NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Assalamu'alaikum, Budhe, Pakdhe." sapaku pada kakak dari Bapak. Mereka satu Ibu tapi beda Bapak. Dulu saat kakek dan nenek menikah, mereka sama-sama membawa satu anak perempuan.

"Waalaikumsalam, nduk. Maaf ya, Budhe sama Pakdhe telat."

"Mboten nopo-nopo, Budhe." jawabku sambil mencium takzim tangan mereka berdua bergantian dengan Bang Rengga dan juga Azka.

"Bojomu mana, Le? Wes lahiran belum?" tanya Pakdhe pada Azka.

"Dereng, Pakdhe. Doanya mawon njeh. Biar lancar pas lahiran."

"Iyo... Iyo... Wong tuo iki pasti doakan anak-anak e. Tinggal anak mau nggak denger nasihat orang tua." sindir Pakdhe.

"Ini calon suami kamu, Nduk? Kerjanya apa?" tanya Budhe.

"Iya, Budhe. Perkenalkan saya Rengga. Saya cuma seles obat mawon." jawab Bang Rengga.

"Bang... " tegur ku lirih. Tapi lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum.

"Ooo... Cuma seles aja." jawab mereka berdua kompak.

"Ka, minta tolong panggil Bapak sama Ibu, Dek. Kasih tahu ada Budhe Sri sama Pakdhe Jaya." ucapku.

"Siap Bos!" jawab Azka.

"Kamu itu jangan cuma lihat gantengnya aja, Nduk. Kalau pilih suami itu juga harus mikir, bisa nggak nanti dia kasih makan kamu. Bisa nggak nanti buat kamu seneng. Kamu itu cari suami posisinya harus lebih tinggi dari kamu,gajinya juga lebih gedhe dari kamu." ucap Budhe Sri memulai konser keroncong.

"Njeh, Budhe. Yang penting kan nggak bikin malu kalau di bawa ke kondangan." jawabku asal.

"Ngganteng, tapi dompet e tipis. Sama juga bohong, Nduk."

"Tipis kalau isinya kartu debit, berjejer pasti bikin mata melek to, Pakdhe." jawabku semakin jengkel. Mungkin beliau masih tidak terima saat beberapa waktu lalu aku menolak calon yang dia ajukan.

FLASH BACK ON

Mbak, pakdhe mu minta nomer ponsel kamu, boleh nggak Ibu kasik?"

"Nggak sekalian nomer rekening, Bu?" jawabku sambil tersenyum. "Damel nopo, Bu?" ( buat apa, bu?)

"Halah, kayak nggak tahu pakdhe mu aja. Lagi buka biro jodoh buat kamu, Mbak."

"Heeem.... Kenapa sih dibikin heboh, nanti kalau sudah ketemu jodohnya kan langsung nikah. Jaman udah maju kayak gini masih aja percaya mitos. Besi aja udah bisa terbang, jodoh juga pasti bakal datang entah dari arah mana, lewat mana. Udahlah, Bu. Mbak mau makan dulu. Lapar. Hehehe.... " ucapku lalu beranjak bangun dari duduk dan melangkah ke arah dapur mengambil makanan. Baru setelah makan, mandi dan siap-siap kondangan.

Dan benar saja, beberapa hari kemudian ada nomer asing yang mengirim pesan ke ponsel ku. Saat itu aku sedang bersantai di ruang tengah setelah pulang kerja. Sengaja aku diamkan saja. Buang-buang waktu saja menurutku.

"Mbak, Pakdhe Jaya barusan telpon. Katanya kita di suruh ke rumah nya sekarang." ucap Ibu.

"Wonten acara nopo, Bu?"

"Katanya kamu mau dikenalkan sama tentara. Udah mapan, punya pangkat. Lagi cari istri katanya." jelas Ibu.

Aku menghirup nafas panjang dan dalam. Lagi-lagi perjodohan.

"Kayak aku nggak punya orang tua sama nggak punya rumah aja, Bu. Yang pengen tahu dan pengen kenal kan bukan Mbak. Ngapain juga harus Mbak yang pergi kesana. Kalau mau tahu, mau kenal ya datang dong kesini. Jelek-jelak gini, Bapak sama Ibu punya rumah lho.

Nggak sopan banget. Lagian Mbak capek lho Bu, kalau harus nyetir ke rumah Budhe Sri sana." jawabku yang memang baru saja pulang kerja.

"Ya udah, biar mereka yang kesini ya Mbak. Mbak juga pasti capek baru pulang kerja, mandi terus sholat dulu gih." titah Ibu.

"Siap Ibu ratu." jawabku lalu segera bangun dari duduk dan melangkah masuk ke kamar.

"Bu, kalau nanti Mbak nggak sreg, Mbak boleh nolak kan?" tanyaku pada Ibu yang menyiapkan camilan di atas piring. Kebetulan, Ibu baru saja membuat banana cake kesukaan ku.

"Iya, Ibu nggak bakal maksa. Kan yang bakal  berumah tangga nanti, Mbak. Kalau memang Mbak nggak sreg, ya sudah. Jangan dipaksakan."

"Matur nuwun, Bu."

Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu di ketuk. Dan suara lelaki mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam," jawabku sambil berjalan keluar. Setelah membuka pintu, benar, Pakdhe Jaya dan seorang lelaki yang sudah terlihat berumur membuatku beristighfar dalam hati.

"Pakdhe, monggo pinarak." ucapku mempersilahkan masuk.

"Sebentar, saya panggilkan Ibu sama Bapak." jawabku lalu berlalu masuk setelah kedua tamu itu duduk.

"Bu, sudah datang." ucapku memberi tahu.

"Ya, Ibu panggil Bapak dulu di kamar. Kamu buat minum ya, Mbak." pintar Ibu.

"Njeh, Bu."

Setelah selesai membuat minuman, segera ku bawa ke ruang tamu. Disana sudah ada Bapak, dan Ibu.

"Sini, Nduk. Duduk dulu." ucap Pakdhe Jaya.

"Njeh," jawabku singkat sambil terus menunduk karena aku melihat lelaki yang saat ini duduk di samping Pakdhe ku sedang mengamati ku dengan tatapan yang dalam.

"Gini, Nduk. Ini, Pakdhe kesini mau ngantar Mas Toni. Mas Toni ini lagi cari istri, nah Pakdhe inget kamu. Siapa tahu aja cocok kan ya. Gimana, kamu mau kan?" ucap Pakdhe tanpa basa basi.

Bapak dan Ibu menggelengkan kepalanya. Takjub melihat tingkah lelaki paruh baya yang tanpa basa basi lagi mengutarakan niatnya.

"Ehmmm... Begini Pakdhe. Mohon Maaf, pangapunten sanget, saya belum bisa ngasih keputusan sama Pakdhe. Juga sama Pak Toni."

Jawabku.

"Kok panggil, Pak. Panggil Mas to, Nduk. Belum tua lho Mas Toni ini. Tapi hebat, sudah punya pangkat." jelas Pakdhe.

"Njeh Pakdhe. InsyaAllah saya pikirkan. Kalau sekarang saya belum ada jawaban. Pangapunten sanget, ini saya ada jadwal latihan di SD, mohon maaf saya tinggal. Silahkan lanjut ngobrol sama Ibu dan Bapak."

Ucapku lalu berdiri karena sudah terlambat. Pasti adik-adik sekolah dasar dekat tempatku tinggal sudah menunggu untuk latihan.

"Mau kemana?" tanya Pakdhe.

"Main Pakdhe, main banting-bantingan." jawabku.

Pakdhe manggut-manggut, mungkin baru sadar kalau baju yang aku pakai adalah baju latihan karate.

Flashback Off

"Lhooo, alhamdulillah. Akhirnya bisa datang juga ya ke acara lamarannya Rani. Saya kira Mbak Sri dan Mas Jaya nggak datang." ucap Ibu.

"Datang lah, kan mau lihat Rani, kayak apa laki-laki pilihannya, terus dapat apa aja dari calon suaminya yang katanya cuma seles obat itu." ucap budhe Sri.

"Astaghfirullah," ucapku pelan sambil meremas tangan Bang Rengga yang sedari tadi memegang jemariku.

" Sudah, nggak papa. Itu hanya bentuk kasih sayang mereka saja sama kamu, Yang." ucap si Abang.

"Tapi aku nggak rela Abang dihina kayak gitu." jawabku berbisik.

"Ciyeeee... Udah mulai cinta kayaknya." jawab Bang Rengga pelan dan menggoda.

Ibu dan Bapak hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan kakaknya. Bapak sampai menatap Bang Rengga. Mungkin Bapak malu dengan ulah kakaknya ini.

"Makan dulu yuk, Mbak. Sudah disiapkan di dalam. Biar lebih nyaman dan adem. Diluar panas." ajak Ibu sambil melihatku.

"Iya, sambil lihat apa aja bawaan keluarga si Abang. Kalau makanan dan lain-lain ada di ruang tengah ya Budhe, udah di beresin semua do sama sama anak buah abang, kalau yang buat Rani ada di kamar. Buka aja pintunya, nggak Rani kunci kok. Ini baru lamaran ya budhe, banyak lho yang dibawa tadi. Entah nanti kalau nikahan, sebanyak apa bawaan keluarga Abang." ucapku kesal.

"Emang seberapa banyak sih? Mahal-mahal nggak?" tanya Budhe. Akhirnya Bapak, Ibu dan dua orang paruh baya itu berlalu masuk ke dalam rumah.

"Yang... " ucap Bang Rengga mengingatkan. "Nggak sopan ah, masa sama orang tua kayak gitu. Jangan ya, Sayang." ucap Bang Rengga mengingatkan.

"Iya, Bang. Habisnya jengkel banget tahu kalau ingat. Asal Abang tahu aja, mana ada tentara udah pangkat, udah umur, belum punya istri. Mau dijadikan simpanan pastinya."

"Iya, Abang paham kok. Udah yah, nggak baik juga menyombongkan harta, toh semua cuma titipan. Kebetulan Abang dititipi buat nyenengin kamu. Dan juga beberapa anak asuh Abang. Ntar kalau ada waktu, kita main ke panti tempat anak asuh Abang ya." ajaknya.

Aku hanya mengangguk. Satu lagi yang aku tahu tentang Bang Rengga. Dia punya anak asuh di panti.

Di lain tempat, Budhe Sri mulai mengecek satu persatu bawaan keluarga Bang Rengga. Diruang tengah ada aneka makanan, ada wajik, kue lapis, bolu gulung, lemper, dan masih banyak lagi lainnya.

Sedangkan di kamar, semua adalah bawaan yang khusus untukku. Ada tas, baju, sepatu, sandal, skincare, make up meski aku jarang sekali memakainya, dan jangan lupakan satu set perhiasan emas yang tadi di bawa langsung dan diserahkan langsung oleh Mama Sofie.

"Kalian yakin, dia itu seles obat." tanya Budhe Sri.

"Lha, tadi pas kenalan gimana?" tanya Ibu.

Budhe hanya diam tidak menjawab.

"Budhe, Bang Rengga itu emang cuma supervisor di salah salah satu perusahaan distributor obat. Tapi, dia punya banyak cafe lho Budhe, punya dia sendiri. Papanya punya usaha furniture, cabangnya ada di beberapa kota. Nah, Mama nya Bang Rengga itu punya beberapa butik. Nih, baju kami aja dari butik Mama nya Bang Rengga lho... " jawab Putri yang ikut geram saat mendengar Bang Rengga di remehkan.

"Apalagi, Bang Rengga itu anak tunggal lho Budhe. Mantap nggak, calon suami Mbak Rani. Nggak kaleng-kaleng Budhe." tambah Azka.

"Hemm... Pinter juga anakmu cari suami. Ya sudah, ayo makan. Sudah lapar Budhe. Pakdhe mu pasti sudah nungguin buat makan." ajak perempuan paruh baya dengan status kakak dari Bapak.

[Lapor bos, konser keroncong selesai. Artis mendadak gagu tidak bisa bicara dan suara hilang.]

Tulis Azka dalam sebuah pesan singkat pada aplikasi berwarna hijau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!