Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Yang Menetap
Suasana ruang tengah malam itu terasa begitu intim. Suara detak jam dinding berpadu samar dengan desau angin yang masuk dari celah pintu balkon yang terbuka sedikit. Yeza memutar-mutar cangkir kopinya yang mulai mendingin, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mencairkan keheningan.
"Max," panggil Yeza pelan, menatap pria yang kini tampak begitu relaks di atas sofanya. "Boleh aku bertanya sesuatu? Maksudku... hal yang sedikit personal. Jika kamu tidak keberatan."
Max menoleh, menatap Yeza dengan sorot mata teduh. "Tanyakan saja. Tidak ada yang perlu disembunyikan darimu."
Yeza menarik napas pendek. "Selama ini, media selalu menggambarkanmu sebagai sosok yang sangat tertutup tentang keluarga. Dan... beberapa bulan lalu, internet sempat gempar karena isu pertunanganmu dengan seorang wanita misterius yang katanya meninggalkanmu ke Paris. Apakah... semua berita itu benar?"
Mendengar pertanyaan itu, senyum tipis di bibir Max perlahan memudar, digantikan oleh tatapan menerawang yang dalam. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa, menatap langit-langit apartemen.
"Tentang keluargaku, media tidak sepenuhnya salah," ujar Max dengan suara baritonnya yang terdengar sedikit parau. "Ayah dan ibuku bercerai sejak aku masih remaja. Ayahku seorang pebisnis yang menetap di London, dan ibuku memilih tinggal di Bali bersama keluarga barunya. Sejak usia delapan belas tahun, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Industri hiburan ini adalah caraku membangun duniaku sendiri tanpa bayang-bayang mereka."
Yeza mendengarkan dengan takzim. Rasa empati langsung menyergap dadanya. Di balik kemewahan dan nama besar yang dimiliki Max, ternyata pria ini menyimpan kesepian yang teramat sangat sejak muda.
Max kemudian menunduk, memutar gelas kacanya perlahan sebelum melanjutkan. "Dan tentang isu pertunangan itu..." Max terkekeh sinis, namun bukan karena marah pada Yeza, melainkan pada rumor tersebut.
"Wanita misterius yang disebut media itu bernama Laura. Dia bukan tunanganku, Yeza. Dia adalah anak dari rekan bisnis ayahku di London," jelas Max, meluruskan informasi yang selama ini simpang siur. "Ayahku dan ayahnya mencoba menjodohkan kami beberapa bulan lalu untuk kepentingan bisnis. Aku menolak keras, begitu juga dengan Laura. Dia memiliki mimpinya sendiri di dunia fashion, dan dia memang memilih pergi ke Paris untuk melanjutkan sekolah desainer, bukan meninggalkanku patah hati seperti yang digosipkan berita-berita miring itu."
Max mengalihkan pandangannya, menatap tepat ke dalam manik mata bulat Yeza. Jarak di antara mereka seolah terkikis oleh kejujuran yang baru saja terucap.
"Aku tidak pernah bertunangan dengan siapa pun, Yeza. Dan hatiku... tidak sedang tertinggal di Paris pada wanita mana pun," ucap Max tegas, dengan penekanan tersembunyi yang membuat jantung Yeza mendadak melewatkan satu detaknya.
Pertanyaan terakhir Max yang sarat akan penekanan tersembunyi sempat membuat keheningan kembali merayap di antara mereka. Yeza masih mencoba menata debaran di dadanya saat Max tiba-tiba mengubah posisi duduknya. Pria itu memiringkan tubuh, menopang wajahnya dengan satu tangan di sandaran sofa, dan menatap Yeza lekat-lekat.
"Lalu," Max berdeham pelan, suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. "Bagaimana dengan kamu? Bagaimana hubunganmu dengan... Jeff?"
Mendengar nama itu diucapkan oleh Max, Yeza tersentak kecil. Cangkir kopi di genggamannya perlahan ia letakkan di atas meja. Ia tidak menyangka Max akan menanyakan tentang Jeff—pria dari masa lalunya yang sempat memberikan bayang-bayang kelam dalam hidupnya.
Yeza mengembuskan napas perlahan, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Hubunganku dengan Jeff sudah benar-benar selesai, Max. Jauh sebelum aku menerima tawaran pekerjaan darimu."
"Selesai?" tanya Max memastikan, sorot matanya tampak menuntut penjelasan lebih, seolah ingin memastikan tidak ada lagi benang kusut yang bisa melukai gadis di depannya ini.
"Iya," Yeza mengangguk, mencoba tersenyum tipis meski ada sedikit kilat kesedihan yang melintas di matanya. "Jeff adalah masa lalu. Kami dulu memang sempat dekat, tapi... hubungan itu menjadi sangat beracun (toxic). Dia tidak pernah mendukung impianku di dunia kecantikan, selalu mengekangku, dan puncaknya adalah ketika dia mencoba memanfaatkan apa yang aku miliki untuk kepentingannya sendiri."
Yeza mendongak, menantang langsung tatapan mata elang Max yang sedang menyimak dengan serius.
"Pergi dari lingkungan itu dan memulai hidup baru di sini adalah keputusanku yang paling benar. Aku tidak ingin lagi menengok ke belakang. Jadi, jika kamu khawatir hubungan masa laluku akan mengganggu pekerjaanku sebagai MUA pribadimu, aku bisa menjamin itu tidak akan terjadi, Max," jelas Yeza dengan nada tegas namun lembut.
Max terdiam beberapa saat, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mungil Yeza. Ada rasa lega yang luar biasa yang tiba-tiba mengalir di dalam dadanya, menyapu bersih rasa penasaran dan kecemburuan tersembunyi yang sempat mengusik pikirannya sejak mendengar nama pria itu dari informasi Bram.
Perlahan, Max mengulurkan tangannya di atas meja, hampir menyentuh jemari Yeza namun ia urungkan, hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter yang terasa hangat.
"Aku tidak meragukan profesionalitasmu, Yeza," ucap Max dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Aku hanya ingin memastikan... bahwa pria itu tidak akan pernah bisa mengusik ketenanganmu lagi di sini. Kamu aman."
"Terima kasih, Max," ucap Yeza tulus.
Suaranya begitu lembut, berbaur dengan keheningan malam yang kian larut. Sepasang mata bulatnya menatap Max dengan binar rasa syukur yang mendalam. Kata-kata Max barusan bukan sekadar kalimat penenang bagi Yeza, melainkan sebuah jaminan keselamatan dan kenyamanan yang belum pernah ia dapatkan dari pria mana pun di masa lalunya. Bersama Max, di lantai sepuluh apartemen ini, Yeza merasa benar-benar dihargai dan dilindungi.
Max yang mendengar ucapan terima kasih tulus itu hanya memberikan senyuman tipis—senyuman langka yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang tertentu, dan kini sepenuhnya menjadi milik Yeza.
"Sama-sama. Sudah malam, sebaiknya kamu segera tidur. Besok pagi jadwal kita cukup padat," ujar Max sembari berdiri dari sofanya dan meraih gelas kaca miliknya yang sudah kosong.
"Iya, Max. Kamu juga harus istirahat," jawab Yeza ikut berdiri, mengantar bosnya itu berjalan menuju pintu depan.
Begitu pintu apartemen terbuka, Max sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia berbalik sebentar, menatap Yeza yang berdiri tegak dengan wajah yang jauh lebih rileks dibanding beberapa jam lalu.
"Selamat malam, Yeza," bisik Max pelan.
"Selamat malam, Max," balas Yeza dengan senyum manisnya.
Pintu apartemen 10B akhirnya tertutup rapat dan terkunci otomatis. Yeza bersandar di balik pintu, memegangi dadanya yang kini berdegup dalam irama yang menenangkan, bukan lagi debaran panik seperti siang tadi. Perasaan asing itu kian nyata, menetap erat di hatinya.
Di seberang lorong, Max melangkah masuk ke unitnya sendiri dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Malam yang semula ia perkirakan akan berjalan melelahkan karena insomnia, ternyata ditutup dengan sebuah obrolan hangat yang menepis seluruh gejolak gelisah di dadanya.