Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 KEDUA MATA IBU YANG BERUBAH
Sinar matahari pagi di ufuk timur merambat semakin tinggi, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang menghangatkan atap-atap rumah warga. Udara sejuk yang semula membelai lembut pekarangan perlahan-lahan berganti dengan kehangatan siang.
Suara deru mesin mobil MPV perak milik Zaki sudah tak terdengar sejak pukul enam pagi tadi, sebab sang ayah harus kembali mengawal penyelesaian laporan audit di kantornya. Begitu pula dengan Dek Niza, yang telah berangkat ke sekolah SD dengan senyum ceria usai melambaikan tangan gembira di depan pagar rumah.
Di dalam rumah beratap genteng terakota yang tenang itu, tersisa tiga wanita yang menikmati momen liburan dengan bersantai.
Haruma dan Harumi memanfaatkan waktu pagi menjelang siang itu untuk benar-benar mengistirahatkan pikiran.
Di ruang tengah yang sejuk, Haruma tampak anggun mengenakan daster katun berbunga lembut seraya menyeduh teh melati hangat. Sementara Harumi, yang mengenakan T-shirt santai warna abu-abu, meluruskan kedua kakinya di atas karpet seraya membaca majalah kepolisian. Balutan kassa steril di lengan kirinya sudah tampak jauh lebih kering dan rapi.
Nisa—ibu mereka—tampak sibuk di dapur sejak pagi. Namun, tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan renyah mengajak mengobrol, pagi menjelang siang ini Nisa lebih banyak berdiam diri. Jemari tangannya yang mengupas bawang dan meracik bumbu dapur bergerak sangat teratur, namun sepasang matanya yang teduh sesekali menatap lurus ke arah pintu antara dapur dan ruang tengah dengan pandangan mata yang begitu dalam.
Ada sebuah rahasia besar dan keteguhan jiwa yang sedang disimpan Nisa rapat-rapat sejak pertemuannya dengan dua perewangan gaibnya semalam.
Harumi yang menyandarkan punggungnya di sofa melirik ke arah dapur, lalu menyenggol pelan paha kakaknya.
"Kak Haruma..." bisik Harumi. "Kakak merasa nggak sih... dari tadi pagi Ibu kok agak pendiam ya? Biasa kalau kita lagi libur begini, Ibu paling heboh nanya-nanya masakan atau cerita soal tetangga sebelah."
Haruma menghentikan adukan sendok tehnya, menoleh menatap punggung ibunya di dapur dengan pandangan mata yang peka.
"Iya, Dek," jawab Haruma lembut dengan suara jernihnya. "Kakak juga merasa ada yang beda dari raut wajah Ibu pagi ini. Tapi mungkin Ibu cuma lagi capek habis menyiapkan keperluan Ayah sama Dek Niza tadi pagi. Nanti kalau ada apa-apa, Ibu pasti cerita sendiri kok sama kita."
Harumi mengangguk-angguk paham, menyesap teh hangatnya. "Iya sih, Kak. Ya sudah, mumpung lagi tenang begini, kita nikmati saja suasana rumah."
Sayup-sayup gema adzan Zhuhur berkumandang merdu dari menara masjid dan musholla yang tersebar di seantero perdesaan, membelah keheningan siang yang hangat.
Usai mengumandangkan pujian pada Sang Pencipta, Haruma, Harumi, dan Nisa bersuci dengan air wudhu yang dingin di kamar mandi belakang. Mereka bertiga melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah di ruang tengah. Haruma berdiri menjadi imam, memimpin doa tauhid dengan alunan bacaan ayat suci yang begitu menyejukkan sanubari.
Pukul 12.45 WIB.
Usai mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah dan merapikan mukena putih yang dikenakannya, Haruma dan Harumi melipat sajadah kain mereka di atas karpet.
Namun...
Tepat di saat Harumi baru saja hendak berdiri, hendak melangkah ke dapur untuk menyiapkan piring makan siang...
Nisa yang masih duduk bersimpuh di atas sajadah tempat shalatnya mendadak memutar tubuhnya.
Wajah ibu paruh baya itu tampak sangat tenang, namun "nada suaranya" saat memanggil kedua putri angkatnya mendadak berubah—menjadi begitu berat, berbobot, dan sarat akan wibawa yang menghentikan gerakan langkah siapa pun.
"Haruma... Harumi..." panggil Nisa.
Haruma dan Harumi seketika menoleh.
"Iya, Ibu?" sahut Haruma ramah.
Nisa berdiri dari sajadahnya, merapikan sedikit kain mukena yang menyelimuti bahunya. Matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata kedua putrinya tanpa senyuman yang biasa menghiasi wajahnya.
"Ikut Ibu masuk ke dalam kamar utama sekarang," tegas Nisa dengan intonasi suara yang datar, namun dingin menggetarkan. "Ada hal sangat penting yang harus kita bicarakan bertiga."
Haruma dan Harumi saling bertukar pandangan dalam keheranan.
Tanpa ada prasangka buruk atau kecurigaan apa pun, dua bersaudari itu hanya menganggukkan kepala serempak.
"Iya, Ibu," jawab Harumi polos.
Nisa memutar tubuhnya, melangkah tegap menuju lorong tengah rumah. Langkah kakinya yang biasa terdengar lembut kini terasa begitu mantap dan berbobot. Haruma dan Harumi melangkah mengekor di belakang ibunya, memasuki area kamar tidur utama milik Zaki dan Nisa.
Sret... KLIK.
Nisa menutup pintu kayu jati kamar utama rapat-rapat, lalu memutar selot kuncinya dari dalam.
Suasana di dalam kamar tidur utama yang berukuran empat kali lima meter itu seketika terasa sangat berbeda.
Pendaran sinar matahari siang menembus celah ventilasi berukir, memancarkan garis-garis cahaya samar di atas ranjang kayu tebal dan lemari pakaian jati. Suara bisikan angin dari luar mendadak redup, menyisakan keheningan yang teramat sangat pekat dan mencekam di dalam ruangan.
Bahkan...
Aroma udara di dalam kamar utama yang biasanya berbau wangi yang lembut, kini mendadak berganti menjadi "keharuman ghaib" bunga melati suci, kenanga, dan kenikmatan aroma kemenyan keraton yang amat pekat!
Suhu udara di dalam kamar mendadak anjlok menjadi dingin.
Haruma dan Harumi seketika menghentikan langkah mereka di dekat meja rias.
Insting medis forensik Haruma dan Mata Batin Murni milik Harumi seketika berdesir hebat!
Kedua srikandi penegak keadilan itu merasakan adanya perubahan tekanan aura spiritual yang amat dahsyat menyelimuti seluruh sudut kamar tersebut!
Nisa berjalan menuju area tengah kamar, tepat di atas permukaan kain karpet kamar lembut yang terhampar di atas lantai ubin.
Nisa tidak naik ke atas ranjang. Sebaliknya, wanita paruh baya itu melipat kedua kakinya, duduk bersimpuh secara tegap di atas lantai ubin dengan posisi punggung yang sangat lurus.
Nisa mendongakkan kepalanya, menatap Haruma dan Harumi yang masih berdiri terpaku.
"Haruma... Harumi..." tegas Nisa dengan nada suara yang berwibawa tinggi, "...duduk bersimpuh di lantai depan Ibu sekarang!"
Haruma dan Harumi semakin heran dengan perubahan sikap, nada suara, dan tata cara ibunya siang ini. Aura keibuan Nisa yang biasa dipenuhi kelembutan kini terlapisi oleh aura kewibawaan ghaib yang amat sangat mengintimidasi dan sakral.
Tanpa membantah sepatah kata pun, Haruma dan Harumi melangkah mendekat. Dua bersaudari itu melipat kedua kaki mereka, duduk bersimpuh di atas lantai ubin tepat di hadapan Nisa, menyisakan jarak hanya satu meter di antara mereka.
Tiga wanita itu kini duduk bersimpuh saling berhadapan dalam keheningan yang amat mendalam.
"Ibu..." buka Haruma dengan nada suara lembut dan sangat sopan. "Ada apa ya, Bu? Kok pintu kamar sampai dikunci rapat begini? Apa ada masalah penting yang mau Ibu sampaikan sama Ruma dan Rumi?"
Harumi ikut menyambung dengan nada canggung, mencoba mencairkan suasana. "Iya, Ibu... kok rasanya serius banget begini? Rumi sampai merinding lho lihat wajah Ibu siang ini."
Nisa tidak langsung menjawab. Sepasang matanya menatap dalam-dalam ke arah wajah Haruma dan Harumi secara bergantian.
Pandangan mata Nisa saat itu begitu tajam, seolah sedang menembus seluruh dinding pertahanan jiwa kedua anak angkatnya.
Nisa menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan hingga menimbulkan suara hisapan angin ghaib yang berhembus sejuk di dalam kamar.
"Haruma... Harumi..." pangkas Nisa dengan suara yang begitu berat, dalam, dan bergema pelan di dinding-dinding kamar. "Kalian berdua tahu... kenapa siang ini Ibu minta kalian duduk bersimpuh di hadapan Ibu?"
Haruma dan Harumi menggelengkan kepala mereka serempak. "Nggak tahu, Ibu..." jawab Harumi jujur.
Nisa memajukan posisinya sedikit, menatap mereka lurus-lurus.
"Tadi malam... saat jam dinding ruang tengah menunjukkan pukul hampir dua belas malam..." tutur Nisa dengan intonasi suara yang membuat bulu kuduk berdiri, "...saat Ayah kalian dan kalian semua sudah terlelap tidur... batin Ibu mendadak bergejolak hebat. Dada Ibu terasa sesak, dingin, dan sangat gelisah tanpa sebab."
Haruma dan Harumi terperanjat pelan. Mata Batin Murni milik Harumi seketika menangkap adanya sinyal energi ghaib purba di sekeliling tubuh ibunya.
"Ibu melangkah keluar ke teras rumah..." lanjut Nisa dengan tatapan mata yang tak berkedip. "Dan di sana... di bawah terangnya bintang malam... Dayang Putri dan Sekar Mayang hadir menemui Ibu!"
DEG!
Mendengar nama Dayang Putri dan Sekar Mayang—dua entitas perewangan gaib pelindung utama Ibu mereka—disebutkan oleh ibunya sendiri, jantung Haruma dan Harumi seketika berdesir hebat!
Harumi membelalakkan matanya kaget. "Da-Dayang Putri sama Sekar Mayang hadir semalam, Bu?!"
Nisa menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang amat sangat tegang dan serius.
"Iya, Rumi!" tegas Nisa. "Dua perewangan Ibu itu hadir secara khusus untuk memberikan PERINGATAN GHAIB YANG TERAMAT SANGAT BESAR kepada Ibu!"
Nisa memajukan wajahnya, menatap kedua putri angkatnya dengan intimidasi spiritual yang semakin pekat.
"Dayang Putri dan Sekar Mayang mengatakan..." pangkas Nisa dengan suara bergetar berwibawa, "...bahwa saat ini, dua putri kesayangan Ibu... Haruma dan Harumi... sedang melangkah di atas jurang kematian! Jiwa dan raga kalian sedang menjadi incaran utama dari cengkeraman sihir hitam tingkat tinggi milik para penyembah iblis!"
DEG! DEG! DEG!
Kata-kata Nisa bagaikan dentuman meriam ghaib yang menghantam dada Haruma dan Harumi!
Raut wajah Haruma yang biasa anggun dan tegar seketika berubah pucat pasi. Sementara Harumi ternganga kaku, memegang pergelangan tangan kakaknya dengan jemari yang mendadak dingin.
Dua bersaudari itu menyadari bahwa rahasia terbesar kasus yang selama ini mereka tutup rapat-rapat dari kedua orang tua mereka... telah terbongkar secara ghaib!
Namun, Harumi yang terbiasa bersikap taktis dalam tugas kepolisian mencoba untuk tetap tenang. Harumi menyunggingkan senyuman canggungnya, mencoba mengalihkan pembicaraan dan menenangkan ibunya.
"A-Aduuuhhh, Ibu..." kekeh Harumi canggung, suaranya agak bergetar. "I-Ibu ini ada-ada saja deh. Mungkin semalam Ibu cuma mimpi atau salah dengar bisikan angin kali, Bu. Rumi sama Kak Ruma kan cuma polisi sama dokter biasa. Kasus yang kita tangani kemarin itu cuma... cuma kasus pencurian uang biasa kok, Bu! Nggak ada sihir-sihiran begitu..."
Haruma ikut menyambung dengan cepat, menggunakan alibi resmi kedokteran untuk menutupi kenyataan.
"Betul kata Rumi, Ibu..." tutur Haruma mencoba tersenyum manis. "Haruma di markas cuma menangani autopsi medis biasa. Korban-korbannya meninggal karena serangan jantung dan komplikasi penyakit dalam. Nggak ada unsur sihir hitam atau iblis seperti yang disampaikan perewangannya Ibu. Ibu nggak usah cemas ya..."
Namun...
Tepat di saat Haruma dan Harumi selesai melontarkan kalimat-kalimat alibi penyangkalan tersebut...
BRAAK!!!
Secara yang teramat sangat mendadak dan mengejutkan, Nisa menghentakkan kedua telapak tangannya keras-keras ke atas lantai ubin kamar!
Lantai ubin kamar utama seketika bergetar pelan!
"JANGAN BOHONGI IBU, HARUMA! HARUMI!" bentak Nisa dengan suara melengking tinggi yang dipenuhi oleh kemurkaan jiwa seorang ibu!
Suara Nisa saat membentak tadi sama sekali tidak terdengar seperti suara wanita biasa.
Di balik suara asli Nisa, bergema dua lapis nada suara ghaib yang amat berbobot, menggelegar, dan penuh wibawa purba!
Haruma dan Harumi seketika bungkam kaku. Napas mereka tertahan di tenggorokan, tidak berani berkutik sedikit pun di hadapan kemurkaan ibunya.
"Kalian pikir Ibu ini bodoh?!" cecar Nisa dengan sepasang mata berkilat murka dan berkaca-kaca oleh rasa sakit hati. "Kalian pikir Ibu nggak bisa membedakan mana anak yang sedang baik-baik saja dan mana anak yang sedang mempertaruhkan nyawanya di luar sana?!"
Nisa menunjuk lengan kiri Harumi dengan jari tangannya yang gemetar hebat.
"Kemarin kamu pulang dengan baju sobek bersimbah darah, Rumi!" bentak Nisa dengan suara pecah oleh keharuan mendalam. "Kalian berdua selalu tersenyum tegar di depan Ibu sama Ayah, berpura-pura semuanya lancar... padahal di belakang kami, kalian bertarung sendirian menantang bahaya yang bisa mencabut nyawa kalian kapan saja!"
Air mata keharuan dan cemas menetes deras membasahi kedua pipi Nisa.
"Kalian ini anak-anak Ibu!" tangis Nisa terisak-isak dengan nada menyayat hati. "Kenapa kalian harus menanggung penderitaan dan ancaman keji itu sendirian?! Kenapa kalian tidak pernah mau jujur sama Ibu?!"
Haruma dan Harumi menundukkan kepala mereka dalam-dalam di atas lantai. Air mata penyesalan dan keharuan mulai menggenang di pelupuk mata dua bersaudara tersebut.
"Ibu... maafkan Ruma sama Rumi, Bu..." rintih Haruma halus dengan suara bergetar parau. "Kita... kita cuma nggak mau bikin Ibu sama Ayah cemas dan ketakutan di rumah..."
Nisa menarik napas panjang berulang kali, mencoba menetralkan gejolak emosi di dadanya. Ibu paruh baya itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
"Ibu tidak butuh alibi atau kebohongan manis kalian lagi..." bisik Nisa dengan suara yang mendadak berubah menjadi teramat sangat dingin, sakral, dan tanpa emosi manusia biasa.
Lalu...
Nisa menegakkan posisi duduk bersimpuhnya...
Di dalam keheningan kamar utama yang membeku tersebut...
Nisa perlahan-lahan MEMEJAMKAN KEDUA MATANYA RAPAT-RAPAT.
Wussssshhh!
Seketika itu juga...
Hempasan angin ghaib bertiup di dalam kamar utama yang tertutup rapat!
Tirai jendela kamar berkibar-kibar pelan, pakaian yang tergantung di lemari bergoyang, dan aroma wangi bunga melati serta kenanga memuncak menjadi teramat sangat pekat menembus setiap pori-pori kulit!
Dari dalam dada Nisa...
Memancar dua pendaran gulungan aura ghaib raksasa!
Pendaran aura sebelah kanan memancarkan cahaya hijau zamrud yang sangat sejuk dan bercahaya terang, sementara pendaran aura sebelah kiri memancarkan cahaya merah darah yang amat sangat pekat, panas, dan berwibawa purba!
Dua energi ghaib purba milik Dayang Putri dan Sekar Mayang merayap naik, menyatu penuh ke dalam tubuh raga Nisa sebagai wadah resminya!
Haruma dan Harumi membelalakkan mata mereka kaget luar biasa!
Sekar Arum di dalam dada Haruma memancar terang benderang merespons kehadiran energi suci, sementara Mata Batin Murni milik Harumi bergetar hebat melihat fenomena penyatuan gaib kasta tertinggi tersebut!
Dan...
Tepat di puncak pusaran angin ghaib tersebut...
Nisa PERLAHAN-LAHAN MEMBUKA KEDUA MATANYA KEMBALI!
DEG! DEG! DEG!
Begitu sepasang kelopak mata Nisa terbuka sempurna...
Haruma dan Harumi seketika tersentak kaku, terkesiap, dan menahan napas dengan rasa takjub yang teramat sangat luar biasa!
SEPASANG MATA IBU MEREKA TELAH BERUBAH TOTAL!
Sepasang mata cokelat teduh milik Ibu Nisa kini telah sirna...
Berganti dengan fenomena manifestasi ghaib dua perewangan miliknya yang selama ini selalu setia:
MATA KANAN NISA TELAH BERUBAH MENJADI WARNA HIJAU ZAMRUD YANG ANGGUN DAN BERCAHAYA TERANG! (Manifestasi kekuatan ghaib milik Dayang Putri—yang memiliki kemampuan spiritual kasta tertinggi untuk menembus, membaca, dan melihat penglihatan masa depan serta takdir ghaib!)
MATA KIRI NISA TELAH BERUBAH MENJADI WARNA MERAH DARAH YANG PEKAT DAN BERKILAT-KILAT TAJAM! (Manifestasi kekuatan ghaib milik Sekar Mayang—yang memiliki kemampuan spiritual kasta tertinggi untuk menembus, melihat, dan membongkar seluruh jejak peristiwa masa lalu serta rahasia kelam yang pernah terjadi!)
Pancaran dua warna mata ghaib—Hijau Zamrud di kanan dan Merah Darah di kiri—menatap lurus ke dalam jiwa Haruma dan Harumi dengan wibawa spiritual yang teramat sangat dahsyat, sakral, dan tak tertandingi!
Suara yang keluar dari mulut Nisa kini bukan lagi suara manusia biasa.
Suara Nisa bergema dalam tiga lapis konduksi ghaib yang menyatu sempurna: suara asli Nisa, suara merdu Dayang Putri, dan suara centil Sekar Mayang!
"Lihat mata Ibu, Haruma! Harumi!" gema suara tiga lapis itu membelah keheningan kamar, menggetarkan udara di sekeliling mereka bertiga.
Nisa mengangkat tangan kanannya yang memancarkan pendaran cahaya hijau zamrud.
"Mata kanan Ibu yang berwarna Hijau ini..." gema Nisa dengan tatapan mata kanan hijau bercahaya, "...sedang memperlihatkan penglihatan masa depan kepada Ibu! Ibu melihat bayangan hitam raksasa yang membakar... Ibu melihat lambang geometris iblis berkepala tiga... dan Ibu melihat bayangan tubuh kalian berdua terkepung oleh ratusan bayangan hitam pencuri usia!"
Nisa lalu mengangkat tangan kirinya yang memancarkan pendaran cahaya merah darah.
"Dan mata kiri Ibu yang berwarna Merah Darah ini..." gema Nisa dengan tatapan mata kiri merah pekat, "...sedang membongkar seluruh jejak peristiwa masa lalu yang kalian sembunyikan di markas!"
Nisa menunjuk dada Haruma dan Harumi bergantian dengan pandangan mata merahnya yang menembus jiwa:
"Ibu melihat jasad pria kaya bernama Jonathan Nasution yang organ dalamnya menciut mengering tanpa luka luar!" beber Nisa dengan rincian fakta yang amat sangat akurat. "Ibu melihat cap luka bakar geometris mikroskopis di balik kulit korban ituu... Ibu melihat seorang sekretaris wanita bernama Frida Valery yang mati mengenaskan di dalam ruang rapat kantor polisi akibat serangan sihir pembungkam dari jarak jauh... Dan Ibu melihat penggerebekan kalian ke Padepokan Sirah Lazuardi melumpuhkan dukun Ki Suroto yang mendadak mati membusuk akibat kutukan kematian!"
DEG! DEG! DEG! DEG!
Mendengar rincian fakta BAP Kasus disebutkan secara amat sangat presisi, detail, dan akurat oleh ibunya lewat penglihatan Mata Hijau dan Mata Merah tersebut...
Sebenteng pertahanan alibi dan kebohongan Haruma dan Harumi RUNTUH TOTAL, HANCUR BERKEPING-KEPING TANPA BERSISA!
Dua srikandi penegak keadilan itu menyadari sepenuhnya bahwa di hadapan keagungan penglihatan ghaib Dayang Putri dan Sekar Mayang yang merasuki tubuh ibu mereka...
Tidak ada satu pun rahasia di muka bumi ini yang bisa disembunyikan lagi!
Tes... tes... tes...
Air mata keharuan, rasa takjub, dan penyesalan mendalam meluncur deras membasahi kedua pipi Haruma dan Harumi.
Dua bersaudara yang duduk bersimpuh di atas lantai ubin itu seketika membungkukkan tubuh mereka dalam-dalam, menundukkan dahi mereka menempel di ujung lutut ibunya!
"Ibu..." ucap Harumi terisak-isak sesenggukan dengan rasa hormat dan ampunan yang teramat sangat mendalam. "Ampunkan Rumi, Ibu... Ampunkan Rumi..."
Haruma menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata, menatap sepasang Mata Hijau dan Mata Merah ibunya dengan kejujuran jiwa yang utuh.
"Ibu..." tutur Haruma dengan suara lembutnya yang pecah oleh tangisan haru. "Ruma dan Rumi mengaku, Bu... Ruma dan Rumi bersalah karena sudah mencoba menyembunyikan kenyataan ini dari Ibu dan Ayah..."
Haruma memegang kedua lutut ibunya dengan jemari tangan yang gemetar.
"Memang benar, Ibu..." pangkas Haruma jujur tanpa ada yang ditutupi lagi. "Kasus yang sedang kami hadapi di kota saat ini bukanlah kasus kejahatan biasa... Kasus ini melibatkan UNSUR MISTIS DAN SIHIR HITAM TINGKAT TINGGI!"
Harumi mengangkat kepalanya, menyambung pengakuan kakaknya dengan intonasi tegas dan tulus:
"Musuh yang kami hadapi adalah sebuah Sekte Ghaib Global bernama 'THE ONE' yang bersekongkol dengan para Taipan dan Pejabat Tinggi Negara di negeri ini, Bu!" beber Harumi jujur. "Mereka menggunakan sihir hitam pencuri usia... sihir keji yang menyedot organ dalam dan usia manusia demi memberikan keabadian dan kekayaan bagi para Taipan itu!"
Haruma mengepalkan tangannya di lantai, air mata menetes di pipinya.
"Sihir mereka teramat sangat kuat, mematikan, dan rapi, Bu..." bisik Haruma tegar. "Mereka punya barisan dukun-dukun kasta hitam, punya sihir pembungkam jarak jauh, dan punya pelindung pejabat berkuasa. Kami sengaja menyembunyikan ini karena kami tidak ingin Ibu dan Ayah menjadi sasaran teror dari sekte keji itu..."
Mendengar pengakuan jujur dan tulus yang meluncur dari mulut Haruma dan Harumi...
Srrrttt...
Pusaran angin ghaib dan aroma kemenyan di dalam kamar utama perlahan-lahan mereda sejuk.
Pendaran cahaya hijau zamrud dan merah darah di sekeliling tubuh Nisa melarut lembut.
Nisa memejamkan kedua matanya perlahan, menarik napas dalam-dalam.
Dan saat Nisa membuka matanya kembali...
Sepasang mata ibunya telah kembali normal menjadi warna cokelat tua yang teduh, hangat, dan penuh kasih sayang.
Nisa menatap dua putri angkatnya yang masih duduk bersimpuh menangis di hadapannya. Kemurkaan di wajah Nisa seketika sirna total, berganti dengan rasa haru dan kasih sayang seorang ibu yang melimpah ruah.
Nisa membungkukkan tubuhnya, mengulurkan kedua tangannya, merangkul bahu Haruma dan Harumi, lalu menarik tubuh kedua putrinya ke dalam dekapan hangat dadanya.
"Anak-anak cantik dan gagahnya Ibu..." bisik Nisa dengan suara parau yang pecah oleh tangis keharuan.
Haruma dan Harumi membalas pelukan hangat ibunya erat-erat, menyembunyikan wajah mereka di dada Nisa, menangis tersedu-sedu menumpahkan seluruh beban kebohongan dan ketakutan yang selama ini mereka pikul sendirian.
"Maafkan kita, Ibu... Maafkan Haruma sama Harumi..." bisik dua bersaudara itu serempak.
Nisa mencium puncak kepala Haruma dan Harumi berulang kali, mengusap-usap punggung kedua putrinya dengan kasih sayang yang tak terhingga.
"Iya, Nak... Ibu sudah maafkan..." tutur Nisa lembut dalam derai air matanya. "Ibu tidak marah karena kasus itu... Ibu cuma ingin kalian jujur. Karena mulai hari ini... kalian tidak akan pernah bertarung sendirian lagi!"
Nisa melepaskan pelukannya, memegang kedua pipi Haruma dan Harumi, menatap mata mereka dengan tekad baja seorang ibu dan sebagai wadah dua entitas ghaib.
"Kalian adalah srikandi penegak keadilan..." tegas Nisa dengan kedamaian jiwa yang luar biasa. "Di belakang kalian ada hukum negara, ada keahlian kedokteran, ada kehebatan kepolisian... dan di rumah ini, ada doa Ibu, ada Ayah, serta ada perlindungan ghaib Dayang Putri dan Sekar Mayang yang siap membentengi jiwa kalian dari sihir hitam apa pun!"
Haruma dan Harumi menyunggingkan senyuman tegar di balik derai air mata bahagianya. Beban rahasia besar yang selama ini menghimpit dada mereka kini telah sirna total, berganti dengan kekuatan jiwa yang amat sangat dahsyat usai mendapatkan dukungan utuh dari sang ibu.
Di dalam kamar utama rumah siang itu, kejujuran telah membongkar seluruh tabir rahasia.
Perpaduan antara keahlian hukum kepolisian, sains kedokteran forensik, dan keagungan perewangan perlindungan telah menyatu utuh sempurna.
Dan bersama ikatan suci keluarga yang tak tergoyahkan, dr. Haruma dan Ipda Harumi siap untuk kembali melangkah tegap menembus kota, menantang kegelapan Sekte THE ONE, dan menegakkan fajar keadilan di Tanah Jawa.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu