Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26: Jebakan yang Berbalik
Pagi hari di Marina Bay, Singapura, menyuguhkan pemandangan spektakuler. Sinar matahari pagi memantul berkilau di atas permukaan air laut, menyinari gedung-gedung pencakar langit yang menjulang megah. Di ruang rapat utama Maritime Global Bank, meja panjang berbalut kayu mahoni telah dipenuhi oleh para petinggi perbankan, perwakilan media internasional, serta jajaran eksekutif Aristha Group.
Tepat pukul sembilan pagi, pintu utama ruang rapat terbuka. Reynand Aristha melangkah masuk dengan setelan tuksedo abu-abu arang yang memancarkan wibawa tingkat tinggi. Di sampingnya, Aira Anindita berjalan anggun dalam balutan setelan blazer putih tulang dengan potongan rapi, memancarkan aura profesionalisme yang tenang dan mematikan.
Di seberang meja, Clarissa Vance sudah duduk lebih dulu. Wanita itu mengenakan gaun formal berwarna hitam pekat dengan riasan tegas. Di wajah Clarissa terukir senyuman tipis penuh kemenangan—sebuah senyuman yang menyembunyikan rencana kotor yang telah ia eksekusi semalaman. Ia yakin dokumen adendum palsu yang diselundupkan ke dalam sistem lokal hotel akan berhasil menjatuhkan kredibilitas Aira.
Lord Arthur Sterling duduk di kursi utama tengah, membuka map kulit hitam berisi salinan dokumen perjanjian investasi.
"Selamat pagi, Tuan Aristha, Nona Vance, dan hadirin sekalian," sapa Lord Sterling dengan suaranya yang berwibawa. "Hari ini kita berkumpul untuk menandatangani secara resmi kesepakatan pendanaan dan pengoperasian pelabuhan logistik internasional senilai lima puluh triliun rupiah."
Lord Sterling membalik lembar demi lembar dokumen tersebut hingga mencapai bagian lampiran klausul jaminan dan tanda tangan.
Tiba-tiba, Clarissa mengangkat tangannya pelan, menyela proses pembacaan dengan ekspresi prihatin yang dibuat-buat sangat natural.
"Mohon maaf, Lord Sterling, dan para hadirin," potong Clarissa dengan suara renyah yang menarik perhatian seluruh lensa kamera media. "Sebelum penandatanganan ini dilanjutkan, saya merasa memiliki kewajiban moral untuk melaporkan adanya kejanggalan serius pada lampiran dokumen jaminan yang diajukan oleh pihak Aristha Group."
Suasana di dalam ruangan seketika bergemuruh pelan. Beberapa wartawan berbisik-bisik, bersiap mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Clarissa.
Lord Sterling menghentikan gerakan tangannya, menatap tajam ke arah Clarissa. "Kejanggalan apa yang Anda maksud, Nona Vance?"
Clarissa memberikan isyarat kepada asisten pribadinya untuk membagikan salinan dokumen kepada seluruh dewan perbankan. "Tim hukum Vancorp menemukan bahwa lampiran pasal mengenai hak suara dan pembagian likuiditas telah diubah secara sepihak di luar kesepakatan awal nota kesepahaman. Dan perubahan itu... dilakukan langsung melalui akses sistem verifikasi milik Nona Aira Anindita."
Clarissa mengalihkan pandangannya penuh kemenangan ke arah Aira, seolah ingin melihat gadis itu hancur seketika di hadapan publik internasional. "Ini adalah bentuk pelanggaran hukum komersial yang fatal. Vancorp menuntut penyelidikan segera terhadap tindakan penipuan dokumen ini."
Para wartawan mulai mengarahkan blitz kamera secara membabi buta ke arah Aira, menunggu reaksi panik dari wanita di samping Reynand tersebut.
Namun, yang disaksikan oleh seisi ruangan di luar dugaan.
Aira sama sekali tidak menunjukkan ekspresi panik, takut, atau terkejut. Gadis itu justru menyunggingkan senyum tipis yang sangat anggun. Ia menoleh pelan ke arah Reynand, yang sejak tadi duduk bersidekap tenang dengan tatapan dingin membeku menatap Clarissa.
Lord Sterling membuka salinan dokumen yang dibagikan oleh asisten Clarissa, lalu membandingkannya dengan map tebal yang ia pegang sejak semalam. Pria tua itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu mendecak lidah.
"Nona Vance," ucap Lord Sterling dengan suara berat yang mendadak berubah sangat dingin dan menusuk. "Anda sangat yakin bahwa dokumen di tangan Anda adalah dokumen resmi Aristha Group?"
Clarissa mengerutkan dahi, merasakan firasat buruk melintas di benaknya. "Tentu saja, Lord Sterling. Dokumen itu diunduh langsung dari sistem verifikasi server lokal yang dikelola oleh asisten Tuan Aristha."
Lord Sterling menutup map di hadapannya, lalu menekan sebuah tombol remote di atas meja. Layar proyektor raksasa di belakang ruangan langsung menyala, menampilkan rekaman CCTV digital beresolusi tinggi serta log data server hotel dari pukul dua hingga empat pagi tadi.
Di layar tersebut, terlihat jelas sesosok pria berjas hitam—yang merupakan kepala tim IT suruhan Clarissa—menyusup ke ruang server hotel dan mencoba mengunggah dokumen palsu ke dalam sistem. Tak lama setelah itu, layar menampilkan notifikasi merah menyala: [Akses Ditolak: Dokumen Palsu Terdeteksi dan Dikarantina oleh Sistem Keamanan Pusat Aristha Group]
Wajah Clarissa seketika memerah, lalu berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Napasnya tercekat.
"Tim keamanan siber kami dan pihak kepolisian Singapura telah memantau penyusup Anda sejak semalam, Nona Vance," suara Reynand akhirnya bergemuruh dingin, memecah keheningan ruangan dengan nada bariton yang mematikan. "Anda mencoba meretas sistem dan menyelundupkan dokumen palsu untuk menjebak kami. Dan rekaman CCTV ini... adalah bukti sah atas percobaan sabotase dan pencemaran nama baik."
Para wartawan langsung mengalihkan seluruh kamera dan blitz mereka ke arah Clarissa, mengabadikan ekspresi kepanikan mutlak di wajah wanita itu.
Lord Sterling mengetukkan penanya di atas meja dengan tegas. "Pihak Maritime Global Bank secara resmi menyatakan bahwa Vancorp Asia telah melanggar etika bisnis internasional. Seluruh kerja sama investasi dengan Vancorp dibatalkan hari ini juga, dan kami akan menyerahkan kasus penyusupan ini ke jalur hukum!"