakuan mereka. Teman-temannya mengangguk.
Mac berjalan mendekati Maureen lalu manarik tangannya. Tanpa bicara pada gadis gadis itu, Mac membawa Maureen keluar dari toilet itu.
Maureen melihat tangan yangs sedang di pegang Mac itu , dia hanya mengikuti langkah suaminya kembali ke ruangan restaurant itu.
“Ada apa?” tanya James, melihat putranya menarik tangan Maureen.
“Ada beberapa gadis yang menggangguku,” jawab Maureen sambil duduk dikursinya yang tadi, diikuti Mac. Suaminya itu tidak bicara apa-apa.
“Terimakasih kau sudah menolongku,” kata Maureen pada Mac. Tidak ada jawaban dari Mac, dia kembali meraih sendok garpunya.
Maureen hanya bisa menatapnya, dan bertanya-tanya kenapa suaminya pergi ke toilet wanita? Tidak mungkin suaminya mengikutinya kan? Atau suaminya tahu kalau gadis- gadis itu akan mengganggunya? Meski Mac bersikap cuek lagi, tapi dia merasa senang saat Mac mengatakan kata istriku pada gadis-gadis itu.
“Kau harus berhati-hati, sebaiknya kalian memang harus ke Washington dulu, kalian sementara watu tinggal disana,” kata James.
Tidak ada yang menjawab baik Mac maupun Maureen.
*********
dr awal cerita dr ayah n mama max aku bc.. masa skrg ga da lg cerita nya..
makasih ya karya nya... sehat2 disana...
aku padahal penggemar berat 😭bakalan kangen nih