kisah cinta Reva Bima, yang berawal dari taruhan Reva bersama para tante-tante penggemar berat Bima.
Demi mendapatkan uang 10juta, Reva menerima taruhan dan mengejar cinta Bima. Tapi Reva wanita kesekian ratus kalinya yang mendapatkan perlakuan dingin seakan tidak terlihat.
Reva yang mempunyai kecantikan dan sifatnya yang ramah, membuat banyak pria yang mengejarnya. Setiap hari Reva berganti pacar dan membuat banyak orang patah hati.
Melihat sifat dingin Bima membuat Reva marah dan murka, dia melakukan sumpah serapah tidak akan menikah jika tidak dengan Bima. Dia akan mengejar Bima sampai Bima bertekuk lutut di kakinya.
Berhasil Reva! kita ikuti kisah cinta mereka dan rintangan yang harus Reva dan Bima hadapi bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhia azaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN KESERIUSAN
Di rumah sakit sudah menunggu dokter dan beberapa suster, mobil Rama tiba yang langsung keluar mengendong Ravi yang sekarang sudah diam tidak terdengar lagi kicauannya.
Bima dan Bisma ikut keluar, tapi dihentikan oleh Rama yang meminta Bima menunggu di depan akan ada satu mobil lagi yang akan tiba.
Bima menunggu bersama dokter dan suster yang menyiapkan peralatan sangat lengkap, Bima binggung siapa yang ditunggu.
Mobil ambulance tiba, suster membuka pintu dan mengeluarkan seorang pasien yang penuh darah, Bima mendekat dan melihat Windy menggenggam tangan wanita yang sudah dipasang alat bantu bernafas.
Bima terdiam, terasa dunianya hancur dan runtuh melihat wanita yang terbaring tidak berdaya, Bisma menggoyang tubuh Bima yang sedang mencari kesadaran. Windy sudah berada dalam gendongan Bisma yang masih menangis sesenggukan.
"Kak Bim, wooyy bodoh sadarlah!" Bisma memukul kepala Bima dan melangkah masuk membawa Windy.
"Reva! tidak mungkin kamu,"
Bima berlari ke dalam mencari keberadaan Bisma yang sudah berdiri di depan ruangan UGD dan coba menenangkan Windy.
Dari luar Bima bisa melihat Reva yang sudah dipasang banyak alat bantu, Bima memijit kepalanya, dadakan sesak gadis kecil yang bertahun-tahun selalu menganggu nya kini terbaring tidak berdaya. Tidak ada lagi ocehannya. Bima meneteskan air matanya.
"Papi! maafin Windy, ini salah Windy."
Windy berpindah ke Bima yang memeluk sangat erat, Bima mengelus punggung Windy agar dia tenang.
Bima menghubungi orang tua Reva soal kecelakaan Reva, keluarga Reva memang sedang kebetulan ke kota untuk mengantarkan perlengkapan makanan di apartemen Reva yang memang paling pemalas soal beres rumah dan memasak.
Viana menerima pesan soal kecelakaan Reva langsung kaget dan berlari keluar mencari ruangan Reva, yang sudah di kirim oleh Bisma. Rama juga sudah menghubungi keluarga Reva yang ternyata sudah tahu dari Bima, Rama sedikit kaget jika Bima mengenal keluarga Reva.
"Bagaimana keadaan Reva?" Vi melihat Bima yang sangat kacau sambil memeluk gadis kecil yang cantik tapi sangat mirip dengan Brit.
"Masih belum ada kabar," jawab Bisma.
Dokter keluar meminta Keluarga korban yang mempunyai golongan darah yang sama bersedia menyumbangkan darah. Karena butuh waktu untuk mencari tambahan, Reva banyak kehilangan darah.
"Ambil darah saya sebanyak-banyaknya." Pinta Bima.
"Golongan darah pasien AB+,"
"Saya B+ berarti bisa melakukan transfusi darah ke Reva dok," jawab Vi.
Viana melakukan cek darah, dan benar darah mereka cocok, dokter cepat melakukan transfusi darah.
Semuanya terdiam menunggu kabar keadaan Reva, Viana juga masih belum keluar. Keluarga Reva langsung datang dan menangis, Bima menundukkan kepalanya tidak berani menatap keluarga Reva.
Bisma memperhatikan gerak tubuh kakaknya, dia paham Bima takut membalas cinta Reva karena statusnya belum lagi Windy yang membutuhkan Bima.
Bapak Reva menepuk pundak Bima yang coba menyalami orang tua Reva, Bima sangat merasa bersalah akan musibah yang menimpa Reva.
"Harus kuat nak, Reva pasti baik-baik saja." Bapak mengelus punggung Bima, mata Bima juga merah.
"Rama, apa yang terjadi pada Reva?" ibu menatap Rama dan Bima bergantian
"Semuanya salah Windy, tadi ada yang menghina Windy katanya Windy kotor sama seperti Bunda, Windy marah dan berlari. Tidak lama Mami Reva datang meminta masuk mobil tapi Windy malu dan tidak mau Mami tahu kejelekan Bunda. Lampu merah berhenti Windy langsung berlari dan ada mobil dengan kecepatan tinggi ingin menabrak Windy dan Mami yang menyelamatkan Windy." Tangisan Windy terasa menyayat hati.
Ibu Reva mendekati gadis kecil dan menghapus air matanya, lalu membawanya dalam pelukannya.
"Sejak kapan putri nakal ibu menjadi seorang Mami, dan rela mengorbankan nyawanya demi calon anaknya."
Bima melihat kearah ibu Reva yang mengelus kepala Windy. Viana juga sudah keluar dari dalam ruangan dan terlihat pucat. Rama memeluk punggung Vi tapi langsung ditepis.
"Urus saja dokter cantik di ruangan Ravi, lebih seksi, bahenol, montok, jauh dari Vi."
Ibu Reva tersenyum melihat sosok wanita yang putrinya kagumi, di depan banyak orang masih sempat mengomel dan cemburu padahal tubuhnya masih lemah.
"Ibu Vi izin duduk lemes, rasanya sama seperti habis melahirkan, laki-laki mana tahu, enak bisa bercanda dengan sembarang wanita dengan alasan anak yang berjuang melahirkan siapa yang dikagumi siapa."
"Vi mau menunggu Reva keluar, Viana cuman mau bilang sudah membayar hutang, dan awas saja jika tidak bangun, Viana minta keluarkan lagi darah Vi yang ada di tubuhnya."
Windy dan ibu bapak Reva tertawa melihat tingkah Viana yang kesal juga cemburu sedangkan Rama tidak membalasnya sama sekali.
"Maafkan saya ya Bu pak tidak bisa menjaga Reva, saya takut mengecewakan Reva,"
"Bima yang mana kalian kembar sangat mirip." Tanya bapak Reva
"Mereka hanya sama wajah otak dan sifatnya beda, dan bersyukurlah yang dicintai Reva yang lembut dan cerdas, bukan yang setengah waras."
Windy kembali tertawa membuat Viana melotot, dan menatap sinis kearah Bima.
"Anak Lo kenapa mas Bram, dia ketawa terus setiap gue ngomong, apa Vi mirip badut," tawa Windy semakin menjadi membuat semuanya tersenyum.
"Reva beruntung berada disisi orang baik seperti kalian semua, setiap pulang ke rumah Reva selalu bercerita Viana, menjaga Rama, perusahaan VCLO, barang limited apa ya ibu tidak mengerti yang paling membuat pusing dia selalu membicarakan seorang pria dewasa yang selalu menolak cintanya."
"Terakhir kali Reva datang sambil menangis dan menyatakan menyerah mengejar cintanya dan minta di jodohkan, katanya dia tidak punya harga diri."
"Tepat! Viana ada jodoh untuk Reva, dia pria baik, tampan, mapan, dan yang lebih menguntungkan Reva dia pria dewasa yang bisa menjaga pandangan, dan juga hati." Vi bicara sambil berdiri dan duduk lagi kepalanya sedikit pusing.
"Tidak bisa Vi," ucap Bima tegas.
"Iya, tidak boleh, mami Reva cintanya sama papi, papi juga cinta Mami." Ucap kesal Windy.
"Percuma jika tidak ada perjuangan, yang sudah berjuang saja masih goyah melihat dokter seksi dan bahenol."
Tatapan Rama dingin, sambil menggelengkan kepalanya, Viana masih sama seperti dulu kanakan-kanakan.
Bima menatap pintu kamar Reva penuh kesedihan, andai waktu bisa dia putar kembali. Tidak ingin dia mengundur waktu lagi.
"Ya Allah, lindungi Reva jaga dia. Beri hamba sekali lagi kesempatan untuk bisa berjuang bersamanya ke ke jalanmu ya Allah.
Tangan bapak yang duduk di samping Bima menepuk pundaknya, bapak tahu Bima paling sedih dan merasa bersalah. Baru saja dia ingin serius dan sekarang diuji, bapak juga berharap Reva selalu dalam lindungan Allah dan dipersatukan dengan lelaki Sholeh. Bapak tahu Reva gadis yang kuat, walaupun dia terluka, mulutnya mengatakan aku baik pak.
"Bangunlah nak!"
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***
jadi malu....keluar kamar mata dah sembab😎