Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Perang Terbuka di Panggung Utama
Keberhasilan Aira dan Reynand mematahkan tuduhan awal Vancorp di konferensi pers kemarin rupanya belum cukup untuk menghentikan langkah Clarissa Vance. Bagi wanita berdarah dingin yang terlatih di kerasnya persaingan bisnis Eropa itu, kekalahan kecil di hadapan media justru membuatnya semakin agresif.
Pagi itu, suasana di Aristha Tower terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Meskipun rumor masalah keuangan sudah ditepis lewat bukti audit forensik, Clarissa menggunakan pengaruh jaringan media internasional miliknya untuk membentuk narasi baru yang tidak kalah menyudutkan.
Di layar televisi ruang kerja CEO, berita utama dari saluran berita bisnis internasional menampilkan sosok Clarissa yang sedang diwawancarai secara eksklusif.
"Vancorp Asia tidak meragukan keabsahan dokumen keuangan Aristha Group," ujar Clarissa di layar televisi dengan senyuman anggun namun dingin. "Namun, sebagai investor utama, kami sangat menyayangkan adanya potensi benturan kepentingan di jajaran pimpinan. Penunjukan seorang asisten pribadi tanpa latar belakang eksekutif untuk mengelola dokumen bernilai triliunan rupiah adalah bentuk kerentanan tata kelola korporasi yang sangat berisiko bagi para pemegang saham."
Reynand mematikan layar televisi menggunakan remote control di tangannya dengan gerakan kasar. Wajah tampannya mengeras tajam, memancarkan aura membeku yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu bergidik ngeri.
"Clarissa benar-benar melampaui batas," desis Reynand dengan suara bariton yang dalam dan penuh amarah. "Dia tahu tidak bisa menjatuhkan kita dari segi hukum, jadi dia mencoba merusak kepercayaan dewan komisaris terhadapmu, Aira."
Aira yang duduk di sofa kerja memegang cangkir teh hangatnya perlahan. Meski ada kepedihan tipis di hatinya akibat serangan pribadi yang terus-menerus mengarah pada latar belakang dirinya, Aira berusaha keras untuk tetap tenang. Ia menatap Reynand yang berjalan mendekat lalu duduk di sisinya.
"Reynand," panggil Aira lembut, mengusap punggung tangan pria itu untuk meredakan ketegangannya. "Clarissa sengaja melakukan ini untuk memancing emosimu. Dia ingin kamu mengambil keputusan impulsif yang bisa dimanfaatkan oleh para komisaris senior yang memihak padanya."
Reynand menatap sepasang mata bening milik Aira. Ia merengkuh jemari lentik Aira dan membawanya ke bibirnya, mendaratkan kecupan hangat di sana.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun meragukan posisimu, Aira," tegas Reynand penuh janji. "Kamu bukan hanya calon istriku, tapi kamu adalah orang yang paling berintegritas di perusahaan ini."
Klek.
Pintu ruang kerja terketuk pelan, lalu muncul sosok Nyonya Rosalinda dengan raut wajah serius. Di belakang sang matriark, berdiri dua orang dewan komisaris senior yang selama ini dikenal sangat konservatif dan berhati-hati dalam urusan saham.
"Reynand, Aira," sapa Nyonya Rosalinda dengan suara tenang namun tegas. "Para komisaris meminta rapat internal darurat siang ini. Clarissa baru saja mengajukan usulan pemungutan suara untuk meninjau ulang struktur manajemen proyek pelabuhan logistik."
Aira menahan napasnya sejenak. Pemungutan suara oleh dewan komisaris adalah jebakan baru yang sangat berbahaya. Jika sebagian besar komisaris terpengaruh oleh opini publik yang dibentuk Clarissa, posisi Aira sebagai penanggung jawab verifikasi dokumen proyek bisa dicopot secara paksa.
Reynand berdiri tegap, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana dengan sikap mendominasi. "Biarkan mereka menggelar pemungutan suara, Bu. Kita akan tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya memegang kendali di Aristha Tower."
Nyonya Rosalinda menatap Aira dengan pendar kepercayaan yang mendalam. "Aira, siapkan seluruh rekam jejak efisiensi kerja yang sudah kamu lakukan selama tiga bulan terakhir. Kita tidak akan bertarung dengan emosi, tapi dengan fakta yang tak tergoyahkan."
Aira mengangguk mantap, menyunggingkan senyum penuh tekad. Perang di meja perundingan baru saja memasuki babak yang paling krusial, dan ia siap berdiri tegak di samping Reynand untuk menghadapi permainan licik Clarissa Vance.