NovelToon NovelToon
Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Balas Dendam / CEO / Penikahan Kontrak / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Lorena Carapia

Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.

Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.

Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.

Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.

Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.

Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelisah

Suasana berubah menjadi sangat tegang. Elisa menundukkan pandangannya.

Mario menancapkan matanya pada gadis itu. Ia menyibakkan jubah mandi birunya, memperlihatkan lebih banyak lagi tubuh atletisnya.

Ia membuka kedua kakinya, tanpa malu-malu menonjolkan bagian tubuhnya yang paling besar. Air terus menetes dari rambutnya, membuat sekujur tubuh Elisa terasa panas.

Di balik selimut, Elisa menyilangkan kakinya. Pipinya yang merona membongkar dirinya sendiri; ia tak bisa menyembunyikan bahwa ia belum berpengalaman.

Meski tahu betul gadis di hadapannya ini masih bocah yang berlagak menjadi wanita dewasa, Mario ingin melihat sampai sejauh mana ia bisa mempermainkannya.

Wanita sejati tak akan pernah menundukkan pandangan. Ia akan menatap lurus mata sang pria dan menunjukkan hasratnya. Sudah banyak wanita yang pernah melewati ranjang Mario.

Tanpa sadar, tingkah polos Elisa justru semakin membakar hasrat Mario terhadapnya. Elisa hanyalah gadis dua puluh tahun yang berusaha mengelabui semua orang.

Namun ia takkan pernah bisa mengelabui pria seberpengalaman Mario. Mario menggigit bibirnya.

Meski tak tahu alasan Elisa berpura-pura tak mengingat apa pun kecuali pernikahan mereka, Mario akan memanfaatkannya demi keuntungannya sendiri.

"Tutupi tubuhmu. Berkeliaran telanjang itu tak sopan," ucap Elisa seperti memberi perintah.

"Kau tak ingat? Kau yang memohon-mohon supaya aku melepas pakaian di depanmu... Melihatku tanpa sehelai benang membuatmu tergila-gila."

Mata Elisa terbelalak lebar. Ia tak pernah membayangkan akan bertemu pria setak tahu malu Mario.

Ia mencengkeram selimut kuat-kuat, bibirnya bergerak-gerak menahan amarah. Meski begitu, ia memilih untuk tetap diam.

"Menoleh dan tataplah aku. Kau sudah sering melakukannya... Apa kau tak suka dengan yang kau lihat?"

Gadis itu tercekat. Ia memejamkan mata rapat-rapat, dan lama sekali tak mengeluarkan suara.

Dasar bodoh! Ke dalam kekacauan macam apa kau menjebloskan dirimu? Bagaimana kau akan lolos dari cengkeraman pria ini?

Berulang kali Elisa menyalahkan dirinya sendiri. Namun kemudian ia teringat percakapan Yosef dan Emma. Suka atau tidak, pilihan terbaik dan satu-satunya adalah Mario. Pria berkuasa yang bisa membantunya membongkar kebenaran.

Telan bulat-bulat dan terimalah, Elisa.

Ingat, sekarang kau lebih membutuhkannya daripada kapan pun. Kau harus mengungkap semuanya. Begitu banyak pertanyaan di kepalamu, dan hanya dengan bersikap cerdas kau bisa menemukan jawabannya.

Perlahan Elisa menoleh menatap Mario. Sudah jelas ia sangat menyukai apa yang dilihatnya. Wanita mana yang tidak?

Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Pria di hadapannya itu benar-benar bagai dewa Yunani. Menciumnya bukanlah pengorbanan sama sekali baginya.

Meski begitu, setiap kali ia mencoba menatap mata pria itu, pandangannya kembali berpaling.

Elisa tak bisa berkonsentrasi seperti yang ia mau. Ini permainan yang sudah kalah sejak awal. Mario tahu cara menang tanpa perlu memakai kekerasan.

"Kau kedinginan? Aku juga. Airnya tadi dingin, aku butuh ciumanmu."

Mario naik ke ranjang dan mengambil posisi yang begitu menggoda. Elisa terjebak di antara tubuhnya dan ranjang. Gadis itu tak punya ruang untuk bergerak.

Tubuhnya membeku. Aroma mint dan buah beri merah membuat Elisa semakin merona. Aroma tubuh Mario sungguh memabukkan.

Ia mengulurkan tangan dan meletakkannya di leher Mario.

Ada apa denganmu, Elisa. Aku tak pernah menyangka kau akan selemah ini.

Mario mendekatkan bibirnya ke bibir Elisa dan mencoba menciumnya. Bibir mereka hanya bersentuhan sedikit, sebab gadis itu terus mengelak.

Dengan gugup Elisa meletakkan tangannya di dada telanjang suaminya. Ia mendorong Mario menjauh. Namun tubuh pria itu tak bergeser sedikit pun.

"Akui bahwa kau berbohong, maka akan kubiarkan kau pergi," bisik Mario di telinga Elisa.

Perlahan tangan Mario mulai menyusuri kaki gadis itu. Karena tak punya pilihan lain, Elisa berkata,

"Aku mengaku!"

"Aku mengaku! Aku berbohong."

Elisa tak ingin kehilangan keperawanannya dengan cara seperti ini. Ia lebih memilih mengungkap seluruh kebenaran dengan cara lain.

"Aku ingin pergi dari sini."

Mario murka. Ia mengepalkan tangan dan berkata dengan dingin.

"Kau tak akan pergi ke mana-mana."

"Yang kau lakukan ini penculikan!"

Mario menjauh dari Elisa, bangkit dari ranjang, dan berjalan ke lemari pakaian. Ia memilih kemeja hitam dan celana panjang dengan warna yang sama.

Ia mengabaikan gadis itu sampai selesai berganti pakaian.

"Nanti Edwin akan datang. Ia akan memeriksa lukamu. Dari yang kulihat, kau sudah baik-baik saja. Ingatanmu sudah pulih, dan lukamu juga sembuh dengan sangat baik."

"Seorang pelayan akan mengantarkan pakaian untukmu. Kamar mandinya di sebelah sana, semuanya ada di situ. Kalau kau butuh sesuatu lagi, beri tahu Irma. Dialah yang bertugas masuk ke kamarku."

"Tak ada orang lain yang boleh melakukannya," ucap Mario dengan suara acuh tak acuh yang begitu mengejutkan Elisa.

Mario keluar dari kamar tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya. Elisa bangkit perlahan dari ranjang. Ia berjalan ke jendela, menyibak tirai hitam, lalu mengintip menembus kaca.

Mansion itu dikepung pria-pria bersenjata. Melihat Mario keluar, mereka menundukkan kepala. Tak sulit menebak apa pekerjaan Mario. Ia bukan sekadar pengusaha berkuasa, melainkan juga seorang mafia yang ditakuti.

Elisa terus mengamati untuk waktu yang lama, sampai mobil yang membawa Mario menghilang.

Elisa memutar tubuhnya. Kepalanya masih terasa sangat sakit, ada denyut-denyut hebat yang menusuk di pelipisnya.

Ia mencoba mencari obat pereda nyeri untuk meringankan sakitnya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar.

Seorang wanita tua yang sangat anggun masuk membawa nampan berisi makanan. Dari yang diceritakan Mario kepada Maharani, wanita tua itu tahu Elisa sudah seharian penuh tak menyentuh makanan.

Elisa menyusuri sosok Maharani dengan pandangannya. Sebelum ia sempat menanyakan apa pun, Maharani berkata.

"Aku nenek dari suamimu. Singkatnya, aku nenekmu. Jadi mulai sekarang, kau boleh memanggilku Nenek, atau apa pun yang kau suka. Asalkan bukan Maharani."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!