NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.

Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!

Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)

Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23: Pertolongan pertama ala dokter gadungan dan arang sakti

Mendengar laporan darurat dari Xie Jian, Pangeran Mo Cheng langsung berdiri tegak. Wajah ramah dan telinga merahnya yang beberapa detik lalu terlihat, kini lenyap seketika. Ekspresinya berubah menjadi sedingin es, memancarkan aura panglima perang yang siap mencabut nyawa.

"Amankan tempat itu. Jangan biarkan dia mati sebelum membuka mulut!" perintah Pangeran Mo Cheng dengan suara tegas nan menggelegar. Tanpa menoleh lagi, dia langsung menyibak tirai tenda dan melangkah lebar menuju tenda interogasi.

Sementara itu, Xie Yufei yang ditinggalkan sendirian di tenda langsung melompat dari bantal bulunya. Hilang sudah gaya lemas dan rapuh layaknya putri keraton yang dia tunjukkan tadi. Matanya berputar liar, dan otak akuntannya langsung bekerja dengan kecepatan penuh:

(Waduh, waduh! Ini gak bisa dibiarin! Kalau itu pembunuh mati sekarang, penyelidikan bakal buntu. Kalau penyelidikan buntu, Mas Jenderal bakal stres. Kalau Mas Jenderal stres, dia bakal makin galak, dan yang paling parah... anggaran skincare premium gue dari APBN istana bisa-bisa dipotong atau malah hangus! Kagak bisa! Nyawa pembunuh itu adalah jaminan investasi masa depan gue!)

Tanpa pikir panjang, Yufei menyambar jubah luarnya dan menyelinap keluar tenda, mengikuti jalur yang dilewati Pangeran Mo Cheng secara diam-diam.

Saat Yufei tiba di tenda interogasi, suasananya sudah seperti pasar tumpah yang dilanda kepanikan. Si pembunuh bayaran terikat kuat di kursi kayu, tubuhnya kejang-kejang brutal, matanya mendelik ke atas, dan dari sudut mulutnya keluar busa putih yang cukup banyak.

Xie Jian tampak frustrasi sambil mencengkeram kerah baju sang pembunuh. "Buka mulutmu! Sialan, tabib pasukan baru akan sampai besok pagi! Kita tidak punya penawar racun di sini!"

Pangeran Mo Cheng berdiri di sampingnya dengan tangan mengepal kuat di balik jubahnya. Rahangnya mengeras. Informasi dari pembunuh ini sangat krusial untuk mengetahui siapa dalang di balik serangan babi hutan dan konspirasi di ibu kota. Jika orang ini mati, mereka kehilangan satu-satunya petunjuk.

Yufei yang mengintip dari balik tirai tenda langsung menganalisis gejala tersebut berdasarkan sisa-sisa ingatan dari tontonan drama medis modern dan pelajaran biologi masa sekolahnya:

(Busa putih? Kejang mendadak? Bau napasnya agak aneh... fiks, ini mah keracunan zat mirip sianida atau potas yang disembunyikan di gigi palsu! Klasik banget taktik agen rahasia purba. Tapi kalau belum lewat lima belas menit, racunnya pasti belum terserap sepenuhnya ke lambung. Masih bisa diselamatkan pake metode detoks darurat!)

"Minggir! Biarkan hamba lewat!"

Suara cempreng Yufei yang tiba-tiba memecah ketegangan membuat Pangeran Mo Cheng dan Xie Jian menoleh serentak. Mereka terbelalak melihat Yufei dengan berani menerobos masuk ke area interogasi yang berbahaya.

"Nona Xie? Apa yang kau lakukan di sini? Tempat ini tidak aman!" tegur Xie Jian dengan wajah panik.

"Kalau kalian cuma berdiri sambil nonton dia kejang-kejang, semenit lagi dia bakal ketemu malaikat maut, Abang!" semprot Yufei, melupakan sopan santun saking gemasnya.

Yufei langsung berbalik menatap Pangeran Mo Cheng dengan pandangan serius. "Yang Mulia, jika Anda ingin orang ini tetap hidup untuk diinterogasi, ikuti instruksi hamba sekarang juga! Kita berpacu dengan waktu!"

Pangeran Mo Cheng terpaku sesaat. Di dalam hatinya, dia mendengar isi kepala Yufei yang sangat fokus dan penuh dengan istilah medis aneh seperti 'lambung', 'detoks', dan 'sianida'. Meski tidak paham artinya, nada batin Yufei sama sekali tidak menunjukkan keraguan atau niat jahat. Gadis ini benar-benar tahu apa yang sedang dia lakukan.

"Lakukan apa yang dia katakan," perintah Pangeran Mo Cheng kepada bawahannya tanpa ragu sedikit pun.

"Xie Jian, cepat ambil air hangat satu ember penuh dan campur dengan garam sebanyak yang kau punya! Sekarang!" teriak Yufei memimpin komando. "Dan kalian, cari sisa arang hitam dari api unggun di luar, tumbuk sampai halus jadi bubuk!"

Para prajurit pasukan khusus yang biasanya hanya menerima perintah dari jenderal mereka, mendadak bergerak cepat seperti pelayan restoran di bawah kendali Yufei.

(Ayo fokus, Yufei! Anggap aja ini lagi simulasi P3K pas ospek kuliah dulu. Racun di perut harus dipaksa keluar lewat muntah, terus sisa racunnya diikat pake karbon aktif alias bubuk arang biar gak masuk ke aliran darah!)

Mendengar penjelasan ilmiah di dalam otak Yufei, Pangeran Mo Cheng diam-diam kagum sekaligus heran. Karbon aktif? Mengikat racun dengan arang? Dari mana gadis ini mempelajari ilmu tabib yang seaneh ini?

Tidak butuh waktu lama, air garam satu ember dan sebaskom kecil bubuk arang hitam sudah tersedia.

"Pegang kepalanya! Buka paksa rahangnya!" perintah Yufei lagi.

Xie Jian dengan sigap menahan kepala si pembunuh yang masih kejang-kejang. Yufei tanpa rasa jijik sedikit pun langsung mencekokkan air garam pekat dalam jumlah banyak ke dalam mulut si pembunuh menggunakan gayung kayu.

"Uhuk! Hueeekk!"

Efeknya instan. Air garam pekat itu langsung merangsang lambung si pembunuh secara paksa. Detik berikutnya, si pembunuh memuntahkan cairan hitam pekat bercampur busa ke lantai dengan volume yang cukup dramatis. Bau menyengat langsung memenuhi ruangan.

"Belum selesai! Cepat masukkan bubuk arang yang sudah dicampur sedikit air!" seru Yufei lagi, memberikan instruksi tahap kedua.

Bubuk arang hitam pekat itu kembali dicekokkan ke dalam mulut si pembunuh untuk menetralisir sisa-sisa racun di pencernaannya. Setelah mengalami muntah-muntah hebat sebanyak tiga kali, tubuh si pembunuh yang tadinya kaku dan kejang perlahan-lahan mulai lemas. Napasnya yang memburu pendek kini mulai stabil, meskipun wajahnya pucat pasi seperti mayat akibat kelelahan.

Yufei memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan si pembunuh menggunakan dua jarinya, persis seperti yang sering dia lihat di film-film. Setelah merasakan denyutan yang cukup konstan, dia mengembuskan napas lega yang sangat panjang sambil menyeka keringat di dahinya.

"Hah... aman. Nadinya sudah stabil. Racun utamanya sudah berhasil dimuntahkan dan sisanya sudah diikat oleh arang. Dia cuma pingsan karena lemas, besok pagi juga sudah bisa diajak mengobrol lagi," ucap Yufei dengan nada bangga yang tidak bisa disembunyikan.

Di dalam hatinya, Yufei langsung melakukan selebrasi kemenangan dengan gaya heboh:

(YESSS!!! Mission accomplished! Gila, gue keren banget gak tuh? Berasa jadi Dokter Foster dadakan di dunia kuno! Dengan begini, saham gue di depan Mas Jenderal pasti naik drastis. Anggaran belanja lili salju dan bubuk mutiara gue dijamin aman sentosa tanpa hambatan! Dompet aman, kulit glowing tetep jalan, bund!)

Pangeran Mo Cheng yang sejak tadi memperhatikan seluruh aksi heroik Yufei, hanya bisa berdiri terpaku. Telinganya kembali menangkap jeritan batin Yufei yang sangat kontras dengan wajah lelah namun anggun yang sedang ditunjukkannya saat ini.

Dokter Foster? Saham? Pangeran Mo Cheng menggelengkan kepalanya pelan, menyembunyikan senyum geli yang hampir lolos dari bibirnya. Gadis ini benar-benar penuh dengan kejutan tak terduga.

Pangeran Mo Cheng melangkah mendekati Yufei, lalu melepaskan jubah luarnya sendiri dan menyampirkannya ke bahu Yufei yang tampak sedikit menggigil karena udara malam hutan yang dingin.

"Kerja bagus, Nona Xie," ucap Pangeran Mo Cheng dengan suara rendah yang terdengar sangat tulus dan penuh penghargaan. "Kau baru saja menyelamatkan aset terpenting kerajaan malam ini."

Mendapat perlakuan super manis berupa operan jubah langsung dari pundak sang pangeran, jantung Yufei mendadak melakukan lompatan indah tanpa parasut. Wajahnya langsung memanas hebat melebihi suhu air garam tadi.

(MAMAAAKKK!!! Ini kenapa Mas Jenderal malah main oper jubah segala sih?! Wangi maskulin kayu cendananya langsung nempel di badan gue! Tolong woy, ini jantung gue udah mau copot dari tempatnya! Jangan sampai dia denger bunyi jedag-jedug di dada gue!)

Pangeran Mo Cheng yang mendengar kepanikan romantis di hati Yufei langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha keras menyembunyikan semburat merah yang kini menjalar ke pipinya sendiri akibat kepolosan batin gadis itu.

1
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦kocak....kocak
paijo londo
🤭🤭🤭yeee pangeran mo Cheng salah tingkah tuh
Siskasuryaningsih
bagus thor, tapi jangan terlalu lebay iya thor, mcam novel mu yg lalu
heldahell: novelku yg mana ya kak? apa udah ku hapus ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!