Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 mendekat
Biel asyik meracik minuman pesanan pelanggan yang duduk di hadapannya ketika Samy datang mendekat kepadanya.
" kau lihat seseorang yang duduk di pojok sana Be...?! " tanya Samy sambil menunjuk arah yang ia tuju dengan bola matanya.
Biel mengikuti arah tunjuk Samy,
" hemm....kenapa ?! "
" sepertinya dia akan menjadi salah satu penggemarmu,
ku lihat sejak masuk tadi hingga saat ini ia terus menatapmu " bisik Samy lagi.
Biel hanya tersenyum tipis,
" persiapkan dirimu.... sepertinya, pangeran berkuda putihmu sudah datang " lanjut Samy lagi sambil melangkah menjauh dari Biel.
Dan lagi lagi Biel hanya tersenyum receh menanggapi ucapan sang sahabat.
Ikatan rambutnya terasa longgar,
Biel melepasnya dan kembali mengikatnya. Kali ini ia menarik rambutnya ke atas dan mengikatnya asal.
Selesai dengan rambutnya, ia kembali dengan kesibukannya meracik minuman sesuai pesanan.
Sebenarnya ada sih minuman yang langsung bisa di konsumsi tanpa harus di racik lebih dulu,
Tapi kebanyakan pelanggan di club ini minta untuk di buatkan minuman yang di racik lebih dulu dan sesuai dengan minuman yang mereka inginkan.
Itulah sebabnya kenapa bar ini memiliki beberapa bartender seperti Biel saat ini.
" ekhem......"
Deheman seseorang membuat Biel menoleh kepada seseorang itu.
" ada yang bisa aku bantu bos ?! " tanya Biel dengan tersenyum ramah.
Bersikap ramah tapi tidak murahan adalah pilihannya saat bekerja di club ini.
" yang sedikit kuat tapi soft ...ada ?! " jawab seseorang itu yang tidak lain adalah Erick.
Setelah memperhatikan cukup lama dan setelah memastikan Biel tak lagi menerima banyak pelanggan,
Ia mendekat.
" ok ...tunggu sebentar " jawab Biel. Tak lama setelah berucap demikian,
Gadis itu mulai meracik minuman yang di minta Erick.
Erick terus menatap kepada Biel tanpa berkedip,
Sungguh ia merasa tak asing dengan wajah itu, ia seakan pernah berada begitu dekat dengan wajah itu.
Namun ia lupa di mana ia pernah melihat wajah itu.
" minuman anda boss ...semoga suka, sedikit kuat tapi tetap soft " ucap Biel sambil meletakkan minuman yang baru saja ia buat ke hadapan Erick.
Ia tidak sadar jika laki laki itu terus memperhatikannya sejak tadi.
Erick menerima minuman itu dan kemudian sedikit menyesapnya,
Good....
Ia suka rasanya, benar benar seperti yang dia inginkan.
" luar biasa .....rasanya sungguh sesuai seperti yang ku inginkan " ucap Erick mengapresiasi Biel.
Biel tersenyum tipis,
" boleh aku bertanya sesuatu padamu ?! " tanya Erick kemudian,
Biel mendongak dan menatap Erick.
" tanya saja "
" apa kita pernah bertemu sebelumnya ?! Aku merasa tidak asing dengan mu " ucap Erick.
Biel kian mendongak dan menajamkan tatapannya kepada Erick yang duduk di hadapannya.
Mata keduanya saling bertemu, tapi sayang .....
pencahayaan yang remang remang tak cukup membuat keduanya saling mengenali satu dengan yang lainnya.
" mungkin kau benar.....kita mungkin memang pernah bertemu boss,
atau kau bertemu dengan orang yang kebetulan sama denganku.
Aku dengar...
ada tujuh kembaran kita di dunia ini,
Dan mungkin kau bertemu dengan salah satu kembaranku itu " jawab Biel cuek.
Erick tersenyum tipis mendengar jawaban gadis di hadapannya itu dan kembali menenggak minumannya sedikit demi sedikit.
" ya kau benar nona .....mungkin aku hanya bertemu dengan orang yang sama denganmu, tapi itu bukan kamu " jawab Erick kemudian masih dengan tertawa kecil.
Biel pun sama, ia tersenyum tipis....
Ia hendak berlalu meninggalkan Erick karena seseorang memanggilnya di sana.
glek...
Erick tiba tiba menenggak habis minumannya,
" minumanku habis,
bisa kau buatkan aku satu gelas lagi ?! " ucapnya sambil mendorong gelas kosongnya ke hadapan Biel dan sukses menghentikan langkah gadis itu yang akan pergi dari hadapannya.
Biel menatap gelas kosong di hadapannya sejenak,
tak lama ia hanya mengedikkan bahunya sambil mencebik.
" ok ...
sesuai yang kau inginkan, tunggu sebentar " jawab Biel meraih gelas kosong Erick.
Melihat gadis di hadapannya itu terkesan memprioritaskan dirinya, Erick tersenyum kecil.
Diam diam ia menertawakan dirinya sendiri.
Hampir 29 tahun sudah usianya kini,
Dan baru kali ini ia merasa ingin tahu dan ingin mendapatkan perhatian dari seorang gadis.
Selama ini, tak sekalipun ia pernah merasakan hal seperti itu.
Hingga kakek dan neneknya yang merawatnya selama ini merasa khawatir padanya.
" minumanmu tuan....." ucapan Biel membuyarkan lamunannya.
" cepat sekali,
sepertinya kau benar benar sudah profesional nona...." ucap Erick
" ini pekerjaanku boss....tentu aku harus profesional " jawab Biel dan Erick mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban gadis di hadapannya itu.
" Bee....!! " sebuah panggilan membuat perhatian Biel teralih dari Erick,
Dan sama seperti Biel, Erick juga menoleh kearah sumber suara.
Tapi berbeda dengan Biel yang langsung berlalu dan mendekat ke arah sosok yang memanggilnya,
Erick hanya bisa duduk dengan dua bola menatap kepergian Biel dari hadapannya. Entah kenapa ada setitik rasa tak rela ketika gadis itu pergi dan berlalu darinya.
" ada apa bos ?! Kau tertarik dengan gadis itu ?! " tanya Aris yang tiba tiba telah berada di belakang sang bos sambil menepuk pundak bosnya itu.
" tidak...biasa saja " jawab Erick menampik dengan tatapan mata masih tertuju kepada Biel di sana yang saat ini tengah nampak asyik berbincang dengan seseorang dengan begitu akrabnya.
Walau nampak berbincang serius, tapi mereka nampak hangat karena perbincangan mereka yang masih di selingi tawa.
" jika benar begitu, kenapa melihatnya sampai seperti itu ?! " cecar Aris seolah tak percaya dengan jawaban sang bos.
Erick menoleh kepada Aris, dengan kening yang berkerut.
" apa yang kau pikirkan ?!
aku hanya merasa seperti tidak asing dengan nya.....
itu saja " jawab Erick tiba tiba dengan nada ketus.
Aris yang menerima jawaban ketus dari Erick akhirnya mencebikkan bibirnya sambil manggut manggut kecil.
" ok...aku percaya pada ucapanmu bos, mungkin aku salah sangka...."
" salah sangka ?! Memang apa yang kau sangkakan ?! " cecar Erick sambil memutar duduknya dan menghadap Aris secara sempurna.
" aku sangka kau mengira dia adalah seseorang yang bertemu dengan kita di jalan dini hari waktu itu " jawab Aris kemudian.
mendengar jawaban Aris, Erick terdiam sejenak.
Tak lama ia menoleh dan menatap kembali Biel di sana.
Kali ini tatapan Erick kian tajam dan seolah menelisik ke pada Biel di sana.
kening Erick berkerut,
Jika di perhatikan dari postur tubuhnya, Erick membenarkan ucapan Aris barusan.
Sekarang ia mulai paham.....
Mungkin gadis itu memang seseorang itu, itulah sebabnya kenapa ia seperti merasa seperti pernah bertemu dengan gadis itu.
" mungkin kau benar Ris...." desis Erick pelan dengan kedua netra yang masih setia menatap kepada Biel.
Sementara itu Biel yang terlibat perbincangan serius dengan Jokey tak menyadari sama sekali jika dirinya sedang di perhatikan.
" bagaimana ?! Kau mau terima tawaran itu ?! bayarannnya tidak main main Bee ?!
tiga kali lipat.....!! "