Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Suasana di dalam mobil kembali hening setelah mereka meninggalkan rumah Arya. Lampu jalan yang berlalu-lalang menerangi wajah Alya yang terlihat tegang. Ia duduk diam, tangan saling menggenggam di pangkuan, sesekali melirik ke ponselnya yang sudah dimatikan sejak tadi.
Arya yang sejak tadi menahan rasa penasaran akhirnya membuka suara. Matanya tetap fokus ke jalan, tapi sesekali ia melirik ke arah Alya.
“Kenapa tidak diangkat tadi? Siapa tahu penting,” tanyanya pelan, nada suaranya tenang namun penuh dugaan.
Alya menggeleng cepat, masih menatap ke luar jendela. “Tidak apa-apa. Nggak penting kok.”
Jawaban itu lagi-lagi terdengar datar dan tertutup.
Arya mengerutkan kening. Ia semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita di sampingnya.
Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Keheningan di antara mereka dipenuhi pertanyaan yang tidak terucap. Arya terus mengemudi dengan stabil, sementara Alya semakin gelisah semakin dekat dengan rumahnya.
Akhirnya, mobil yang dikemudikan Arya tiba di depan rumah Alya. Lampu teras rumah mungil itu menyala redup. Arya memperlambat kendaraan, lalu menghentikannya di tepi jalan.
Namun sebelum Alya sempat membuka pintu, Arya menyipitkan matanya. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil hitam yang terparkir diam di depan pagar rumah Alya.
Mobil itu terlihat mewah, meski tidak semewah mobilnya, dan posisinya tepat menghadap ke arah rumah.
“Sepertinya ada tamu,” ucap Arya pelan, suaranya terdengar lebih waspada. Ia menatap mobil hitam itu beberapa detik lebih lama, seolah mencoba mengingat apakah pernah melihatnya sebelumnya.
Alya yang juga melihat mobil tersebut langsung memucat. Jantungnya berdetak kencang. Ia buru-buru membuka sabuk pengaman, gerakan tangannya sedikit gemetar.
“Terima kasih, Arya. Aku turun dulu. Kamu hati-hati di jalan pulangnya,” ucapnya cepat, hampir terburu-buru.
Tanpa menunggu jawaban, Alya langsung membuka pintu dan turun dari mobil.
Bugh....
Ia menutup pintu dengan sedikit keras, lalu berjalan cepat menuju pagar rumah tanpa menoleh ke belakang.
Arya masih duduk di balik kemudi, mengamati kepergian Alya dengan kening berkerut. Sesuatu terasa tidak beres. Mobil hitam itu, reaksi Alya yang tiba-tiba panik, dan telepon yang tidak diangkat tadi… semuanya terhubung di kepalanya.
Arya tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia tetap duduk di sana, memandangi Alya yang masuk ke halaman rumah, seolah ingin memastikan wanita itu aman. Baru setelah pintu rumah tertutup, ia menghela napas panjang dan pelan-pelan menjalankan kendaraannya.
Malam itu, rasa penasaran Arya semakin menjadi. Dan di balik pintu rumah mungil Alya, sesuatu yang tidak diinginkan mungkin sedang menunggu.
*****
Ceklek……
Pintu rumah sederhana itu tertutup di belakang Alya. Ia melangkah masuk dengan langkah yang masih sedikit gemetar. Aroma familiar rumahnya langsung menyambut, tapi suasana di ruang tamu terasa berbeda lebih tegang, lebih berat.
Begitu matanya menangkap sosok pria yang berdiri dari sofa, wajah Alya langsung memerah. Bukan karena malu, melainkan karena marah dan kaget yang bercampur aduk. Yoga. Mantan suaminya. Pria yang seharusnya sudah lama tidak lagi muncul di hidupnya, kini duduk santai di ruang tamunya seolah masih memiliki hak untuk berada di sana.
Di sudut ruangan, ibu Alya terlihat berdiri dengan wajah canggung. Wanita paruh baya itu segera memilih menyingkir.
“Mama ke dapur dulu,” ucapnya pelan, lalu cepat-cepat pergi, membiarkan putrinya dan mantan menantunya mengobrol berdua.
Yoga tersenyum tipis, mencoba terlihat ramah. Ia bangkit sepenuhnya dari sofa, merapikan kemejanya. “Alya, kamu baru pulang. Aku dari tadi terus menghubungi kamu, tapi tidak kamu angkat. Aku khawatir.”
Alya tidak membalas senyum itu. Ia menutup pintu dengan lebih keras dari biasanya, lalu berdiri tegak di dekat pintu, menjaga jarak. Tatapannya dingin. “Tidak usah basa-basi. Mau apa kamu ke sini?” suaranya tegas, tanpa basa-basi, tanpa ramah tamah.
Yoga terdiam sejenak, seolah tidak menyangka sambutan yang begitu dingin. Ia menghela napas, lalu melangkah satu langkah mendekat. “Aku cuma ingin bicara. Tentang kita. Tentang masa lalu. Aku sudah berubah, Alya. Aku—”
“Berhenti,” potong Alya tajam. Ia mengangkat tangan, menghentikan langkah Yoga. “Tidak ada kita lagi. Sudah selesai. Kamu tidak punya hak datang ke rumah ini tanpa pemberitahuan. Apalagi duduk di sofa seolah kamu penghuni rumah ini"
Suasana di ruang tamu menjadi sangat tegang. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang tiba-tiba terasa sangat keras. Alya masih berdiri di dekat pintu, seolah siap membuka kembali pintu itu dan mengusir Yoga kapan saja.
Sementara Yoga menatapnya dengan ekspresi campur aduk, penyesalan, harapan, dan sedikit kecewa.
Yoga tidak peduli dengan amarah Alya. Ia tetap melangkah mendekat, mengabaikan jarak yang sengaja dijaga oleh mantan istrinya. Wajahnya memperlihatkan ekspresi khawatir yang dipaksakan, seolah benar-benar peduli.
“Kamu pulang diantar siapa? Kenapa tidak memberitahuku? Kalau aku tahu, aku bisa menjemputmu,” cerocosnya terus, suaranya penuh nada merayu yang justru membuat Alya semakin kesal. “Aku kan masih peduli sama kamu. Kita pernah menikah, Alya. Aku pantas tahu kamu di mana.”
Alya memandanginya dengan tatapan muak yang tidak disembunyikan. Dulu, saat mereka masih bersama, Yoga tidak pernah sepeduli ini. Bahkan ketika Alya sakit, kelaparan, atau kelelahan bekerja sendirian menafkahi rumah tangga, pria itu lebih sering sibuk dengan urusannya sendiri. Sekarang, tiba-tiba muncul dan berpura-pura menjadi suami yang baik? Sungguh menyebalkan.
“Tidak usah sok peduli,” potong Alya tajam. Suaranya dingin dan penuh penolakan. Ia mengangkat tangan, menunjuk lurus ke arah pintu rumah. “Lebih baik sekarang kamu pergi dari rumahku. Sekarang juga.”
Yoga berhenti di tengah langkah. Senyum tipisnya menghilang, digantikan ekspresi kecewa yang agak tersinggung. “Alya, jangan seperti ini. Aku datang dengan niat baik. Aku sudah berubah. Aku mau memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai lagi"
“Tidak,” Alya memotong tegas sebelum Yoga menyelesaikan kalimatnya. Ia melangkah menyamping, membuka jalur menuju pintu, seolah memaksa Yoga untuk lewat di situ. “Tidak ada yang perlu diperbaiki. Kamu sudah tidak punya tempat di hidupku. Pergi.”
Suasana di ruang tamu semakin tegang. Alya berdiri tegak, dagu terangkat, tatapannya tidak gentar. Sementara Yoga masih mencoba mencari celah, tapi setiap kata yang keluar dari mulut Alya terasa seperti tembok yang semakin tinggi.
Dari dapur, Fitri hanya bisa menguping dengan khawatir, tidak berani masuk.
Dan di luar, jauh di ujung jalan, Arya yang belum benar-benar pergi masih memandangi rumah itu dari kejauhan, firasatnya semakin tidak enak.
Alya menatap Yoga tanpa berkedip. “Aku tidak akan bilang dua kali. Keluar dari rumahku.” usir Alya.
"Oke, aku akan pergi dari sini. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya" ucap Yoga dengan tatapan penuh harap.
jangan zelia sudah biasa dengan banyak lelaki... 🤦♀️🤦🏻♀️🤦♀️🤦🏻♀️😡😡😡😡
semoga Keysa baik- baik saja... 😥😥😥
Semangat melebihi Pejuang 45 Keeyy... 🥰🥰🥰👍🏻👍👍🏻💙💛💙😘😘😘