NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13_Boneka Anabel part Akhir.

Bab 6 (Tamat): Pengorbanan Terakhir

Tap... Tap... Tap...

Dua pasang langkah kaki itu semakin dekat.

Lorong bawah tanah benar-benar tenggelam dalam kegelapan. Tidak ada lagi cahaya selain pijar merah dari mata makhluk berjubah hitam yang berdiri beberapa meter di hadapan Alena dan Anabel.

"Hehehehe..." tawa perempuan tua itu kembali terdengar. Suaranya serak dan menusuk telinga.

Perlahan, dari balik pintu kayu tua muncul seorang nenek bertubuh kurus. Rambutnya putih menjuntai hingga menyentuh lantai. Kulit wajahnya keriput, dipenuhi retakan hitam seperti tanah yang mengering. Di kedua tangannya masih melilit rantai besi berkarat.

Alena menelan ludah.

"Si... siapa kamu?" tanya Alena dengan suara bergetar. Wajahnya pucat, napasnya memburu.

Perempuan tua itu tersenyum lebar.

"Aku adalah penjaga segel yang gagal..." jawabnya lirih. Tatapannya kosong, namun menyimpan kesedihan yang sangat dalam.

Anabel membelalak.

"Nyi Sulastri..." bisiknya lirih. Air mata hitam kembali mengalir di pipinya.

Alena menoleh cepat.

"Kamu mengenalnya?" tanya Alena. Dahinya berkerut.

Anabel mengangguk perlahan.

"Dia adalah murid terakhir Ki Brata..." jawab Anabel. Suaranya bergetar.

Belum sempat mereka berbicara lagi...

"HAAAAAAAAA...!"

Makhluk berjubah hitam mengaum keras. Puluhan tangan yang keluar dari balik jubahnya melesat ke arah mereka.

"Semuanya menunduk!" teriak Ki Brata dari balik pintu. Suaranya penuh kewaspadaan.

Brak!

Puluhan tangan menghantam dinding hingga batu-batu berhamburan.

Nyi Sulastri mengangkat kedua tangannya.

"Cukup!" bentaknya. Wajahnya berubah tegas. Rantai-rantai di lengannya mendadak melayang.

Sret! Sret! Sret!

Rantai itu melilit tubuh makhluk berjubah hitam. Makhluk itu menggeram marah.

"Kau mengkhianatiku..." desisnya. Mata merahnya menyala semakin terang.

Nyi Sulastri tersenyum pahit.

"Bukan...Aku hanya sedang menebus dosaku..." ucapnya lirih. Air matanya jatuh perlahan.

Alena memandangnya dengan bingung.

"Dosa apa?" tanya Alena. Sorot matanya dipenuhi rasa penasaran.

Nyi Sulastri memejamkan mata.

"Seratus tahun lalu... akulah yang membuka segel ini karena tergoda janji kekayaan." jawabnya. Bahunya bergetar menahan penyesalan.

Alena terdiam.

"Tapi Ki Brata mengorbankan nyawanya demi menyegel kembali makhluk itu." lanjut Nyi Sulastri.

Suara Ki Brata terdengar lirih.

"Sekarang... waktunya mengakhiri semuanya." lanjutnya.

Makhluk berjubah hitam tiba-tiba tertawa.

"Hahaha...Kalian terlambat..." katanya.

Topeng batu di wajahnya retak.

Krak...Krak...

Dari balik retakan itu muncul asap hitam pekat yang berubah menjadi ratusan wajah anak-anak.

Mereka menangis. Mereka menjerit.

"Tolong kami..."

"Ibu..."

Anabel menangis histeris.

"Aku tidak sanggup melihat mereka..." ucapnya sambil memeluk bonekanya erat.

Ki Brata kembali berbicara.

"Alena!" panggil Ki Brata.

Alena langsung menoleh.

"Ada satu cara." lanjutnya.

"Apa?" tanya Alena cepat.

"Topeng itu adalah sumber kekuatannya. Kalau topeng itu dihancurkan... seluruh arwah akan bebas." katanya dengan meyakinkan.

Alena membelalak.

"Lalu bagaimana caranya?" tanyanya.

Ki Brata terdiam sejenak.

"Kau harus menusukkan belati penyegel tepat ke tengah topeng." ucap Ki Brata.

Tiba-tiba sebuah belati tua melayang keluar dari balik pintu. Belati itu mendarat tepat di depan kaki Alena.

Anabel mengambilnya.

"Ini..." ucap Anabel sambil menyerahkannya kepada Alena. Tangannya gemetar.

Alena menerima belati itu.

"Aku takut..." bisiknya. Air matanya mengalir.

Anabel tersenyum lembut.

"Aku juga takut..." ucap Anabel. Senyumnya penuh kesedihan. "Tapi kalau kita menyerah... semua anak akan tetap terperangkap di sini."

Alena mengangguk pelan.

"Baik...Aku akan mengakhirinya." kata Alena dengan penuh tekad.

Makhluk berjubah hitam mengaum keras. Puluhan tangannya kembali menyerang. Nyi Sulastri mengerahkan seluruh rantainya untuk menahan.

"Aku tidak akan sanggup lama-lama!" teriaknya. Wajahnya menahan rasa sakit.

Ki Brata ikut membacakan mantra. Seluruh lorong dipenuhi cahaya putih.

"SEKARANG, ALENA!" teriak Ki Brata.

Alena berlari sekuat tenaga.

"Aaaahhh...!" jeritan sosok sosok itu menggema di seluruh ruangan.

Puluhan tangan mencoba menangkapnya. Anabel berlari di sampingnya.

"Aku akan melindungimu!" teriak Anabel.

Boneka kecil yang dibawanya mendadak bersinar. Seluruh pecahan boneka yang hancur sebelumnya bangkit kembali. Mereka memeluk tangan-tangan hitam itu agar tidak bisa bergerak.

"Hehehe..."

Namun kali ini tawa mereka terdengar damai.

"Maju, Kak Alena..." bisik mereka bersamaan.

Air mata Alena jatuh.

"Terima kasih..." ucapnya lirih.

Dalam satu lompatan... Alena menusukkan belati itu ke tengah topeng.

CRAAASSSKKK!

Makhluk berjubah hitam menjerit sangat keras.

"TIDAAAAAK...!"

Topeng batu itu retak.

Krak...Krak...

BRAAAKKK!

Topeng itu akhirnya hancur berkeping-keping.

Seketika... Seluruh lorong dipenuhi cahaya putih yang sangat terang.

Ratusan arwah anak keluar dari tubuh makhluk itu. Mereka tidak lagi menangis, mereka tersenyum.

"Terima kasih..."

"Terima kasih..."

Suara mereka bergema lembut.

Makhluk berjubah hitam perlahan berubah menjadi debu hitam yang diterbangkan cahaya.

Tubuh Nyi Sulastri ikut memudar. Ia menatap Ki Brata sambil tersenyum.

"Akhirnya... aku bisa menyusulmu..." ucapnya haru.

Ki Brata mengangguk pelan.

"Kita sudah menunggu hari ini selama seratus tahun." lanjutnya

Kedua roh itu saling menggenggam tangan. Perlahan mereka menghilang bersama cahaya.

Anabel menatap Alena sambil tersenyum.

"Aku juga harus pergi." kata Boneka Anabel.

Alena langsung memeluknya.

"Jangan..." ucap Alena sambil menangis. Bahunya berguncang.

Anabel mengusap air mata Alena.

"Aku sudah tidak kesepian lagi." lanjutnya. "Lihat..."

Alena menoleh.

Ratusan anak kecil kini berdiri di belakang Anabel. Mereka semua tersenyum.

Anabel melambaikan tangan.

"Terima kasih karena sudah menjadi temanku." ucap sosok anak kecil itu.

Tubuhnya berubah menjadi cahaya kecil. Boneka yang selama ini dipeluknya jatuh perlahan ke lantai.

Buk...

Saat Alena mengambil boneka itu, benda tersebut telah berubah menjadi boneka biasa. Tidak ada lagi aura menyeramkan. Tidak ada lagi suara tangisan.

Beberapa saat kemudian...

Alena membuka mata. Ia sudah berada di ruang tamu rumah tua itu.

Nenek Ratih memeluknya erat.

"Syukurlah..." ucap Nenek Ratih sambil menangis bahagia.

Alena mengangguk pelan.

"Semuanya sudah selesai, Nek." kata Alena dengan wajah tenang.

Keesokan paginya, rumah tua itu akhirnya dibongkar atas izin warga desa.

Di bawah fondasinya ditemukan puluhan kerangka anak-anak yang selama ini hilang tanpa jejak.

Mereka dimakamkan secara layak. Sejak hari itu, tidak pernah lagi terdengar suara tangisan dari rumah tua tersebut. Lorong bawah tanah lenyap seolah tidak pernah ada.

Namun sebelum meninggalkan desa, Alena meletakkan boneka milik Anabel di atas makam kecil yang bertuliskan nama gadis itu.

"Selamat beristirahat, Anabel..." ucap Alena dengan senyum haru. Air mata bening mengalir di pipinya.

Tiba-tiba embusan angin lembut menerpa wajahnya.

Di kejauhan...

Ia melihat sesosok gadis kecil melambaikan tangan sambil tersenyum bahagia. Lalu perlahan menghilang bersama cahaya matahari pagi.

TAMAT

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!