NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — Kepercayaan Diri yang Berlebihan

Tiga hari sejak surat tanpa tanda tangan itu tiba, Zhou Chen tidak lagi tidur lebih dari dua jam setiap malam.

Ia tahu ini bukan cara yang baik untuk memimpin. Ia juga tahu, dari sisa ingatan Zhou Li yang lama maupun dari kebiasaan lamanya sendiri sebagai mahasiswa yang terlalu sering begadang demi ujian, bahwa pikiran yang lelah membuat kesalahan yang tidak perlu. Namun setiap kali ia memejamkan mata, wajah Lin Feng yang bahkan belum pernah ia temui langsung—hanya deskripsi singkat dari Zhou Ming, seorang pemuda dua puluh dua tahun dengan kebiasaan menggigit bibir bawah saat gugup—muncul di benaknya, diikuti bayangan kelam tentang apa yang mungkin sedang dilakukan orang-orang Zhou Han terhadapnya di suatu ruangan gelap yang tidak bisa ia jangkau.

Ia duduk di ruang rahasia bawah tanah, satu-satunya tempat di seluruh istana yang benar-benar terasa aman, menatap Kitab Langit Tanpa Akhir yang terbuka pada halaman kosong. Di sampingnya, gulungan-gulungan catatan tersebar tidak beraturan—sesuatu yang tidak pernah ia biarkan terjadi sebelumnya. Kerapian adalah kebiasaan lama yang mulai ia korbankan demi kecepatan.

Aku kehilangan kendali, pikirnya, menatap tangannya sendiri yang sedikit gemetar bukan karena takut, melainkan karena kelelahan yang menumpuk. Dan orang yang kehilangan kendali adalah orang yang membuat kesalahan fatal.

Pintu ruang rahasia berderit pelan. Ah Fu masuk tanpa mengetuk—hak istimewa yang hanya dimiliki segelintir orang sekarang—membawa nampan berisi bubur sederhana yang sudah mulai dingin karena sudah dua kali ia bawa kembali tanpa disentuh.

"Yang Mulia harus makan," katanya, meletakkan nampan itu di sudut meja yang masih kosong. "Zhao Kai bilang, seorang pemimpin yang kelaparan mengambil keputusan lebih buruk daripada seorang pemimpin yang bodoh."

Zhou Chen nyaris tertawa mendengar perbandingan itu—kasar, tapi tidak salah. "Bilang padanya, aku akan makan setelah aku menemukan sesuatu yang berguna."

"Yang Mulia sudah bilang begitu sejak kemarin sore."

Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Zhou Chen benar-benar berhenti, menatap Ah Fu yang berdiri dengan sikap yang tidak biasa—bukan lagi pengawal patuh yang menunduk sopan, melainkan seseorang yang cukup berani menegur tuannya sendiri.

"Kau benar," kata Zhou Chen akhirnya, menghela napas panjang. Ia mengambil mangkuk bubur itu, menyantapnya beberapa suap meski rasanya nyaris tidak terasa di lidahnya yang kaku karena kelelahan. "Maaf. Aku terlalu fokus pada apa yang belum kutemukan, sampai lupa merawat orang-orang yang masih di sini."

Ah Fu tersenyum tipis, ekspresi yang jarang muncul belakangan ini. "Bukan permintaan maaf yang hamba butuhkan, Yang Mulia. Hanya kepala yang jernih."

Kepala yang jernih itu datang bukan dari istirahat yang cukup—waktu tidak memberi mereka kemewahan itu—melainkan dari sepucuk laporan yang dibawa salah satu kontak Zhou Ming keesokan paginya, tepat saat Zhou Chen selesai menyantap sarapan seadanya untuk pertama kalinya sejak kabar penangkapan Lin Feng.

"Ini dari salah satu orang kami yang masih bertahan di wilayah barat," kata Zhou Ming, menyerahkan gulungan kecil begitu ia tiba di kediaman Zhou Chen—kunjungan yang kini ia lakukan secara langsung, mengabaikan kehati-hatian yang biasa ia jaga, sebuah tanda bahwa ketegangan Bab sebelumnya belum sepenuhnya reda namun juga belum memutuskan kerja sama mereka.

Zhou Chen membuka gulungan itu dengan tangan yang lebih tenang dari yang ia duga.

Sejak insiden kedai teh, Pangeran Kedelapan memindahkan tahanan tiga kali dalam empat hari—pola yang tidak biasa untuk seorang tahanan "kecil". Namun kemarin malam, untuk pertama kalinya, ia mengadakan perjamuan kecil merayakan sesuatu yang disebut para pelayan sebagai "kemenangan atas tikus-tikus pengganggu". Penjagaan di sekitar tempat perjamuan lebih longgar dari biasanya—banyak pengawal ditarik untuk bertugas di perjamuan.

Zhou Chen membaca ulang baris terakhir itu dua kali, sesuatu yang tajam mulai berkilat di matanya—kilatan yang sudah lama tidak muncul sejak kegagalan penyusupan sebelumnya.

"Dia merayakan," gumamnya pelan.

"Terlalu cepat," sambung Zhou Ming, yang tampaknya sudah sampai pada kesimpulan yang sama dalam perjalanan menuju kediaman ini. "Dia pikir dia sudah menang. Kita mundur setelah kegagalan penyelamatan, kita tidak membuat gerakan apa pun selama tiga hari—dari sudut pandangnya, itu terlihat seperti kita menyerah, ketakutan, atau kehabisan sumber daya."

Zhou Chen mengangkat pandangannya, sesuatu di dalam dirinya yang selama tiga hari terakhir terasa berat dan lelah kini perlahan mulai berubah menjadi ketajaman yang dingin dan terkendali—perasaan yang familiar baginya sejak dulu, saat ia masih seorang mahasiswa yang menemukan pola tersembunyi dalam tumpukan data sejarah yang tampak acak bagi orang lain.

"Kepercayaan diri yang berlebihan," katanya perlahan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, "adalah kelemahan yang tidak bisa dianalisis Mata Dewa sekalipun. Karena itu bukan sesuatu yang tersembunyi—itu sesuatu yang dipertontonkan."

Rencana yang mereka susun kali ini berbeda dari dua kegagalan sebelumnya, bukan karena lebih berani, melainkan karena lebih rendah hati.

"Aku tidak akan mengandalkan Mata Dewa sebagai andalan utama kali ini," kata Zhou Chen, mengumpulkan kelompoknya malam itu di ruang rahasia—kali ini termasuk Zhao Kai, meski lengannya masih dibalut kain dan gerakannya masih terbatas sesuai peringatan yang diberikan Zhou Chen sendiri lima hari lalu.

Xiao Hei mengerutkan kening, bingung. "Bukankah kemampuan itu yang selama ini membuat kita bisa melihat apa yang tidak dilihat orang lain, Yang Mulia?"

"Benar," jawab Zhou Chen. "Tapi Zhou Han sudah membuktikan dia bisa menyembunyikan diri dari kemampuanku. Kalau aku terus mengandalkan itu sebagai satu-satunya senjata, aku hanya akan mengulangi kesalahan yang sama—berharap sesuatu yang sudah terbukti tidak selalu berhasil."

Ia menatap Zhao Kai, yang meski terluka, matanya kini menunjukkan ketajaman seorang perwira yang telah menemukan kembali jati dirinya. "Kali ini, aku ingin kau yang memimpin analisis taktisnya. Bukan aku."

Zhao Kai terdiam sejenak, terkejut mendengar kepercayaan yang tiba-tiba diberikan padanya sepenuhnya. "Yang Mulia yakin?"

"Kau tentara sungguhan, dengan pengalaman sungguhan," jawab Zhou Chen tegas. "Aku hanya seseorang yang banyak membaca dan kebetulan memiliki kemampuan aneh. Sudah waktunya aku berhenti berpura-pura tahu segalanya, dan mulai mempercayai orang-orang yang memang lebih ahli dari diriku di bidang mereka masing-masing."

Kata-kata itu, sederhana namun tulus, membuat sesuatu berubah di ruangan itu—bukan sekadar strategi baru, melainkan pergeseran kecil namun penting dalam cara Zhou Chen memimpin kelompoknya. Selama ini, tanpa sepenuhnya ia sadari, ia selalu menjadi pusat dari setiap rencana, mengandalkan Mata Dewa sebagai jaring pengaman utama. Malam ini, untuk pertama kalinya, ia melepaskan sebagian kendali itu.

Zhao Kai menegakkan tubuhnya, meski lengannya masih terasa nyeri, sorot matanya kini dipenuhi tekad yang jauh berbeda dari keraguan yang dulu selalu membayanginya. "Kalau begitu, izinkan hamba bicara sebagai apa yang hamba pernah latih bertahun-tahun, bukan sebagai buangan yang dituduh pengecut."

Ia membentangkan peta kasar lokasi perjamuan yang berhasil digambar berdasarkan laporan kontak Zhou Ming, jarinya menunjuk pada beberapa titik dengan gerakan yang penuh perhitungan.

"Perjamuan seperti ini biasanya berlangsung di aula tertutup, dengan penjagaan terpusat di pintu utama dan sekeliling luar—bukan di setiap sudut internal bangunan. Kalau benar banyak penjaga ditarik untuk bertugas di perjamuan, itu berarti area penahanan yang biasa dijaga ketat sekarang kemungkinan besar hanya disisakan penjagaan minimal, mengandalkan asumsi bahwa perhatian kita, kalaupun ada, akan tertuju pada perjamuan itu sendiri, bukan pada sel tahanan yang terpisah."

Yue Er, yang duduk di sudut dengan busur kesayangannya tersandar di bahu, mengangguk pelan. "Jadi kita tidak menyerang perjamuannya. Kita mengabaikannya sepenuhnya."

"Tepat," jawab Zhao Kai. "Kita membiarkan Zhou Han terus merayakan kemenangan yang sebenarnya belum ia menangkan, sementara kita bergerak diam-diam ke arah yang berlawanan dari perhatiannya."

Namun rencana yang matang tidak berarti tanpa risiko, dan Zhou Chen tahu betul, dari pengalaman pahit dua kegagalan sebelumnya, bahwa detail sekecil apa pun bisa menjadi celah yang membalikkan segalanya.

"Ada satu hal yang mengganggu pikiranku," katanya, setelah Zhao Kai selesai memaparkan rencana lengkapnya. "Zhou Han tahu Mata Dewa milikku tidak bisa menembus dirinya. Tapi dia tidak tahu sejauh mana kemampuan itu bisa digunakan pada orang lain, atau pada situasi lain di luar dirinya sendiri. Kalau dia benar-benar percaya diri sekarang, kemungkinan besar dia juga meremehkan seberapa jauh kita bisa merencanakan sesuatu tanpa mengandalkan kemampuan itu sama sekali."

"Maksud Yang Mulia?" tanya Xiao Hei.

"Maksudku," jawab Zhou Chen, seulas senyum tipis—senyum yang penuh perhitungan, bukan sekadar keramahan—mulai terbentuk di wajahnya, "dia mengalahkan kita dua kali dengan mengantisipasi rencana yang mengandalkan pengintaian dan kehati-hatian berlebihan. Kali ini, aku ingin memberinya sesuatu yang tidak pernah ia antisipasi: kecepatan."

Ia menatap seluruh kelompoknya satu per satu—Ah Fu yang setia sejak awal, Xiao Hei yang kini menyimpan kekuatan baru yang belum sepenuhnya ia kuasai, Yue Er dengan matanya yang tajam dan hatinya yang lebih bijaksana dari usianya, Zhao Kai yang menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang pemimpin taktis, dan Paman Guo yang meski tidak ikut dalam misi langsung, telah menyiapkan beberapa alat kecil yang mungkin berguna—kail pemotong tersembunyi, obor kedap angin, dan beberapa perangkat sederhana lain hasil kerajinannya sendiri.

"Kita bergerak besok malam," katanya akhirnya. "Bukan lusa, bukan minggu depan. Besok malam, selagi Zhou Han masih merayakan kemenangan yang belum sepenuhnya ia miliki."

Zhou Ming, yang sejak awal pertemuan hanya mendengarkan dalam diam—sebuah kebiasaan yang selalu ia jaga saat menganalisis situasi secara mendalam—akhirnya angkat bicara setelah kelompok kecil itu mulai membubarkan diri untuk beristirahat sebelum misi esok malam.

"Kakak," katanya, menahan Zhou Chen sejenak sebelum benar-benar pergi, "aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin seharusnya kukatakan sejak beberapa hari lalu."

Zhou Chen menoleh, menunggu dengan sabar meski rasa lelah masih membebani tubuhnya.

"Tentang apa yang kukatakan di kediamanku waktu itu—soal ketakutanku," lanjut Zhou Ming, memilih kata-katanya dengan hati-hati, sikap yang jarang ia tunjukkan mengingat biasanya ia selalu tampak yakin dengan setiap ucapannya. "Aku masih takut. Tapi malam ini, melihat caramu melepaskan kendali kepada Zhao Kai, melihat caramu mengakui bahwa kau tidak bisa mengandalkan kekuatanmu sendiri sepenuhnya... aku menyadari sesuatu."

"Apa itu?"

"Bahwa aku tidak bekerja sama denganmu karena kekuatanmu," jawab Zhou Ming, senyum tipis namun tulus mulai muncul di wajahnya. "Aku bekerja sama denganmu karena caramu memimpin. Zhou Han memimpin dengan menyembunyikan dirinya dari semua orang, bahkan dari orang-orangnya sendiri. Kau memimpin dengan mempercayai orang lain, bahkan ketika itu berarti melepaskan kendali yang bisa saja kau pertahankan untuk dirimu sendiri."

Zhou Chen terdiam sejenak, tersentuh oleh kejujuran yang jarang sekali ia dengar secara langsung dari seseorang seperti Zhou Ming, yang selama ini lebih dikenal karena kalkulasi dinginnya dibanding ketulusan emosionalnya.

"Terima kasih," katanya akhirnya, suaranya tulus. "Aku tidak akan memaksamu untuk terus terlibat langsung dalam misi besok malam. Tapi aku menghargai setiap informasi yang telah kau berikan—itu sudah lebih dari cukup."

Zhou Ming mengangguk. "Aku akan tetap membantu dari kejauhan, seperti biasa. Tapi untuk saat ini, biarkan aku mengatakan satu hal terakhir: berhati-hatilah besok malam, Kakak. Kepercayaan diri yang berlebihan bukan hanya kelemahan Zhou Han. Itu bisa menjadi kelemahan siapa pun—termasuk dirimu sendiri, kalau kau terlalu yakin rencana ini akan berjalan sempurna."

Peringatan itu, sederhana namun tajam, menancap dalam di benak Zhou Chen saat ia berjalan pulang menuju kediamannya di bawah langit malam yang mulai diselimuti awan tipis—tanda bahwa hujan mungkin akan turun sebelum fajar tiba, sebuah detail kecil yang, tanpa ia sadari sepenuhnya, akan menjadi salah satu faktor yang mengubah jalannya misi esok malam.

Bersambung ke Bab 24 — Api di Balik Es

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!