NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reruntuhan Gerbang Sunyi! Perburuan Harta Karun Berdarah

​Kedai Pasar Utara, Kota Awan Agung — Fajar Hari

​Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Lu Mingseng menyusuri lorong-lorong Kota Awan Agung. Kabut tipis masih menggantung rendah di atas atap-atap rumah, sementara para pedagang baru mulai membuka pintu kedai dan kereta-kereta logistik meluncur perlahan meninggalkan gerbang utara.

​Mingseng mengenakan jubah hitam sederhana dengan topeng separuh wajah yang melekat rapat. Di dalam kantong penyimpanannya tersimpan beberapa batu spiritual tingkat rendah, cairan pemulihan tubuh, tablet hitam warisan, serta cakram kelabu misterius.

​Ia tidak terburu-buru menerobos masuk ke zona terlarang tanpa kalkulasi matang. Sebelum mempertaruhkan nyawanya, informasi adalah senjata utama yang paling ia butuhkan.

​Lokasi tujuan berikutnya—Reruntuhan Gerbang Sunyi—terletak di sebelah utara Kota Awan Agung. Peta kasar yang dibacanya kemarin hanya memberi petunjuk minim: situs kompleks bangunan masa lampau yang telah runtuh, dikelilingi formasi pelindung rusak, dan kerap mengalami fluktuasi energi spiritual ganjil. Tak ada catatan mengenai harta karun, pun tak ada rincian pasti mengenai tingkat bahaya di sana.

​Mingseng melangkah ke sebuah kedai kayu di kawasan pasar utara, tempat para pemburu binatang buas dan penjelajah bebas biasa berkumpul sebelum berangkat ke garis depan.

​"Kelompok pemburu utama dari Keluarga Fang sudah bergerak sejak kemarin malam!" panggil seorang pria bermata satu di sudut kedai.

​"Aku dengar mereka menemukan sesuatu di sekitar gerbang utama reruntuhan," timpal penjelajah lain di sebelahnya.

​"Omong kosong! Kalau benar ada harta karun siap angkut, buat apa mereka masih menyebar rekrutan berbayar di pasar?"

​"Bukan harta biasa! Katanya ada peta batu tua yang ditemukan di balik gua dekat zona luar Pegunungan Pemakaman Abadi. Peta itu menunjukkan lokasi sebuah pintu batu tersegel yang tak pernah tercatat di peta wilayah manapun!"

​Mingseng yang sedang duduk tenang menyeruput kuah bubur di sudut remang kedai seketika menajamkan pendengarannya.

​Pintu batu kuno? Peta batu?

​Ia teringat pendar simbol merah yang baru saja muncul pada tablet warisan Balai Penempaan Darah dan cakram kelabu di kantongnya. Jika benar ada hubungannya dengan situs tersebut, keberadaan kelompok Keluarga Fang di sana berarti ia tidak akan menjadi satu-satunya pihak yang mengejar rahasia masa lalu itu.

​Tanpa menarik perhatian, Mingseng menyelesaikan makannya, membayar harga makanan, lalu melangkah mantap keluar melewati pintu gerbang utara kota.

​***

​Menjelang tengah hari, Mingseng telah memasuki kawasan luar Hutan Cemara Hitam.

​Pepohonan raksasa berdiri menjulang tinggi, kanopinya yang rimbun menghalangi sebagian besar paparan sinar matahari. Akar-akar tua membelit permukaan tanah lembap, sementara kabut kelabu berhembus perlahan di antara celah tebing.

​Mingseng bergerak bagaikan bayangan. Ia memanfaatkan teknik pengamatan mendalam yang diajarkan oleh sang wanita misterius dalam jiwanya, membimbing pandangannya membaca setiap detail kecil di atas tanah.

​Ia menemukan bekas jejak sepatu yang masih basah, patahan ranting segar, dan kikisan batu yang tergeser.

​"Ada dua kelompok kultivator yang melintasi jalur ini sebelum aku," gumam Mingseng pelan sambil berjongkok meneliti tapak kaki di atas tanah lembap. "Kelompok pertama bergerak teratur dan cepat. Kelompok kedua lebih lambat... orang di posisi paling belakang menyeret kaki kirinya yang terluka."

​Suara wanita misterius berbisik lembut di batinnya, 'Pengamatanmu kian tajam, Mingseng. Kau mulai membaca alam bagaikan sebuah buku.'

​"Aku hanya tak ingin mati konyol karena kecerobohan," balas Mingseng singkat.

​Tring! BRAY!

​Mendadak, benturan dentingan senjata tajam dan jeritan kesakitan bergema dari balik celah bebatuan di depan sana.

​Mingseng merebahkan tubuhnya, bergerak tanpa suara mendekati sumber keributan.

​Di sebuah kliring kecil, lima orang kultivator berjubah cokelat tampak mengepung seorang pemuda yang telah bersimbah darah. Di dekat mereka, sebuah peti kayu kecil telah hancur terbelah, memuntahkan gulungan-gulungan kulit kayu tua di atas tanah.

​"Serahkan sisa peta batu itu, bajingan!" bentak pimpinan penyerang—seorang pria kekar berpipi parut dengan kultivasi Pengumpulan Qi Tahap Puncak.

​Pemuda yang terluka memegangi lengannya yang terkulai patah. "A-aku sudah bilang... aku cuma pengumpul herbal! Aku tidak membawa peta apa-apa!"

​"Masih berani bohong?! Kami melihatmu merangkak keluar dari celah gua itu!" Pria paruh baya itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, berniat memotong pergelangan tangan si pemuda!

​Mingseng meneliti peta kekuatan lawan dari balik semak-semak. Tiga penyerang berada di Pengumpulan Qi Tahap Menengah, satu di Tahap Akhir, dan pimpinannya di Tahap Puncak. Sementara pemuda yang terkepung hanya berada di Tahap Awal.

​Awalnya Mingseng tak berniat mencampuri urusan orang asing. Namun saat mata pedang pria berpipi parut itu hendak memutus pergelangan tangan sang pemuda, Mingseng melangkah keluar dari balik bayangan pohon.

​"Lima orang dewasa memeras satu pemuda terluka... Pemandangan yang teramat menjijikkan," suara Mingseng menggema dingin di balik topeng hitamnya.

​Kelima penyerang serentak berbalik. Pimpinan mereka menyipitkan mata, merasakan aura misterius yang memancar dari sosok bertopeng tersebut.

​"Siapa kau?! Jangan ikut campur jika masih sayang nyawa!" gertak pimpinan jubah cokelat.

​"Aku cuma pengelana yang kebetulan lewat," jawab Mingseng datar. "Dan aku akan lewat setelah kalian melepaskan pemuda itu."

​"Cari mati!" seorang anak buah berpakaian cokelat melesat maju, mengayunkan tinjunya berbalut Qi ke arah wajah Mingseng.

​Mingseng tidak membalas dengan benturan keras. Ia hanya memiringkan kepalanya tipis, membiarkan pukulan lawan membelah udara kosong. Sebelum lengan lawan ditarik, Mingseng mencengkeram pergelangan tangannya, memutar tubuhnya secepat kilat, lalu menggunakan dorongan fisik Tubuh Naga Darah untuk melempar sang penyerang hingga menghantam pohon raksasa!

​BAM!

​Pria itu terkapar pingsan seketika dengan napas tersengal.

​Dua penyerang lainnya langsung merangsek bersamaan. Seorang menusuk ke dada, seorang menyapu ke arah kaki dengan pedang pendek.

​Mingseng mundur setengah langkah. Ia menahan lengan penyerang pertama menggunakan sikunya, memutar pinggang, lalu menghantamkan telapak tangannya tepat ke ulu hati penyerang kedua.

​DUK!

​Lawan kedua tumbang memuntahkan darah segar!

​Hanya dalam hitungan tiga tarikan napas, tiga dari lima penyerang telah dilumpuhkan tanpa Mingseng harus mencabut senjata. Gerakannya begitu presisi, efisien, dan penuh daya ledak fisik.

​Pimpinan jubah cokelat beringsut mundur dengan wajah pucat pasi. "K-kau... kau menyembunyikan kekuatan kultivasimu?!"

​Mingseng menatapnya lurus dari balik celah topeng hitam. "Aku memberimu satu kesempatan untuk membawa anak buahmu pergi dari sini. Jika kau kembali menyiksa yang lemah... aku tidak akan menyisakan lenganmu."

​Gentar melihat dominasi mutlak sang pemuda bertopeng, pimpinan jubah cokelat itu mengutuk serak, lalu bergegas menyeret tiga rekannya yang pingsan dan melarikan diri ke dalam lebatnya hutan.

​***

​Mingseng mendekati pemuda yang terluka, mengulurkan tangannya untuk membantunya duduk.

​"Terima kasih... Kalau bukan karenamu, aku sudah mati," bisik pemuda itu terengah-engah. "Namaku Shen Yu, pengumpul tanaman obat dari kota pinggiran."

​"Apa yang sebenarnya mereka cari darimu?" tanya Mingseng.

​Shen Yu merogoh kantong bajunya yang robek, lalu mengeluarkan tiga pecahan batu berwarna kelabu gelap. "Beberapa hari lalu aku menemukan celah gua di balik Reruntuhan Gerbang Sunyi. Di sana hanya ada ukiran dinding dan pecahan batu ini. Orang-orang tadi mengira aku menemukan harta karun pusaka."

​Saat mata Mingseng menatap tiga pecahan batu itu, cakram kelabu di kantongnya mendadak bergetar halus!

​Mingseng memeriksa pecahan itu dengan cermat. Warna, tekstur, dan ukirannya identik dengan cakram yang dibelinya di pasar loak!

​"Di mana tepatnya kau menemukan celah gua ini?" tanya Mingseng menahan gejolak di dadanya.

​"Di sisi kiri pintu gerbang utama Reruntuhan Gerbang Sunyi. Ada celah sempit di antara dua tebing yang tertutup akar tua," terang Shen Yu jujur.

​Mingseng mengangguk. Ia menyerahkan sebotol cairan pemulihan luka pada Shen Yu. "Obat ini bisa menyembuhkan lukamu. Pergilah kembali ke kota, jalur ini tidak aman untukmu."

​

​Menjelang sore hari, Mingseng akhirnya tiba di ujung lembah terjal.

​Di hadapannya, berdiri sebuah gerbang batu raksasa yang sebagian besarnya telah tertutup lumut dan balutan akar purba. Dua pilar batu hitam menjulang di sisi gerbang, dan di bagian atasnya terukir tiga karakter masa lampau yang masih bisa terbaca: GERBANG SUNYI.

​Sesuai petunjuk Shen Yu, Mingseng menyelinap masuk melalui celah sempit di antara dua dinding tebing.

​Di balik celah itu, terhampar sebuah ruangan batu alam berukuran sedang. Di dinding utama ruangan tersebut, terukir sebuah pola piktogram melingkar: Sebuah lingkaran yang terbelah garis tegak vertikal, dengan tiga titik kecil di sisinya.

​Syuuung...!

​Seketika itu juga, tablet hitam peninggalan Balai Penempaan Darah di ruang kesadaran Mingseng memancarkan cahaya merah pekat yang membakar!

​Sebaris tulisan merah terukir tebal di permukaan tablet:

​JEJAK PERTAMA TERKONFIRMASI.

​Krrrrk...!

​Tiba-tiba, tanah di dalam ruangan batu itu bergetar hebat. Ukiran piktogram di dinding mendadak menyala merah darah, memancarkan gelombang energi dahsyat yang menekan atmosfer sekitar!

​'Mingseng! Mundur! Jangan sentuh altar itu!' bentak Kaisar Abadi dan sang penjaga balai serentak. 'Ada formasi pelindung kuno yang mendadak terbangun!'

​Mingseng melompat mundur ke balik pilar batu yang runtuh.

​Tepat pada saat itu, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari lorong luar. Lima orang kultivator asing menerobos masuk ke dalam ruangan.

​Di barisan depan, berdiri seorang pria paruh baya berjubah cokelat mewah dengan aura Fondasi Spiritual Tahap Akhir, didampingi seorang ahli kompas spiritual dan tiga pengawal berpedang.

​"Benar! Ini tempat yang ditunjukkan peta kuno itu!" seru pria berjubah cokelat gembira.

​Namun sebelum mereka sempat mendekati altar, seluruh ukiran merah di dinding mendadak memancar dahsyat. Kompas spiritual di tangan ahli kompas seketika pecah berhamburan menjadi debu!

​BOOM!

​Dinding batu di belakang altar membelah dua, membuka sebuah lorong gelap gulita yang menembus jauh ke dalam perut bumi. Hawa dingin yang sangat pekat dan membekukan menyapu seluruh ruangan.

​Untuk pertama kalinya sejak bersemayam di jiwa Mingseng, sosok wanita misterius itu berbisik dengan nada bergetar ketakutan:

​"Jangan bergerak sedikit pun, Mingseng... Sesuatu yang teramat luar biasa di dalam sana... baru saja menyadari keberadaanmu..."

​Tok...

​Tok...

​Tok...

​Tiga ketukan bergema dari dalam kegelapan lorong bawah tanah. Cahaya merah di dinding mendadak padam total, menyisakan kegelapan mencekam.

​Dan sebuah suara tua yang teramat berat berbisik langsung di dalam gendang telinga Lu Mingseng seorang:

​"Pewaris yang berjalan membawa satu jejak... akhirnya kau tiba..."

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!