Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Bayangan di Atas Sungai Thames
Hanya butuh tiga lembar dokumen dari perpustakaan arsip pabean tua untuk membongkar kebohongan Dr. Alistair Finch.
Hans Lorte berdiri di antara deretan rak kayu setinggi tiga meter yang dipenuhi bundel kertas kusam. Di tangannya, sebuah map catatan manifes dan laporan ekspedisi maritim terkuak di bawah pendaran lampu minyak. Sebagai mantan juru tulis Angkatan Laut *Royal Navy *, Hans tahu persis cara membaca celah di balik istilah teknis birokrasi pelabuhan.
Dr. Finch bukanlah sekadar ilmuwan berprestasi yang mengundurkan diri dari Royal Society tiga bulan lalu karena alasan kesehatan. Catatan log kapal uap *HMS Triton * mencatat kebenaran yang jauh lebih kelam.
Ekspedisi rahasia Finch ke Palung Atlantik tiga bulan lalu berakhir dengan malapetaka. Lima awak kapal tewas mengenaskan setelah mengalami kegilaan mendadak di tengah laut. Begitu mendarat di London, Finch mengisolasi dirinya di kediaman pribadinya, sembari membawa pulang satu peti kargo besi rahasia yang lolos dari pemeriksaan pabean publik.
*Finch menyembunyikan sesuatu dari dasar laut yang merusak akal sehat,* batin Hans seraya memindai baris-baris surat keputusan resmi di tangannya. *Dan peti besi berisi spesimen yang hilang dari Dermaga No. 9 adalah jantung dari penelitian terlarangnya.*
Namun, ada satu detail keuangan yang menarik perhatian analitis Hans di lembar ketiga. Seluruh dana ekspedisi rahasia Finch tidak berasal dari kas Kerajaan, melainkan dikucurkan oleh seorang bangsawan berpengaruh di kawasan Mayfair: Lord Sterling.
Hans mengembalikan map tebal itu ke dalam rak, meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. Lingkaran konspirasi ini kini mulai menampakkan garis yang utuh. Jam emas milik Vance yang berukir simbol *The Abyssal Order *, peti kargo anomali yang lenyap tanpa bekas, dan nama Lord Sterling semuanya bermuara pada satu titik.
---
Pukul 20.00 malam.
Hans melangkah keluar dari gedung arsip pabean menuju lorong-lorong batu Limehouse Cut. Hujan gerimis sudah berhenti, meninggalkan genangan air hitam yang memantulkan pendaran redup lampu jalanan.
Suasana lorong sepi dan minim penerangan. Namun, ketimbang mempercepat langkahnya, Hans justru mempertahankan irama ketukan tongkat jalan berkepala besinya dengan tenang.
*Tuk... tuk... tuk...*
Mata kelabunya memicing tajam. Indra pendengarannya yang terlatih menangkap gesekan halus tapak sepatu di atas permukaan batu basah di belakangnya.
Dua pasang langkah kaki sedang mengikutinya dari jarak lima meter.
*Langkah kanan pria pertama terdengar berat dan terseret, menandakan dia membawa senjata pemukul tumpul berbobot tebal,* kalkulasi Hans di dalam kepalanya. *Langkah pria kedua ringan dan pendek, pergerakan khas orang yang biasa mengendalikan pisau genggam jarak dekat.*
Hans sengaja membelokkan arah langkahnya menuju persimpangan lorong mati di balik gudang batu bata tua. Lokasi sempit itu gelap, jauh dari jangkauan lampu jalanan, tetapi memberikan sudut pandang taktis yang sempurna bagi Hans untuk mengontrol ruang serang.
Begitu Hans menghentikan langkahnya di tengah lorong mati, dua sosok pria bermantel gelap dan bertopeng kain menerobos keluar dari bayangan.
"Tahan di tempat, Lorte!" seru pria bertubuh tinggi dengan suara parau berbau tembakau murah. "Kau mencampuri urusan yang bisa mencabut nyawamu!"
Pria tinggi itu tanpa basa-basi langsung mengayunkan pipa besi sepanjang satu meter ke arah kepala Hans dari sisi kanan. Serangan itu kuat, tetapi terlalu terbuka.
Hans tidak panik. Dalam hitungan fraksi detik, otaknya telah menyelesaikan perhitungan geometris. Ia merunduk presisi 10 cm ke bawah.
*Wusss!*
Pipa besi itu menyambar udara kosong sejengkal di atas topi pet kusam milik Hans, menghantam dinding batu bata hingga memercikkan bunga api.
Sebelum penyerang pertama sempat menarik kembali senjatanya yang tertahan pilar, Hans memutar tubuhnya. Ujung besi berkepala bulat dari tongkat jalannya dihantamkan telak ke celah ulu hati lawan.
*Brak!*
Pria tinggi itu tercekik hebat, napasnya tersumbat seketika saat tubuhnya ambruk berlutut memegang perut.
Penyerang kedua menerjang cepat dari sisi kiri, mencabut sebilah pisau lipat berkilat yang diayunkan lurus menuju dada Hans. Hans memanfaatkan momentum dengan dingin. Ia mencengkeram bahu penyerang pertama yang berlutut, menggunakannya sebagai tameng hidup untuk menangkis dorongan penyerang kedua.
Kedua pria bertopeng itu bertabrakan hebat dan kehilangan keseimbangan di atas jalanan licin.
Tanpa memberi jeda sedikit pun, Hans mengibaskan ujung bawah tongkatnya menghantam pergelangan tangan si pemegang pisau.
*Tuk!*
"Aaghh!"
Pisau lipat itu terlempar jatuh dan terperosok ke dalam celah selokan. Sebelum pria kedua sempat berdiri, Hans menekan kepala besi tongkat jalannya ke urat leher pria tersebut, mengunci tubuhnya rapat ke dinding batu.
Pertarungan taktis itu selesai dalam waktu kurang dari 15 detik.
Hans tidak menunjukkan hembusan napas yang terengah. Ia menatap pria bertopeng yang terkunci di dinding dengan pandangan datar yang dingin.
"Siapa yang menyuruh kalian menguntitku dari pelabuhan?" tanya Hans tegas.
Pria itu meringis kesakitan, matanya membelalak penuh amarah di balik topeng kainnya yang basah. "Kau... kau tidak akan pernah sampai ke Mayfair, Detektif sialan!"
Hans tidak membuang energi untuk perdebatan kosong. Dengan gerakan cepat dan presisi, tangan kirinya merogoh saku dalam mantel pria yang terkunci tersebut.
Jemarinya menyentuh selembar kertas tebal bertekstur mahal dengan serat kain beludru. Hans menariknya keluar.
Kertas itu adalah sebuah kartu undangan eksklusif berlapis tinta emas. Di bagian tengahnya, tertera stempel lilin merah berbentuk lingkaran dengan ukiran gelombang laut dan mata yang terbuka—simbol rahasia milik *The Abyssal Order *.
Hans membaca baris tulisan anggun di atas kartu tersebut di bawah remang pendaran lampu jalan:
*Pelelangan Rahasia Artefak Samudra - Kediaman Lord Sterling, Mayfair. Pukul 22.00 Malam Ini.*
Sebuah garis konspirasi yang utuh kini terpampang terang di depan mata Hans. Peti besi spesimen milik Dr. Finch yang hilang dari Dermaga No. 9 tidak disembunyikan di lorong kumuh East End, melainkan dibawa langsung menuju kediaman mewah Lord Sterling di Mayfair untuk dilelang secara gelap malam ini juga.
Hans memasukkan kartu undangan berlapis emas itu ke dalam saku mantelnya. Ia lalu melonggarkan tekanan tongkatnya pada leher pria bertopeng tersebut.
"Terima kasih atas undangannya," ujar Hans datar.
Hans memutar tubuhnya, meninggalkan dua penyerang yang terkulai tak berdaya di lantai batu, lalu melangkah tegap keluar dari lorong mati menuju jalan raya untuk mencari kereta kuda menuju kawasan elit Mayfair.