NovelToon NovelToon
WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: aina susiyanti77

Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.

Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.

karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.

Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.


Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.

Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?

Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 : Menembus Bahaya di Tengah Hutan

​Keempat anak muda itu berjalan cepat setengah berlari menembus pekatnya malam hutan Jambi. Dari Dusun Pinggiran menuju Sudung, tempat Pak Burhan sedang terbaring lemah.

​Kotak kayu itu terpegang erat di tangan Prasetio, seakan benda itu benar-benar hal paling berharga baginya. Ia berjalan di tengah bersama Pandi, diapit oleh Genta di sebelah kanan dan Meranting di sebelah kiri.

​Dua pemuda Anak Suku Dalam yang baik hati itu seakan menjadi pengawal setia bagi Pandi, apalagi Prasetio. Pemuda itu membisu, tak ada raut bahagia di matanya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada keselamatan sang ayah yang sedang terbaring lemah.

​Apalagi ia baru saja mengalami banyak kejadian yang mengguncang jiwa—kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, membuat ia harus berjuang di pedalaman hutan Jambi. Nasib telah membawanya hingga ke tempat ini.

​"Krosaaaak!"

​"Buuuuum!"

​Sebuah suara terdengar kasar dari arah depan, membuyarkan lamunan Prasetio. Refleks, keempat anak muda itu menghentikan langkah dengan sikap waspada menatap ke depan. Tiba-tiba muncullah seekor babi berukuran sangat besar berlari cepat menuju mereka. Babi itu seakan sedang mengamuk, entah apa gerangan yang membuat penghuni hutan itu begitu marah.

​"Cepat berjalan ke arah kiri! Ada babi tunggal gedang yang sedang mengamuk!" perintah Genta keras. Namun terlambat, babi itu sudah bergerak lebih dulu tepat ke arah Prasetio hingga anak muda itu jatuh tersungkur. Meski begitu, kotak berisi obat penawar masih tergenggam kuat di tangannya. Babi tunggal dikenal sangat kuat dan tangguh, jauh berbeda dari babi hutan biasa.

​Genta dengan sigap mendekat ke arah Prasetio untuk melindunginya. Ia tahu Prasetio—pemuda yang baru datang dari kota dan belum pernah berada di hutan—tidak akan pernah bisa menghadapi kekuatan babi tunggal yang ganas itu. Namun babi itu bergerak lebih cepat bagai kilat. Dengan bobot tubuhnya yang besar, ia menubruk Prasetio hingga tersungkur.

​Tanpa membuang waktu, Genta mencabut pisau yang terselip di pinggangnya. Matanya yang tajam menatap makhluk yang menimpa Prasetio. Dengan gesit, pemuda Suku Anak Dalam itu menerjang ke arah tubuh babi hingga Prasetio selamat, lalu mengunci pergerakan sang binatang.

​"Hrrrrghhh!" Babi tunggal gedang itu menderu kasar. Moncongnya yang besar dengan badan serba hitam terlihat seperti raksasa di mata Prasetio yang kini duduk lemas dan cemas.

​Tangan Prasetio ditarik oleh Meranting menjauh dari arena pertarungan antara Genta dan babi tunggal. Prasetio menghela napas. "Lagi-lagi kedua pemuda suku ini menyelamatkan nyawaku," desisnya dalam hati dengan terharu.

​Pandi berlari mendekati Prasetio dan Meranting. Ia melihat luka bekas sumpah di telapak tangan kanan Prasetio semakin menganga, darah kembali mengalir segar akibat terbentur babi tunggal. Pandi merasa sangat iba melihat keadaan sahabat kecilnya itu. Tiba-tiba binatang itu menghentakkan kaki depannya ke tanah yang basah, lalu melesat kencang menghantam apa saja di depannya.

​Genta tidak panik. Sebagai anak hutan yang terlatih sejak kecil, ia paham betul bahwa melawan babi tunggal tak bisa hanya mengandalkan tenaga kasar, melainkan kelincahan dan momen yang tepat.

Karena leher babi tidak bisa memutar seperti binatang lain, ketidakmampuan itu dijadikan strategi oleh Genta. Saat moncong besar babi hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuhnya, Genta melempar tubuhnya ke samping kanan, berguling dengan cekatan di atas semak-semak.

​Breees!

​Babi raksasa itu menabrak batang pohon sialang berukuran sedang hingga bergetar hebat, membuat daun-daun kering berguguran. Binatang itu terhuyung.

​"Ajak anak kota itu dan Pandi segera pulang ke Sudung sekarang, Meranting! Anak kota ini harus cepat sampai di Sudung!"

​Meranting dan Pandi langsung merangkul lengan Prasetio, membantunya bangkit dari tanah. Prasetio meringis kesakitan, napasnya terengah-engah, matanya memandang ngeri pergulatan antara Genta dan babi tunggal itu. Namun belum sempat mereka meninggalkan tempat, babi itu sudah kembali menerjang ganas ke arah Genta.

​"Genta, awas!" jerit Pandi saat babi itu berbalik, menatap Genta dengan mata kemerahan penuh amarah.

​Hutan belantara Jambi yang dingin mendadak terasa membakar. Babi tunggal besar itu meraung, suara dengusan nya yang berat menghembuskan uap tipis ke udara pekat.

Matanya melihat Genta—satu-satunya penghalang di sana. Namun Genta tidak mundur selangkah pun. Tatapannya tajam namun tenang bak permukaan danau. Ia adalah salah satu pemuda penting dalam dunia Suku Anak Dalam.

​Ia memiringkan badan lalu merendahkan tumpuan kaki. Pisau berukir khas sukunya di tangan kanan diputar halus, menghujam tepat ke arah perut babi tunggal itu.

​Sraaaaaaat!

​Ajaib, babi raksasa itu seakan tidak merasakan tajamnya belati Genta meski perutnya sudah berdarah. Akibat rasa sakit yang dideritanya, babi itu kian mengganas. Kaki depannya menerjang lagi, membenturkan bobot tubuh beratus-ratus kilogram dengan kecepatan mematikan.

​Di detik-detik terakhir sebelum moncong mengerikan itu merobek dada, Genta melakukan gerakan memukau. Alih-alih melompat menjauh, ia justru melangkah masuk ke arah serangan—memanfaatkan momentum kelincahan tubuhnya. Dengan refleks luar biasa, Genta menekuk lutut, meluncur mulus di atas tanah basah di bawah perut babi yang sedang melayang menembus udara. Perut babi yang terluka kini makin parah akibat serangan dahsyat Genta.

​Sreeeet!

​Sambil meluncur terlentang, tangan kanan Genta bergerak secepat kilat. Pisau di genggamannya menyayat bagian lipatan kaki belakang sang babi dengan sempurna.

​"Hraaaagh!" Babi tunggal itu bersuara melengking, kehilangan keseimbangan di udara sebelum mendarat dengan dentuman keras, menabrak akar pohon sialang hingga tanah bergetar.

​Genta bangkit berdiri dengan gerakan berguling yang sangat tangkas, langsung berbalik menghadapi musuhnya tanpa kehilangan keseimbangan. Ujung pisaunya berulang kali mengenai sasaran hingga makin memerah oleh darah.

​Meski terluka parah, babi raksasa itu seakan memiliki dua nyawa. Bukannya ambruk, ia justru bangkit semakin ganas, menerjang dengan sisa-sisa amarahnya. Namun Genta sudah membaca pergerakan itu. Pemuda anak hutan itu berlari tiga langkah menaiki batang pohon sialang yang miring, lalu melompat memutar di udara tepat di atas punggung babi yang melintas di bawahnya.

​Saat melayang di udara, Genta menghujamkan gagang pisaunya keras-keras ke titik saraf di belakang telinga sang babi, menyalurkan seluruh bobot tenaganya dalam satu pukulan maut.

​Baaaaam!

​Babi tunggal gedang itu terjerembap hebat, menghantam tanah basah dan terseret beberapa meter sebelum akhirnya terbaring lemas, hanya mampu menghembuskan napas berat yang kian melemah.

​Genta mendarat sempurna dengan bertumpu pada satu kaki, lalu pelan-pelan berdiri tegak. Ia menyapu keringat di dahi, menyarungkan pisaunya kembali ke pinggang dengan gerakan mantap tanpa memalingkan pandangan dari binatang yang kini tak berdaya.

​Hutan mendadak hening setelah babi itu lumpuh. Meranting, Pandi, dan Prasetio yang menyaksikan dari jarak tak jauh terpaku dan terpana oleh keahlian, keberanian, dan estetika bertarung pemuda pedalaman Jambi itu.

​"Ayo cepat, kita segera ke Sudung sekarang," ujar Genta tenang. Suaranya hampir tak bergetar meski tubuhnya berkeringat. "Luka di tangan anak kota ini harus cepat diobati sebelum darahnya makin banyak terbuang," ucapnya seraya menatap darah yang terus menetes dari tangan Prasetio.

​Tanpa banyak bicara, mereka berempat beranjak pergi. Namun baru saja melangkah sekitar dua meter meninggalkan bangkai babi tunggal itu, derap langkah mereka kembali terhenti di ambang bahaya baru.

​Di hadapan mereka membentang sebuah sungai kecil berlumpur pekat. Airnya yang tampak tenang itu berwarna hitam akibat lumpur dan dedaunan yang membusuk. Genta dan Meranting yang hafal medan tahu betul bahwa di balik air tenang itu menyembunyikan ancaman mematikan.

​Beberapa pasang mata membara menyembul tipis di permukaan air. Bau anyir lumpur bercampur dengan aroma predator rawa—sungai itu dipenuhi oleh buaya-buaya muara yang sedang lapar, siap menerkam apa saja yang melintas.

​Kondisi Prasetio makin mengkhawatirkan. Wajahnya kian pucat pasi, matanya memerah menahan pusing parah akibat darah segar yang terus menetes deras. Tubuhnya tak lagi sanggup menopang beratnya sendiri.

​Melihat keadaan yang makin kritis, Genta bergerak cepat memanggul tubuh Prasetio. Ia mengambil kotak obat penawar lalu memberikannya kepada Pandi agar tidak terjatuh.

​"Tidak ada waktu untuk berenang atau memutar arah! Inilah jalan satu-satunya agar kita segera sampai!" Genta bersuara dengan aksen logat suku yang kental, namun tetap tenang.

​"Tapi buaya-buaya itu?!" jawab Pandi gemetar. "Kita akan jadi santapan empuknya! " serunya gemetar menahan rasa takut yang menyergap pikirannya, seraya tangannya menerima kotak obat yang dilempar Genta.

​"Tenang!" jawab Genta pelan. Lengan kanannya merangkul Prasetio, sedangkan lengan kirinya memegang akar gantung beringin yang kokoh terjuntai dari pohon raksasa sebesar lima kali badan orang dewasa.

​Melihat pergerakan Genta, Meranting melakukan hal yang sama. "Sanak, ayo berpegang kuat di pinggangku! Kita harus bergelantungan di akar pohon ini agar bisa menyeberang."

​Dengan satu gerakan sigap, Meranting menggendong Pandi di punggungnya. Pandi melingkarkan lengannya erat-erat ke pinggang Meranting sambil memeluk kotak kayu di dadanya.

​Di atas sungai rawa itu, menjuntai barisan akar gantung pohon beringin yang panjang dan saling bersilangan bak jaring raksasa. Akar-akar itulah yang menjadi satu-satunya jembatan udara bagi mereka. Kedua pemuda Suku Dalam itu bergelayutan dari satu akar ke akar lainnya. Gerakan mereka cepat walau masing-masing membawa beban satu orang.

​Sluuuurp... Byuurrr!

​Air sungai berguncang hebat. Seekor buaya berukuran empat meter mendadak melompat ke udara dengan rahang terbuka lebar, memamerkan deretan gigi runcing yang mengerikan di tepi sungai!

​"Awaaaaaaas!" teriak Genta memberi peringatan.

​Dengan refleks luar biasa, Meranting mendahului Genta yang berada di depan. Ia menjejakkan kaki pada pangkal batang pohon terdekat, lalu melompat meraih akar yang paling tebal.

​Swwweeeesh!

​Meranting mengayunkan tubuhnya. Dengan Pandi yang masih merangkul erat pinggangnya, kedua pemuda itu melayang menembus kegelapan malam bak sosok Tarzan. Di bawahnya, seekor buaya raksasa mengibaskan ekor menghantam lumpur, berusaha menggapai kaki Pandi yang menjuntai. Namun Meranting dengan cerdik melipat kakinya ke atas dan mendarat mulus di seberang sungai.

​Melihat saudaranya berhasil, Genta menyusul. Meski menopang beban Prasetio yang hampir pingsan, kelincahan Genta tidak berkurang sedikit pun. Ia berlari kencang, meraih akar gantung utama, lalu melemparkan bobot tubuh mereka ke udara, wow! Dahsyat.

​Whuuuuush!

​Di tengah ayunan di atas sungai, akar kayu yang dipegang Genta mendadak berderit keras hampir putus karena lapuk! Dua ekor buaya di bawah menyadari pergerakan itu dan langsung mengibaskan moncongnya ke atas secara bersamaan.

​Saat detik - detik yang menegangkan, Genta menghentakkan kakinya ke udara, memanfaatkan ayunan terakhir untuk melepaskan genggaman akar dan bertumpu pada cabang kayu. Mereka melayang melintasi rahang predator yang mengatup keras di bawah kaki mereka dengan suara klaaaaaak! Moncong buaya lapar itu membentur udara kosong.

​Dugh!

​Genta berhasil mendarat dengan bertumpu pada satu lutut di tanah padat seberang sungai, menjaga Prasetio agar tidak jatuh membentur batu. Napasnya berembus kencang, namun matanya tetap fokus menatap jalan di depan.

​"Kalian tidak apa-apa?" tanya Meranting pada Genta seraya melihat Prasetio yang makin terkulai lemas, sementara Pandi melompat turun dari punggung Meranting.

​Genta segera menurunkan Prasetio yang matanya mulai terpejam rapat.

​"Prasetio! Tahan sebentar lagi! Sudung sudah di depan mata!" Pandi berteriak panik melihat kondisi Prasetio. Mereka bertiga saling pandang, lalu Genta kembali memanggul tubuh Prasetio.

​Darah di tangan Prasetio semakin banyak membasahi pakaian Genta. Tanpa membuang waktu, keempat pemuda yang baru saja lolos dari maut itu kembali memacu langkah menembus hutan Jambi menuju Sudung, tempat Pak Burhan menanti.

​Bersambung

1
Night Watcher
pak burhan?
Aina Senja: Trimakasi kk koreksinya🙏🙏😍
total 1 replies
Night Watcher
satu halaman diulang😇
Aina Senja: iya salah kirim kk, mau perbaikan tapi lagi di audit jadi belum berani kotak katik dulu, sebelum turun kontrak🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
kok nasi?
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
Aina Senja: hoho iya iya😍😍trimaksi kk
total 1 replies
Night Watcher
tadi pas prilia yg menyeret langkah kakinya mundur, lantainya kayu.
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇
Aina Senja: trimakasi kk, ini dia yg ku tunggu komen yg membangunkan tidurku 😍😍😍
total 1 replies
Night Watcher
mulai bosan,
Night Watcher
ngapain masih ngurusin karung bangkai yg nyimpen & ngelindungi para penyakit itu mayaaa..?!!
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kamu kuat maya. kamu tidak salah. mereka sendiri yang mengundang mu. kamu datang dengan niat tulus
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasihan kamu. padahal kamu datang bukan sebagai pelakor
Aina Senja: trimakasi kk sudah mau mampir😍
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
oh akhirnya aku paham. memang tak selamanya istri kedua itu di utamakan
Aina Senja: begitulah nasib istri ke dua🥲🥲
total 1 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kok bisa Thor. aku masih belum paham?
Aina Senja: yg mana kk?
total 1 replies
Night Watcher
jangan kelamaan susahnya.. mulai trik² menjatuhkan lawan & nikmati sedikit² kebahagiaan.
Aina Senja: siap bosku
total 1 replies
Night Watcher
coba mampir... mudah²an cerita sengsaranya gak kesuwen..
Aina Senja: sangat tersanjung dengan hadirnya dirimu😍😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!