Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Siapa Anda?
Arkana akhirnya membatalkan konferensi video yang seharusnya ia pimpin dan menghambur mengejar kedua sahabatnya. Ia tak percaya mereka tak memperingatkannya dengan jelas dan gamblang.
Malam tiba, dan menurut dokter, Salsabila akan siuman perlahan-lahan. Wajahnya sudah tak lagi bengkak, hanya menyisakan gradasi warna bekas memar.
Arkana menunggu di sisi ranjang. Ia suka mengunjungi kamar yang telah ia siapkan untuk Salsabila. Wanita itu sudah menjadi candu baginya, sebab wajahnya yang cantik begitu bak malaikat, dan dialah wanita yang telah memberinya harta paling berharga, putrinya.
"Tuan Baswara, saya sarankan Anda bersabar," ujar sang dokter. "Ia telah melalui banyak hal beberapa hari terakhir. Pria yang memukulinya melakukannya dengan keras, belum lagi serangan jantung yang nyaris merenggut nyawanya."
"Menurutmu semua itu meninggalkan gejala sisa?" tanya Arkana.
"Saya belum bisa memastikan sampai ia siuman. Kita harus menilai refleksnya begitu ia sadar."
"Aku ingin kau ada di sini saat ia siuman."
"Tenang, sebentar lagi ia akan sadar. Obat penenang tidurnya sudah kami hentikan sejak berjam-jam lalu."
"Menurutmu bijak membiarkan anak itu melihatnya dalam keadaan begini?"
"Justru keputusan yang baik. Melihat si kecil, ia akan lebih cepat tenang. Bukankah Anda bilang, sebelum serangan jantung, Nona ini menanyakan putrinya?"
"Ya, memang begitu."
Kedua pria itu berdiri berhadapan, bercakap dengan tenang. Brankar berada di samping Arkana, dan seperti biasa ia menggenggam tangan Salsabila. Ia suka perpaduan tangannya yang besar dan kuat dengan tangan Salsabila yang kecil, lembut, dan halus.
"Di mana saya, dan apa yang terjadi pada saya?" tanya Salsabila.
"Salsabila, coba ceritakan apa yang kau rasakan," sahut sang dokter. "Ada yang sakit?"
"Siapa Anda?"
"Aku doktermu. Sekarang izinkan aku memeriksa tanda-tanda vitalmu."
"Jangan sentuh saya. Di mana saya, dan siapa kalian?"
Dokter dan Arkana saling bertukar pandang penuh keheranan. Mungkinkah wanita itu tak mengenali mereka?
"Salsabila, kau tahu siapa aku?" tanya Arkana.
"Seumur hidup saya belum pernah melihat Anda. Siapa Anda?"
"Aku Arkana Baswara. Kau tak ingat apa pun tentangku?"
"Sudah saya bilang, saya tidak tahu siapa Anda. Bisa beritahu saya apa yang terjadi? Dan di mana saya?"
"Kau berada di rumah yang kubeli untukmu dan putri kita. Kau mengalami kecelakaan."
Salsabila terduduk di ranjang, kian bingung. Ia tak mengerti siapa orang-orang ini dan mengapa ia berada di sini, apalagi saat mereka bilang ia seorang ibu.
"Sepertinya Anda keliru. Saya tidak punya anak. Saya gadis berusia 17 tahun dan tinggal bersama orang tua saya."
"Salsabila, kau berumur 24 tahun, dan kita punya seorang putri yang hampir 5 tahun. Kau sungguh tak ingat apa-apa?"
"Saya tidak punya anak dan umur saya bukan segitu. Lebih baik saya pulang saja!"
"Dokter, apa yang terjadi? Kenapa ia tak ingat apa pun?" tanya Arkana.
"Ingat, ia menerima pukulan keras di kepalanya. Dalam pemeriksaan tak ada kelainan, jadi kita harus melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam," jawab sang dokter.
"Kalian tak akan melakukan apa pun pada saya, dan saya mau pergi dari sini."
"Salsabila, kau tetap di situ. Kau tak akan keluar dari sini sampai pulih. Dan sebaiknya jangan coba-coba kabur, karena kau tak akan berhasil," ucap Arkana.
"Kita lihat saja nanti."
Salsabila mencoba turun dari ranjang, tapi tubuhnya yang lemah tak mengizinkannya. Kepalanya pening begitu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya limbung dan jatuh menimpa dada Arkana.
"Lepaskan tangan saya. Gara-gara Anda saya hampir jatuh."
Arkana tak mengindahkan kata-kata kurang ajar Salsabila. Meski begitu, berkat tangannya yang menahan dan refleksnya yang sigap, wanita itu tak sampai jatuh ke lantai.
"Tolong, kita sudah pernah membahas ini. Kau harus bersikap seperti wanita dewasa," ujar Arkana.
"Akan saya lakukan kalau Anda mengizinkan saya pergi."
"Aku janji kau boleh pergi begitu semua pemeriksaan selesai."
"Pak Dokter, silakan mulai, saya sudah ingin pergi."
"Coba ceritakan, apa yang kau ingat? Siapa dirimu?" tanya sang dokter.
Dokter itu mengeluarkan buku catatan untuk mencatat apa yang terjadi pada ingatan Salsabila.
"Saya Salsabila. Saya tinggal bersama adik-adik dan orang tua saya. Umur saya 17 tahun dan saya duduk di tahun terakhir SMA."
"Kau tidak kehilangan ingatan, karena kau masih tahu betul siapa dirimu. Kau hanya menghapus kenangan tahun-tahun berikutnya," ujar sang dokter.
Saat dokter tengah memeriksanya, si bocah masuk ke kamar dengan gembira.
"Mama, Mama, kamu bangun. Aku senang sekali..."
Salsabila memandang gadis kecil cantik yang melompat ke arahnya dengan penuh semangat itu, tapi ia tak punya kenangan apa pun tentangnya. Di hatinya tak ada ruang untuk bocah ini.
"Kamu siapa?" tanya Salsabila.
"Dia putrimu, Alika Salsabila," jawab Arkana.
"Anak saya, atau anak kita?"
Arkana tak tahu harus menyembunyikan diri ke mana, sebab ia ingin menghormati keputusan Salsabila yang dulu. Ia tak ingin bocah itu mengalami trauma.
"Om, kenapa dengan Mama? Dia lupa aku gara-gara kelamaan tidur?" tanya Alika.
"Kok Om? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" ujar Salsabila.
Kepala Salsabila mulai berputar, dan sakitnya seakan hendak meledak.
"Sebaiknya kau istirahat," kata sang dokter. "Tuan, bisa tinggalkan kami sebentar?"
Alika memandang ibunya dengan tercengang. Apa yang sedang terjadi? Omnya pun bersikap aneh.
"Ayo, sayang, kita main sebentar sementara mama istirahat," ajak Arkana.
"Om, kenapa dengan mamaku? Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia sudah tidak sayang aku lagi?" tanya Alika.
Mata bocah itu memerah, air matanya mengancam tumpah. Arkana menatap Salsabila yang bersikap acuh dengan tatapan penuh benci, lalu menggendong si kecil dan membawanya pergi.
"Mamamu terlalu lama tidur dan kepalanya sakit. Besok kita akan menengoknya lagi," ucapnya.
"Om, boleh aku tidur denganmu?"
"Kamu takut?"
"Aku sedih, Om. Mama tidak ingat aku, dan aku tidak punya papa."
Ada yang mengganjal di tenggorokan Arkana. Ia adalah ayah Alika, tapi belum bisa mengatakannya. Malam itu mereka tidur bersama untuk pertama kalinya.