NovelToon NovelToon
J King (This Is Side Of You)

J King (This Is Side Of You)

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Cinta beda status
Popularitas:79.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyaeva

Secara perlahan, setelah kepahitan bahkan kehancuran yang dialaminya karena J King. Juliet mulai mengerti dan memahami sisi lain kehidupan J yang membuatnya merasakan sesuatu untuk pria itu.

Diamnya seorang J King menunjukkan sisi lain J yang sebenarnya. Pria dengan masa lalu kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh Juliet.

...


Romeo dan Juliet tidak pernah menemukan akhir yang bahagia. Kematian adalah akhir cerita cinta mereka.

Aku, J King tidak akan membiarkan Juliet kembali pada Romeo karena dia hanya milikku.

Bahkan jika nyawaku juga terancam, aku tidak peduli.

Aku tidak peduli jika Juliet menderita, selama bayangannya masih tertangkap dalam pandanganku, itu sudah cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jacey Raiden King (Darkest Life 2)

Ciuman pertama, awal sebuah keintiman bagi para pecinta. Canggung dan kaku, menghadirkan jutaan perasaan yang muncul ke permukaan di saat yang bersamaan.

Bahagia, berdebar, dan berdesir. Benarkah? Mungkin, rasanya begitu aneh, menghadirkan hawa panas di sekujur tubuh tetapi hal itu akan menjadi candu yang membuat ketagihan.

Tangan Juliet masih digenggam erat bahkan setelah sampai di lantai paling atas kediaman keluarga Smith. J berjalan dengan memandu sang istri untuk mengikutinya.

Juliet menatap punggung tegap sang suami, betapa kokoh dan lebar tubuh bagian belakang milik pria itu, membuat Juliet ingin sekali memeluknya dari belakang.

Pasangan tersebut berhenti setelah sampai di sebuah atap yang disulap menjadi taman bunga cantik dengan penerangan lampu berwadahkan bohlam kaca yang indah.

Juliet merasa terintimidasi oleh tatapan J yang begitu dingin, dia takut dan cemas karena pria itu seperti terlihat marah.

"Apa itu tadi?" tanya J tanpa basa-basi, "kenapa kau lakukan hal itu?" 

Juliet merasakan cubitan di dadanya, ternyata benar J tidak menyukai tindakannya tadi, padahal Juliet hanya ingin menolongnya. Bahkan dia mengorbankan ciuman pertama dalam hidupnya, bahkan itu adalah ciuman pertama dengan J.

Juliet memang sempat berpikir tentang itu kemarin saat pulang dari dokter kandungan, dia memang mengharapkannya tapi bukan dengan keadaan seperti tadi.

Mulut Juliet terasa kelu, bibirnya tidak mau terbuka untuk membela diri dan menjelaskan alasan di balik tindakan yang ia lakukan. 

J masih menatap dengan penuh tanya. "Setidaknya kau punya alasan, bukan?" tanyanya lagi.

Pria itu menatap penampilan Juliet dari kepala sampai ujung kaki dan sayangnya dia tidak suka. J tidak suka karena wanita itu terlihat cantik dimatanya.

J geram sendiri karena di saat seperti itu dia justru tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan hanya untuk memuji saja dia merasa kesulitan.

"Antonio berniat mempermalukan mu, pria bernama Morgan ingin melakukan hal yang sama di depan umum, jadi aku- …." Ucapan Juliet tertahan karena seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk melakukan ini," ucap Juliet, sedangkan J hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Juliet ingin pergi tetapi dia merasa nyawanya hilang, dia tidak menyadari ketika J mencegahnya untuk pergi bahkan Juliet merasa bermimpi dibuatnya.

Tidak hanya pelukan, Juliet juga merasakan bibirnya basah oleh sesuatu yang lembut dan hangat. Sampai tangan Juliet meremat jas bagian depan yang dikenakan J. 

Pria itu membuatnya mengantuk dengan ciuman yang seperti sihir, Juliet tidak bisa membuka mata, dia terpejam menikmati lagi sensasi aneh yang menyenangkan di dadanya.

Sepertinya si kembar dalam perut Juliet juga semakin lincah dan merasa senang karena ayah dan ibu mereka sedang berbagi kemesraan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Tidak ada yang memaksa pun menolak satu sama lain. Perasaan mereka seperti sejalan, saling memberi dan menerima. Tangan J merambah ke punggung polos Juliet yang hanya mengenakan gaun backless.

J menggeram dalam hati karena tidak suka Juliet mengekspos diri dengan mengenakan gaun seperti itu. Sementara Juliet sendiri justru merasakan seluruh pori-pori di kulitnya meremang karena sentuhan pria itu.

J menjauhkan wajah setelah bibir mereka berpisah, terlebih karena pasokan udara yang menipis memaksanya untuk mengakhiri acara ciuman yang dirasa seperti candu baru baginya.

J mengusap kasar wajahnya kemudian menunduk. Mengingat sesuatu yang sudah dia lupakan. "Maaf, aku tidak bisa menahan diri," ucapnya.

Juliet mengernyit setelah mendengar ucapan J. "Kenapa minta maaf?" tanyanya kemudian. Tentu dia bertanya, bukankah sangat wajar jika suami mencium istrinya?

J kembali menatap Juliet di bagian bibirnya yang bulat dan penuh serta warna lipstik yang sedikit luntur karena ulahnya tadi. "Seharusnya aku tidak melakukan itu," jawabnya pada Juliet tanpa menyadari raut kecewa di wajah wanita muda tersebut.

"Kau menyesal?" tanya Juliet dengan nada yang dingin. Dia kecewa, itu benar dia begitu menikmati bahkan menginginkan kedekatan dengan J, tapi kenapa pria itu selalu menghempaskan setelah membuatnya merasa melayang?

"Jika seperti ini, aku takut tidak bisa melepasmu nanti," jawab J frustrasi.

"Apa maksudmu?" Juliet kembali menuntut sebuah jawaban.

"Aku sudah berjanji akan membebaskan mu dari tali pernikahan setelah mereka lahir supaya kau bisa mencari kebahagiaanmu sendiri." Sepertinya itu adalah ucapan J yang terpanjang selama ini. Pria irit bicara itu seperti mengingatkan kembali bahwa pernikahan mereka tetaplah semu.

Seperti dihantam sesuatu tak kasat mata, Juliet merasakan sakit dalam dadanya. Ucapan J seperti petir yang menyambar, Juliet juga ingat bahwa itu benar dia bahkan setuju saat J mengatakan dia yang akan merawat bayinya kelak.

"Maafkan aku, Juliet! Aku tidak bermaksud membuatmu bimbang, kau berhak bahagia," ucap J dan itu adalah kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum dia melangkah mundur dan pergi dengan perasaan yang berkecamuk.

Selepas kepergian J, wanita hamil itu hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Juliet menangis tertahan, tetapi air matanya deras tak terbendung.

Rasanya begitu sakit saat penyesalan selalu datang terlambat. Lebih sakit saat J merenggut segalanya, bahkan lebih sakit saat dia harus melupakan perasaannya kepada Toddy Muller.

"Aku … jatuh cinta padamu, hiks!!" Juliet berucap yang hanya didengar angin, sebuah pengakuan yang menguap bersama dinginnya udara bahkan didengar kelopak bunga yang berjatuhan.

"Aku mencintaimu, J!" Pada akhirnya perkataan yang murni muncul dari dalam perasaan dan keluar dengan suara yang sarat dengan rasa sakit.

Juliet tidak tahu kapan perasaan itu muncul, dia bahkan selalu menolak dan berusaha mengenyahkan karena berpikir rasa bencinya pada J jauh lebih besar.

Namun, Juliet salah. Ternyata perasaan itu semakin menguasai hati dan terus menggerogoti perasaan bencinya. Pelan tetapi pasti rasa benci berubah jadi iba dan berakhir dengan rasa cinta pada pria pendiam yang menyimpan banyak luka.

Juliet mengakui itu, ego yang ia miliki sudah kalah oleh rasa cinta yang tanpa sengaja ia pupuk sendiri. Rasa cinta yang yang lebih egois dan ingin memiliki pria itu untuk dirinya sendiri.

J berjalan sedikit cepat menuruni anak tangga yang berkelok. Dia ingin pergi sejauh mungkin, berlari dari kenyataan yang membuat dirinya sakit untuk ke dua kali.

Selama ini dia tidak pernah berucap pada siapapun bahkan hanya memendamnya sendiri. Tidak akan ada yang tahu bahwa selama ini dia memilih untuk menikmati perasaan sakit sampai ia mati.

Bahwa sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada Juliet sejak pertama kali melihat. Tidak pernah ada yang tahu, pertemuan pertama mereka bukan di klub malam itu, melainkan di sebuah panti asuhan di mana dia selalu pergi mengunjungi anak-anak yatim yang berpisah dengan orang tua mereka.

Flashback

(Sebelum J pindah ke rumah pribadi)

Jacey Raiden King baru saja pulang dari klub malam setelah mabuk berat. Alasan dia mabuk adalah karena tidak bisa melampiaskan semua emosi yang berkecamuk dalam dadanya.

Bayangan sang ibu selalu dia lihat bahkan suara-suara kemarahan selalu terdengar di telinganya. Empat belas tahun, usia Jacey masih terlalu muda untuk bisa menikmati semua hal yang bisa mengakibatkan nyawanya melayang.

Namun, siapa yang peduli padanya? Bahkan wanita nomer satu dalam hidupnya juga tidak pernah menginginkan dia untuk tetap bernyawa.

Jacey mulai meminum cairan beralkohol bahkan mulai menggeluti arena balap liar yang tidak bernaung pada asuransi jiwa. Untuk apa semua itu? Dia selalu siap jika suatu hari nyawanya lenyap.

Jacey King tidak punya tujuan hidup, dia hampa tanpa ada seorang pun yang bisa menjadi tambatan atau untuk dia berkeluh kesah.

Jacey menerobos lampu yang menandakan dia harus berhenti tetapi pemuda itu terus melaju tidak peduli pada nyawanya sendiri, serta tanpa menyadari dia juga bisa mencelakakan orang lain.

Hari ini dia tidak ingin pulang karena Antonio dan kekasih sesama jenisnya pasti sedang berpesta di dalam kamar mendiang ibunya.

Jacey merasa jijik pada mereka, kenapa Antonio punya kelainan seperti itu? Semenjak kematian Meredith, pria yang berstatus duda Antonio Bowers menjadi aneh dengan penyimpangan seksualnya.

Geronimo Diego adalah kekasih Antonio yang punya kelainan juga. Mereka bersikap bahwa hal itu tidak masalah bagi penghuni rumah lain.

Tidak pernah ada yang tahu bahwa Jacey Raiden King juga menyimpan dendam pada kekasih Antonio tersebut. Jacey merasa jijik pada pria itu terlebih pada dirinya sendiri.

Tanpa sepengetahuan Antonio pria itu sudah melukai Jacey, memberinya pelecehan yang menghancurkan jiwa dan raga Jacey. Seorang remaja yang tidak bisa melawan ketidakadilan yang menimpa dirinya.

Berkali-kali Jacey mendapatkan perlakuan tidak senonoh pada fisiknya oleh Diego. Jacey merasa perutnya selalu bergejolak mual saat Diego melampiaskan kelakuan iblis nya.

'Jacey, kau pemuda yang menggairahkan.'

Jacey benci dan ingin melenyapkan Diego dengan tangannya sendiri. Kalau perlu dia ingin memotong semua bagian tubuh Diego sampai pada potongan terkecil.

Jacey muda berjalan gontai di lorong rumahnya untuk menuju kamar. Kepalanya terasa begitu nyeri dengan denyutan seperti ribuan jarum yang menusuk.

Tubuh Jacey oleng tetapi sebuah tangan menopang supaya dia tidak terjatuh. Tatapan Jacey berubah tajam saat menyadari siapa yang sudah merangkulnya.

"Lepaskan, Sialan!!" teriak Jacey sambil berusaha melepaskan diri.

"Tenanglah, Sayang! Santai saja!" jawab pria bertubuh besar. Pria Spanyol itu memapah tubuh Jacey masuk ke kamar pemuda tersebut dan segera membaringkannya.

Diego membasahi bibir saat tubuh pemuda remaja tersebut tidak berdaya di atas tempat tidur. 

Diego menelusuri tangan Jacey yang tidak tertutupi kaos. Dia merencanakan kembali sebuah kesenangan pribadi pada pemuda remaja tersebut.

Buk …

Tanpa Diego sadari sebuah tongkat bisbol mengenai kepalanya. Pria Spanyol tersungkur dengan kepala yang sudah berdarah.

"J-Jacey?!" Pria itu terbata saat melihat pemuda lemah tadi tengah berdiri menjulang di hadapannya dengan memegang sebuah tongkat yang sebelumnya ia lihat berada di samping tempat tidur Jacey.

Wajah Jacey terlihat mengeras serta tatapan yang menyeramkan. Pria Spanyol--Diego beringsut mundur karena melihat remaja itu mengangkat kembali tongkatnya.

"Mau ke mana, Diego? Antonio sedang pergi, 'kan? Waktunya kita untuk bersenang-senang!" Jacey bersuara dingin dengan senyuman aneh di wajahnya.

"Perlu kau tahu, Diego! Melihatmu berdarah itu membuatku semakin suka dan bergairah untuk membunuhmu!"

Satu pukulan

Dua pukulan

Tiga pukulan

Bahkan lebih dari puluhan kali Jacey melayangkan tongkat bisbol pada semua bagian tubuh Diego.

"Kau sakit? Iya? Kau itu menjijikan, sebenarnya aku sedang menunggu siapa diantara kau dan aku yang akan mati lebih dulu." Jacey menggeram sedangkan Diego sudah tidak sanggup lagi menahan semua luka memar yang menyakitkan akibat pukulan Jacey.

"Tahan sebentar, Diego! Tidak seru jika kau mati dengan cepat!" Jacey kembali berkata santai.

Diego berkata dengan suara yang sudah tidak jelas, jangan lupakan bentuk wajahnya yang sudah tidak beraturan. Satu yang pasti pria itu seperti memohon pengampunan dari remaja labil tersebut.

"Jangan memohon, Sialan!! Apakah kau tidak ingat aku juga selalu memohon padamu?!!!" teriak Jacey sambil menendang bahkan memukul kembali perut Diego dengan tongkat bisbol.

Jacey menarik kerah kaos Diego yang sudah berlumuran darah. "Setelah kau menerima rasa sakit dariku, terimalah rasa sakit berikutnya dari Tuhan atas perbuatanmu yang menjijikan!!"

Buk …

Satu kali lagi sebuah pukulan tepat mengenai kepala Diego yang mengakibatkan pria itu jatuh tersungkur sampai nyawanya juga terlepas dari tubuh yang sudah berantakan.

Jacey melempar tongkat begitu saja. Pemuda itu berjalan santai menuju kamar mandi, gemerincik air terdengar cukup lama, mungkin pemuda itu sedang membersihkan diri dari cipratan darah.

Seperti tidak ada penyesalan yang terlihat dari wajahnya. Jacey hanya merasa muak pada semuanya. Suara-suara itu terus terdengar sampai ia merasa tidak tahan dan kebetulan ada seseorang yang bisa dijadikan pelampiasan. Selain itu dia juga ingin mengakhiri kekejaman Diego terhadap dirinya.

Setelahnya Jacey hanya duduk ditepi ranjang dengan mengenakan sweater rajut warna putih dan celana hitam. Tatapannya kosong tanpa ada cahaya.

Teriakkan Antonio seperti angin lalu baginya, pemuda itu hanya diam walaupun Antonio juga melakukan kekejaman seperti dirinya kepada Diego.

Jacey tidak peduli bahkan di saat sekarat pun dia tetap diam berharap malaikat pencabut nyawa mendatangi dan membawanya dari dunia yang tidak ia sukai.

Seperti kejadian yang terulang, Jacey tersadar di sebuah rumah sakit, rupanya dia masih dibiarkan hidup oleh Yang Maha Kuasa. Kali ini jiwa pemuda itu seperti kembali dari kekosongan.

Jacey berteriak saat beberapa orang pria berpakaian putih membawanya ke ruangan dingin dan gelap.

"Mama, hentikan! Jangan menggangguku!" teriak Jacey karena terus mendengar suara kemarahan dan kebencian yang entah siapa yang mengatakannya.

"Dasar gila!!" ucap salah satu pria berpakaian putih.

"Aku tidak gila, Mama benci padaku, dia ingin membunuhku!" teriak Jacey kembali.

"Mana ada orang gila mengakui dirinya gila!" Pria lainnya juga berkata seolah yang dikatakan Jacey adalah lelucon.

Di ruangan sempit dan gelap, Jacey gelisah luar biasa, bayangan wajah Meredith terus menyiksanya dengan perkataan yang membuat dia sakit.

"Mama, pergilah!!!"

Jacey tidak terancam hukuman pidana setelah menghilangkan nyawa orang lain, tindakkan Jacey dianggap penolakan dan perlindungan diri dari pelecehan yang dilakukan si pria Spanyol, terlebih karena saat itu Jacey mengalami gangguan mental.

Namun, sebagai gantinya Jacey harus berada di rumah sakit jiwa selama satu tahun untuk melewati rehabilitasi kejiwaannya yang terganggu.

Sikap Jacey yang tenang dan dingin mempermudah pemuda lima belas tahun tersebut untuk cepat sembuh. Berkat pelayan tua Corina dan suami, akhirnya pemuda itu bisa melewati masa-masa sulit dan menunjukkan perkembangan kesembuhannya.

Trauma yang dialami Jacey memang tidak bisa dikatakan sepele, ternyata Jacey sudah tertekan bahkan semenjak dia lahir ke dunia. Penolakan sang ibu menjadi pemicu utama pemuda itu mengalami tekanan mental yang cukup parah.

Jacey memutuskan untuk meneruskan hidup demi beberapa orang saja yang menyayanginya. Dia berusaha untuk sembuh atas keinginan diri sendiri. Dia sadar bahwa Tuhan masih menyayangi dan mengajarkan pada dirinya supaya tetap bersyukur.

Pemuda itu mencari pelarian untuk semua ingatan yang ingin dia lupakan. Jacey meneruskan kembali sekolahnya setelah tiga tahun berhenti belajar. Jacey juga enggan bergaul dan les privat saat sekolah menengah atas selama tiga tahun.

Setelah kondisi pemuda itu semakin membaik barulah dia memberanikan dirinya kembali untuk melihat dunia luar. Dengan pergi ke kampus dan memiliki beberapa teman yang loyal. Tidak buruk, keadaan menjadi terbalik saat semua orang mulai menyukai dan ingin berteman dengannya. 

Perlahan, Jacey memulai hidup baru sebagai seorang J yang disukai banyak orang. Tidak pernah ada yang tahu masa lalunya karena dia tidak membiarkan siapapun untuk mengusik hidupnya.

"Tuan, hari ini ada kunjungan ke panti asuhan Little Angel, nanti ada anak-anak dari TK Sweet Stroberry yang berkunjung bersama Anda," ucap Corina yang mengingatkan kembali jadwal kegiatan sosial yang dilakukan J.

Bukan tanpa alasan, J melakukan banyak kegiatan baik sebagai pengobat bahwa bukan dirinya saja yang menderita di dunia. Ada jutaan orang yang lebih tidak beruntung dari dirinya.

Anggap saja J melakukan itu untuk membuktikan pada sang ibu yang suaranya masih sering dia dengar walaupun samar. J ingin membuktikan bahwa dia masih bisa hidup walaupun tanpa cinta dari ibunya.

J bertandang ke sebuah panti asuhan dimana dia selalu berkunjung untuk berbagi dan menghibur para anak malang tersebut. Seperti yang dikatakan Corina hari ini dia datang bersama dengan sekelompok anak-anak balita dari sebuah sekolah.

J sangat menghargai seorang guru yang mengajarkan anak-anak kecil itu untuk selalu berbuat baik terhadap sesama.

Emma Harrison

Itulah nama guru baik hati yang J lihat sedang membagikan banyak balon untuk semua anak yang sedang berbaur satu sama lain.

Tatapan J beralih pada seorang gadis yang menemani guru tersebut. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasakan sesuatu yang asing dalam dadanya saat melihat mata biru bening gadis itu.

J merasakan sesuatu yang mengisi rongga dadanya karena senyuman si gadis yang memiliki rambut panjang. Pria muda ikut tersenyum tipis--mungkin itu adalah senyuman pertama dalam hidupnya saat melihat gadis itu tertawa bersama dua anak kembar pasangan penghuni panti.

Dia bisa merasakan sebuah ketulusan dari sikap gadis itu. J menepuk dada berkali-kali saat degupan jantungnya lebih cepat dari biasanya.

Namun, sayang J tidak pernah tahu siapa gadis itu bahkan dia tidak tahu siapa namanya. Beberapa kali J berkunjung ke panti asuhan yang sama bahkan mencari sampai pada sekolah 'Sweet Stroberry' berharap dia bertemu lagi dengan gadis itu.

Nihil, J tidak pernah lagi melihat gadis yang tidak bisa dia lupakan, sampai akhirnya dia bertemu lagi di sebuah klub yang membawanya pada takdir baru kehidupannya bersama gadis itu.

Flashback End 

Juliet kembali menangis di dalam mobil saat perjalanan pulang. Mendengar kisah hidup J yang kali ini diceritakan oleh suami Corina.

Pahit, sangat pahit. Kehidupan seperti itu bahkan tidak pernah terbayang sedikitpun oleh dirinya. Dan kali ini Juliet benar-benar mengutuk semua keluarga King yang sudah membuat J menderita.

Sekarang dia paham, kenapa Tuhan menghadirkan J dalam kehidupannya. Mungkin Tuhan ingin dirinya memahami dan melengkapi hidup pria itu.

Juliet juga mengerti penolakan J pada dirinya. Itu karena J tidak ingin berbagi tentang apa yang sudah ia lewati selama ini.

Juliet berjalan di lorong gelap menuju kamarnya, tetapi langkahnya terhenti saat menyadari ada seseorang yang berada di kamar calon bayinya.

Juliet segera menyembunyikan tubuh di ambang pintu. Dia melihat J berada di sana, di ruang gelap menghadap jendela terbuka dengan tirai yang tertiup angin.

J terlihat diam tetapi Juliet bisa dengan jelas melihat bahu pria itu yang bergetar. Air mata Juliet kembali turun. Jadi seperti itu, J selalu bersembunyi dalam kegelapan dan melepaskan semua kesedihannya bersama kesunyian yang terasa mencekik.

'Ya Tuhan. J ku sedang menangis.'

Juliet menutup mulut untuk meredam isakan. Dadanya terasa begitu nyeri. Dia tidak bisa mendekati pria itu, tidak untuk sekarang.

'Apa yang harus kulakukan?'

Juliet ingin sekali berlari pada pria itu, memberinya pelukan erat dan mengatakan dia akan selalu berada di sisinya. Juliet ingin sekali mengatakan segalanya pada J bahwa dia juga mencintai dan membalas perasaan proa tersebut.

TBC

Mm, bagaimana cukup jelas siapa J disini, kan?

See you next chapter all you guys

I Love you 😘😘😘

1
Anugrah Sanjaya
saya rasa, kasus yg menimpa Juliet itu sama dgn yg menimpa ibu J. bedanya, Juliet tetap menginginkan anaknya lahir sedang ibu J, tidak...
Anugrah Sanjaya
nyimak...
Nur Yanti
hihihihi...sukaaaa banget😍
Nur Yanti
ga bisa komen 😭😭😭😭😭
Nur Yanti
duh nasibmu sungguh miris Julliet.. 😔
Nur Yanti
siapa yg tidak ketakutan di perlakukan seperti itu. di perk***a terus di tinggalkan. ampun J kejam banget sih..
Ira Endang
keren bnget kak
Wan Er
baru chapter 1 aja udah keren✨
Oliefiya Snowly
aku hadir untukmu my partner 😊😊😊
Eve: 😘😘😘 makasih banyak Beb
total 1 replies
Aba Bidol
Neh bener2 karya yang keren bangets thor..., debesssssttttt 👍👍👍👍👍
Aba Bidol
Karya yang sangat keren thor. Nyesel baru nemu ceritanya di sini. Tetap semangat berkarya.....👍👍👍💪💪💪🎉🎉🎉
Aba Bidol
Karya yang sangat keren thor..., tetap semangat yah berkarya...💪💪🎉🎉🎉
Aba Bidol
Karya ke 2 othor yg tamat. Keren. Memang beda dari karya2 yang lain. Tetap semangat berkarya yah thor....👍👍🎉🎉🎉
gulaJawa🐏
rekomendasi novel pendek uuu ntuk di baca di waktu senggang
gulaJawa🐏
halo penulis
terimakasih atas karya yg luar biasa ini, saya merasa terhibur, ending yg cukup membuat saya tercengang, tapi saya memahami itu, di dunia ini yg namanya masalah tidak akan pernah berhenti datang kecuali tokoh itu mati, dan sifat manusia sulit di rubah, dan dendam tidak akan bisa dilupakan begitu saja, cerita ini hidup, biarkan berkembang bebas dengan sendirinya,
terimakasih karyamu disukai banyak orang
gulaJawa🐏: edit: semoga karyamu di sukai banyak orang
total 1 replies
Mardysains Mardysains
mantap skali.. ta terlalu bertele2 dan banyak bab.... keren kok....ayo mana lagi karyamu...
Saifa
semangat berkarya thor, ceritanya keren
Mahdaleni Leni
novel kereeeen knapa sedikit yg like y...salut Thor anda jenius sy suka sangat aluuuuurnya. bagus bila dipanjangin,,
Saifa
semangat author, ceritanya bagus bgt
Ra I
ceritanya bagus thor... 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!