Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Part 31
"Bapak serius?"
Pertanyaan itu lah yang keluar dari bibir Tina, ekspresi wajahnya tampak tak ingin percaya dengan pendengarannya sendiri. Bukan tanpa alasan Tina merasa seperti itu, karena setahunya, Alfan pernah didatangi keponakannya, namun bosnya itu langsung mengusir dan menyuruh mereka untuk segera pulang. Saat itu Alfan beralasan bila dia tidak bisa berkonsentrasi bekerja, padahal keponakannya itu datang untuk mampir sebentar.
"Iya, serius." Alfan mengangguk lalu tersenyum ke arah Ella dan menghampirinya.
"Nama kamu siapa?"
"Ella, Om." Gadis itu menjawab polos sembari tersenyum ke arah Alfan yang sudah menjajarkan tubuhnya dengan tingginya.
"Mau ikut ke kantor Om enggak?"
"Sama Kak Tina ya, Om?"
"Iya dong, kan Kak Tina kerja di sana juga."
"Mau, Om." Ella menjawab antusias yang disenyumi oleh Alfan, tanpa menyadari bagaimana Tina masih tampak asing dengan sikap bosnya yang tidak biasa itu.
"Tapi sebelum itu kita ke mini market itu ya, kita beli es krim, permen, sama camilan juga yang banyak buat kita makan nanti. Bagaimana? Kamu mau enggak?" tawar Alfan yang tentu saja langsung Ella angguki.
"Mau, Om. Tapi Om yang traktir ya?"
"Oke. Ya sudah ayo kita belanja dulu," ajak Alfan sembari mendirikan tubuhnya lalu menggandeng lengan Ella tanpa mau memedulikan bagaimana Tina menilai sikap anehnya, meski pada akhirnya yang Tina lakukan hanya melihat dan mengikuti mereka pergi.
Selama di mini market, Alfan dengan sabar menawarkan camilan ke Ella, yang mungkin tak sepenuhnua Ella sukai, tak jarang pula Alfan membuat gadis kecil itu tersenyum. Sedangkan Tina yang melihatnya hanya berdiri dan menunggu, di dalam hati ia merasa bila sikap bosnya sangat jauh berbeda dari biasanya.
Lelaki yang terbiasa tenang dengan kalimat-kalimat tegas dan menyebalkannya itu ternyata bisa bersikap lembut dengan anak-anak, rasanya memang cukup aneh untuk Tina yang baru mengetahuinya sekarang. Namun entah bagaimana, diam-diam Tina tersenyum sekaligus kagum melihat bosnya bisa akrab dengan adiknya.
Setelah selesai membeli banyak makanan, kini ketiganya masuk ke dalam mobil, Alfan masih tampak bersenang-senang dengan Ella, mereka bahkan seperti tidak menganggap Tina ada di sana.
"Bapak kenapa baik sama Ella?" tanya Tina pada akhirnya, hatinya terus bertanya-tanya dengan sikap bosnya yang berbeda. Alfan yang terus mengajak Ella bermain itu menoleh, menatap tanya ke arah Tina.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Alfan bertanya heran, merasa tak mengerti saja dengan Tina, seolah sikapnya ada yang salah.
"Ya karena sebelum ini Bapak pernah mengusir keponakan Bapak sendiri, jadi saya merasa heran kenapa Bapak bisa baik dengan Ella? Dia kan bukan siapa-siapanya Bapak." Tina bertanya heran, namun Alfan justru terdiam memikirkan jawabannya.
"Ya karena keponakan saya itu semuanya laki-laki, mereka itu nakal, jail, suka ganggu saya. Jadi saya kurang suka, makanya dulu saya usir mereka meskipun cuma mampir sebentar ke kantor saya." Alfan menjawab jujur, sedangkan Tina hanya mengangguk-angguk mengerti.
"Jadi Bapak lebih suka sama anak perempuan?"
"Iya, kecuali adik saya ya. Meskipun dia sama-sama perempuan dan sudah dewasa, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan, saya kurang menyukai dia."
Mendengar itu, Tina hanya mengangguk mengerti, diam-diam ia tersenyum mendengar jawaban bosnya itu. Sekarang Tina justru berpikir bila mungkin tidak sepenuhnya sikap Alfan buruk, meskipun sedikit sikap baiknya, setidaknya bosnya itu masih memiliki sikap kelembutan pada anak-anak terutama perempuan.
"Selama ini saya pikir Bapak itu orangnya kejam, suka mengomel, harus selalu sempurna, tapi ternyata Bapak masih bisa bersikap lembut dengan anak-anak." Tina menyunggingkan senyumnya sembari menatap ke arah Ella yang tampak senang dengan mainannya.
"Jadi selama ini kamu beranggapan kalau saya ini lelaki yang sangat buruk?" tanya Alfan dengan tatapan mata tajam, yang langsung Tina gelengi kepala.
"Bukan begitu, Pak, saya cuma tidak menyangka saja kalau Bapak bisa bersikap baik dengan anak perempuan. Saya pikir, kepribadian Bapak selama ini seperti tidak bisa memperlihatkan kebaikan yang ada di diri Anda gitu, Pak." Tina berusaha menjelaskan ucapannya, ia juga tidak mau membuat bosnya itu marah.
"Sebenarnya saya tidak seburuk seperti apa yang kamu pikirkan kok, sikap saya selama di kantor itu hanya sebatas benteng." Alfan menjawab jujur, namun tentu saja tak membuat Tina mengerti dengan maksudnya.
"Maksud Bapak benteng itu seperti apa?"
"Ya semacam pertahanan diri. Seperti saat kamu berusaha menjaga hati kamu untuk satu orang yang kamu cintai, jadi kamu membangun benteng itu untuk diri kamu supaya tidak jatuh hati pada orang lain lagi." Alfan berusaha menjelaskan maksudnya.
"Jadi sikap Bapak ke saya dan karyawan yang lainnya itu karena Bapak sedang menjaga hati, begitu? Ada wanita yang Bapak cintai, jadi Bapak bersikap buruk supaya Bapak tidak jatuh hati lagi?" tanya Tina ragu, entah kenapa hatinya berharap bila bosnya itu akan menggeleng dan mengelak dugaannya.
"Sebenarnya pemikiran saya jauh lebih dari itu, tapi kamu juga tidak salah, karena memang ada hati yang ingin saya jaga. Saya bersikap seperti saat di kantor itu karena saya ingin belajar dari pengalaman orang tua saya, saya tidak mau saat saya sudah mendapatkan hati wanita yang saya cintai itu, saya justru melakukan hal yang membuatnya kecewa seperti yang Papa saya lakukan ke Mama saya dulu." Alfan menjelaskan perasaannya tanpa menyadari bagaimana Tina terdiam dengan jantung berdebar tak karuan.
"Kamu pasti bingung dengan maksud saya kan? Jadi, orang tua saya dulu pernah diterpa badai rumah tangga, di mana orang ketiga menjadi penyebabnya. Saat itu orang tua saya bahkan hampir bercerai, saya sempat terpuruk, saya trauma dengan pertengkaran mereka, saya sering merasa ketakutan berlebihan, untungnya perasaan itu sudah berakhir setelah saya menjalani pengobatan, itu juga yang membuat orang tua saya memilih untuk kembali bersama." Alfan menghela nafas panjangnya, ia tidak pernah menceritakan hal ini ke siapapun kecuali ke Tina, wanita yang ia cintai itu adalah orang pertama yang mendengarkan kisahnya melalui mulutnya.
"Dari masalah orang tua saya, saya jadi belajar banyak hal, bila saling mencintai juga tidak bisa menjamin cinta itu akan sepenuhnya utuh selamanya, karena kita juga harus merawat dan menjaga cinta sekaligus hati kita sendiri. Jadi saya pikir, bersikap tidak gampangan dan bahkan terkesan menyebalkan adalah cara terbaik untuk menjaga hati saya sendiri." Alfan melanjutkan ucapannya yang kian membuat Tina kagum sekaligus kecewa.
"Wanita itu pasti beruntung dicintai oleh Bapak," jawab Tina kaku, berusaha tersenyum dan terlihat tidak terjadi apa-apa pada hatinya.
"Tentu saja. Mana ada wanita yang tidak beruntung dicintai lelaki sempurna seperti saya?" jawab Alfan percaya diri, yang kali ini ditatap tak percaya oleh Tina yang mendengarnya. Kesombongan bosnya itu terlalu mencolok, membuat Tina sering muak melihatnya.
"Terserah Bapak," jawab Tina malas, perasaan kesal itu kembali datang menyeruak masuk ke perasaannya, padahal baru beberapa detik yang lalu Tina merasa kagum dan bahkan merasa iri dengan wanita yang bosnya cintai, namun sekarang berbanding sebaliknya.
Di balik rasa kesalnya, Tina tidak akan menyadari bagaiman Alfan diam-diam tersenyum saat mencuri pandang ke arah Tina. Asistennya itu mengatakan bila wanita yang ia cintai adalah wanita beruntung, padahal wanita itu adalah Tina sendiri. Alfan juga berharap Tina merasa seperti itu saat tahu bila yang Alfan cintai itu dirinya, cinta pertama yang selalu Alfan harapkan menjadi cinta terakhirnya.