NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Pagi di Sisimu

Felipa

Aku terbangun oleh cahaya pagi yang menimpa wajahku langsung. Aku berbalik di ranjang, merasakan lembutnya seprai di kulit dan menyadari ruang kosong di sampingku. Damon sudah tidak ada di sana.

Kuusap wajahku, mencoba menata pikiran yang rasanya saling bertabrakan di kepalaku.

Ya Tuhan, aku tidur dengannya.

Dan itu seks terbaik dalam hidupku. Bukan berarti aku punya banyak pengalaman untuk dibandingkan, tapi itu tak mengubah kenyataan bahwa tubuhku masih bereaksi pada kenangan semalam. Kugelengkan kepala, seolah gerakan sederhana itu cukup untuk mengusir pikiran-pikiran yang terus membuat pipiku panas.

Aku, Felipa Bianchi, gadis penurut yang selalu berusaha melakukan segalanya sesuai aturan, berakhir di ranjang pria paling rumit yang pernah kukenal.

Dan yang lebih parah, aku tidak menyesal.

Aku masih tenggelam dalam pikiranku ketika Damon masuk lagi ke kamar. Dia mengenakan pakaian olahraga, rambutnya sedikit berantakan, dengan raut tenang yang jarang kulihat di wajahnya. Matanya menyusuri wajahku dan, yang membuatku terkejut, dia tersenyum.

Itu bukan senyum sinis yang biasa dia pakai untuk menggodaku, apalagi ekspresi angkuh orang yang yakin selalu berhak atas kata terakhir. Itu senyum yang tulus, yang sanggup membuatku lupa, selama beberapa detik, bahkan apa yang sedang kupikirkan.

"Kukira kamu bakal tidur sepanjang pagi, Felipa."

Aku duduk di ranjang dan menggeleng, mencoba menutupi rasa kikukku.

"Nggak, aku harus pulang."

Damon mengangkat sebelah alis, jelas meragukan jawabanku, tapi tak berkomentar. Sebagai gantinya, dia menunjuk kursi berlengan di dekat jendela.

"Pakaianmu sudah bersih. Aku juga menaruh yang lain di sana, kalau kamu lebih suka."

Kuikuti arah telunjuknya dan melihat sebuah tas belanja dari butik bermerek yang sangat terkenal. Mataku melebar diam-diam sebelum kembali menatapnya.

Tentu saja Damon Bradfort tak akan membeli pakaian di sembarang tempat.

"Terima kasih, tapi nggak perlu," jawabku sambil menyingkirkan seprai dan bersiap bangun.

Senyumnya sedikit memudar saat menangkap niatku.

"Kamu mau ke mana?"

"Aku harus pulang."

Kata-kata itu keluar lebih cepat daripada yang kuinginkan. Bukan karena aku ingin lari darinya, tapi kenyataan tetap ada di luar kamar ini, sekalipun sebagian diriku lebih memilih tinggal di sini beberapa jam lagi.

Ayah percaya pada cerita bahwa aku menginap di rumah Alice, dan mengingat betapa dia mengawasi jam-jamku, dia pasti sudah menunggu aku muncul di rumah. Aku tak bisa menghilang lebih lama lagi dan berisiko membuatnya murka.

Damon terdiam beberapa saat, mengamatiku dengan ekspresi yang tak terbaca itu.

Namun ketika matanya bertemu mataku, jantungku berdetak lebih cepat.

Karena pulang rasanya hal yang benar untuk dilakukan.

Hanya saja aku tak yakin itu yang sungguh-sungguh kuinginkan.

"Kita sarapan dulu. Setelah itu, aku antar kamu pulang."

Kuangkat mata pada Damon, yang memandangku seakan itu keputusan paling wajar di dunia. Tak ada ruang berdebat dalam suaranya, meski dia tak tampak sedang memberiku perintah.

"Damon, aku..."

"Sarapannya ada di dapur," potongnya, tanpa kehilangan ketenangan.

"Jangan lama-lama, Felipa."

Kuperhatikan dia menjauh. Dia memakai pakaian gym dan sepatu olahraga, yang membuatku bertanya-tanya sudah berapa lama dia bangun. Rupanya, saat aku tidur nyenyak di ranjangnya, Damon sudah sempat berolahraga dan mengurus berbagai hal.

Kugelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu, lalu menuju kamar mandi membawa pakaianku, menyentuh kainnya dengan ujung jari, terkejut mendapati Damon benar-benar mencuci bajuku.

Hakim paling arogan yang kukenal mencuci bajuku.

Senyum tanpa sadar nyaris muncul di bibirku, tapi segera kutahan. Aku tak boleh terpesona oleh setiap gestur kecil pria ini. Itu ide yang buruk, terutama mengingat semua yang telah terjadi di antara kami.

Aku berpakaian cepat-cepat, dan baru selesai merapikan baju ketika kudengar ponselku berdering.

Bunyinya langsung mengingatkanku bahwa seluruh hidupku masih menungguku di luar apartemen ini.

Aku bergegas keluar dari kamar mandi, meraih ponsel, dan perutku serasa merosot saat melihat nama Ayah di layar.

Kuangkat.

"Halo?"

"Aku butuh kamu pulang, Felipa."

Suaranya serius, tanpa ruang untuk bercanda. Jantungku berpacu, dan kutekan ponsel ke telingaku.

"Aku sudah di jalan, Ayah."

Aku tak sanggup bertanya ada apa. Aku tak punya waktu, karena dia memutus sambungan tepat setelah jawabanku.

Kupandangi layar yang gelap, mencoba memahami desakan mendadak itu.

Tanganku mulai gemetar.

Ayah tak biasa bicara padaku seperti itu tanpa alasan. Dan sekalipun aku berusaha menemukan penjelasan yang masuk akal, perasaan buruk mengendap di dadaku.

Bagaimana kalau dia tahu aku tidak menginap di rumah Alice?

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa sempit. Kepalaku mulai bekerja cepat, mengulang setiap kemungkinan, setiap kebohongan yang kuucapkan, dan setiap detail yang mungkin terlewat.

Namun sebelum sempat melangkah, mataku berpaling ke pintu tempat Damon tadi keluar.

Seharusnya aku hanya mencemaskan apa yang menantiku di rumah.

Selesai berpakaian, aku menarik napas dalam dan menuju dapur. Aku masih gelisah karena telepon Ayah, tapi kuusahakan tak menunjukkannya.

Kutemukan dia duduk di meja bar, memegang cangkir kopi. Pakaian olahraganya masih melekat, dan dia tampak benar-benar santai, seakan pagi ini hanya satu di antara sekian banyak pagi lain.

Aku mendekat dan duduk di sampingnya.

Damon menoleh ke arahku, mengamati wajahku beberapa detik, lalu menunjuk hidangan sarapan yang tersaji di depan kami.

"Makan, Felipa."

Aku menurut nyaris otomatis. Kuambil sepotong roti dan mulai makan, meski pikiranku masih jauh dari sini.

Aku sedang melamun ketika Damon menggeser ponselnya di atas meja bar dan meletakkannya di hadapanku.

Kulihat ponsel itu, lalu dia, bingung.

"Ini apa?"

"Simpan nomormu."

Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna permintaannya. Lalu kupandang lagi ponsel itu, dan senyum mulai terbentuk di bibirku.

"Kamu mau nomorku?"

Damon menyesap kopi sebelum melirikku sekilas.

"Ya."

Aku membuka mulut, tapi tak ada yang keluar.

"Tentu saja aku mau nomormu. Jangan paksa aku mempermalukan diri, Felipa."

Aku terkikik, tak sanggup menahannya.

"Kamu tinggal minta saja."

"Dan melewatkan kesempatan mendengarmu bertanya hal-hal yang sudah jelas, sepagi ini? Sayang sekali."

Kuputar bola mataku, tapi tak bisa menyembunyikan senyum. Kuambil ponsel itu dan menyimpan kontakku, mengetik nama lengkapku sebelum mengembalikannya.

Damon memeriksa layarnya.

"Felipa Bianchi," gumamnya. "Formal sampai di kontak."

"Mau aku tambahkan hati kecil juga?"

Dia mengangkat mata padaku, dan senyum tipis itu muncul di sudut bibirnya.

"Kalau kamu tambahkan, aku akan mulai curiga kamu jatuh cinta padaku."

Senyumku goyah sesaat, dan pipiku terasa menghangat.

"Kamu terlalu percaya diri, Yang Mulia."

"Aku hakim, Felipa. Aku terbiasa mengenali bukti."

Aku menggeleng sambil tertawa pelan, sementara dia meletakkan ponselnya di meja bar.

Dan selama beberapa detik, aku lupa pada telepon Ayah, pada desakan untuk pulang, dan pada semua alasan mengapa seharusnya aku menjauh dari pria ini.

Karena Damon Bradfort punya bakat menjengkelkan untuk membuatku tersenyum, padahal yang seharusnya kulakukan hanyalah pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!