Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memangnya Ada Yang Salah?
Jarum jam di dinding kafe menunjuk pukul enam sore. Cahaya matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh temaram lampu gantung kafe yang mulai menyala otomatis.
Ayara melirik jam di layar ponselnya, lalu merapikan tas kainnya. "Mas Althaf, sepertinya aku harus pamit pulang sekarang. Ini sudah mulai malam, takut Ibu cemas nunggu di rumah," ucap Ayara sopan sembari berdiri dari kursinya.
Althaf ikut berdiri, tatapannya menyiratkan keengganan untuk berpisah secepat itu. "Cepat sekali? Ayo aku antar pulang," tawar Althaf sigap.
Ayara menggeleng pelan sambil tersenyum canggung, "Nggak usah, Mas. Aku bawa motor sendiri tadi. Lagian kafe ini kan dekat dari rumahku, cuma lima belas menit naik motor," tolaknya halus, enggan merepotkan.
Mendengar jawaban itu, Althaf tidak lantas memaksa. Ia mengangguk maklum, "Yasudah kalau begitu."
Keduanya berjalan berdampingan menuju pelataran parkir kafe yang mulai lengang. Udara sore berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah sisa gerimis siang tadi.
Sesampainya di dekat barisan motor, Ayara menghentikan langkahnya tepat di sebelah sepeda motornya. Ia mengenakan helmnya, lalu menaikkan standar motor. Dengan sigap, Ayara menyalakan motornya.
Ayara sudah berusaha menyalakan motornya. Namun, yang terdengar hanyalah suara dengungan lemah sebelum akhirnya mati total.
Ayara mengerutkan kening, ia mencoba menyalakannya sekali lagi. Tetap nihil, mesin motor itu sama sekali tidak merespons.
Althaf yang sejak tadi berdiri memerhatikan di sampingnya, ikut melangkah mendekat. "Ada masalah dengan motornya?" tanya Althaf dengan nada khawatir.
"Eh? Iya, Mas. Kayaknya ada masalah di mesinnya, dari kemarin memang agak susah dinyalain," jawab Ayara sambil mencoba menyalakan motornya berulang kali dengan sisa tenaga kerjanya. Wajahnya mulai memerah karena kelelahan, namun mesin motor itu tetap enggan menyala.
Althaf memegang bahu Ayara pelan, menghentikan usaha wanita itu. "Sudah, jangan dipaksa. Biar aku coba."
Althaf mengambil alih posisi. Dengan postur tubuhnya yang tinggi, ia mencoba menyalakan motor tersebut beberapa kali dengan kuat. Namun hasilnya tetap sama, Althaf memeriksa bagian bawah dan kabel busi sekilas, lalu menggelengkan kepala.
"Sepertinya businya basah atau karburatornya bermasalah," ucap Althaf.
Ayara menggigit bibir bawahnya, dilanda rasa panik seketika. "Sama sekali nggak bisa, Mas?" tanyanya panik.
Althaf langsung menangkap kesempatan emas di balik situasi darurat ini, ia menatap Ayara lekat-lekat dengan sorot mata menenangkan.
"Nggak bisa. Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Tinggalkan motor ini di parkiran kafe, kunci bisa dititipkan ke bagian keamanan. Kamu pulang ikut aku," jawab Althaf.
Ayara sontak menggeleng kuat-kuat, "Eh, jangan, Mas! Rumahku kan dekat dari sini, aku bisa jalan kaki saja atau naik ojek," tolak Ayara, merasa tidak enak jika harus merepotkan pria itu lagi.
"Jalan kaki malam hari? sendirian? Tidak, Ayara," tolak Althaf.
Suaranya berubah lebih tegas namun tetap lembut, "Motor kamu mogok di sini dan aku tidak akan biarin kamu pulang sendirian apalagi sampai jalan. Aku antar kamu, ayo naik mobil, motornya titipkan di kafe dulu, besok baru diambil." lanjutnya.
Ayara terdiam, terjebak dalam tatapan mata Althaf yang menghipnotis, ia tahu melawan pria ini saat sedang serius adalah hal yang sia-sia. Dengan helaan napas pasrah, Ayara akhirnya mengangguk kecil.
"Yaudah... aku bilang ke pegawainya dulu," ucap Ayara, diangguki Althaf.
Althaf tersenyum penuh kemenangan. Setelah Ayara meminta izin pada pegawai kafe, ia segera masuk kedalam mobil Althaf.
Perjalanan menuju kawasan perkampungan tempat tinggal Ayara ditempuh dalam waktu kurang dari lima belas menit. Di dalam mobil, Ayara lebih banyak terdiam. Ia menatap lurus ke luar jendela, sementara debaran di dadanya belum sepenuhnya mereda akibat kejadian motornya yang tiba-tiba mogok.
Althaf yang mengemudi sesekali melirik ke arah Ayara, menangkap raut kegelisahan di wajah wanita itu.
"Jangan dipikirkan soal motor kamu, besok aku bisa minta tolong orang buat mengambil dan memperbaikinya," ucap Althaf lembut, memecah kesunyian di antara mereka.
Ayara menoleh, tersenyum tipis penuh rasa terima kasih. "Makasih banyak ya, Mas. Aku minta Arlan aja buat ambil, maaf sudah ngerepotin Mas Althaf terus...,"
"Sudah Aku bilang, jangan pernah bilang merepotkan. Aku senang bisa ada di saat kamu butuh bantuan, Ayara," potong Althaf cepat dengan nada tegas namun penuh kehangatan.
Ayara menunduk, merona malu mendengar kalimat tulus yang meluncur begitu saja dari bibir pria itu. Ayara tahu persis, semakin lama ia berada di dekat Althaf, semakin sulit pula bagi menjaga benteng pertahanan hatinya agar tidak jatuh ke dalam pesona pria tersebut.
Tak lama kemudian, mobil Althaf berbelok memasuki gang sempit perkampungan Ayara. Lampu depan mobil memantulkan cahaya terang, menyusuri jalanan malam yang tampak sedikit ramai dari biasanya.
Di depan rumah Bu Wati yang terletak di depan rumah Ayara, tampak sedang duduk-duduk santai menikmati angin malam sambil mengobrol. Di antara mereka, tampak Ibu Yati duduk bersama mereka.
Laju sedan hitam mewah itu melambat perlahan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah Ayara.
Seketika, obrolan para ibu-ibu itu pun berhenti, dan menoleh serentak. Mata melihat mobil mewah itu parkir persis di depan rumah keluarga Ayara, lalu melihat Ayara turun dari dalam mobil, disusul oleh Althaf.
Ibu Yati seketika berdiri, raut wajahnya menyiratkan keterkejutan sekaligus rasa tidak enak hati melihat kedatangan Ayara diantar oleh Althaf untuk kesekian kalinya di hadapan para tetangga yang gemar bergosip.
Ayara merasakan sekujur tubuhnya mendadak kaku, ia tahu betul tatapan seperti apa yang sedang dilayangkan oleh para ibu-ibu tetangga, tatapan penuh rasa penasaran.
Sebelum Ayara sempat melangkah mendekat, Althaf sudah menutup pintu mobilnya. Pria itu melangkah tenang menghampiri Ayara, lalu menoleh sekilas ke arah sekelompok ibu-ibu yang sedang memerhatikan mereka dengan tatapan terang-terangan.
"Malam, Bu," sapa Althaf dengan sopan, membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Ibu Yati sambil tersenyum ramah.
"Malam, Nak Althaf... Mari masuk dulu," sambut Ibu Yati kikuk, merasa tak enak hati dengan tatapan tajam para tetangga di dekat sana.
Namun, sebelum Althaf sempat melangkah masuk melewati pagar seng, Bu Nur tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Didorong oleh rasa penasaran dan sifat usil yang sudah mendarah daging, wanita paruh baya bertubuh gempal itu melangkah mendekati halaman rumah Ayara, disusul oleh Bu Ina dan Bu Sri di belakangnya.
"Wah, wah... Datang-datang malam begini diantar mobil mewah lagi," cetus Bu Nur dengan nada suara yang sengaja dikeraskan dan sengaja menyindir.
"Kelihatan banget serasi ya, Bu Yati. Tiap hari diantar jemput terus," sahut Bu Sri.
"Motor saya tadi mogok, dan Mas Althaf hanya mau mengantar saja. Memangnya ada yang salah?" tanya Ayara.
Bu Ina tersenyum miring, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah Althaf dari atas sampai bawah. "Ah, yang benar mogok? Jangan-jangan sengaja dibikin mogok biar bisa berduaan di jalan, ya?" ledeknya diiringi tawa cekikikan kecil dari Bu Sri.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita