NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 23

Dua hari berlalu sejak malam santai di tepi kolam renang Rockford Hills. Uang lima juta rupiah dari Franklin cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari Andika, namun rasa gatal ingin kembali beraksi dan mengumpulkan uang dalam jumlah besar terus membakar pikirannya.

Pagi itu, Andika duduk di atas sofa rumahnya, mengamati kartu nama simpel pemberian Michael. Tanpa membuang waktu lagi, ia meraih ponselnya dan menekan nomor telpon yang tertera di sana.

Panggilan tersambung pada dering kedua.

"Halo?" suara Michael De Santa terdengar dari seberang telepon, diiringi dentang sendok dan cangkir kopi.

"Pagi, Mike. Ini Andika," sapa Andika langsung pada intinya. "Soal pekerjaan yang kau janjikan dua hari lalu... bagaimana? Saya sudah siap bergerak."

Di seberang sana, Michael terdengar menghela napas pendek sembari berpikir sejenak. Ia diam beberapa detik, menimbang-nimbang tugas pertama yang paling tepat untuk diberikan pada kawan barunya ini.

"Ah, Andika... pas sekali kau menelpon," kata Michael, nada suaranya berubah menjadi lebih fokus. "Aku punya tugas pertama untukmu. Sekarang juga, kau pergi cari toko pakaian terbaik dan beli 4 setelan jas hitam lengkap—jas, celana kain hitam, kemeja putih, dan dasi warna merah."

Andika mengerutkan keningnya, sedikit heran dengan instruksi tersebut. "Jas hitam dan dasi merah? 4 setel? Untuk apa semua itu, Mike? Kita mau merampok atau menghadiri pesta pernikahan?"

"Tak usah banyak tanya, nak. Lakukan saja," potong Michael tegas namun diselingi terkekeh pelan. "Anggap saja ini investasi untuk penampilan profesional tim kita nanti. Aku tidak mau kita kelihatan seperti preman pasar saat eksekusi."

TRING!

Notifikasi dari aplikasi perbankan di ponsel Andika berbunyi nyaring. Sebuah transferan uang tunai dalam jumlah yang sangat cukup dari rekening Michael baru saja masuk, lengkap dengan catatan khusus untuk biaya pembelian pakaian.

"Uangnya sudah kukirim ke rekeningmu. Beli kualitas yang paling bagus dan ukurannya disesuaikan untukku, kau, Franklin, dan satu lagi. Jika sudah selesai, bawa semuanya ke rumahku," tambah Michael sebelum mematikan sambungan telepon.

Andika menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Ia mengantongi ponselnya, menyambar kunci motor, dan melangkah keluar rumah menuju halaman.

Ia mengangkang naik ke atas Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya, memutar kunci kontak, dan menekan engkol starter.

BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!

Raungan gahar mesin 225cc itu memecah kesunyian pagi. Andika memutar tuas gas, meluncurkan motornya membelah jalanan Los Santos menuju kawasan toko pakaian premium di pusat kota untuk menuntaskan tugas pertama dari Michael De Santa.

Hampir satu jam Andika mengendarai Chopper Scorpio hitamnya menyisir kawasan pusat kota Los Santos, matanya jeli memperhatikan papan nama toko-toko di pinggir jalan. Akhirnya, ia menemukan sebuah butik pakaian pria berkelas yang menjual setelan formal berkualitas tinggi.

Andika memarkir motornya di depan toko, melangkah masuk, dan menyerahkan catatan ukuran badan. Tanpa membuang waktu, ia memilih empat setelan jas hitam elegan lengkap dengan celana kain hitam, kemeja putih bersih, dan empat dasi berwarna merah menyala persis seperti instruksi Michael. Setelah membayar menggunakan uang transferan tadi, empat setelan jas mahal itu dikemas rapi dalam tas pakaian khusus.

Andika melangkah keluar toko, menaruh tas-tas pakaian itu dengan hati-hati di kargo belakang motornya, lalu merogoh ponsel untuk menelpon Michael.

"Mike, empat setelan jas hitam dan dasi merahnya sudah selesai saya beli. Kualitas terbaik," lapor Andika.

Dari seberang telepon, Michael terdengar terkekeh puas. "Bagus, kerja cepat! Sekarang tugas keduamu: cari toko yang menjual topeng badut atau topeng apa saja yang bisa menutupi seluruh wajah."

Dahi Andika berkerut makin dalam. Dari jas formal kelas atas mendadak ke topeng badut. "Topeng badut, Mike? Seriuk nih? Untuk apa lagi?"

"Sudah kuduga kau bakal bertanya lagi," potong Michael santai. "Lakukan saja dan jangan membantah, nak. Beli empat buah topeng yang paling mengerikan atau mencolok. Nanti kau bakal paham sendiri gunanya saat Lester menjelaskan semuanya."

"Oke, oke... saya cari sekarang," balas Andika mengalah, tidak ingin memperpanjang perdebatan.

Panggilan terputus. Andika menggeleng-gelengkan kepala heran, menyimpan ponselnya kembali, dan memutar kunci kontak motornya.

BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!

Mesin Chopper-nya kembali menyalak gahar. Andika menancap gas menyusuri area pesisir hingga ke daerah pertokoan outdoor di sekitar Vespucci Beach. Setelah sekian lama menyisir toko-toko unik di sepanjang trotoar pantai, mata Andika menangkap sebuah toko suvenir dan stan perlengkapan pesta yang memajang berbagai macam topeng di dinding depannya.

Andika menghampiri stan tersebut dan langsung memilih empat topeng badut berbahan karet tebal dengan ukiran senyuman aneh dan warna yang mencolok. Ia membayar empat topeng tersebut, memasukkannya ke dalam kantong belanjaan, dan membawanya ke motor—kini siap melaporkan kembali hasil buruannya kepada Michael De Santa.

Tanpa membuang waktu, Andika segera merogoh ponselnya dan menelpon nomor Michael untuk melaporkan bahwa empat topeng badut sudah berhasil ia dapatkan.

"Mike, topeng badutnya sudah ada. Lengkap empat buah," lapor Andika.

"Bagus sekali, nak!" sahut Michael dari balik sambungan telepon. "Sekarang kau langsung bawa semua barang itu—jas dan topeng—ke rumah Lester. Aku dan Franklin sudah ada di sini. Aku kirim lokasinya sekarang."

TRING!

Sebuah pesan masuk berisi koordinat GPS menunjukkan sebuah rumah panggung sederhana di kawasan El Burro Heights. Andika mengantongi ponselnya, mengikat kantong topeng dan tas pakaian jas dengan erat di kargo belakang Chopper Scorpio-nya, lalu memutar kunci kontak.

BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!

Mesin 225cc itu menderu gahar saat Andika menancap gas membelah jalanan Los Santos menuju El Burro Heights. Setelah puluhan menit perjalanan menyusuri bukit-bukit pinggiran kota, Andika akhirnya tiba di depan rumah kayu tua milik Lester Crest. Chopper-nya diparkir rapi di halaman samping.

Andika menurunkan seluruh barang belanjaannya dan melangkah naik menaiki tangga kayu rumah Lester. Di ruang tengah yang dipenuhi layar monitor dan papan strategi, Michael dan Franklin sedang berdiri mengelilingi meja bersama seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang duduk di atas kursi roda—Lester Crest.

"Ini semua barangnya, Mike," kata Andika sambil menaruh tas-tas jas dan kantong berisi empat topeng badut di atas meja.

Michael tersenyum puas, lalu menepuk bahu pria di kursi roda itu. "Lester, ini Andika. Kawan yang kubicarakan waktu itu."

Lester menaikkan kacamata tebalnya, menatap Andika dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang tajam. "Hmm... anak muda yang menghabisi Lee Dong itu, huh? Nyalimu boleh juga."

Belum sempat Andika membalas ucapan Lester atau mengobrol lebih jauh, Michael mendadak menepuk punggung Andika dan memberi isyarat tangan.

"Ikut aku sebentar, Andika," potong Michael cepat.

Andika sedikit bingung, namun ia hanya menurut dan melangkah tepat di belakang Michael menuruni tangga rumah. Michael berjalan menuju ke tepi jalan depan rumah Lester, tempat sebuah mobil van Declasse Burrito warna hitam polos terparkir anggun dengan kaca gelap.

Michael membukakan pintu pengemudi dan melemparkan kunci kontak van tersebut ke arah Andika.

"Kau yang pegang kemudi, nak," perintah Michael seraya melangkah memutar dan masuk ke kursi penumpang tepat di samping Andika.

Andika melompat naik ke balik roda kemudi van hitam itu, memasukkan kunci ke slotnya, namun tidak langsung memutar starter. Ia menoleh ke arah Michael dengan kening berkerut heran.

"Kita mau ke mana sebenarnya, Mike? Kenapa buru-buru begini?" tanya Andika penasaran.

Michael menyandarkan punggungnya di jok busa van, menyunggingkan senyuman tipis misterius dari balik kacamata hitamnya, lalu menepuk dasbor mobil.

"Kita akan pergi berlibur ke Sandy Shores, kawan," jawab Michael santai sambil terkekeh pelan. "Ayo, jalankan mobilnya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!