TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL* *BAB 31: TOPENG ES DAN GEMURUH HATI*
*TOXIC AND CONTROL*
*BAB 31: TOPENG ES DAN GEMURUH HATI*
Derap langkah kaki besar Rian Pradifta yang menggema cepat di sepanjang koridor lantai tiga terasa begitu memaksa. Cengkeraman tangan kekarnya pada pergelangan tangan Kinara Jose tidak juga melonggar, menyeret tubuh mungil gadis itu melewati deretan tatapan syok murid-murid tingkat tiga yang langsung merapatkan diri ke dinding karena takut.
Kinara meronta perlahan, mencoba menyentak tangan demi menghentikan langkah brutal cowok di depannya.
"Kak Rian, lepasin! Sakit!" seru Kinara setengah berbisik sembari menggigit bibir bawahnya yang perih. Dia memutar bola matanya jengah, melirik ke arah punggung tegap Rian.
Dari posisi berjalannya yang berada di belakang, ekor mata Kinara kembali menangkap pemandangan yang teramat menggelikan. Kedua daun telinga Rian masih memerah padam, sangat kontras dengan aura dingin nan mengintimidasi yang dipancarkannya ke sekeliling koridor. Kinara mendengus pelan di dalam hati. _Dasar cowok tiran aneh, dia yang menyeret orang tapi dia sendiri yang salah tingkah sampai telinganya mau meledak begitu_, batin Kinara menggerutu kesal.
Brak!
Rian menendang pintu ganda kayu ek tebal milik basecamp hingga terbuka berdentum keras, lalu menyentak tubuh Kinara masuk sebelum menutupnya rapat-rapat, mengunci dunia luar sepenuhnya. Ruangan beraroma tembakau mahal itu tampak sepi karena Rama dan Rangga sengaja tidak ikut masuk demi memberikan privasi mutlak bagi sang tuan muda.
Rian melepaskan cengkeramannya. Dia langsung membalikkan tubuh tegapnya secepat kilat, memojokkan Kinara hingga punggung cewek itu membentur permukaan pintu kayu yang tertutup. Kedua tangan kekar Rian bertumpu kokoh di sisi kiri dan kanan kepala Kinara, mengunci total ruang geraknya murni dalam satu detik.
Atmosfer di dalam basecamp mendadak turun drastis menjadi sedingin es yang mencekam. Rian menundukkan wajah tampannya yang ditekuk datar tanpa riak emosi apa pun, menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata jernih Kinara dari balik lensa kacamata murahnya.
Padahal, di dalam dada bidangnya, jantung Rian sedang bertalu gila-gilaan bagai genderang perang yang siap merusak sisa kewarasannya. Di dalam kepalanya yang diliputi arogansi tinggi, Rian hanya dipenuhi oleh gemuruh rasa percaya diri yang teramat masif akibat kalimat kebohongan Kinara di tangga darurat tadi. Dia merasa sangat puas karena egonya diakui. Rasa kemenangan yang mutlak melonjak tinggi di sudut hatinya karena Kinara secara terang-terangan memilih dirinya dan mendepak Randy di depan matanya sendiri. Rian merasa berada di atas angin, merasa sudah memenangkan kepemilikan atas permatanya.
"Ulangi lagi," perintah Rian dengan suara baritonnya yang direndah-lembutkan namun sarat akan arogansi mutlak yang tidak menerima bantahan.
Kinara mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatap jengah ke arah wajah tampan di depannya. "Ulangi apa, sih, Kak? Minggir! Aku mau balik ke kelas, sebentar lagi bel masuk!"
"Kalimat yang kamu teriakkan di depan bajingan basket itu tadi," tekan Rian tegap, sebaris luka di sudut bibirnya mengencang seiring dengan rahang tegasnya yang mengeras samar demi menutupi rasa salah tingkahnya yang kian parah. "Katakan langsung di depanku sekarang, Pelayan."
Mendengar tuntutan konyol dari Rian, Kinara seketika membelalakkan matanya sempurna. Butuh waktu beberapa detik bagi otaknya yang polos untuk mencerna situasi gila ini. Begitu dia menyadari arah pembicaraan Rian, wajah polos Kinara seketika memerah merona hebat antara malu dan jengkel setengah mati.
_Astaga... cowok gila kontrol ini beneran kegeeran setengah mati murni karena kebohongannya di depan Randy tadi? Dia mengira Kinara benar-benar memilihnya karena suka?_
Kinara langsung menghapus sisa paranoianya, menggantinya dengan tatapan malas yang teramat jengah. Dia memutar bola matanya, menepis kasar salah satu tangan tegap Rian yang mengunci bahu kecilnya.
"Kak Rian, tolong jangan mimpi di siang bolong!" semprot Kinara ketus, menatap Rian penuh kejengkelan yang menusuk ulu hati. "Aku bicara begitu tadi murni cuma biar Kak Randy percaya dan mau menjauh dariku! Aku terpaksa berbohong demi melindunginya agar kamu tidak menghancurkan hidupnya lagi! Jadi jangan geer, aku sama sekali tidak menyukaimu, Tuan Muda!"
Zleb.
Kalimat penolakan yang teramat jujur dan telak dari bibir ranum Kinara itu seketika menghantam hancur seluruh gelembung kepuasan ego yang sejak tadi membubung tinggi di sudut hati Rian Pradifta. Logika tiraninya mendadak terasa seperti dijatuhkan dari lantai sembilan apartemennya ke atas aspal yang keras.
Wajah tampan Rian yang semula kaku sedingin es mendadak menegang kaku seketika. Rasa malu masif bercampur ego tirani yang terluka hebat langsung menyulut badai frustrasi yang luar biasa pekat di dalam batinnya. Dia baru saja ditolak mentah-mentah tepat setelah dia merasa menang telak dari saingannya.
Rian perlahan menarik tubuh tegapnya yang menjulang setinggi 188 sentimeter mundur dua langkah besar, memberikan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Sisi gengsi di rahang tegasnya mengeras kokoh hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Rian menyugar rambut hitamnya dengan kasar menggunakan tangan kanan, mencoba mati-matian menata kembali serpihan kewarasannya yang runtuh total oleh kata-kata si anak beasiswa.
"Aku tidak peduli itu kebohongan atau bukan," dusta Rian dingin, suaranya sengaja dibuat sekejam dan sedatar mungkin dari balik topeng esnya demi menutupi gemuruh hatinya yang kian patah dan perih karena penolakan itu.
Rian membalikkan tubuhnya membelakangi Kinara, menatap lurus ke arah meja biliar dengan binar mata elang yang kembali menggelap pekat penuh kepemilikan yang absolut. Namun, rasa dongkol dan dendam karena harga dirinya tergores tidak bisa diredam begitu saja. Otak gilanya langsung memikirkan cara paling menyebalkan untuk menyiksa mental gadis di depannya ini sebagai hukuman.
Rian berjalan menuju meja kaca, menyambar selembar kertas tugas besar milik sepupunya yang kuliah di jurusan sastra asing, lalu membantingnya pelan di atas meja.
"Sore ini, tugas pelayanmu bertambah," titah Rian kejam, menyunggingkan senyuman miring yang teramat tiran. "Salin seluruh teks materi ini ke dalam buku catatan utamaku sebanyak tiga kali tanpa ada kesalahan satu huruf pun. Aku mau dokumen ini selesai sebelum kamu diizinkan menjenguk ibumu di rumah sakit."
Kinara mendengus jengah. Kebiasaan lamanya setiap kali berada di dalam ruang privat basecamp langsung dia lakukan; tangan mungilnya bergerak melepas kacamata bingkai hitam murah itu lalu meletakkannya begitu saja di atas meja biliar. Tanpa kacamata pembatas tersebut, wajah jelitanya terekspos sepenuhnya di bawah sorotan lampu ruangan. Sepasang manik mata jernihnya yang indah memancarkan kilat kejengkelan yang kentara saat dia melangkah mendekat untuk melirik lembaran kertas tersebut.
Detik berikutnya, sepasang mata jernih Kinara membelalak sempurna. Di atas kertas putih itu, berjejer ribuan kosakata aneh dengan aksen tanda baca melengkung-lengkung yang sangat rumit di setiap barisnya.
"Kak Rian, kamu gila?!" jerit Kinara frustrasi, wajah polosnya tanpa kacamata memerah padam menahan dongkol yang luar biasa pekat. "Ini kan bahasa Vietnam! Aksara latinnya banyak tanda bacanya! Aku mana mengerti artinya!"
Rian sempat tertegun selama sepersekian detik saat netra elangnya kembali menangkap pesona wajah polos Kinara yang terekspos tanpa kacamata di dalam ruangannya. Detak di dadanya kembali berhantam tidak keruan, namun dengan cepat dia mengunci rahang kokohnya demi menjaga topeng esnya tetap tegak.
"Aku tidak menyuruhmu mengartikannya, Pelayan. Aku hanya menyuruhmu menyalinnya," potong Rian datar, nadanya teramat angkuh dan tidak menerima bantahan apa pun. Sisi tirani di dalam batinnya bersorak puas melihat raut penderitaan yang begitu menggemaskan di wajah jelita Kinara yang polos. Ini adalah kompensasi setimpal karena berani membuatnya kegeeran siang ini.
Rian menunjuk ke arah kursi belajar di sudut ruangan dengan dagunya. "Duduk di sana sekarang. Kerjakan, dan jangan berpikir untuk lari dari jangkauan pandanganku."
Kinara hanya bisa menghentakkan kakinya kesal bercampur jengah yang teramat sangat. Dengan hati yang menggerutu penuh sumpah serapah terhadap monster arogan di depannya, Kinara terpaksa menarik kursi, menyambar pulpennya kuat-kuat, dan mulai menyalin aksara Vietnam yang super rumit itu dengan mata jernih yang sesekali mencuri pandang ketus ke arah Rian. Di bawah kontrak tiga bulan yang mengikat erat kebebasannya, Kinara terpaksa menelan bulat-bulat kekesalannya murni demi kedamaian hidup ibunya.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk