NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

***

Waktu bergulir melintasi lembaran bulan yang damai di perbukitan Joglo. Empat purnama telah genap terlampaui sejak benih pertama Raden Mas Baskoro dinyatakan tumbuh di rahim Larasati. Selama empat bulan itu pula, atmosfer di dalam rumah joglo besar itu kian dipenuhi kehangatan yang tak lagi semu. Jiwa Larasati tidak lagi didera kecemasan masa lalu, dan sosok kaku sang juragan tanah kini telah sepenuhnya melunak, menjelma menjadi pelindung yang teramat protektif bagi istri kecilnya.

Namun, kedamaian domestik itu membawa konsekuensi jasmani yang teramat berat bagi kelaki-lakian Baskoro.

Sejak Mbah Mijil—dukun bayi tertua di desa bawah—memberikan petuah keras untuk menjaga rahim Larasati yang masih belia selama masa-masa rawan trimester pertama, Baskoro mematuhi larangan beradu raga dengan ketat mutlak. Bagi seorang pria matang berusia empat puluh tahun dengan stamina fisik yang prima bagai soko guru pendopo, menahan diri selama empat bulan penuh dari raga yang sangat dicintainya bukanlah perkara yang mudah. Setiap malam menjadi ujian kesabaran yang membakar, sebuah pergulatan batin untuk mengendalikan hasrat yang kian membuncah pekat di balik kelambu jati.

Pagi hari itu, sang surya memancarkan sinar yang hangat, menembus sela-sela jendela kayu kamar utama. Larasati berdiri anggun di depan cermin marmer besar, bersiap untuk mengenakan kebaya katun tipis sewarna gading. Fisiknya di usia kandungan empat bulan ini tampak mengalami perubahan yang teramat memikat. Tubuh remajanya kini kian berisi, montok, dan memancarkan aura keibuan yang ranum. Kulit kuning langsatnya tampak lebih bersih dan berseri, seolah dialiri darah baru yang membawa kehidupan.

Baskoro melangkah mendekat dari arah belakang. Pria itu sudah rapi dengan lurik gelapnya, namun langkahnya tertahan sejenak saat memandangi siluet istrinya dari pantulan cermin. Matanya yang sedalam sumur tua menggelap, menatap lekuk tubuh Larasati yang kian matang dengan indah, terutama perutnya yang kini mulai membulat kecil di balik lilitan kain jarik longgarnya.

Baskoro mengulurkan tangannya yang besar untuk membantu Larasati merapikan kancing kebayanya. Namun, saat jemarinya bergerak ke pergelangan tangan istrinya untuk merapikan letak gelang emas pahat melati pemberiannya, gerakan Baskoro mendadak terkunci.

Gelang emas itu tampak melingkar ketat, sedikit menekan kulit pergelangan tangan Larasati yang kini kian berisi.

"Laras..." bisik Baskoro. Suaranya terdengar lebih berat dan parau dari biasanya. Jempol tangannya yang kasar mengusap perlahan kulit di sekitar gelang emas tersebut. "Gelang ini... tampaknya sudah mulai kekecilan untukmu, Nduk."

Larasati mendongak, menatap pantulan mata suaminya di cermin sambil tersenyum manis. Rona merah alami langsung terbit di pipinya yang ranum. "Inggih, Mas Baskoro. Sepertinya tubuh kulo memang kian melar sejak mengandung. Bukan hanya pergelangan tangan, jarik-jarik kulo pun sudah banyak yang mboten muat lagi jika diwiru seketat dulu."

Baskoro menelan ludahnya yang terasa kering. Hawa maskulin yang pekat memancar saat ia merapatkan tubuhnya ke punggung Larasati, membiarkan dadanya yang bidang merasakan kehangatan punggung istrinya, meski ia menahan diri untuk tidak memeluknya terlalu erat. "Itu tanda anak kita tumbuh dengan subur di dalam sana, Laras. Tubuhmu... tubuhmu justru tampak jauh lebih indah dan memikat daripada sebelumnya."

Larasati merasakan embusan napas panas Baskoro menerpa tengkuknya, membuat bulu kuduknya meremang lembut. Ia bisa menangkap kilat hasrat yang tertahan sangat dalam dari sepasang mata suaminya. "Mas... Anda sudah menatap kulo seperti itu sejak beberapa minggu lalu. Apakah... apakah begitu tersiksa menuruti nasehat Mbah Mijil?"

Baskoro terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar payah. Ia melepaskan tangannya dari gelang emas Larasati, lalu berbalik memunggungi cermin untuk menyembunyikan gejolak yang mulai memburu dadanya. "Jangan ditanya, Nduk. Setiap malam berbaring di sampingmu, menghirup wangi rambutmu, namun tidak bisa menyentuhmu seutuhnya... itu adalah hukuman paling berat bagi suamimu ini. Namun, demi keselamatan benih kita, aku akan menahan batu gunung ini sekuat yang kubisa."

Larasati menatap punggung tegap suaminya dengan rasa iba sekaligus kasih sayang yang mendalam. Ia tahu betul betapa stamina dan gairah pria paruh baya itu sangat besar, dan menahannya selama empat bulan demi dirinya adalah bukti cinta yang teramat agung.

Malam harinya, hawa pegunungan turun dengan teramat beringas. Dinginnya udara menusuk hingga ke sela-sela dinding kayu joglo, memaksa gerimis tipis di luar berubah menjadi embun beku yang pekat. Di dalam kamar utama, lampu teplok minyak menyala temaram, menciptakan suasana yang begitu lekat, sunyi, dan intim di balik kelambu sutra yang telah diturunkan rapat.

Larasati berbaring miring di atas kasur kapuk yang empuk, berselimut kain jarik sidomukti tebal. Di sampingnya, Baskoro berbaring telentang. Pria itu hanya mengenakan selembar kain sarung, membiarkan dada bidangnya yang kekar terbuka bebas. Napas Baskoro terdengar berat dan tidak beraturan. Ketegangan di dalam kamar itu terasa mencekam; hasrat Baskoro yang telah tertahan selama empat bulan penuh kini bagai bara dalam sekam, berkobar hebat hanya karena mencium aroma wangi minyak cem-ceman dan cendana yang menguar dari tubuh Larasati yang berada sangat dekat.

Baskoro memejamkan matanya rapat-rapat, rahang tegasnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang. Ia mencoba mengalihkan pikirannya pada pembukuan tebu bulak barat, namun setiap kali Larasati bergerak halus di sampingnya, derak ranjang jati kuno itu seolah memicu debar jantungnya untuk berpacu lebih cepat.

Melihat suaminya yang tampak tersiksa dalam diam, Larasati tidak tega. Jiwa remajanya yang kini kian matang sebagai seorang istri memberanikan diri. Ia menggeser tubuhnya mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga kulit lengan mereka yang hangat saling bersentuhan.

Larasati mengulurkan tangan kecilnya, dengan perlahan menaruh telapak tangannya di atas dada bidang Baskoro yang naik-turun memburu. "Mas Baskoro... Anda belum tidur?" bisik Larasati lirih, suaranya mengalun lembut memecah keheningan malam yang beku.

Baskoro membuka matanya, menoleh ke samping. Tatapan matanya yang menggelap dan sarat akan kabut asmara langsung mengunci wajah Larasati. "Bagaimana aku bisa tidur, Laras... jika raga yang teramat kurindukan ini berada tepat di depan mataku, menebarkan wangi yang membuat seluruh darahku bergejolak panas?"

Larasati menatap mata suaminya dengan ketulusan yang murni. Ia menggeser tangan kecilnya naik ke atas, mengusap rahang kaku Baskoro dengan jemarinya yang lembut, lalu memberanikan diri mengecup bibir hangat suaminya dengan sebuah kecupan yang lambat, manis, dan sarat akan godaan samar.

Sentuhan bibir yang lembut itu seketika meruntuhkan pertahanan luar Baskoro. Pria paruh baya itu mengerang rendah, "Nggghhh...", tangan besarnya refleks bergerak cepat menggenggam pinggang Larasati, menarik tubuh istrinya agar menempel lebih erat pada tubuhnya yang panas memburu. Baskoro membalas kecupan itu dengan ritme yang dalam dan menuntut, meluapkan sisa-sisa dahaga yang ia pendam selama seratus dua puluh malam.

Napas mereka seketika berburu panas di balik temaram kelambu. Namun, tepat ketika hasrat kelaki-lakiannya nyaris mengambil alih kendali tubuhnya untuk melakukan penyatuan yang lebih jauh, Baskoro mendadak menghentikan ciumannya. Ia menarik kepalanya mundur dengan napas yang tersengal-sengal panjang, dahinya bersandar pada dahi Larasati. Tangan besarnya yang berada di pinggang Larasati bergetar hebat, menahan diri dengan segenap sisa akal sehatnya.

"Mboten, Laras... mboten boleh..." bisik Baskoro parau, suaranya terdengar sangat serak dan payah. "Kandunganmu... rahimmu masih terlalu muda untuk menerima kegarangan tubuhku. Aku tidak boleh egois. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada janin di perutmu."

Larasati menatap suaminya dengan mata yang sayu dipenuhi kabut gairah yang sama. Ia merasakan betapa jantung Baskoro berdegup sangat kencang di bawah telapak tangannya, dan betapa raga suaminya bergetar hebat menahan siksaan hasrat demi calon anak mereka. Rasa takzim dan cinta Larasati kian melambung tinggi melihat kendali diri suaminya yang begitu agung.

Larasati tersenyum sangat teduh, mengusap sisa peluh yang muncul di dahi Baskoro akibat menahan gejolak batin. "Mas Baskoro... suamiku yang perkasa. Kulo paham. Kulo teramat bangga memiliki suami yang begitu menjaga benihnya. Tetapi... malam ini, biarkan kulo memanjakan Anda dengan cara yang lain, Mas. Raga kulo mungkin belum boleh menerima Anda seutuhnya, namun tangan dan bibir istri Anda ini sepenuhnya milik Anda untuk meredakan badai itu."

Di balik kelambu jati yang semakin pekat oleh uap kehangatan raga, sumpah kendali diri yang semula dipegang teguh oleh Baskoro perlahan melunak, bukan karena ego yang memaksakan kehendak, melainkan karena undangan kelembutan Larasati yang teramat tulus menantang ketahanannya. Napas pria empat puluh tahun itu kian memberat, memburu pendek-pendek di atas pucuk kepala istrinya.

Melihat bagaimana raga suaminya yang kokoh bagai soko guru pendopo itu terus bergetar hebat menahan siksaan dahaga, Larasati menggeser tubuh mungilnya lebih merapat. Selimut jarik sidomukti yang menutupi dada mereka perlahan tersingkap, menampakkan kemben putih Larasati yang kian meregang ketat membungkus dadanya yang kian ranum.

"Mas... Mas Baskoro..." bisik Larasati lirih, napasnya yang hangat mengalir menyapu dagu berjanggut tipis suaminya. Jemari kecilnya yang mengenakan gelang emas melati yang mulai ketat itu dengan berani menelusuri otot-otot dada Baskoro yang basah oleh peluh penahanan. "Jangan menyiksa diri Anda seperti ini. Kulo... kulo mboten tega. Asalkan Anda perlahan... kulo ikhlas menyerahkan seluruh raga kulo untuk meredakan badai Anda."

Baskoro mengerang rendah, sebuah suara bariton yang sarat akan kabut asmara yang paling pekat. Kelembutan dan kepasrahan Larasati di usia kandungan empat bulan ini justru menjadi pemantik gairah yang jauh lebih dahsyat daripada malam-malam sebelumnya. Hasrat yang terpendam selama seratus dua puluh malam itu membuncah laksana air bah yang meruntuhkan tanggul jati di dalam dadanya.

"Laras... Nduk..." Baskoro berbisik parau, matanya yang sedalam sumur tua sepenuhnya menggelap. Pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya, mengurung kembali siluet mungil istrinya di bawah raga kekarnya, namun kali ini dengan tumpuan kedua sikutnya yang kokoh di sisi kepala Larasati, memastikan perut membulat kecil istrinya sama sekali tidak tertekan.

Dengan sangat telaten dan penuh takzim, Baskoro menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam kecupan yang mula-mula lambat namun kian mendalam, menuntut, dan menguras sisa pasokan udara di dalam rongga kelambu. Tangan besarnya merayap turun, melepas simpul kemben putih Larasati hingga kain itu terurai di atas kasur kapuk, menyingkap keindahan raga sang permaisuri yang kini kian montok dan matang oleh aura keibuan.

Ketika penyatuan yang sah itu akhirnya dimulai kembali setelah berbulan-bulan lamanya, Baskoro benar-benar mengerahkan seluruh pengalaman dan kematangannya sebagai pria dewasa untuk menjaga keselamatan janin di rahim belia Larasati. Gerakannya diatur dalam ritme yang teramat lambat, konstan, namun sarat akan penekanan yang dalam dan intens, menciptakan posisi-posisi intim yang menuntut Larasati untuk terus terjaga dan bersandar seutuhnya pada kekuatan fisik suaminya.

"Ahhh... nggghhh... Mas... Mas Baskoro..." Larasati mendesah panjang, kepalanya mendongak dengan urat-urat leher yang menegang halus. Kedua tangannya mencengkeram erat bahu kekar Baskoro, merasakan gesekan kulit mereka yang basah oleh peluh asmara. Sensasi panas yang asing namun teramat nikmat menjalar dari bagian terdalam rahimnya, mengusir dinginnya hawa pegunungan di luar dinding joglo.

Baskoro menahan napasnya, rahangnya mengeras menahan diri agar stamina primanya tidak meledak terlalu cepat. "Nggghhh... sabar, Nduk... katakan padaku jika ini terlalu berat untukmu..." desah Baskoro parau tepat di sela-sela ceruk leher Larasati, meninggalkan kecupan-kecupan basah yang menandai kembali otoritas kepemilikannya.

"Mboten, Mas... ahhh... hhh... kulo... kulo kuat... teruslah, Mas..." rintih Larasati di antara napasnya yang tersengal-sengal pendek. Dada remajanya yang kembang-kempis beradu dengan bidangnya dada Baskoro, menciptakan keselarasan gerak di atas derak halus ranjang jati kuno yang bergoyang ritmis mengiringi malam.

Pergulatan asmara yang penuh kendali namun membakar itu berlangsung teramat panjang, melintasi jam-jam sunyi pegunungan menjelang fajar. Stamina fisik Baskoro yang luar biasa kokoh seolah membuktikan bahwa usia kepala empat tidak mengurangi sedikit pun keperkasaannya sebagai penguasa jagat Joglo. Ia menuntun raga Larasati dalam tempo yang menyulitkan namun memabukkan, memaksa istri mudanya untuk memasrahkan seluruh jiwanya hingga tak berdaya di bawah kuasanya.

Hingga akhirnya, sebuah dorongan pamungkas yang teramat dalam dan penuh penekanan membawa mereka pada titik pelepasan tertinggi. Baskoro menggeram rendah dan panjang, membenamkan wajahnya di rambut panjang Larasati yang harum minyak cem-ceman saat seluruh kehangatan dirinya tumpah sepenuhnya, membasahi rahim suci permaisurinya, mengunci benih yang sedang tumbuh di sana dengan segel asmara yang abadi.

Larasati sendiri hanya mampu mengeluarkan desahan panjang yang lemas, "Ahhhh...", sebelum akhirnya terkulai pasrah dengan sisa-sisa napas yang berkejaran, merasakan kebahagiaan dan kedamaian murni yang kian mengikat erat takdir mereka di atas bukit Joglo.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!