Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Engh...
Lyly melenguh pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat berat dan berdenyut.
Cahaya lampu tidur yang temaram menyambut pandangan matanya yang masih buram.
"Kak Lyly! Syukurlah kamu sudah sadar," panggil Tata yang langsung melompat dari kursi di samping ranjang.
Lyly menoleh perlahan dan melihat adik tengahnya itu menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Aku... apa yang terjadi padaku semalam?" tanya Lyly dengan suara yang serak dan sangat lemah.
"Kamu pingsan di lorong kantormu karena disuntik racun bius oleh pembunuh bayaran," jawab Tata sambil menyodorkan segelas air putih hangat.
Lyly menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit bergetar lalu meminum isinya perlahan-lahan.
Glek. Glek.
Setelah kesadarannya mulai terkumpul, Lyly baru menyadari ada perban kain yang terikat sangat kencang di lengan atasnya.
"Lenganku ini kenapa dibalut? Rasanya perih sekali seperti habis disayat," keluh Lyly menyentuh permukaan perban tersebut.
"Jarot yang membelah lenganmu menggunakan pisau buah yang dipanaskan untuk mengeluarkan racunnya," jelas Tata jujur menceritakan kejadian semalam.
Mata Lyly langsung terbelalak lebar membayangkan proses pengobatan jalanan yang mengerikan itu.
"Dia membelah lenganku pakai pisau buah?! Apa dia sudah gila?!" teriak Lyly refleks karena merasa ngeri.
"Kalau Jarot tidak nekat melakukan itu secepatnya, jantungmu pasti sudah berhenti berdetak dalam perjalanan pulang," bela Tata dengan nada sangat serius.
Lyly terdiam seribu bahasa mendengar fakta bahwa nyawanya benar-benar sudah berada di ujung maut.
Rasa marah yang tadinya sempat muncul kini langsung tergantikan oleh rasa syukur yang luar biasa besar.
"Jadi dia benar-benar menyelamatkan nyawaku untuk yang kesekian kalinya," gumam Lyly menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Bukan cuma itu, Kak. Semalaman penuh dia tidak tidur sama sekali untuk membongkar lantai dan memasang jebakan di dalam rumah kita," tambah Tata memberikan informasi baru.
Lyly menyingkap selimutnya perlahan dan memaksakan diri untuk berdiri meski kakinya masih terasa sedikit lemas.
"Kamu mau ke mana, Kak? Jarot bilang kamu harus istirahat total sampai pagi ini," larang Tata menahan bahu kakaknya.
"Aku harus menemuinya sekarang juga untuk mengucapkan terima kasih secara langsung," jawab Lyly bersikeras sambil melangkah menuju pintu.
Tata akhirnya menghela nafas pasrah dan membiarkan kakaknya berjalan keluar kamar.
Tap. Tap. Tap.
Lyly berjalan menuruni anak tangga dengan sangat pelan sambil terus berpegangan erat pada pagar kayu.
Suasana lantai bawah terlihat sedikit berantakan dan tidak serapi biasanya.
Beberapa ubin marmer mahal di dekat pintu garasi tampak sengaja dibongkar dan hanya ditutupi kembali menggunakan karpet tipis.
"Pagi, Mbak Lyly. Wajahmu sudah tidak sepucat mayat lagi hari ini," sapa Jarot yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga.
Pria itu sedang sibuk mengelap sebuah pistol hitam pekat menggunakan selembar kain bersih.
Pistol itu adalah senjata api rampasan dari pria berjas abu-abu di restoran mall beberapa hari yang lalu.
Lyly menelan ludahnya dengan susah payah melihat senjata mematikan itu dipegang dengan sangat santai oleh pengawalnya.
"Jarot, aku... aku mau mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku semalam," ucap Lyly dengan nada pelan namun sangat tulus.
Jarot menghentikan gerakan tangannya lalu menatap Lyly dengan pandangan menilai yang cukup lama.
"Sama-sama, Mbak Lyly. Hitung-hitung itu bonus pelayananku sebagai pengawal bulan ini," jawab Jarot tersenyum tipis seperti biasa.
"Tata bilang kamu merobek lenganku pakai pisau dapur yang dipanaskan di atas kompor," kata Lyly menyentuh perbannya lagi.
"Iya, maaf kalau bekas jahitannya nanti sedikit jelek karena aku ini bukan dokter bedah plastik kecantikan," canda Jarot tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Lyly menghela nafas panjang lalu melangkah maju dan ikut duduk di sofa seberang Jarot.
Rasa gengsi yang biasanya selalu ia junjung tinggi kini benar-benar sudah menguap tidak tersisa saat berhadapan dengan Jarot.
"Aku tidak peduli dengan bekas lukanya, yang penting aku masih bisa bernafas hari ini berkat keputusan cepatmu," aku Lyly jujur mengalahkan egonya.
"Tumben kamu bicara manis begitu, biasanya kamu selalu mengajakku berdebat soal uang dan kontrak," goda Jarot kembali mengelap pistolnya.
Wajah Lyly sedikit merona merah karena merasa malu mengingat kelakuan sombongnya di hari-hari pertama Jarot bekerja.
"Aku sudah sadar kalau uang satu miliar rupiahku tidak ada harganya di hadapan racun pembunuh bayaran," ucap Lyly tersenyum kecut menertawakan dirinya sendiri.
"Baguslah kalau kamu sudah sadar. Karena mulai hari ini, bahaya yang datang tidak akan bisa diselesaikan dengan cek tunai," balas Jarot mengubah nadanya menjadi lebih serius.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki yang berlari terburu-buru terdengar dari arah tangga memotong pembicaraan mereka berdua.
Melly berlari menuruni tangga sambil memeluk laptop kesayangannya dengan nafas tersengal-sengal.
"Jarot! Mereka datang! Mobil van hitam yang mencurigakan itu muncul di ujung jalan perumahan kita," lapor Melly dengan wajah panik.
Jarot langsung meletakkan pistolnya di atas meja kaca dan berdiri dengan sigap.
"Berapa orang yang ada di dalam mobil van tersebut?" tanya Jarot langsung fokus pada inti masalah.
"Kamera jalanku tidak bisa menembus kaca mobilnya yang dilapisi kaca film yang sangat gelap," jawab Melly sambil mengetik sesuatu di keyboardnya.
"Tapi pemindai sensor panas yang aku retas dari satelit menunjukkan ada dua hawa tubuh manusia di kursi depan," lanjut Melly membeberkan data intelijennya.
Jarot meregangkan otot lehernya ke kiri dan ke kanan sampai terdengar bunyi retakan tulang yang khas.
Krek. Krek.
"Hanya dua orang? Sepertinya mereka cuma mau memantau dan mengetes kedalaman air saja pagi ini," analisis Jarot menebak taktik musuh.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus lari lewat pintu belakang?" tanya Lyly yang mulai tertular rasa panik adiknya.
"Aku sudah bilang, kabur itu cuma untuk pengecut. Kita akan menyambut tamu kita pagi ini dengan hangat," jawab Jarot dengan senyum yang sangat mengerikan.
Jarot mengambil pistolnya dari atas meja dan menyelipkannya ke bagian belakang celana kargonya.
"Kalian bertiga masuklah ke ruangan bunker di bawah tanah dekat dapur dan kunci pintunya dari dalam," perintah Jarot menatap Lyly dan Melly bergantian.
"Aku tidak mau bersembunyi! Aku bisa membantumu bertarung di luar," protes Tata yang tiba-tiba sudah berdiri di ujung tangga.
"Mbak Tata, musuh kali ini adalah pembunuh elit Rusia, bukan preman kampung yang bisa kamu tendang sembarangan," tolak Jarot dengan nada mutlak.
"Turuti perintahku atau aku akan mengikat kalian bertiga di tiang ruang tamu sekarang juga," ancam Jarot memelototi Tata dengan tajam.
Tata akhirnya menundukkan kepalanya dan terpaksa menurut karena tidak berani melawan aura membunuh dari gurunya itu.