Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.
Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.
Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.
"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."
Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.
Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam turun perlahan. Lampu ruang tengah sudah diredupkan, menyisakan cahaya lembut dari lampu tidur di sudut kamar.
Erlyn duduk di tepi tempat tidur, memandangi punggung Iqbal yang sedang berbaring. Suaminya tampak tenang, napasnya teratur, seolah tidak ada hal buruk yang pernah menyentuh kehidupan mereka.
Namun di dada Erlyn, rasa gelisah yang muncul sejak sore tadi belum juga mereda. Bayangan sosok itu di supermarket terus berputar di kepalanya, menolak untuk pergi.
Ia berbaring perlahan di samping Iqbal, menarik selimut hingga ke bahu, berusaha memejamkan mata.
Tidurlah, bisiknya dalam hati.
Semuanya baik-baik saja. Mungkin itu memang orang lain yang kebetulan mirip. Besok pagi semuanya akan membaik lagi.
Namun tidur tak kunjung datang. Hingga tepat pukul sebelas malam, ponsel yang diletakkan di nakas samping tempat tidur tiba-tiba bergetar pelan.
Suara itu terdengar jelas di tengah keheningan malam. Erlyn menegang. Ia menoleh perlahan ke arah layar yang menyala redup. Satu pesan masuk. Dari nomor yang tidak dikenal.
Awalnya ia berpikir mungkin sekadar pesan iklan atau salah kirim. Namun tangannya gemetar saat membuka ponsel itu. Jantungnya kembali berdegup kencang.
Layar menampilkan pesan berisi sebuah foto.
Saat gambar itu terbuka, napas Erlyn tertahan di tenggorokan. Darahnya terasa dingin seketika.
Itu dirinya. Saat usianya dua puluh satu tahun. Empat belas tahun lalu.
Foto itu diambil di kamar tidur penthouse Hendi. Ia mengenali seprai sutra berwarna gelap, dinding cermin di salah satu sisi, jendela besar yang menampilkan lampu kota dari ketinggian.
Di dalam foto itu, ia duduk di tepi tempat tidur, mengenakan pakaian yang dulu dipaksa dipakainya, pakaian yang membuatnya merasa telanjang meski masih mengenakan sesuatu.
Yang lebih menyakitkan, di wajahnya terukir senyum. Senyum yang dipaksakan, bibirnya ditarik kaku, matanya basah dan kosong, seolah jiwanya sudah pergi meninggalkan tubuh itu.
Foto berikutnya muncul di layar, lalu yang berikutnya. Semua foto-foto saat usianya sembilan belas tahun sampai dua puluh tiga tahun dikirimkan semua. Ia dipaksa berada di sana, dipaksa melayani Om Hendi, dipaksa tersenyum ke arah kamera seolah ia menikmati setiap detiknya.
Ia ingat betul bagaimana dulu Om Hendi menatapnya tajam dan berkata: "Senyum. Kalau tidak, aku tidak akan menanggung biaya pengobatan ayahmu."
Itulah konsekuensinya. Setiap kali ia menolak, setiap kali ia menunduk dan diam, ancaman itu datang kembali. Ayahnya tidak akan diobati, ia akan dibiarkan sendiri, dan foto-foto akan disebarkan ke semua orang yang dikenalnya.
Demi ayahnya, demi bertahan hidup, ia menuruti semuanya. Ia tersenyum meski hatinya hancur.
Ia melayani Om Hendi di tempat tidur meski setiap sentuhannya terasa seperti luka yang baru dibuka. Ia berdiri di depan kamera dan berpose sesuai perintah, membiarkan dirinya direkam dan difoto, karena ia tidak punya pilihan lain.
Di bawah rangkaian foto yang dikirim itu tertulis satu kalimat singkat:
"Kau pikir bisa lari dan melupakan semua kenangan indah yang pernah kita lakukan bersama, Erlyn?"
Tangan Erlyn gemetar hebat hingga ponsel hampir terlepas dari genggamannya. Matanya memanas, napasnya terasa sesak. Ia menatap nomor pengirimnya, lalu kembali menatap foto-foto itu.
Pertanyaan meledak di kepalanya, bagaimana mungkin Hendi bisa tahu nomor ponselnya? Ia sudah mengganti nomor berkali-kali selama dua belas tahun ini.
Ia membuang kartu lama, memastikan tak ada jejak yang tersisa. Bahkan teman-teman lamanya pun sulit menghubunginya jika ia tidak mengontak duluan.
Dari mana ia mendapatkannya? Apakah ada yang memberitahunya? Apakah ia sudah mengawasinya sejak lama, diam-diam, tanpa ia sadari?
Pikiran itu membuatnya merinding. Jika ia tahu nomor ini, apa lagi yang ia ketahui? Alamat rumah? Sekolah Rara? Pekerjaan Iqbal?
Erlyn menutup wajah dengan tangan gemetar. Ia pikir ia sudah meninggalkan masa-masa mengerikan itu jauh di belakang. Namun ternyata Om Hendi menyimpannya, menyimpan bukti-bukti kelemahannya, menyimpan momen-momen yang paling ia benci, dan kini menggunakannya sebagai senjata untuk menariknya kembali.
Ia menoleh dengan cepat ke arah Iqbal. Suaminya masih tertidur, punggungnya menghadap ke samping, belum bergerak sedikit pun. Rasa takut menyergapnya.
Jika Iqbal terbangun, jika ia melihat foto-foto ini, apa yang akan ia pikirkan?
Foto-foto ini tidak menunjukkan bahwa ia dipaksa. Foto-foto ini hanya memperlihatkan dirinya tersenyum, terbaring di tempat tidur dengan pose yang sudah diperintahkan Hendi, seolah ia rela melakukan semuanya.
Tidak ada penjelasan, tanpa mengetahui ancaman yang mengancam nyawa ayahnya, Iqbal akan mengira ia dulu memilih hidup seperti itu, bahkan mungkin mengira masih berhubungan dengan pria itu.
Dengan tangan yang masih gemetar, Erlyn menekan tombol hapus. Ia menghapus pesan itu, lalu menghapus riwayat notifikasi juga, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal di layar. Hingga layar kembali bersih, hitam, seolah tidak pernah ada apa-apa.
Namun gambar-gambar itu sudah terpatri jelas di benaknya, senyum palsunya sendiri, tatapan kosongnya, bayangan Om Hendi di belakang kamera. Tak bisa dihapus begitu saja.
Ia meletakkan ponsel kembali ke meja, lalu menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak terkendali. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Ia menatap punggung Iqbal, ingin sekali menyentuhnya, membangunkannya, menceritakan semuanya, tentang paksaan itu, tentang ancaman, tentang bagaimana ia tersenyum sambil menahan tangis setiap kali Om Hendi mengarahkan kamera ke arahnya. Tapi kata-kata itu mati di bibirnya.
Erlyn memejamkan mata erat. Ia belum siap. Ia takut Iqbal melihatnya berbeda setelah tahu. Takut suaminya berpikir bahwa ia dulu menikmati semua itu.
Lebih baik ia mencari tahu dulu apa yang diinginkan Hendi, pikirnya. Lebih baik ia menyelesaikan ini sendiri, sebelum melibatkan orang lain.
Ia berbaring kembali, menatap langit-langit kamar dalam kegelapan. Tidurnya tak lagi tenang. Setiap kali ia hampir terlelap, bayangan dirinya di tempat tidur itu kembali muncul.
Ia teringat bagaimana dulu Om Hendi berkata: "Senyum lebih lebar. Kalau nggak, nggak akan ada obat untuk ayahmu."
Ia ingat bagaimana ia menahan air mata, menarik sudut bibirnya ke atas, membiarkan dirinya disentuh dan dilihat, karena itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan orang yang dicintainya.
Semua itu dilakukan bukan karena ia mau, melainkan karena ia tidak punya pilihan. Namun siapa yang akan mempercayainya sekarang?
***
Pagi pun tiba. Erlyn bangun lebih awal dari biasanya. Matanya terlihat cekung, wajahnya pucat. Ia berusaha menyembunyikannya dengan senyum tipis saat Iqbal terbangun di sampingnya.
"Kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Iqbal sambil menguap pelan, merenggangkan tubuh.
"Iya, aku lagi nggak bisa tidur nyenyak," jawab Erlyn sambil merapikan selimut, berusaha terdengar biasa saja.
Iqbal menatapnya sekilas, lalu mengusap pipinya. "Wajahmu pucat dan nggak segar sayang."
"Aku nggak apa-apa, Mas. Cuma kurang tidur saja."
Erlyn beranjak ke dapur lebih cepat dari biasanya, menyiapkan sarapan sambil terus memikirkan pesan semalam.
Saat sarapan, Iqbal memperhatikannya lebih lama dari biasanya.
"Erlyn, kamu memegang ponsel terus dari bangun tadi. Ada urusan mendesak?" tanyanya pelan.
Erlyn tersentak sedikit, meletakkan ponselnya terbalik di atas meja.
"Nggak kok mas... cuma grup arisan saja. Banyak pesan masuk, berisik sekali," jawabnya, berusaha tersenyum tenang. Itu kebohongan pertama yang terucap begitu mudah, namun terasa pahit di lidahnya.
Iqbal mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan itu. Namun matanya tak sepenuhnya terlihat yakin. "Kalau mengganggu, matikan saja suaranya."
"Iya, nanti kumatikan."
Percakapan itu berakhir begitu saja, namun Erlyn merasa semakin sesak dan tersiksa.
Setelah Iqbal dan Rara berangkat, rumah kembali sepi. Erlyn duduk sendirian di meja makan, menatap ponselnya yang tergeletak diam. Ia ingin memblokir nomor itu. Ingin melupakan semuanya. Tapi ia tahu itu tidak akan cukup.
Jika Om Hendi berniat mengganggunya, ia bisa saja menggunakan nomor lain. Ia bisa saja datang langsung ke rumah.
Erlyn membuka galeri ponselnya, menatap foto keluarga mereka, Iqbal tersenyum, Rara tertawa lepas, dan dirinya berdiri di samping mereka. Kehidupan ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya.
Namun di sudut pikirannya, muncul ketakutan lain. Bagaimana jika Om Hendi mengirim foto-foto itu kepada Iqbal langsung? Bagaimana jika ia menyebarkannya ke orang-orang yang dikenalnya? Bagaimana jika Rara ikut terkena dampaknya? Pikirannya berputar ke mana-mana, membuatnya hampir tidak bisa bernapas.
Ia menarik napas panjang. Ia harus mencari tahu. Ia harus tahu apa yang diinginkan pria itu, dan mengapa ia kembali sekarang. Demi keluarganya, ia harus menghadapinya.
kalau bener, emang bener² sakit sih hendi
tapi semoga gak berlarut larut. rara masih butuh kamu.
paling dia gugat kamu lyn 🫠